
Julia baru saja mandi sore ini dan kini duduk di depan meja rias di kamarnya dengan sisir di tangannya. Mark yang barusan datang dari luar kamar nampak berjalan mendekati wanita cantik yang dicintainya tersebut dan langsung mendekapnya dari belakang sambil menciumi rambut sang istri.
"Wangi sekali rambutmu Sayang...istri siapa sih?", ucap Mark gemas.
"Istri Tuan Mark Dimitri, seorang tuan body guard tampan dan perkasa asal Moskwa", Julia mengedipkan matanya manja dengan senyum manisnya.
Kedua pasang netra bertemu di cermin meja rias.
"Benarkah ini istri si tuan body guard yang perkasa itu? Apa buktinya?", Mark mencium gemas pipi sang istri dan sesekali mengecup singkat bibir merah muda yang menggoda tersebut. Sang wanita hanya terkekeh dengan wajah bersemu malu-malu. Setelah puas menggoda, Mark kemudian mengambil sisir dari tangan wanitanya dan mulai merapikan rambut lebat yang masih sedikit basah tersebut.
"Sayang...biar aku saja...Suamiku belum mandi bukan? Pergilah mandi agar kita bisa segera pergi malam ini, hm?"
"Baiklah...tapi mungkin kita pergi setelah Isya ya Sayang ..karena aku ada keperluan sedikit setelah Magrib".
"Hm".
Malamnya, selepas menjalankan sholat magrib bersama sang istri, Mark pun ijin pada sang pujaan hati dan saat ini sudah melangkahkan kaki menuju restauran hotel di seberang villa. Dari jauh ia sudah melihat sosok lelaki yang tadi pagi menelponnya yang tak lain adalah sang mertua.
"Ku kira kau tak berani datang. Duduklah!", ucap Abraham dingin.
"Aku tidak perlu takut pada apapun. Dan aku memang tidak terbiasa untuk mengingkari janjiku, Tuan. Silakan sampaikan dengan cepat apa maksud Anda, karena waktuku tidak banyak".
"Sombong sekali kamu. Begitukah caranya seorang menantu bersikap pada mertuanya?"
"Jika Anda bersikap selayaknya seorang mertua pada sang menantu, tentu aku pun akan bersikap sama bahkan akan aku tunjukkan bagaimana sikap menantu terbaik pada ayah mertuanya", tegas Mark. Ia pun duduk tepat di kursi seberang sang mertua.
Abraham merasa takjub dalam hatinya. Ia tidak menyangka sama sekali akan sikap yang akan ditunjukkan oleh Mark padanya di belakang sang putri yang menjadi istrinya. Ia mengira sang menantu miskinnya akan bersikap hormat dan mengemis restunya. Siapa sangka, praduganya jauh melenceng. Lelaki berusia 50 tahun itu pun menegakkan duduknya dan menatap tajam wajah di depannya. Ia menunjukkan aura berkuasa untuk mencoba mengintimidasi.
"Tinggalkan putriku".
Meskipun Mark sudah menebak maksud sang ayah mertua memanggilnya, tapi tak urung ia masih terkejut juga.
"Mengapa aku harus meninggalkan istriku?".
"Dia adalah putriku. Kau tidak layak untuknya, seorang keturunan Abraham Al Qudri".
"Aku menikahi seorang wanita bernama Julia Grace, seorang yatim piatu pada awalnya".
"Itu dulu".
"Aku menikahinya ketika kondisinya seperti itu, sama denganku".
"Sekarang dia sudah memiliki seorang ayah, ayah kandungnya".
"Sekarang dia juga sudah memiliki seorang suami, Mark Dimitri".
"Kau....".
"Ah ya, aku lupa, seingatku ayah kandung julia Grace baru saja ditemukan hari ini. Lalu siapa yang lebih dulu mengambil hati wanitaku tersebut? Suaminya yang sudah dikenalnya selama lebih sembilan puluh hari...yang selalu berada di sisinya bahkan turut menyelamatkan nyawanya dan merawat luka-lukanya...atau ayahnya yang baru sehari diketahui dan langsung menuntutnya ikut pulang?".
"Kau ...".
"Apakah hanya ini yang akan Anda sampaikan Tuan Abraham Alexander Al Qudri?".
Abraham seketika berdiri dengan tatapan nyalang. Dadanya terasa sesak menahan amarah.
"Kau tidak layak untuk putriku. Tinggalkan dia. Dia berhak mendapatkan pendamping yang selevel strata sosialnya dengan keluarganya dibanding seorang body guard yang tidak jelas masa depannya sepertimu, hah?"
"Kalau hanya ini yang ingin Anda sampaikan, saya permisi". Ada banyak kata untuk membalas kesombongan lelaki tua di hadapannya, namun mengingat statusnya sebagai ayah kandung dari sang istri, Mark pun berusaha mengontrol emosinya. Karakternya yang keras dan tegas sebagai seorang pria yang berprofesi sebagai body guard kaum VVIP selama satu dekade tak urung menempanya menjadi pria yang bersikap kaku dan tak suka banyak bicara.
Mark kemudian bangkit dari kursinya dan berbalik hendak melangkah, namun suara tertahan yang cukup terdengar dari sang mertua membuatnya berhenti.
"Mark...Tinggalkan Julia dan aku akan memberikanmu tiga juta dollar. Aku rasa itu cukup untuk menggantikan pengorbananmu selama ini. Kau bisa bersenang-senang dengan uang itu bahkan menikahi wanita lainnya siapa pun yang kau mau. Wanita mana pun yang bisa bersedia kapan pun menjadi janda karena bersuamikan pria penuh resiko kematian karena pekerjaannya sepertimu".
Mark pun seketika berbalik dan membalas perkataan sang ayah mertua dengan tatapan tajam.
"Aku akan meninggalkan putrimu jika dia yang memintanya. Selamat Malam Tuan Kaya yang Terhormat, Tuan yang mungkin akan hidup selamanya tidak bisa mati karena selalu dikelilingi body guard sepertiku yang menjadi tameng kematiannya...", Mark membungkukkan tubuhnya sedikit menghadap sang mertua dengan senyum tipis penuh makna dan segera berbalik dan berlalu begitu saja meninggalkan sang mertua yang nampak semakin menggeram marah.
"Kau...", lirih Abraham sambil mengepalkan tangannya menahan segenap emosi yang bahkan mungkin bisa membuat kepalanya berasap.
"Argghhh...", tak tahan, diluapkannya kekesalannya dengan berteriak tertahan tanpa peduli pandangan orang-orang asing di sekitarnya yang syukurnya tidak begitu ramai. Selang setelah beberapa waktu menenangkan diri dengan minum dan duduk bersandar, tetiba ia mendapatkan pesan dari ponselnya. Pesan singkat dari sebuah nama, seorang dokter sekaligus tangan kanan sang ayah tertera di sana. Begitu membukanya, Abraham nampak tercekat dan wajahnya menyiratkan kebingungan sekaligus perasaan dongkol.
Malam hari masih di Tokyo.
"Sayang ...bagaimana dengan kemeja ini? Aku yakin Ini sangat pas di tubuhmu".
Julia mengepas sebuah kemeja berwarna biru elektrik bercorak garis putih di bagian lengannya ke tubuh sang suami yang layaknya seorang model saat ini. Mereka sudah sepuluh menit lamanya di butik setelah makan malam romantis di pusat kota Tokyo dan Mark sudah mencoba beberapa setelan pakaian yang disodorkan sang istri. Rencananya pasutri yang sedang direguk manis madu asmara itu akan berangkat besok pagi honey moon seraya menjenguk sang Big Boss yang sedang bersantai sembari menunggu kelahiran sang buah hati kembar nun jauh di Asia Tenggara.
"Pakaian apa pun yang dipilihkan istri cantikku selalu pas di tubuhku Sayang....".
"Isshhh....aku ingin suamiku benar-benar menyukai pilihanku bukan karena ingin menyenangkan hatiku saja...".
"Ini memang benar pas Sayang...karena suamimu ini memang mempunyai wajah yang tampan, kulit yang cerah dan tubuh yang proporsional, the perfect man", Mark tersenyum nakal sambil mengerlingkan sebelah mata menatap sang pujaan hati.
"Narsis".
"Sayang...suamiku yang paling tampan...aku tidak peduli kamu miskin atau kaya..yang penting kamu sayang aku dan anak-anak kita kelak, setia dan kita bisa saling menjaga hati dan perasaan agar selalu merasa nyaman satu sama lain".
"Benarkah? Aku jadi makin cinta..", Mark seketika terharu. Hatinya semakin bertekad, tak akan ada sesuatu pun yang akan membuatnya rela melepas sang istri meski ia harus berhadapan dengan sang mertua yang sudah mengultimatumnya untuk meninggalkan sang istri".
"Sayang...apa pun yang terjadi...bisakah kita saling menjaga hati kita satu sama lain agar bisa saling setia? Bisakah kau selalu ada bersamaku..tidak meninggalkanku?"
"Tentu saja. Aku tak akan pernah meninggalkan suamiku apapun yang terjadi...", Julia mendadak menatap sayu sang suami. Entah kenapa ia merasa ada nada kekhawatiran dalam ucapan Mark, dan ia menyadari itu terjadi setelah pertemuan dengan sang Daddy hari ini.
"Terima kasih Sayang. Terima kasih...". Mark mengelus wajah sang istri dan menariknya dalam pelukan.
"Aku juga berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu Sayang ..meski ke depan akan lebih banyak aral menghadang cinta kita ..", bisik Mark lirih. Julia seketika mendongak mengurai pelukan menatap sang kekasih halalnya.
"Jangan khawatir...aku tau siapa yang akan menjadi prioritas dalam hidupku...ketika seorang istri sudah menikah, bukankah suaminya adalah syurga baginya...?". Julia tersenyum lembut, membuat Mark makin menguatkan hatinya untuk terus memperjuangkan cintanya.
"Oh istriku...terima kasih Sayang...", lirih Mark bahagia.
Lima bulan kemudian
Maxwell dan Ayesha sedang mereguk kebahagiaan tiada tara saat ini. Tiga orang baby berjenis kelamin lelaki baru saja dilahirkan melalui operasi saecar seminggu yang lalu dan seterusnya mulai mewarnai keseharian mereka di belahan bumi yang jauh dari tanah kelahiran keduanya, yaitu Indonesia. Ayesha dan Maxwell yang baru saja keluar dari rumah sakit bersalin kini dalam perjalanan kembali ke rumah tempat selama ini mereka tinggal. Rumah besar hadiah dari sang kakek dari pihak ibunda Maxwell, yaitu Tn Alexander Al Qudri. Bibi Leida, Linores dan Julia Grace sejak menerima kabar kelahiran sang baby twins turut membersamai Ayesha dan membantu mengurus kedatangan warga baru keluarga kecil sang muslimah Rusia tersebut. Rona keceriaan tergambar jelas di wajah mereka yang kini berada dalam Land Cruiser putih dengan Maxwell yang langsung menjadi drivernya dan Ayesha yang duduk di kursi sebelahnya. Sementara itu, masing-masing wanita yang juga sudah menikah berada di barisan pertama dan kedua dengan memegang masing-masing baby Ayesha. Bibi Leida menggendong baby Amjad di belakang Ayesha dan Linores menggendong baby Alam di sampingnya. Sedangkan di kursi belakang, Jeny turut serta mengawal dengan duduk bersama Julia yang menggendong baby Arsh. Jangan lupakan mobil pengawal. Ada dua mobil berisi para body guard terlatih yang berkendara di depan dan belakang Land Cruiser putih tersebut.
"Hallo", Ayesha mengangkat telpon yang berdering di ponselnya setelah satu minggu lamanya ponsel tersebut jarang disentuhnya.
"Ya dear, I miss you too", Ayesha tersenyum ceria. Maxwell hanya melirik melihat ekspresi bahagia sang istri lewat sorot matanya.
"Datanglah. Aku akan shareloc lokasi rumah kami jika kau sudah sampai di bandara".
"Ya....sore ini sampai?"
Maxwell bertanya siapa dengan bahasa isyarat.
"Dokter Anne dan Elena, Honey...", lirih Ayesha sambil menjauhkan ponselnya.
"Katakan, para pengawalku akan menjemput mereka di bandara", bisik Maxwell. Ayesha pun mengangguk.
"Dears, akan ada yang menjemput kalian di bandara. Jadi jangan khawatir kalian akan tersesat. Ok?"
"Ya. Bawalah oleh-oleh yang banyak sebanyak yang kalian bisa bawa dari Moskwa", Ayesha tersenyum kecil.
"Tidak-tidak. Aku hanya bercanda dears...yang penting kalian datang dengan selamat. Baby twins pasti sangat senang dengan kehadiran aunty cantiknya".
"Ya....see you", Ayesha pun menutup panggilan.
"Siapa yang akan menjemput mereka di bandara hm?", Ayesha mulai curiga melihat ekspresi suaminya yang tersenyum aneh.
"Siang ini kita juga akan kedatangan tamu dari Ausy", Maxwell lagi-lagi tersenyum.
"Terserah hubby saja...", Ayesha pun hanya tersenyum. Kepalanya sudah menduga sesuatu. Sang suami semalam ia tau memang sudah menelpon orang kepercayaannya di Ausy yang selama ini menghandle urusan perusahaan pusat mereka di sana. Kemungkinan ia akan datang hari ini.
Selama tinggal di Indonesia, para pengawal yang berjaga di sekeliling Maxwell dan Ayesha sudah berganti, mereka adalah orang-orang dari Amerika yang dikirim sang kakek untuk menjadi pengawal sekaligus asisten. Tidak kurang ada sepuluh orang terlatih dengan berbagai skill turut tinggal menemani mereka di rumah besar, di mana sang kakek sudah menambah kamar-kamar baru di bagian belakang rumah tersebut. Meski ini seperti berlebihan menurut Ayesha karena kondisi tempat tinggal mereka di Indonesia yang relatif aman di banding tempat sebelumnya, namun Tn Alexander memang betul-betul bersikeras tidak mau ditolak pengaturannya. Pria sepuh itu sepertinya trauma dengan semua kejadian yang menimpa cucu kesayangannya selama ia tidak mengetahui keberadaannya sebagai sang pewaris yang dinantikan. Maxwell sang cucu yang hilang sudah banyak mengalami kejadian pahit yang mengancam nyawanya. Dan ia tidak ingin kecolongan lagi.
Setelah berkendara sekitar lima belas menit, akhirnya rombongan tiga mobil tersebut pun sampai di rumah besar. Para tetangga yang sudah akrab dengan Ayesha sang tuan rumah nampak menyambut di halaman depan. Begitulah, budaya di negeri yang ramah penduduknya di sekitar kediaman Ayesha. Ketika seseorang mendapat kebahagiaan berupa kelahiran anak, apalagi baby twins, ditambah sikap yang baik dari sang keluarga, maka sikap yang baik dari warga sekitar pun secara antusias menyambut.
Dengan semangat para tetangga pun mendekat tatkala Ayesha dan rombongan turun dari mobil. Maxwell dan para body guard tidak lagi heran dengan sikap para warga karena mereka sudah terbiasa dengan budaya masyarakat setempat. Para tamu dari Moskwa seperti Bibi Leida dan Moska yang cukup tercengang, begitu pula Julia yang dari Ausy. Ketiganya nampak kikuk dengan sambutan tersebut, namun turut tersenyum senang.
"Umi...selamat ya umi...ya ampun...cakep banget baby nya...", seru para emak-emak menyambut kehadiran Ayesha dengan menyalaminya dan pada baby twins mereka hanya berani melihatnya sambil berdecak kagum. Mereka sepertinya juga menyadari bahwa tidak baik untuk menyentuh baby yang baru lahir sembarangan karena masih cukup riskan untuk kesehatan makhluk mungil tersebut. Jadi hanya cukup melihat tanpa menyentuh. Ayesha memang sudah terbiasa dipanggil Umi oleh para warga. Entahlah, sejak awal perkenalan mereka, sudah begitu panggilan yang diberikan. Mungkin karena pakaian syar'i dan perilaku sholiha yang dikenakan Ayesha sehingga mereka menghormatinya dengan panggilan tersebut.
"Masyaa Allah....cakep banget bayinya umi...uluh uluh...putihnya kulitnya gak gosong macem awak....mancung hidungnya gak pesek kayak kita euy...hahaha...", celetuk seorang emak berbaju daster berbadan gemuk dengan suara cemprengnya. Mendengarnya, sontak yang lain pun turut tertawa.
"Alhamdulillaah ibuk...terima kasih ya...", Ayesha tersenyum tulus mendapatkan sambutan yang mengharukan dari para warga.
"Yey....adik bayi Umi dah datang...yey...", tetiba datang pula serombongan anak-anak usia SD yang masih berseragam sekolah. Sepertinya mereka baru saja pulang dari sekolahan. Dengan riuh mereka mendekat dan langsung menyalami Ayesha.
"Selamat ya Umi...nanti kalau dah bisa jalan adek bayinya maen sama kami ya....ajak ngajar ngaji sama Umi di mushollah ya....", celotehan sumringah pun berdatangan dari anak-anak.
"Alhamdulillaah...iya Sayang...terima kasih ya..insyaa Allah Sayang....", lagi-lagi tak bosannya Ayesha meladeni sambutan para warga, baik yang dewasa maupun anak-anak.
Setelah kurang lebih setengah jam bercengkrama di halaman dan dilanjut di teras rumah yang luas yang sudah dibentangkan tikar di atasnya dengan aneka snack ringan yang dihidangkan para khadimat (pembantu) rumah besar, akhirnya para warga pun ijin pulang karena mereka pun menyadari Ayesha dan para baby twins harus segera beristirahat.
Sementara itu, dua orang pria berbadan tinggi tegap berkaca mata hitam nampak baru saja tiba di bandara. Mereka sedang duduk di kantin bandara untuk menunggu instruksi dari Sang Boss berikutnya.
"Ya Tuan?", salah seorang pria tersebut nampak mengangkat ponselnya.
"Baik. Kami akan menunggu tamu Nyonya", ia pun kembali menyimpan ponselnya.
"Patch, aku ke toilet dulu ya", sang rekan yang duduk di seberang lelaki yang barusan menelpon pun kemudian bangkit.
"Ya, Diego. Aku juga akan menyusulmu. Cepatlah, kita bergantian menjaga koper ini".
"Ok".
*******