A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 96. Ungkapan Bibi Christine



Suara mobil berhenti tepat di depan pintu utama Mansion Maxwell Powell dan menurunkan empat orang berpakaian casual. Jack keluar lebih dulu diikuti Thodor dan Mark. Berikutnya sesosok wanita berpakaian muslimah pun turun setelah Mark membantunya membukakan pintu mobil. Magrib ini, mereka berempat datang ke Mansion setelah melakukan perjalanan yang cukup melelahkan sejak siang dari Resort Maxwell, tempat di mana sebelumnya Ayesha diculik ketika honeymoon bersama suami tercinta. Mereka yang sudah nampak lelah kini memasuki mansion dan menuju kamar masing-masing di lantai bawah. Ada banyak kamar tamu di mansion yang mewah dan luas ini. Paman Sam dan para penjaga sudah diberitahukan sebelumnya oleh Mark untuk mempersiapkan kamar mereka dan kini mereka pun langsung beristirahat. Malam baru saja tiba, setelah membersihkan diri masing-masing dan mengganti pakaian, setelah waktu sholat Isya, kini keempatnya sudah bersama duduk di ruang makan yang cukup luas, menunggu sang Tuan dan Nyonya turun dari lantai atas. Tak lama, orang yang ditunggu pun tiba diikuti oleh Bibi Christine dan juga Ahmed.


"Kau kah itu Miss Julia Grace?", Ayesha menyapa lebih dulu. Yang disapa seketika berdiri dari duduknya. Demikian juga yang lainnya. Mereka melihat ke arah para penguasa yang barusan turun dari tangga terakhir.


"Ya, Nyonya. Terimalah penghormatan saya", Grace menangkupkan kedua tangannya di dada dan membungkuk sedikit.


"Jangan begitu. Assalaamualaikum saudaraku", Ayesha mendekati Grace dan memeluknya hangat namun menjaga jarak dari lukanya. Sang gadis muslimah yang menggunakan celana panjang lebar dengan kemeja lengan panjang dan jilbab segiempat yang mungil itu pun nampak canggung menerima pelukan Ayesha sambil menjawab salamnya dengan lirih. Ia tersenyum tipis sambil terus menundukkan pandangan.


"Kau berhutang penjelasan padaku Nona dosen. Ah, mari sebaiknya kita makan malam dulu", Ayesha baru sadar ketika melihat sekitarnya. Sudah banyak orang duduk di meja makan yang panjang dan lebar itu bersiap hendak menyantap hidangan yang tersedia. Sementara itu, Maxwell yang duduk di samping kirinya tak peduli. Seperti biasa, dia cuek. Hanya menyapu pandangan sekali ke semuanya sambil tersenyum tipis dan kini menikmati makan malam tanpa mengubah kebiasaannya. Saling memandang dengan sang istri tercinta yang dengan lembut dan perhatian mengambilkan makanan dan minuman yang disukai sang suami. Ahmed yang duduk di samping kanan Ayesha pun hanya tersenyum dan mulai menggoda.


"Ehm. Sepertinya aku sudah lama tidak dilayani dengan mesra seperti dulu", Ahmed bergumam pelan dengan tangan fokus mengambil makanan terdekatnya.


"Oh ya, maaf Kak", Ayesha pun refleks menoleh ke kakaknya setelah menyelesaikan menu untuk suaminya. Wanita bercadar berhidung mancung tersebut pun mengambilkan makanan favorit yang sesuai selera sang kakak yang disayanginya tersebut. Ahmed hanya tersenyum melihat respon sang adik yang menggemaskannya. Ia hanya menggoda namun Ayesha menanggapi serius.


"Terima kasih Sayang", ujar Ahmed.


"Dont mention it, kak", senyum Ayesha di balik cadarnya.


"Apakah Bibi Christine juga mau aku ambilkan?", Sang Nyonya menyapa sang Bibi yang persis ada di depannya.


"Oh tidak Nyonya. Ini sudah. Terima kasih. Saya yang harusnya melayani semua tamu".


"Ah tidak, Bibi pun belum sehat. Ohya, Bibi mau steak kambing ini?", Ayesha menawarkan makanan di dekatnya.


"Bibi tidak bisa memakan itu Nyonya", Grace menyela refleks. Ayesha memandang ke arah Grace terkesima. Grace spontan menyadari kesalahannya.


"Maaf Nyonya, maksudku, aku dengar Bibi Christine. sedang bermasalah pencernaannya, dia belum bisa mencerna yang berat", Grace salah tingkah.


"Oh kau benar Nona Grace. Maaf", Ayesha memikirkan sesuatu. Maxwell nampak tidak tertarik dengan pembicaraan yang ada.


"Honey, aku ingin kau menyuapiku", bisik Maxwell ke telinga Ayesha. Seketika Ayesha menatap suaminya dengan tersipu. Tentu hanya dia yang tau rona pipinya. I merasa tidak seharusnya Maxwell memintanya begitu karena mereka sedang tidak berdua. Namun karena melihat Maxwell yang menatapnya mengharap, Ayesha urung menolak. Ia segera mengambil kepiting besar di piring Maxwell dan membuka cangkangnya dan memberikan isinya ke mulut sang suami dengan tangannya. Maxwell nampak senang dan membuka mulutnya seraya terus memandangi mata Ayesha dengan penuh binar-binar cinta. Ahmed yang tak urung melihat keduanya hanya tersenyum heran. Di tengah banyak orang, bukankah sebaiknya bersikap biasa tanpa menunjukkan kemesraan seperti ini ? Dasar pasangan dimabuk cinta. Ah, apakah kelak aku juga demikian jika sudah beristri? , batinnya berkomentar.


"Bibi, aku ambilkan ini untukmu", Grace yang berada di samping Bibi Christine memberikan dua ekor udang gala yang disoup. Sebaliknya Bibi Christine memberikannya sebuah soya sauce chicken. Sambil tersenyum manis kedua wanita itu pun saling mengambilkan dengan senang hati. Keduanya nampak sangat akrab dan saling memberikan ke piring masing-masing makanan terdekat yang disukai. Mark yang memperhatikan mereka berdua tersenyum tipis. Dugaanku benar, kalian lebih dari sekedar teman, batinnya. Terbayang kembali diingatannya akan Grace yang menangis pilu ketika ia mengerjainya dengan mengatakan Bibi Christine sudah tiada. Waktu itu karena tekadnya ingin menemui sang Bibi walau hanya tinggal mayat, Grace memaksakan diri mengikuti Mark walau masih dalam keadaan luka serius. Mark pun membolehkannya ikut tapi lagi-lagi dikerjai kembali dan harus menginap dulu di resort dan mengatakan Bibi Christine tak akan dimakamkan sebelum Grace menemuinya. Hingga kemudian peristiwa penculikan Ayesha dan Mark harus pergi mencari sang Nyonya bersama Maxwell, Grace pun menjalani masa pemulihan di resort dengan pengawalan Thodor dan Jack serta anak buah Maxwell yang lainnya. Dan kemarin siang, dalam perjalanan mereka dari resort ke mansion, Mark sudah menjelaskan tentang hal yang sebenarnya dan membuat Grace kembali ceria. Apalagi sang Bibi sempat mengirimnya pesan singkat bahwa mereka akan bertemu hari ini.


Agenda makan malam pun selesai selama 30 menit disertai obrolan ringan di hidangan pembuka dan penutup. Setelah itu semuanya bergerak ke ruang tamu dan menempati sofa yang sudah disetting sedemikian sehingga semua personil mansion bisa duduk bersama. Ayesha nampak duduk diapit sang suami dan kakaknya di sofa yang paling panjang. Di depannya, di seberang meja kaca yang panjang, duduklah Mark, Bibi Christine dan Grace. Sedangkan di sofa kiri dan kanan, duduklah Paman Sam dan para pengawal lainnya, Thodor, Patch, dan Jack. Semula mereka minta pamit hendak berjaga di luar namun Maxwell menghalangi dan mengatakan bahwa penjaga di luar sudah cukup untuk pengamanan malam ini. Ketika mereka hendak berdiri, Maxwell pun melarang dan diminta untuk duduk bersama. Maxwell sudah menaruh kepercayaan penuh pada seluruh personil di ruangan tersebut, dan inilah saatnya ia ingin memastikan jati dirinya sendiri di hadapan mereka meski ia sudah tau semuanya. Adapun tentang Grace, Bibi Christine sudah mengatakan pada tuannya bahwa ia mengundang gadis itu karena ada sesuatu hal penting yang akan diceritakannya berkaitan dengan gadis muslimah tersebut.


"Bibi sudah tau bukan apa maksud kita berkumpul malam ini?", sang Big Boss membuka percakapan. Suasana yang awalnya rileks mendadak hening dan serius. Sang Bibi yang disebut namanya nampak menelan ludah dan menunduk.


"Bibi. Ceritakan padaku tentang jati diriku yang sebenarnya. Aku tidak mau Bibi menutupinya lagi", Maxwell menatap sang Bibi dengan pandangan tajam. Ayesha meraih tangan suaminya dan menggenggamnya lembut seakan hendak mengatakan untuk bersabar atas apapun yang terjadi. Semua orang di sana, kecuali Thodor dan Jack, sudah paham maksud perkataan sang Tuan. Sedangkan kedua pengawal dari Rusia yaitu Jack dan Thodor yang datang bersama Mark hanya bisa menduga-duga. Selama ini mereka hanya bertugas sekedar berjaga mengikuti perintah Maxwell dan Mark sedang Mark mengikuti seluruh peristiwa di sisi sang Tuan sehingga ia paham dengan kisah sang Tuan selama ini. Begitu juga dengan Paman Sam dan Patch yang sudah lama membersamai tuannya jauh sebelum sang Tuan hijrah bersama sang istri.


"Baiklah Tuan. Ini mungkin saat yang tepat aku menceritakan semuanya pada Tuan. Dan semua yang ada disini akan menjadi saksinya", Bibi Christine menarik nafasnya perlahan dan kini mengangkat wajahnya menatap Maxwell dan mengedarkan pandangannya ke semua penghuni ruang tamu tersebut.


"Lalu mengapa hal ini ditutupi dariku sekian lamanya Bibi, bahkan hingga ayahku sendiri tak bisa ku anggap sebagai ayah kandungku, melainkan hanya ku anggap sebagai ayah angkat yang mengadopsiku dan kini ia bahkan sudah tiada tanpa pernah menyatakan kebenaran ini padaku", Maxwell menelan ludah yang terasa pahit. Suaranya bergetar. Ia kembali terbayang dengan segala perilaku sang ayah yang bersikap seolah memang bukan sebagai ayah kandung, karena didikan keras yang selama ini diberikannya lewat sederet program yang diatur oleh sang Bibi pengasuh, Bibi Christine, juga sikap dinginnya pada Maxwell yang jarang sekali mau berbicara padanya. Yang membuatnya percaya bahwa dia memang ayah kandungnya adalah, hampir seluruh hartanya diwariskan padanya. Hanya itu.


"Tuan. Ada banyak hal sehingga Tuan besar menutupinya dari Tuan. Aku akan menceritakan semuanya dengan jelas", Bibi Christine pun memulai kisahnya. Mulai dari kisah perseteruan dua keluarga konglomerat Powell dan al Qudri yang ia sendiri tidak tau dengan jelas apa yang menjadi penyebabnya. Lalu kisah masuk islamnya sang bunda Sofia Alexander yang kemudian diusir dari keluarganya. Lalu pertemuan Sofia dengan George Powell hingga George muda jatuh cinta pada Sofia lalu mereka menikah dan lahirlah Maxwell Powell. Bagaimana Sang Ayah terpaksa menyembunyikan statusnya memiliki istri dari pihak musuhnya sendiri. Semua itu untuk keselamatan sang istri dari dendam kesumat keluarganya dan juga dari kejaran keluarga Al Qudri yang pasti tak akan tinggal diam mengetahui anak mereka menjadi menantu musuh bebuyutan mereka sendiri meski Sofia sudah diusir karena keislamannya. Selanjutnya, kisah Bibi Christine muda yang kemudian mempunyai ASI dan menjadi ibu susu Maxwell hingga kematian Sofia dalam kecelakaan yang dipercaya didalangi oleh musuh Powell. Lalu yang terakhir, kematian sang ibunda yang sebelumnya sempat memberikan jantungnya untuk Bibi Christine. Hingga kemudian sang ayah George Powell menjadi terpuruk dan menggila. Ia menjadi orang yang ambisius terhadap kekayaan dan akhirnya masuk menjadi salah seorang konglomerat dunia. Bibi Christine menghentikan ceritanya. Matanya sudah dipenuhi lelehan cairan yang terus mengalir mengingat masa-masa menyedihkan ketika Sofia yang baik menghembuskan nafasnya yang terakhir sebelum mendonorkan jantungnya untuk Bibi Christine.


Semua yang sejak awal mendengarkan dengan hikmat kisah yang dituturkan oleh Bibi Christine secara runtun langsung merasa shock mendapatkan kisah tersebut. Sedangkan Maxwell sendiri yang mendengar semua kisah lengkap ini tak mampu menyembunyikan perasaannya. Dadanya terasa sesak. Matanya memanas. Sebutir air mata menetes begitu saja dari netra biru yang selama ini terkenal tegas dan dingin itu. Harapannya untuk bertemu sang ibu pupus sudah. Suaranya bergetar menahan tangis.


"Lalu dimana pusara Ibu?", tanyanya lirih.


"Ibu Tuan dikuburkan di...", Bibi Christine terdiam sejenak. Bibirnya bergetar.


"Di mana Bi?", Maxwell terus menatap ke arah sang ibu susu.


"Di...taman belakang mansion ini"


Maxwell membelalak tak percaya. Selintas ingatannya terbang ke momen-momen dimana ia sering mendapati sang Ayah duduk di gazebo belakang ketika menjelang senja pulang dari rutinitas pekerjaannya, dan Bibi Christine sendiri pun sering ke sana juga membawa Maxwell kecil bermain bahkan hingga Maxwell sudah dewasa. Dan sontak Maxwell mengingat sesuatu.


"Makam nenek?"


"Sebenarnya.... makam yang selama ini Tuan ketahui ...yang berada dekat gazebo itu...yang Tuan anggap sebagai makan nenek Tuan... sebenarnya itulah makam ibunda Tuan, Nyonya Sofia..."


Maxwell menahan nafasnya. Kepalanya semakin pusing.


"Jadi dimana makam nenek?", gemetar suara Maxwell.


"Nenek Tuan...dimakamkan di samping makam kakek Tuan di dekat resort peninggalan kakek Tuan di Brisbane".


"Jadi sewaktu pemakaman itu..."


"Maaf Tuan. Saya lah yang mengaturnya. Saya diam-diam menyuruh orang untuk memakamkan nenek Tuan di sana...karena nenek Victoria sudah berpesan, jika dia tiada... dia ingin dimakamkan dekat makam suaminya. Namun karena Tuan memerintahkan saya untuk memakamkan di taman belakang...maka waktu itu.. makam rahasia Nyonya langsung saya jadikan sebagai makam Nenek agar....Tuan yang sangat menyayangi nenek Tuan juga turut menziarahi makam ibu kandung Tuan sendiri....", Bibi Christine berkata sambil terus menangis mengenang semuanya.


"Kau.... bisa sedemikian rapi menyembunyikan semuanya...bagaimana bisa...aku selama ini percaya padamu..."


"Maafkan aku Tuan... ", Bibi Christine semakin terisak. Ia menangkupkan kedua tangannya di dada memohon maaf. Maxwell melihatnya sekilas dan mengusap wajahnya kasar.


"Tuan... ada sesuatu yang akan ku ceritakan padamu. Tapi aku ingin Tuan dan Nyonya saja yang tau"


"Apa?"


"Mari ikuti saya Tuan, Nyonya", Bibi Christine berdiri dan membungkuk hormat. Ia melirik Paman Sam. Yang dilirik nampak mengangguk. Pria tua itu seolah sudah paham apa yang harus dilakukannya. Sementara Maxwell dan Ayesha saling berpandangan dan kini berjalan di belakang Bibi Christine, mengikutinya ke arah ruang perpustakaan. Paman Sam sendiri mengikuti dan berjaga di depan pintu ruang pustaka, seolah sebagai tanda, tak seorang pun diijinkan mengikuti mereka bertiga. Semua yang duduk ditinggal di ruangan tamu saling berpandangan dan hanya menyimpan rasa penasaran di hati. Grace hanya bisa mengikuti bayangan punggung sang kakak sampai hilang di balik pintu yang sudah tertutup. Kak, apakah hari ini kau ijinkan aku mengetahui jati diriku juga? Sejak tadi kau tidak menyinggung namaku...Ataukah semua yang aku nantikan selama ini juga hanya tinggal harapan? Pikirnya pilu.