
Maxwell dan Ayesha cukup puas melihat sekeliling mushollah. Kini keduanya duduk di bawah pohon cerry yang terdapat di halaman musholah. Maxwell yang isi kepalanya sudah dipenuhi dengan berbagai ide itu langsung meraih handphonenya dan menelepon seseorang.
"Hallo...Alberto..."
"Bagaimana perkembangan Islamic Center di Sydney?"
"Kalian urus terus... minta Ustadz Mahmud untuk langsung meresmikannya...."
"Tak perlu ...besok jangan ditunda lagi...tidak perlu kehadiran kami....kau mengerti?"
"Ya. Setelah selesai urusan mu disana segera lah kemari. Ada tugas baru untukmu"
"Good".
Maxwell menutup panggilannya dan kini menyimpan kembali ponselnya.
Ayesha yang sudah memahami jalan pikiran suaminya pun tersenyum.
"Hubby....Masyaa Allah....kau sangat cepat bergerak Sayang..., inilah mungkin yang menyebabkan Allah berikan aku petunjuk untuk mantap menerima lamaranmu waktu itu....", batin Ayesha bergetar.
Ayesha kembali mengingat semua kelebihan suaminya di awal menjadi seorang muslim yang masa lalunya adalah seorang atheis dan mafia yang kejam. Semuanya kini nampak seperti tertutupi oleh sikap dan perbuatan suaminya hari ini ketika sudah menjadi seorang muslim. Maxwell begitu mudah mewujudkan sesuatu yang besar dalam agama ini tanpa banyak berpikir tentang banyaknya uang dan harta yang harus dihabiskan. Ia seakan memiliki semua itu unlimited. Tapi bukankah Allah memang menumbuhsuburkan uang dan harta seseorang manakala ia menggunakannya di jalan Allah? Harta tidak halal yang didapatkan Maxwell selama ini sudah seharusnya digunakan untuk kepentingan umum masyarakat. Selama ini sudah banyak fasilitas umum seputar pendidikan, kesehatan dan transportasi yang sudah disumbangnya. Semoga semua penyaluran hasil bisnis gelapnya tersebut yang pernah digeluti sebelumnya diterima Yang Maha Kuasa.
Ayesha ingin mencoba menggali apa yang ada dalam pikiran suaminya saat ini. Ia tau diam-diam belakangan ini Maxwell belajar isi Al Quran di keheningan malam ketika ia masih tertidur pulas. Dan hal ini baru ia pergoki selama di Indonesia. Bisa jadi selama masih di Sydney suami muallafnya tersebut pun melakukannya tanpa sepengetahuannya sehingga progressnya dalam menguasai bacaan Quran dan isinya cukup pesat.
"Hubby....apakah pembangunan Islamic Center sudah selesai?", Ayesha menatap suaminya.
"Sudah. Tinggal peresmian saja. Aku minta Ustadz Mahmud yang melakukannya"
"Syukurlah"
"Honey ingin ke sana?"
"No. Aku tak sanggup kemana-mana Hubby...cukup di sini mendoakan semuanya berjalan lancar sesuai planning kita"
"Tapi honey terlihat kuat. Jika ingin ke sana melepas rindu katakan saja"
"Tidak, By. Sudah cukup para ustadz di sana yang meresmikan dan menjalankan semua amanah kita. Kita serahkan ke ahlinya saja. Aku ingin fokus mengembangkan daerah ini. Dimana anak-anak kita akan dilahirkan di sini, insyaa Allah", Ayesha menatap suaminya dengan yakin.
"Baiklah. Tapi jika honey rindu ingin ke sana atau pun ke Moskwa kau harus katakan padaku, hm? Aku tak ingin babies kita menanggungnya".
"Insyaa Allah anak-anak kita sangat pengertian. Meski aku ingin sekalipun, tak semua keinginan harus diwujudkan segera bukan?"
"Biasanya seorang wanita hamil banyak hal yang diinginkannya. Dan jika tidak terlaksana itu akan berpengaruh tidak baik untuk anaknya. Bukan begitu?"
"Tidak semuanya benar hubby. Jika sang calon ibu ingin makan untuk mencukupi nutrisinya, benar bahwa jika itu tidak terlaksana sang calon anak akan tidak sehat. Tapi jika sang ibu menginginkan hal yang tidak berhubungan dengan tumbuh kembang anak, maka itu tak akan masalah. Hubby, percayalah, aku tau suamiku ini bahkan melebihi seorang Sulthan yang sangat kaya dan berkuasa, sebagai seorang istri, amat mudah bagiku minta apapun darimu...". Mata Ayesha meredup. Sorot cinta terpancar di sana.
"Engkau memang istri yang luar biasa, Sayang....", Maxwell seketika mengecup mata itu. Ayesha pun tersenyum.
Tak lama terdengar kembali dering telpon di ponsel Maxwell. Ia tersenyum melihat siapa yang menelponnya.
"Wa alaikumussalaam", canggung Maxwell menerima suara muallaf baru di seberang.
"Oh..syukurlah...alhamdulillaah...kami sangat senang mendengarnya"
"Jangan pikirkan. Masih ada asisten lainnya yang bisa handle. Kalian refreshinglah dahulu. Honey moon sekalian karena bibi sekarang sudah sembuh bukan?"
"Wa alaikumussalaam...."
Maxwell menutup panggilan dari Mark. Tangan kanannya itu seketika gugup ketika sang Boss meledeknya tentang honey moon.
"Bagaimana kabar Grace Hubby? Bukankah itu dari Mark?" Ayesha penasaran.
"Ya. Syukurlah kondisi bibi sudah membaik. Terapi untuk kakinya yang patah berhasil dengan cepat". Maxwell tersenyum.
"Alhamdulillaah. Semoga mereka berdua bahagia dan segera mendapatkan momongan bukan?".
Maxwell hanya tersenyum dan mengaminkan.
"Setelah ini Mark harus bersiap untuk mendapatkan shock terapi dari grandfa".
Ayesha tersenyum tipis mendengar ucapan sang suami. Ia paham dengan maksud pria gagah di depannya tersebut. Bayangan sang kakek dengan tatapan tajamnya melintas cepat. Mark akan segera menghadapi kakek mertuanya itu yang pastinya akan menguji kelayakan cucu menantunya yang sudah berani menyunting cucu kesayangan yang baru ditemukan.
"Hubby, bagaimana dengan Paman Abraham? Dia belum tau Grace putrinya bukan?"
"Itu tidak akan lama lagi Honey....aku yakin saat ini Uncle sedang on the way menjemput sang putri", Maxwell tersenyum. Ya, Maxwell yakin sang paman saat ini tergesa-gesa terbang mendatangi Grace ke negeri sakura karena baru mendapatkan info tentang pernikahannya dulu dengan Margaretta dan mendapatkan anak hasil pernikahan keduanya tersebut. Maxwell akhirnya memberikan info tersebut setelah yakin akan keselamatan sang sepupu sekaligus bibi mudanya itu tadi malam. Cukup sudah sang Uncle ia gantung rasa penasarannya selama ini. Kematian sang istri pasca ketahuan sang kakek menjadi dalang kecelakaan sang paman dan Grace selama ini sudah cukup melegakan perasaan Maxwell. Saat ini tinggal agen Mossad yang menjadi sang musuh besar yang pastinya sangat sulit untuk menumpasnya mengingat jaringan internasional itu bukan agen kecil yang mudah untuk dihadapi. Yang penting saat ini Maxwell dan orang-orangnya tetap waspada saja.
"Aku turut bahagia...akhirnya Grace bisa segera bertemu dengan keluarganya...ayah kandungnya..."
"Semoga Uncle bisa menjaga putrinya dengan baik"
"Aamiin. Dan semoga kebahagiaan Grace hadir makin bertambah... setelah kesembuhan kakinya...bukankah mereka bisa betul-betul bulan madu?"
"Menurut honey selama ini mereka belum honey moon heh?"
"Ya...tidak tau juga...", Ayesha jadi salah tingkah mendengar pertanyaan sang suami yang cukup terus terang itu. Ia jadi ingat betapa mereka berdua sering melakukan 'itu' di segala kondisi. Tak peduli jika Ayesha sedang tidak sehat sekali pun, Maxwell selalu on dan meminta jatah jika dia berikan.
"Kenapa kamu yang merona Sayang? Apa yang kamu pikirkan?"
"Ish.....sudahlah...", Ayesha memalingkan wajahnya tak mau digoda terus oleh sang suami. Maxwell hanya terkekeh geli.
"Aku tidak yakin Mark sekuat itu menahan dirinya..."
"Mark adalah Mark...bukan Tn Maxwell Powell yang selalu on mesumnya sama sang istri..."
"Iya iya...heh..aku kan hanya mesum pada istriku saja...siapa juga tahan di dekat istri sempurna seperti dirimu ini hah?"
blush....
Sementara itu, di Tokyo.
Saat ini musim semi tiba di negara Sakura tersebut. Bunga sakura nampak bermekaran di setiap taman di sudut manapun di ibu kota negara Jepang itu. Seorang wanita tinggi semampai sedang berdiri di tepi jendela kamarnya dan menatap tanpa bosan ke arah bunga-bunga cantik di taman samping villa yang sudah tiga bulan ini disewanya bersama sang suami. Jilbab mini berwarna hijau tua membingkai wajahnya yang putih dan manis. Senyumnya terkembang dengan binar mata terlihat bahagia. Ini adalah hari yang paling dinantikannya. Ia akan pulang ke Ausy karena sudah meyelesaikan serangkaian terapi di kakinya yang sudah tiga bulan ini dilakukannya dengan didampingi terus oleh sang suami tercinta.
"Sayang...", terdengar suara seorang pria yang berjalan di belakangnya.
"Hm?"
"Kamu tidak capek berdiri terus? Apakah kakimu tidak lelah? Ingat kamu barusan sembuh Sayang...jangan terlalu lama berdiri"
"Aku sudah merasa lebih kuat dan sehat suamiku...jangan khawatir..."
Sang pria pun mendekat dan segera memeluk sang wanita dari belakang dengan posesif. Sesekali ia mencium pipinya dengan gemas.
"Kamu wangi sekali..."
"Suamiku lebih wangi...", sang wanita terkekeh.
"Kamu membuatku ingin mandi lagi Sayang..."
"Suamiku...bukankah tadi sudah..."
"Mana puas aku ....setelah tiga bulan...baru semalam loh aku berbuka..."
"Apaan sih ..."
"Tapi kamu bikin nagih Sayang ...come on ..aku sudah itu lagi ..."
"Sayang...aku ..."
"Kamu masih lelah?", sang pria meraih wajah wanitanya dan menatap sayu dan sengaja menempelkan tubuh bagian bawahnya ke sisi tangan sang wanita yang terulur bebas ke bawah.
"Kamu beneran sudah itu lagi?", tangan sang wanita tanpa sengaja menyentuh sesuatu yang keras di dekatnya. Wajahnya seketika memerah.
"Iya Sayang...kamu bisa merasakannya kan?", tatapan sang pria sudah mulai berkabut. Ini sudah yang ketiga kali sejak jam empat subuh tadi sang suami berlaku demikian. Sang istri hanya menarik nafas dan menelan salivanya yang kering.
"Kamu mau kan ..ya...ya...ya...?", sang pria menaik turunkan alisnya.
"Aww....Mark...dasar...ahhhh....", sang wanita spontan menjerit kaget menerima aksi suaminya yang perkasa. Tubuh rampingnya sudah diangkat mendadak dan diletakkan di atas ranjang sambil terus menerima pagutan mesra di bibirnya yang basah. Sang suami dengan cepat bergerak menutup jendela dan kembali menghidupkan lampu kamar. Tanpa bisa menahan kesabaran, lelaki bertubuh kekar itu membuka kembali kaos atasnya dan juga meraih penutup kepala wanitanya dan melemparnya ke lantai lalu melanjutkan aksinya yang tertunda sejenak tadi. Mendaratkan ciuman penuh gairah ke bibir sang istri dengan segenap perasaan. Tangannya pun tak tinggal diam. Sudah berselancar kemana-mana. Menanggalkan helai demi helai benang yang menempel pada tubuh keduanya hingga akhirnya polos seperti bayi.
"Ahhh...Mark....ahh...suamiku....", ******* sang istri yang tak tertahankan akhirnya mengalun juga, menambah semangat sang pria yang baru hari ini berbuka mereguk nikmatnya hubungan pengantin baru yan tertunda tiga bulan lamanya.
"Arghhh...Grace...Julia Grace istriku...kekasihku....ahhhh...", Mark meracau ketika kenikmatan melandanya untuk kesekian kalinya. Penyatuan dengan sang istri yang membuat tubuh dan hati keduanya serasa melayang nikmat di angkasa syurga. Selang setengah jam kemudian keduanya sudah dibanjiri peluh dan kini terbaring sambil menatap bersisian di atas ranjang. Mark memeluk istrinya dan mengecup dengan sayang keningnya sambil memejamkan matanya.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih. Kamu sangat nikmat. Kamu istri yang luar biasa. Aku mencintaimu Sayang."
"I love you too", Grace tersenyum malu dan semakin memasukkan kepalanya dalam rengkuhan dada bidang suaminya. Hatinya berbuncah kebahagiaan yang semakin bertambah sejak hari pernikahan dengan sang body guard majikan kakaknya tersebut.
"Semoga segera lahir jagoanku di sini ya...", ucap Mark sambil mengelus perut polos istrinya.
"Hmmm....kan baru juga disemai semalam Sayang...", Grace terkekeh geli.
"Aku yakin bibitku tokcer, sekali aja pun jika bibit unggul bisa langsung jadi...", Mark menyeringai lucu. Menatap sang istri dengan binar penuh asa.
"Insyaa Allah. Aamiin", bisik Grace lirih. Ia memejamkan mata bersembunyi dari godaan sang pria, tak sanggup melihat tingkah suaminya tersebut. Sedang asyik memeluk dan menciumi sang istri dengan gemas, mendadak kedua insan yang sedang mabuk asmara itu dikejutkan dengan ketukan di pintu kamar.
tok
tok
tok
"Maaf mengganggu Tuan...ada tamu dari Amerika. Katanya tamu paling penting untuk Tuan Mark", terdengar suara dari pintu kamar tanpa mau menunggu si empunya kamar membuka pintu lebih dulu. Dan tanpa menunggu jawaban dari Mark dan sang istri, si pelayan yang bersuara memberi kabar itu pun bergegas pergi, terdengar dari suara langkah kaki yang menjauh.
"Tamu dari Amerika? Apakah kau tau siapa Sayang?"
"Aku tidak tau Sayang, dari Amerika...cuma keluarga Tuan Maxwell yang dari Al Qudri yang ku tau....tapi apa hubungannya dengan kita...".
"Kita bersiap saja Sayang...barangkali ada keperluan mereka di sini karena mengetahui keberadaan kita dan ada hubungannya dengan keperluan Tn Maxwell ", Mark mengusap kepala sang istri sayang dan tetiba meraih tubuhnya dan menggendongnya ke kamar mandi.
"Aww....Mark...", begitulah Julia Grace jika terkejut dengan aksi tak terduga sang suami maka ia spontan memanggil namanya begitu saja.
"Panggil suamiku...itu lebih ku sukai hm?", Mark mengerling nakal sambil terus menciumi wajah sang istri dengan gemas sambil berjalan ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, kedua pasutri itu pun sudah melangkah ke ruang tamu villa yang mereka sewa. Sesosok pria paruh baya yang tidak asing di mata mereka nampak duduk gelisah di sofa sambil memandangi pemandangan bunga sakura di luar jendela. Posisinya yang menyamping dari arah kedatangan Mark dan Julia Grace tentunya tidak membuatnya segera tersadar akan kedatangan orang yang sejak kemarin ia rindukan perjumpaannya.
"Tuan Abraham...", sapa Julia lebih dulu dengan suara pelan. Sontak yang disapa pun menoleh ke arah suara dan tanpa diduga sang wanita tuan rumah, tubuh paruh baya itu bergegas berdiri dan
berlari menubruknya, memeluknya dengan cukup erat. Mark hanya mampu membisu di tempatnya berdiri. Sejenak seperti linglung. Entah kemana jiwa posesifnya melihat sang istri dipeluk begitu saja oleh seorang pria sedangkan dia diam saja. Setelah tersadar sejenak, wajahnya pun merah menahan marah. Namun baru saja ia hendak bergerak menghajar sang tamu, tenggorokannya tersedak tatkala mendengar perkataan Tuan Abraham yang disertai isakan.
"My daughter...my daughter....my daughter....". Julia Grace pun hanya bisa tercekat dalam pelukan sang pria paruh baya tersebut. Ia tergugu tanpa kata. Bingung dengan kenyataan yang sangat mendadak ini. Namun tak urung, bibirnya tersenyum tipis mengingat mimpi-mimpinya selama ini yang terus menyambangi tidurnya. Hari ini mimpi itu telah menjadi kenyataan.
########
Maafin author ya Readers....dah hampir dua tahun baru nongol lagi....realllllyyyyy sorrrrryyyy.....
Author kemarin ini hamil bed rest dan lahiran terus gitu deh....krn kelamaan off jadi hilang ide...hehehe...
Tapi ini dah semangat nulis lagi...doakan mulai besok dst bisa lancar dan story ini bisa author tamatkan dengan tepat...
Tq readers setia....love 2 u all ...
utk reader sekaligus writer....ntar thor mampir lagi ya....ditunggu ja thor insyaa Allah akan menyambangi lagi tulisan antum semua....
love love love to you all readers ...tq so much....