A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 86. Engkau Anakku



Jet pribadi tersebut baru saja mendarat di salah satu bandara di North Caroline, Amerika, ketika terdengar dering panggilan dari ponsel Maxwell.


Sejenak pria Ausy beristrikan wanita Rusia itu tercenung melihat nomor tak dikenal di HP nya. Namun begitu mengingat keberadaan Ayesha yang masih belum ditemukannya dan kemungkinan ada informasi dari penculiknya dia pun mengangkat panggilan tsb.


"Who are you?"


Mark yang berada di belakang Maxwell hanya mengawasi sang Tuan. Dia melihat Maxwell nampak lebih banyak mendengarkan dari pada berbicara hingga akhirnya pria yang baru saja menghabiskan sekilo cemilan buah-buahan segar itu membalas dengan singkat kata-kata orang di seberang.


"Well. See you"


Maxwell menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Matanya menerawang sejenak lalu menghampiri Mark.


"Kita akan bertemu dengan The Lion of Desert sebentar sebelum melanjutkan pencarian".


"Baiklah Tuan"


Keduanya pun bergegas menuju suatu tempat setelah beberapa mobil mewah menyambut kedatangan mereka di bandara.


"Apakah mereka suruhan Mr Abraham, Sir?"


"Ya"


Setelah satu jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah kawasan mansion di pusat kota. Sebuah mansion bak istana berdiri megah. Gerbang depannya langsung terbuka otomatis ketika rombongan mereka sampai. Sekitar 100 meter dari gerbang depan, tibalah Maxwell dan rombongan penjemput tepat di depan pintu utama.


"Selamat datang di kediaman Al Qudri, Tuan Maxwell Alexander ", seorang pria yang tak asing di mata Maxwell keluar dari pintu utama ditemani para ajudannya dan langsung menjabat tangannya. Maxwell hanya diam dengan pikiran berkecamuk mendengar nama asing yang disematkan di belakangnya. Anak buahnya yang berjumlah kurang lebih 10 orang nampak bersiap siaga, sama juga halnya dengan tuan rumah yang berbaris rapi berjumlah puluhan orang.


"Masuklah. Kita bicarakan di dalam", Mr Abraham membimbing Maxwell masuk ke ruang tamu yang luas dengan desain yang nampak sangat elegan.


Keduanya pun masuk diikuti beberapa ajudan masing-masing dan duduk di sofa tamu yang pastinya mewah.


"Sampaikanlah Sir Abraham. Aku tak punya banyak waktu"


"Aku tau. Tenanglah. Aku akan membantu keperluanmu saat ini"


Maxwell mengernyit heran.


Mr Abraham kemudian memberikan sebuah amplop coklat seukuran kertas HVS.


"Bukalah. Engkau akan tau jawabannya"


Dengan perasaan kacau mengingat pembicaraan mereka sebelumnya di telepon disertai berbagai dugaan, Maxwell pun meraih file tersebut dan membukanya. Sesaat ia diam membisu begitu melihat isinya. Dokumen hasil test DNA. Seketika matanya nanar menatap ke arah pria paruh baya di depannya dengan pandangan mulai berkabut. Ia hanya duduk diam sambil terus memegang kertas putih itu dan menelusuri tulisan berbahasa Inggris di sana berulang kali dengan tangan gemetar.


"Kau sudah paham bukan?"


Maxwell hanya diam.


"Maxwell....?", suara sang pria terdengar parau. Lagi-lagi Maxwell hanya membisu tanpa respon. Tanpa menunggu, Mr Abraham tiba-tiba berdiri mendekati Maxwell dan berjongkok di depannya dan memegang kedua bahunya dengan mata berkaca-kaca.


"Maxwell, kau keturunan Alexander Al Qudri. Kau keponakanku. Kau juga anakku", kedua mata berwarna sama itu saling menatap dan tak lama keduanya berdiri dan Mr Abraham pun memeluk Maxwell dengan isak tangis yang tertahan. Sementara Maxwell hanya diam tanpa respon. Ia hanya terpaku tanpa membalas pelukan lelaki tersebut sama sekali. Pikirannya masih kacau namun tak urung matanya juga berkaca-kaca merasakan ketulusan pelukan dari pria tua yang menyebutnya sebagai anaknya juga. Hal ini berlangsung cukup lama.


Mark dan beberapa ajudan lainnya hanya berdiri menyaksikan drama kehidupan dua orang penting di depan mereka dengan batin diliputi penasaran.


"Lihatlah ini. Ini dokumen keluarga Al Qudri. Ini ibumu, Sofia Alexander Al Qudri, adik kami perempuan satu-satunya"


Maxwell memandangi foto-foto ibunya, Sofia Alexander dan juga semua anggota keturunan Al Qudri, terutama Mr. Alexander Alqudri beserta sang istri sekaligus ke tiga anak lelakinya, Abraham Alexander, Jordan Alexander, dan Nicholas Alexander. Semua pamannya nampak sudah menikah dengan disertai foto istri mereka masing-masing, namun tidak ada satu pun foto anak-anak dalam album tersebut kecuali foto lawas keturunan Alexander ketika masih kecil.


"Duduklah. Aku akan menceritakan semuanya", Mr Abraham sepertinya sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran Maxwell.


"Ibumu adalah anak ke empat, si bungsu dari Alexander Al Qudri, kakekmu. Dia adalah wanita satu-satunya dalam keluarga kami. Awalnya, kami sangat dekat dan menyayanginya, dan dia paling dekat denganku. Tak ada satupun rahasia di antara kami berdua. Hingga suatu hari, ia bertemu dengan seorang pemuda Muslim dan jatuh cinta dengannya. Sejak itu ia berubah. Tidak lagi mau kuajak ke diskotik maupun sekedar berfoya-foya. Ia lebih banyak diam di perpustakaan kota dan ke panti asuhan juga rumah sakit dan agenda sosial lainnya. Selain itu ia juga sudah mulai menutup dirinya dari lelaki mana pun dan berpakaian tertutup. Dan puncaknya, yang mengejutkan kami adalah, ketika mendapatinya sedang selfie dengan pakaian muslimnya di kamar dan itulah foto terakhir yang kau dapatkan. Ternyata dia sudah keluar dari agama keluarganya dan memilih menjadi seorang Muslim. Keluargaku bukanlah keluarga yang demokratis. Daddy, kakekmu marah besar. Ibumu dikeluarkan dari daftar keluarga dan....diusir...", Mr Abraham menarik nafas sesaat sambil melirik Maxwell yang nampak mengeraskan rahangnya. Lalu ia melanjutkan ceritanya.


"Ibumu, akhirnya keluar dari rumah dan tak pernah kembali lagi. Aku terus mencarinya namun tidak berhasil, hingga sebulan kemudian kami mendapatkan berita bahwa ia...."


"Benarkah kabar itu?", Maxwell tak mampu menahan rasa geram dalam hatinya. Hatinya dipenuhi rasa sakit hati mengingat perlakuan keluarga ibunya terhadap orang yang melahirkannya tersebut, hanya karena sang ibu berpindah keyakinan, bahkan dengan mencoret namanya dari keluarga. Apalagi berita sang ibu yang kemudian diperkosa dan ditemukan pingsan di pinggir sebuah sungai. Pikiran Maxwell sangat kacau, ia sangat takut menghadapi kenyataan bahwa ia adalah seorang anak haram, hasil dari pemerkosaan orang-orang terhadap ibunya. Dan tentu saja, membuat tak jelas siapa yang menjadi ayah kandungnya.


"Aku tidak yakin. Percayalah, meski kabar itu mengatakan bahwa ibumu diperkosa oleh musuh-musuh kakekmu, namun aku bisa buktikan bahwa itu tidak benar"


"Apa maksud Anda.."


Mr Abraham menatap Maxwell sejenak dan meneruskan.


"Musuh kakekmu memang banyak, namun korban pemerkosaan itu bukanlah Sofia. Itu hanyalah fitnah musuh keluarga Alexander yang mencoba untuk mencoreng nama baik kami semua", Mr Abraham terdiam kembali.


"Lihatlah dengan teliti wajah ibumu. Bandingkan dengan foto-foto korban pemerkosaan itu di news papers ini", Pria itu pun memperlihatkan beberapa surat kabar berisi foto-foto wanita yang tergeletak dengan posisi wajah agak miring ke kanan yang sengaja ia kliping.


"Lihatlah dengan cermat. Ia bukan ibumu. Dan ibumu yang sebenarnya waktu itu aku yakin diculik oleh seseorang musuh kami, karena begitu kami mendapatkan berita itu kami mencari korban tersebut namun tidak menemukannya. Si pembuat berita mengatakan bahwa sang korban sudah melarikan diri dari rumah sakit karena malu. Aku diam-diam mencari tau tentang tempatnya dirawat rumah sakit dan mengorek informasi pada para dokter dengan caraku sendiri, dan memang benar korban tersebut bukanlah Sofia, ibumu".


"Jadi....bagaimana Anda yakin ibu kemudian punya anak...dan itu adalah aku...bagaimana Ibuku bisa melahirkanku? Siapakah ayahku?", Maxwell berkata dengan suara bergetar dan menatap wajah Mr Abraham dengan sorot penuh harapan.


"Aku masih menyimpan barang-barang milik Sofia termasuk rambut di sisirnya. Wajahmu yang mirip dengannya apalagi rasa penasaranku tentang suatu hal membuatku memintamu untuk melakukan test DNA. Selain itu juga dengan menggunakan darahku sendiri. Dan kau lihat sendiri hasilnya bukan? DNA mu sama dengan Ibumu dan tentu juga denganku".


"Apa maksud Anda..penasaran?"


"Setelah hampir setahun kepergian Sofia, aku pernah bertemu sekilas dengan ibumu tersebut yang sedang hamil besar di sebuah koridor rumah sakit bersama dua orang, salah satunya seorang pria yang merupakan musuh besar keluarga kami. Namun aku tak berhasil mengejar ibumu karena mereka bertiga hilang begitu saja tanpa jejak", Mr Abraham menghela nafas pendek.


"Menurut Anda, apakah pria itu punya hubungan dengan ibuku..."


"Itulah, aku belum mengetahuinya. Namun, ayah angkatmu adalah orang yang paling mengetahuinya"


"Dari mana Anda simpulkan?"


"Karena seseorang yang bersama ibumu waktu itu adalah George Powell".


"Apa?", Maxwell terkejut.


"Ya. Dialah yang bersama ibumu waktu itu. Aku yakin sekali", Mr Abraham nampak menggeram marah.


"Lalu siapakah seseorang lagi yang bersama mereka?"


"Aku tak mengenalnya. Dia seorang wanita yang usianya mungkin tak terpaut jauh dari ibumu waktu itu"


"Apakah Anda masih ingat ciri-cirinya?"


"Cukup tinggi dan berkulit putih. Seperti orang Australia. Selebihnya aku tak tau karena ia menggunakan kaca mata hitam dan syal yang menyamarkan wajah dan rambutnya"


Mungkinkah itu Bibi Christine ? Akh, aku melewatkan waktu untuk menginterogasinya bersama dosen wanita itu, gumam Maxwell dalam hati.


Maxwell tidak menanggapi.


"By the way, mengapa Anda sekarang bicara atas nama keluarga? Bukankah ibuku sudah dicoret dari daftar?", Maxwell membuang pandangan ke arah lain.


"Maxwell..", Mr Abraham menelan ludahnya perlahan.


"Ketahuilah...sampai sekarang...keluarga Alexander al Qudri, kakekmu....tidak ada yang memiliki keturunan....., kecuali ibumu..."


Maxwell tersenyum sinis.


"Aku bisa bayangkan apa yang saat ini engkau pikirkan...namun itulah kenyataannya...dan kau tau....begitu aku mengatakan bahwa engkau adalah putra Sofia pada kakekmu...iya pun sangat bahagia dan tiba-tiba membaik kondisi kesehatannya saat ini...."


Maxwell hanya diam.


"Maxwell, ku mohon berilah waktumu sedikit saja untuk menemui kakekmu....ia sangat menyesali semuanya....", Mr Abraham bicara terbata-bata sambil menunduk.


"Sudah 30 tahun berlalu...kalian tidak juga menemukanku sejak Anda melihat ibu waktu itu bersama ayah angkatku?"


"Aku sudah menelusuri info tentang ibumu dan menanyakan langsung pada ayah angkatmu, namun ia tak mengakui dan mengatakan bahwa aku mengarang cerita...Dan bertahun-tahun penelusuran tentang ibumu memang tak membuahkan hasil sama sekali....bahkan untuk bertemu dengan semua anak adopsi ayah angkatmu juga tidaklah mudah. Kami hanya mendapatkan foto dan berita kalian yang samar-samar. Semua intel kami tidak bisa menembus benteng kokoh yang sudah dibuat ayahmu. Dan engkau pasti merasakan itu kan?"


Maxwell membenarkan dalam hati apa yang diucapkan pria yang ternyata adalah paman kandungnya itu. Ia yang paling dekat dengan George Powell sendiri tak mampu mendapatkan info apapun tentang jati dirinya bahkan meskipun lelaki itu sudah tiada sekalipun. Semuanya benar-benar gelap.


"George Powell sungguh lihai menutupi semuanya...", lanjut Mr Abraham.


"Hingga suatu ketika, beberapa minggu yang lalu kami mencium kabar bahwa anak buahmu sedang menyelidiki tentang keluargaku, disitulah aku merasa penasaran dan mengetahui bahwa Kau sedang mencari jati dirimu....", Mr Abraham berhenti sejenak.


"Lalu setelah itu aku pun menyuruh anak buahku untuk menyelidiki dirimu sepenuhnya dan barulah mendapatkan info yang lebih akurat ketika Kau melakukan siaran pers...kemudian aku semakin penasaran tentangmu yang mempunyai wajah mirip Sofia dan menyusun rencana untuk bertemu denganmu melalui perjanjian di pulau itu..."


"Jadi...."


"Ya...Aku tau Kau juga menyusun rencana yang sama untuk bertemu denganku bukan?"


Maxwell hanya menghela nafas.


"Dan kini semuanya sudah terjawab bukan? Kau adalah putra Sofia dan tentu saja keponakanku dan cucu seorang Alexander Al Qudri"


Mendadak pikiran Maxwell mencoba menepis semua pembicaraan mereka selama ini dan menafikan hatinya yang meyakini sejauh ini kata-kata Abraham tentang info dirinya dan hubungannya dengan keluarga Alexander al Qudri.


"Maaf. Aku belum bisa sepenuhnya mempercayai ini semua sebelum aku bertemu dengan ibu dan wanita yang bersama Ayah angkatku itu. Bahkan hasil test DNA ini bisa saja kalian rekayasa bukan? Aku tak tau apa rencana kalian di balik ini semua. Bukankah selama ini kita adalah musuh?"


"Maxwell, tak cukupkah wajah Sofia yang mirip...."


"Begitu banyak orang di dunia ini yang mirip satu sama lain walau tak ada ikatan saudara sama sekali bukan?"


"Tapi...", Mr Abraham seakan kehilangan kata-kata, namun kemudian ia pun berbicara.


"Aku mengerti. Lakukanlah pencarian itu. Aku juga terus melakukannya walau belum tau kapan semuanya akan terjawab. Namun mungkin orang yang paling dekat selama ini dengan George Powell bisa membantumu"


"Siapa maksud Anda Mr. Abraham?"


"Nenekmu dan pengasuhmu"


"Aku tau, tapi nenek sudah tiada".


"Itu berarti Kau harus mengoreknya dari pengasuhmu"


"Ya"


"Baiklah. Sekarang apa rencanamu?"


"Aku harus pergi"


"Mungkin wilayah pegunungan di Thailand dan Indonesia bisa menjadi tujuanmu selanjutnya"


"Apa maksudmu?"


"Bukankah engkau mencari istrimu yang diculik?"


Maxwell melotot terperangah.


"Dari mana Anda tau?"


"Bukankah aku selalu memantau semua tentangmu begitu aku curiga padamu setelah siaran pers itu?", Maxwell masih bingung.


"Aku tau semua tentang anak adopsi ayahmu termasuk Luke yang engkau tendang ke ujung Amerika. Dan aku tau bahwa beberapa waktu sebelum kita bertemu di pulau, saudara adopsimu sekaligus musuhmu itu keluar Amerika dan kemungkinan membawa istrimu ke wilayah yang kusebutkan tadi....karena dia punya aset di sana yang dia beli tak lama setelah kau mendepaknya ke Amerika...", Mr Abraham melirik Maxwell.


Maxwell mulai paham. Ia sama sekali tak menyangka kedua wilayah tersebut akan menjadi sarang Luke menyekap Ayesha.


"Anda benar-benar penguasa Amerika Tuan Abraham"


"Aku hanya menyampaikan dugaan ku. Kau bisa percaya atau tidak. Itu cuma analisis singkat.


"Terima kasih. Walau begitu, itu sangat membantu. Permisi", Maxwell segera bangkit.


"Tunggu....", Mr Abraham nampak ragu.


"Tidakkah aku bisa...memintamu untuk bertemu Kakek sekarang?", seru Abraham.


Maxwell tidak bergeming. Ia tetap melangkah tak menghiraukan kata-kata Mr Abraham yang mulai berjalan mengikutinya.


"Maxwell....setidaknya...untuk ganti ucapan terima kasihmu padaku atas info tentang Luke yang kuberikan...."


Maxwell berhenti sejenak dan berbalik.


"Ternyata Anda tidak ikhlas"


"Maafkan aku...aku hanya..."


"Permisi Uncle Abraham"


Maxwell berjalan cepat keluar dan kini sudah berada dalam mobil yang sudah dipersiapkan tuan rumah untuk mereka. Mr Abraham hanya menatap kepergian keponakannya yang baru diketahuinya itu dengan pandangan sendu. Maxwell, terima kasih sudah memanggilku Uncle. Itu sudah cukup membuktikan bahwa Kau tak sekeras apa yang kau katakan barusan. Pria tua yang masih terlihat gagah itu tersenyum tipis seraya membayangkan wajah sang ayah yang saat terakhir ia temui sedang duduk di kursi rodanya di sebuah rumah sakit pribadi keluarga mereka kemarin sore.


"Jade. Jangan lupa tugasmu. Jangan sampai kalian lengah", Mr Abraham pun menyimpan ponselnya ke saku celananya setelah melakukan panggilan ke salah seorang tangan kanannya.