
Ayesha mengerjapkan matanya merasakan kengerian yang luar biasa yang baru saja dialaminya. Di dekatnya teronggok beberapa keping badan Helly yang terpisah satu sama lain dalam ukuran kecil dan besar. Perlahan gadis bercadar itu pun bangkit dan membereskan peralatan terjun payung yang barusan dipakainya. Begitu menatap sekeliling barulah ia terkejut. Puluhan pasang mata saat ini sedang menatapnya heran. Sekelompok anak-anak berpakaian seragam sekolah merah putih saat ini tengah menatapnya. Seorang pria dewasa dengan badan cukup tinggi dan berkulit sawo matang berada di antara mereka juga sedang berdiri memandangnya dengan tatapan penuh selidik dan keheranan.
Ayesha pun kini bangkit dan bergerak mendekati sang pria yang sepertinya adalah guru di kawasan sekolah tempatnya jatuh dari Helly yang terbakar.
"I'm sorry Sir. I have disturbed all of you, but I dont mean to do that. I have an accident", Ayesha menunjuk kepingan Helly di sekitar dan menjelaskan dengan bahasa Inggris dengan pelan dan kedua tangan menangkup di dada.
Sang guru kemudian tersenyum dan menjawab dengan bahasa Inggris yang lumayan fasih.
"Saya tau. Tidak mengapa. Bersyukur Anda tidak kenapa-napa. Apakah Anda turis di sini Nona?"
"Terima kasih banyak atas pengertian Anda. Ya, aku seorang turis yang tersesat. Apakah Anda seorang guru Tuan?"
"Ya. Saya guru olah raga. Panggil saya Tegar. Nama saya Tegar Sembiring"
"Oh Tuan Tegar. I'm...just call me Ma'am Jasmine", Ayesha terpaksa berbohong tentang namanya, ia berpikir bahwa anak buah Luke tentu akan mencarinya dan keberadaannya akan mudah ditemukan jika ia berterus terang.
"Nice to meet you, Sir. Your English is good. I'm very happy coz i need some information. Btw, bolehkah saya minta tolong?"
"Sure. What can I do for you madame?"
"Aku mau ke kota. Dimanakah arah kota Sir?"
Tuan Tegar yang nampak masih muda itu kemudian nampak sedikit berpikir sebelum menjawab.
"Apakah Anda ada kendaraan Nona?"
"Tidak ada. Mungkin aku bisa menyewanya di sekitar sini? Oh ya, bolehkah Sir memberitahuku di mana bisa menyewa kendaraan ke sana?"
"Di sini tidak ada usaha jasa menyewakan kendaraan Nona. Tapi kalau kuda ada. Begini saja. Kebetulan aku punya paman yang rumahnya tidak jauh dari sekolah dasar ini. Dia bisa memberimu pinjaman kuda untuk sampai ke kota"
"Anda baik sekali Tuan. Semoga Allah membalas semua kebaikan Tuan"
"Dont mention it. Kami orang Indonesia suka menolong siapapun yang membutuhkan. Mari ikut bersama saya"
"Thanks Sir!".
Tegar, sang guru olah raga pun kemudian mengantar Ayesha keluar dari kompleks sekolah setelah sebelumnya mengamankan kelasnya. Pria yang ternyata juga mempunyai profesi lain sebagai seorang guide atau pemandu wisata tersebut kini berjalan bersama Ayesha menuju suatu tempat.
"Nona, tidak mengapa kah kita berjalan kaki? Kebetulan hari ini aku tidak membawa motor karena rusak dan kawan guru lainnya juga sedang tidak membawa juga"
"Apakah masih jauh Tuan Tegar?"
"Tidak. Hanya sekitar 300 meter saja. Apakah Nona sudah lelah?"
"Tidak. Aku masih bisa berjalan"
Tidak lama sampailah mereka berdua ke sebuah rumah sederhana yang cukup luas. Terlihat dua ekor kuda berwarna coklat sedang ditambatkan di sebuah pohon besar di depan rumah. Kedua hewan tunggangan tersebut sedang duduk bermalas-malasan.
Sementara itu, di tempat lain Luke sedang menunggu anak buahnya datang. Tak lama terlihat dua buah mobil double cabin datang dan langsung berhenti tepat di depan Luke.
"Mengapa lama sekali?" Luke langsung menyambut dengan teriakan.
"Maaf Tuan. Tadi kami harus menunggu karena jalanan macet di jalan utama menuju kemari"
"Ini bukan pusat kota. Mengapa ada macet? Ya sudahlah, ayo kita segera pergi"
Luke dan tiga orang anak buahnya yang berbadan tegap kini memacu mobil mereka menuju ke arah barat.
"Apakah kau sudah tau dimana posisi wanitaku sekarang?"
"Dari titik menghilangnya Helly, kemungkinan saat ini Nyonya ada di sebuah desa dekat kaki Gunung Sibayak, Tuan. Karena Helly..."
"Apa maksudmu Helly menghilang?", Luke spontan menarik kerah baju pria di sampingnya yang duduk di kursi kemudi. Mobil seketika bergerak kacau sehingga Luke pun melepaskan cengkeramannya.
Matanya menyala merah menatap jalan. Pikirannya sudah kalut membayangkan Ayesha jatuh ke jurang bersama Helly yang jatuh karena rusak.
"Setengah jam lalu kita kehilangan kontak dengan Helly Tuan. Kemungkinan ia jatuh", suara sang supir bertambah lemah karena ketakutan. Luke pun hanya terpaku.
"Tidak!!! Jika sampai Ayesha celaka kalian akan mati, kau dengar?", Luke menahan emosinya dengan susah payah.
Setengah jam kemudian kedua mobil yang biasa membelah jalanan terjal itu kini sampai di sebuah desa.
"Harusnya Helly kita ada di sekitar sini Tuan"
"Cepat menyebar dan cari Helly dan Ayesha sampai dapat. Ingat, jangan kembali sebelum kita temukan meski hanya kepingannya. Kalian dengar?", Teriak Luke.
"Baik Tuan"
Segera delapan pria pun keluar dari dua buah mobil yang mereka parkirkan di depan sebuah bangunan pemerintahan yang tertulis Kantor Kepala Desa. Kini dengan berpasangan mereka pun bergerak ke arah yang berbeda. Luke bersama seorang ajudannya menuju arah Selatan sedang yang lainnya ke arah Utara, Barat dan Timur.
Luke dan ajudannya kini tiba di sebuah bangunan sekolah dan mereka berhenti karena kondisi sekolah yang nampak ramai dengan kerumunan warga.
"Sepertinya ada sebuah kejadian Tuan", seru sang ajudan sambil menatap ke arah kerumunan.
"Ayo masuk"
"Excuse me", ajudan Luke masuk dan menyapa orang tua yang sedang berdiri berdesakan dengan yang lainnya.
"Excuse me Sir, can you speak English?"
Sang pria tua berteriak memanggil anaknya yang kini muncul dari arah kerumunan juga.
"Desy. Kesini cepat. Kau kan tau Bahasa Inggris. Coba kau bicara dulu sama bulek bulek ini", teriak sang pria tua.
"What can I do for you, Sir?", sang anak perempuan yang nampak masih remaja yang dipanggil Desy nampak mengerjapkan matanya melihat Luke dan ajudannya. Mereka pun terlibat pembicaraan dalam Bahasa Inggris sekarang.
"Apa yang terjadi dik? Ada apa di sana?", sang ajudan Luke menunjuk ke arah keramaian di depan mereka.
"Oh ada kepingan hellycopter yang ditemukan di lapangan sekolah tadi pagi Tuan"
"Apa?", Luke terkejut dan menatap tajam ke arah kerumunan.
"Apakah kepingannya banyak?"
"Ya. Baru saja para warga dan petugas mengumpulkan dari tempat lainnya dan sekarang itulah yang sedang dilihat warga"
"Apakah ada orang yang ditemukan? Maksudku penumpang Helly?"
"Tidak ada. Tapi ada yang bilang, mereka ada lihat seorang wanita bersamaan turun dengan kepingan Helly yang terjatuh"
"Lalu dimana wanita tersebut?"
Sang ajudan merengsek maju membelah kerumunan, sedangkan Luke masih mewawancarai Desy, sang gadis remaja dan beberapa orang disekitarnya yang terlihat antusias menambah info yang diberikan Desy.
Tak lama setelah beberapa menit kemudian, sang ajudan pun kembali.
"Bagaimana? Apakah itu Helly ku?", tanya Luke tak sabar.
"Be-benar Tuan", sang ajudan menunduk takut.
"Ayo ikut aku", Luke bergegas pergi setelah memberikan beberapa lembar uang biru kepada Desy dan yang lainnya sebagai tanda terima kasih. Sang gadis dan orang-orang yang tadi memberikan informasi pada Luke pun menerima dengan mata berbinar dan kini saling berbincang takjub karena seperti mendapatkan durian runtuh. Hanya sekedar berbicara pakai bahasa asing terus tiba-tiba mendapatkan jack pot uang kaget. Begitulah pemikiran mereka yang polos sambil tak henti-hentinya membicarakan rezeki yang mereka dapatkan.
Luke dan ajudannya kini sudah di dalam mobil dan kini bergerak cepat menuju kota. Luke sudah mendapatkan info berharga tentang kemungkinan kondisi Ayesha saat ini dan dimana sekarang ia berada. Sekitar 40 menit kemudian kini mereka pun sampai di kota dan mencari post travel. Sudah beberapa agen travel yang mereka datangi namun belum menemukan petunjuk dan ini adalah agen travel ke empat yang mereka telusuri.
"Namanya Ayesha. Wanita berpakaian muslimah menggunakan penutup muka. Pakaiannya terusan berwarna biru muda", jelas ajudan Luke pada petugas travel.
"Ada seperti itu ciri-cirinya tapi namanya Nona Jasmine Tuan"
"Sebentar. Coba lihat ini. Apakah ini wanita yang menggunakan travel kalian?", Luke menunjukkan foto Ayesha di ponselnya yang diambilnya diam-diam ketika mereka sedang makan malam bersama.
"Ya. Dia ini Nona Jasmine", sahut sang petugas.
"Kemana dia menumpang travel kalian?"
"Maaf, apa hubungan Anda dengan Nona ini?"
Luke menarik nafas. Ia ingin sekali memukul sang petugas karena sudah tidak sabar ingin menemukan Ayesha, namun begitu mengingat wilayah ini bukanlah wilayah kekuasaannya ia pun menahan diri sekuat mungkin.
"Nona Jasmine yang kalian bilang ini adalah istriku. Kami sedang bertengkar. Masalah kecil dalam rumah tangga. Biasalah. Aku harus segera menemukannya karena ia baru kali ini datang ke Indonesia. Sekarang Anda paham? Tolong bantu saya. Saya sangat mencintai istri saya. Saya takut dia tersesat karena dia bahkan tidak membawa dompet dan HP-nya"
"Oh baiklah Tuan. Saya paham. Saya hanya tak ingin membeberkan info pelanggan saya pada sembarangan orang"
"Tak mengapa. Saya paham. Jadi dimana dia sekarang?"
"Nona Jasmine menuju Medan. Ibu kota propinsi."
"Di Medan dimananyakah? Bandara, Pelabuhan atau di mana?"
"Maaf kalau itu kami tidak tau Tuan karena itu tidak disebutkan di dokumen kami. Biasanya pelanggan hanya diturunkan di post pusat Medan, dan disanalah mereka memutuskan tujuan mereka."
"Maksud Anda travel Anda ini tidak mengantar sampai tujuan, begitu?"
"Ya, Tuan. Sampai di post travel maka pelanggan akan melanjutkan tujuan dengan travel lainnya"
"Baiklah. Tolong berikan aku nomor ponsel supir travel yang membawa istriku"
"Baiklah. Ini silakan dicatat"
"Terima kasih. Permisi", Luke pun berlalu setelah menyimpan nomor yang diinginkannya.
"Sama-sama".
Luke mengusap wajahnya dan melihat jam tangannya. Ia kemudian melakukan panggilan dengan HP-nya.
"Segera cari info di pelabuhan dan bandara di Medan tentang wanitaku. Cepat!"
Luke menutup sambungan telponnya dan kini melakukan panggilan ke nomor lainnya lagi.
"Mengapa lama sekali Helly-nya. Apakah kalian sudah bosan hidup?"
"Baiklah. Aku tunggu. Lima menit lagi atau kalian akan kutembak", Luke mengepalkan tangannya menahan emosi yang sangat besar. Amarahnya sebenarnya hendak meledak sejak pertama kali ia mendapat kabar tentang mesin Helly yang rusak ketika ia baru saja sadar dari totokan Ayesha di pasar tadi pagi.
Sementara itu, Ayesha, sosok yang dicari-cari Luke saat ini sedang merebahkan tubuhnya yang terasa sangat lelah di sebuah kamar hotel yang sederhana. Matanya lepas memandang langit-langit kamar dengan pikiran berkelana menuju sang kekasih hati yang sangat dinantikannya. Perlahan tangannya mengelus perut ratanya sambil bergumam menahan kerinduan.
"Hubby. Segeralah datang. Aku merindukanmu", matanya dipejamkan dan kini ia mulai terlelap tak sanggup menahan kantuknya akibat keletihan. Di atas nakas, jus jeruk hangat yang barusan dipesannya bahkan tidak sempat tersentuh. Ayesha sudah berusaha menahan kesadarannya namun ia tak sanggup lagi. Ia pun tenggelam ke alam mimpi yang indah.
Nun jauh di benua yang berbeda, Maxwell Powell sedang berjalan cepat menuju pesawat jet pribadinya. Hatinya bergemuruh ketika baru saja mendapat telpon dari sang istri yang amat dirindukan dan dikhawatirkannya. Bibirnya menyungging senyum dan hatinya menyimpan sejuta asa perjumpaan dengan sang wanita kekasih hatinya tersebut.