
"Baiklah, aku percaya padamu Mr. Abraham. Seorang the Great King sepertimu pastilah tak akan melakukan trik hina yang sangat rendahan seperti itu", Maxwell masih terus menatap musuh yang balik menatapnya dengan pandangan tak kalah tajam.
"Well. Terima kasih atas penghormatan ini. Aku akan menetapkan aturan main kita", Maxwell menatap Mr Abraham lekat lalu mengedarkan pandangannya ke arah anak buah musuh yang melihatnya dengan tatapan waspada.
"Sebagai seorang pemimpin hebat, ia akan bertanggung jawab atas seluruh pasukan, bukan?"
"Ya. Tentu saja"
"Dan sebagai seorang pemimpin besar, ia akan mengatakan bahwa kemenangannya adalah kemenangan untuk semua orang yang dipimpinnya. Dan sebaliknya, kekalahannya adalah kekalahan untuk semuanya"
Mr Abraham mulai menganalisis kata-kata Maxwell. Ia merasakan ada tujuan tertentu yang ingin dicapai sang musuh di depannya. Matanya menyipit dan dengan gaya the emperor nya, ia mengangkat dagu dan memegangnya. Teruskan. Apa sebenarnya yang kau inginkan? Gumamnya dalam hati.
"Tuan Abraham yang terhormat. Dunia mafia tidak harus selalu berbau dengan kematian musuh bukan?"
"Sampaikanlah apa maumu anak muda. Jangan berbelit-belit"
"Dalam aturan main kita, cukup kita berempat yang bertarung. Aku dan orang di sampingku ini. Sedangkan Tuan boleh memilih dua orang terbaik dari pasukan kalian untuk bertanding melawan kami berdua. Area tanding kita di dalam hutan sana selama 1 jam sejak kita mulai masuk ke sana. Siapa yang terkena tembakan di lengan kirinya, maka dia kalah dan harus kembali kemari. Atau yang patah lengan kirinya maka dia juga kalah dan kembali ke tempat ini. Ini berlaku untuk kedua orang dari tim yang sama. Maka pemenang dari pertarungan ini adalah siapa yang tidak terluka atau pun cuma satu orang dalam timnya. Kedua pasukan kita menjadi saksi atas semuanya dan harga diriku dan engkau Tuan Abraham akan menjadi jaminan akan hasil akhir pertarungan hari ini. Bagaimana?"
Mr Abraham cukup terkejut mendengarkan aturan main dari Maxwell.
"Apa kau takut kalah hah? Sepertinya pasukan kalian tidak siap untuk menghadapi kami. Sungguh membuang-buang waktu dan energi dengan membawa pasukan yang begitu banyak"
"Aku hanya menyampaikan aturan dariku, jika Anda keberatan berarti Anda tidak siap dengan kata-kata Anda sendiri"
"Sudah ku katakan, aku tidak pernah mencabut kata-kataku. Baiklah. Lalu bagaimana jika hasil akhirnya seri Anak Muda?"
"Aku akan serahkan aturan berikutnya padamu selaku Seniorku"
"Baiklah. Bersiaplah untuk bangkrut Powell kecil", Mr Abraham tersenyum sinis.
Kini mereka berdiri berempat berhadapan. Mr Abraham bersama orang kepercayaan di sampingnya dan Maxwell bersama Mark. Ternyata pria separuh baya yang masih nampak bugar itu memutuskan untuk menghadapi musuhnya sendiri. Salah seorang dari pasukan Maxwell dan Mr Abraham kemudian mengarahkan pucuk pistol mereka ke atas dan terdengarlah suara tembakan bersamaan. Segera setelah itu, keempat orang yang sudah berhadapan itu pun berlari ke arah hutan dengan masing-masing senjata di tangan mereka. Tak lama begitu mereka masuk ke area hutan yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang tinggi menjulang, terdengar suara tembakan yang saling bersahutan. Maxwell membidik sang pimpinan musuhnya dari balik pepohonan dan sesekali mengecoh musuhnya dengan keluar dari tempat perlindungan. Sementara itu Mark nampak mulai menjauh membawa musuhnya masuk ke hutan. Dengan keahliannya dalam menembak dan mengatur strategi, ia pun terus berusaha mendesak musuhnya dengan tembakan-tembakan beruntun yang nyaris sempurna mengenai sasaran hingga akhirnya ia pun berhasil menembakkan pelurunya yang tajam tepat ke lengan kiri sang musuh. Dengan tatapan marah bercampur malu, sang musuh pun ke luar dari hutan dan disambut dengan suasana menegangkan oleh kawannya. Sedangkan pasukan Maxwell nampak lega namun tetap waspada.
Sementara itu Maxwell dan Mr Abraham kini berhadapan dengan tangan kosong karena keduanya sudah sama-sama tak memiliki peluru. Maxwell tersenyum lega ketika ia melihat Mark sudah mendekat dan kini menonton mereka berdua. Misinya sudah sukses, kini tinggallah Maxwell yang harus segera menuntaskan. Ia tak ingin membuang banyak waktu. Bagaimanapun, di kepalanya, wajah Ayesha terus membayang memintanya untuk segera datang. Dilihat Mr Abraham yang seperti kepayahan mengatur nafas karena terus berusaha menghindari serangannya, maka dengan gerakan menipu Maxwell pun memutar kaki kanannya yang seolah menendang ke perut lawan namun tiba-tiba memutar ke lengan kiri Mr. Abraham.
Argghhh...
Suara jeritan Mr. Abraham yang tertahan pun sempat memenuhi sekitar. Pria tua yang tampan itu pun terduduk menahan sakit pada lengannya yang patah.
"Shit !!!", teriaknya marah.
"Maafkan aku Mr. Abraham. Siapa yang akan bangkrut sekarang?", pandangan Maxwell menghujam ke wajah sang Lion of Desert. Yang ditatap melengos dan menelan ludah.
"Tapi jangan khawatir, aku tak menginginkan itu semua, kecuali..."
"Apa maksudmu Anak Muda"
"Anda menjawab semua pertanyaanku dengan jujur"
"Jangan membuat aturan mu sendiri. Kesepakatan tetap dijalankan. Aku bukan seorang pengecut"
"Anda benar. Tapi aku tidak membutuhkannya. Apakah Anda tidak ingin menyelamatkan Marwah Anda sendiri di depan pasukan Anda?"
"Apa maumu?"
Maxwell merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah foto. Mr. Abraham mengernyitkan dahi dan terbelalak begitu melihatnya lebih dekat.
"Anda mengenalnya bukan?", Maxwell mulai menaruh harapan besar begitu melihat ekspresi wajah yang berubah di depannya.
"Ada apa dengan foto ini?", Mr Abraham meraih foto tersebut dengan tangan bergetar.
"Aku ingin Anda mengatakan siapa dia sebenarnya dengan detail dan dimana dia berada sekarang. Itu saja"
"Untuk apa?"
"Jawablah Mr Abraham"
"Dia Sofia Alexander. Aku tak tau dimana sekarang dia berada"
"Aku tau nama lengkapnya tersebut. Apa hubungannya dengan Abraham Alexander?", Maxwell menatap Mr. Abraham dengan mata sayu.
"Dia...", Mr Abraham menunduk. Tangannya masih memegang foto sang wanita cantik berjilbab yang tersenyum manis itu dengan bibir bergetar.
"Dimana kau menemukan foto ini?", kini mata pria tua itu mengarah tajam ke wajah pemuda di hadapannya yang ternyata juga menelusuri tiap inci wajah di depannya. Keduanya saling memandang dengan bahasa hati masing-masing.
"Di rumah pembantuku. Dia menyembunyikan identitas ku selama 30 tahun dengan sangat rapi..." Maxwell tercekat mengenang perjuangannya selama ini mencari jati dirinya sendiri. Begitu sulit ia melakukannya namun ternyata sumbernya tidak jauh darinya. Bahkan sangat dekat.
"Jadi..kau adalah..."
"Aku tidak tau..."
"Jadi apa maksudmu menanyakan ini padaku"
"Informan ku mengatakan bahwa Alexander al Qudri sebenarnya memiliki empat orang anak, dan salah satunya adalah seorang putri yang terlupakan. Apakah engkau Mr. Abraham Alexander bisa menceritakan padaku siapa putri tersebut?", Maxwell dengan bibir bergetar menahan gejolak. Mr Abraham tercekat.
"Sofia Alexander", lirih sang pria tua.
Maxwell terduduk seketika. Pikirannya kacau. Bukankah ini yang hendak ia pastikan hingga ia meninggalkan Ayesha dan kini wanita nya tersebut dalam bahaya?
"Lalu siapa suaminya?"
"Sofia pergi dengan kekasihnya yang muslim dan karena itulah....", Mr Abraham tidak melanjutkan kata-katanya.
"Ia kemudian menjadi muslim dan karena itu ia lalu dibuang dari keluarga Alexander al Qudri. Lalu di luar sana musuh orang tua nya menjadikannya tumbal. Memperkosanya dengan brutal hingga ia hamil dan lahirlah aku, bukan?", Maxwell melanjutkan kata-kata Mr Abraham dengan suara bergetar.
"Maxwell...", Mr. Abraham mendekati Maxwell yang tertunduk dengan genangan air mata yang nyaris tumpah. Namun pria gagah itu langsung menghapusnya.
"Maxwell Powell. Kau...adalah tetap keponakanku...satu-satunya penerus Alexander al Qudri" Mr. Abraham tak sanggup lagi menahan gejolak hatinya yang sejak tadi sudah berperang dalam dirinya. Bayangan wajah Sofia, adik yang paling disayanginya itu pun terus menari-nari di benaknya. Pria itu pun merengkuh bahu pemuda di depannya. Lelaki yang menjadi anak angkat musuh bebuyutannya tersebut dan beberapa waktu lalu menjadi target tembakannya kini dipeluknya dengan sepenuh jiwa. Maxwell tak tau harus berbuat apa. Ia hanya diam dan masih mencerna kata-kata pria yang memeluknya. Mark yang terkejut dengan semua rahasia Boss nya hanya berdiri menyaksikan drama kehidupan kedua lelaki di depannya.
Perlahan Mr Abraham melepas pelukannya. Matanya nampak memerah karena menangis.
"Aku akan menceritakan semuanya...nanti..setelah aku pastikan bahwa kau adalah keturunan Sofia Alexander"
Tanpa menunggu persetujuan Maxwell, Mr Abraham pun mencabut beberapa helai rambut Maxwell dan menyimpannya di sakunya. Maxwell menatap tak percaya.
"Sekarang kembalilah. Bukankah kau masih ada urusan?", Mr Abraham pun bangkit dan berdiri dengan memegang lengannya. Ia nampak mengernyitkan dahi ketika melihat Mark datang mendekat dengan bercak darah di lengan kirinya. Ia berakting? Mr Abraham pun tersenyum. Ia hanya bisa menonton ketika Mark kini mendekati Boss nya dan melakukan hal yang sama. Ketiganya pun kini berjalan pelan kembali ke pasukan mereka.