
"Angkat tanganmu!"
Terdengar suara menggema dari sebuah speaker kecil di sudut atas ruangan penyanderaan. Mark tersenyum sinis menyadari skenario menakjubkan pihak musuh yang tak nampak. Hanya ada sinar laser dari sniper yang mengarah ke kepalanya dan juga ke arah bom kecil yang melekat di bagian depan tubuh sesosok wanita muda yang terikat dan bersandar di dinding. Bahunya nampak mengeluarkan darah segar. Mark tercenung sejenak mengingat sang Bibi yang akan diselamatkan tidak sendiri. Wanita tua itu terbaring pingsan tak jauh dari sang sandera lainnya yang terakit bom. Dia melirik jendela kaca yang cukup lebar namun berjeruji. Jendela itu nampak terbuka lebar dan menjadi jalan masuknya laser sniper yang pastinya berasal dari gedung tinggi yang berada di sekitar wilayah tersebut.
"Lepaskan senjatamu segera atau sandera akan meledak bersama kalian semua", suara memerintah dari speaker kembali terdengar. Mark menurut. Matanya awas menyusuri isi ruangan.
"Apa maumu"
"Panggil boss kalian"
"Tidak akan. Dia tidak perlu kemari mengikuti perintah orang rendah sepertimu"
Dorrrr
Terdengar suara tembakan menghancurkan lemari kecil di dekat kaki Mark yang kini sudah sepenuhnya masuk ruangan tak jauh dari para sandera. Kau sudah kena perangkapku, batin Mark.
"Panggil dia sekarang"
"Baik"
Mark meraih HP nya yang ada dalam saku. Sambil menelepon ia memberi kode pada anak buah di belakangnya dengan isyarat jarinya yang memegang HP. Ia tercekat sesaat ketika melihat bom waktu di dada sang sandera menunjukkan waktu 20 menit lagi.
"Tuan, mereka ingin bertemu dengan Tuan", ujar Mark keras.
"Baik, Tuan", Mark menutup telponnya.
"Waktumu hanya 5 menit"
"Mana mungkin. Boss kami tidak di sini. Ia di pusat kota. Dasar Bodoh!"
"Diam!"
Dorrr Dorrr Dorrr
"Kini saatnya", bisik Mark disela tembakan sniper musuh yang kembali menghancurkan isi kamar.
"Kalau kau masih membantah, giliran kepalamu jadi sasarannya"
"Apa yang kalian inginkan? Percuma membunuh kami dan sandera ini karena kami tidak berarti untuk Boss kami, hah?", teriak Mark.
"Jika tidak berarti Boss kalian tidak akan mengutus kalian kemari bukan? Jangan coba menipuku"
"Kalian memang rendahan. Terserahlah! Kalian menghabiskan waktu percuma melakukan ini semua", teriak Mark. Seketika terdengar kembali serentetan tembakan sniper musuh menambah kehancuran barang-barang di kamar, namun tidak berlangsung lama. Suara teriakan kesakitan terdengar dari speaker.
Arggghhh
Mark tersenyum. Good, ujarnya pada anak buahnya yang berada di seberang melalui alat kecil di telinganya. Dengan cekatan ia dan tim menghambur ke arah dua sosok sandera yang tak berdaya. Thodor segera mendekati tubuh wanita tua yang tak lain Bibi Cristine. Ia melakukan pertolongan pertama dengan menutup jalan darah yang terus mengalir dari luka penganiayaan dan tembakan, selanjutnya mengangkatnya ke luar diikuti dua orang anak buahnya yang berjaga melindunginya. Di luar sudah tidak terdengar lagi baku hantam. Sepertinya musuh sudah ditumbangkan. Sedangkan Mark mendekati sang wanita muda dan dengan cepat mulai beraksi menjinakkan bom waktu yang menyisakan waktu 10 menit lagi. Peluhnya bercucuran. Situasi sangat menegangkan tercipta karena berpacu dengan waktu. Tanpa menoleh sedikitpun ke wajah sandera yang nampak pucat, Mark terus bekerja. Sementara itu sang sandera hanya mampu menahan nafasnya dan berdoa dalam hati. Sesekali ia meringis menahan rasa sakit dari betisnya yang tertutup celana panjang putihnya yang ternyata berdarah karena terserempet peluru sniper musuh.
"Pergilah! Tinggalkan aku sendiri"
Mark menoleh sedetik kemudian ke wajah wanita muda berjilbab di depannya. Ia tak menjawab.
"Ku mohon! Selamatkanlah diri kalian! Jangan membuatku membenci diriku sendiri. Pergilah!".
"Diamlah!", Mark sedikit membentak. Ia tak ingin fokusnya hilang. Sang wanita muda menggigit bibirnya. Pandangannya mulai nanar. Satu menit berikutnya, bersamaan dengan berhentinya suara detik bom maka jatuh pulalah tubuhnya ke atas lantai dengan posisi miring.
Semuanya bernafas lega. Mark pun melepas ikatan bom dan juga ikatan tali di kaki dan tangan si sandera. Ia baru sadar bahwa sosok wanita yang ditolongnya sudah pingsan. Pakaiannya sudah berlumur darah. Dengan cekatan, diambilnya perban putih dari dalam tas ranselnya dan dililitkan ke luka di bahu dan kaki sandera untuk sekedar menahan laju darahnya. Setelah beres, ia pun mengangkatnya ke luar menyusul tim sebelumnya.
Sementara itu sesosok bayangan yang sejak tadi mengamati dari kejauhan dengan teropongnya nampak tersenyum lega. Aku sudah menduga, kalian mampu mengatasinya dengan mudah, gumamnya. Ia pun bergerak turun dari roof top bangunan tempatnya sejak tadi bersemayam. Bayangan bertopi itu langsung menaiki motor besarnya dan melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalan raya menuju suatu tempat.
Setengah jam kemudian, ia sudah tiba di sebuah kompleks apartemen elit. Tanpa menyapa security yang membungkukkan badan ke arahnya, ia pun bergegas menuju lift dan bergerak naik ke apartemen yang dituju. Tak menunggu lama, pintu yang diketuknya pun terbuka dan muncullah sosok lelaki tua yang menyambutnya dengan hormat.
"Silakan masuk, Tuan Maxwell"
"Thanks", yang disapa Tuan yang ternyata Maxwell itu pun kemudian masuk dan duduk di sofa.
"Apakah Anda ingin minum sesuatu, Tuan?"
"Tidak perlu. Aku tidak sedang bertamu. Laporkan padaku sekarang juga".
"Baiklah. Sebentar Tuan", si pria tua beranjak dari duduknya dan menghampiri lemari kaca di dekatnya.
"Anda bisa melihatnya, Tuan. Saya yakin tak lama lagi Anda akan segera mengetahui jati diri Anda yang sebenarnya", si lelaki tua tersenyum.
Maxwell meraih dan membuka amplop coklat di tangannya. Ia letakkan semua dokumen di dalamnya di atas meja sofa. Keningnya berkerut. Bibi Cristine? lirihnya. Hatinya sangat terkejut melihat kenyataan yang selama 30 tahun ini tertutupi dengan sangat rapat dan ternyata orang yang selama ini dicarinya sebagai kunci pembuka rahasia tak jauh dari sisinya.
"Dari mana kau dapatkan semua ini Mr. Joe?", Maxwell menatap si lelaki tua.
"Aku baru dapat petunjuk ini sesaat setelah Anda memberi kabar bahwa Cristine diculik. Jiwa detektifku langsung berkata, tak mungkin seorang pembantu biasa dijadikan sandera untuk memancing keluar seorang The Emperor, Maxwell Powell, bukan?" ujarnya meyakinkan, lalu melanjutkan.
"Setelah mendapat laporan Mark, anak buah Tuan, tentang posisi si penculik, saya pun menemukan bahwa musuh yang menculik Cristine adalah anak angkat Tuan Powell yang lainnya, dan dia bukan orang bodoh. Dia pasti tau banyak tentang jati diri Tuan, sehingga nekat membangunkan singa yang sedang tidur"
"Analisa yang tepat", Maxwell memuji Mr. Joe. Kau tau, aku sengaja mengatakan Bibi Cristine diculik agar kau segera menyelidiki siapa Bibi Cristine sebenarnya. Dan aku benar, kau memang seorang detektif yang cerdas, batin Maxwell.
"Lalu dimana dia sekarang?"
"Rencananya menculik Christine hanyalah serangan awal Tuan, kini dia sedang bersembunyi. Dia belum bisa terdeteksi karena sepertinya di belakangnya bukan orang sembarangan"
"Kau benar. Lalu dari mana semua dokumen anak adopsi ini Kau peroleh?"
"Dari rumah masa lalu Christine"
Maxwell menatap Mr. Joe dengan raut wajah penasarannya.