
"Apa maksud Anda?"
"Maksudku sudah jelas Nona. Anda sangat istimewa. Aku menyukai Anda dan ingin menggantikan posisi Maxwell di sisimu", Luke menatap intens ke mata wanita bercadar di depannya.
"Jangan bercanda Mr Luke. Aku sudah mempunyai suami"
"Aku tidak bercanda, Nona. Aku tergila-gila padamu", Luke mendekati Ayesha.
"Jangan mendekat. Aku adalah kakak iparmu, bukan? Jagalah sikap Anda", Ayesha bergerak mundur.
"Saat ini mungkin iya. Tapi dengar Nona Ayesha, aku tidak merasa bersaudara dengan Maxwell Powell. Jadi, tidak masalah jika kemudian hari Nona menjadi istriku", Luke kian mendekat. Ayesha terus menghindar.
"Mr. Luke. Tolong hargai Aku. Selama ini Aku cukup menjaga martabat Anda"
"Aku juga sudah berusaha keras untuk menghargai Anda, Nona. Betapa pun aku mempunyai kesempatan besar untuk menyentuh Anda tanpa ijin, tapi aku tidak melakukannya". Terbayang di kepala Luke bagaimana ia berusaha keras untuk menahan nafsunya begitu mendapatkan tubuh Ayesha yang tertidur di helly karena pengaruh obat dan dia sendiri yang menggendongnya dan membawanya ke kamar. Ia baringkan tubuh wanita yang terus mengisi hatinya itu sejak mereka bersama di Powell Group selama Maxwell tidak ada. Dengan rasa penasaran ia pun membuka cadar Ayesha dan menikmati menatap kecantikan wajah bidadari tersebut dengan segenap perasaan. Walaupun ia adalah pria dingin seperti Maxwell yang anti terhadap para wanita namun itu tidak berlaku pada Ayesha yang meski ia tau telah bersuami sekalipun, bahkan dengan Maxwell, sesama saudara adopsinya. Luke teringat betapa hatinya berdesir kuat ingin sekali menjamah tubuh Ayesha waktu itu namun entah mengapa ada rasa ragu dan tidak tega. Seakan ada bisikan kuat di telinganya agar tidak berbuat lebih dan menjaga kesucian wanita tersebut yang selama ini begitu menjaga dirinya dari lelaki manapun bahkan sanggup menutupi wajah cantiknya demi menjaga kesuciannya tersebut.
Luke sudah semakin dekat. Ayesha terpojok di sudut kamar. Matanya melirik ke sekitar.
"Berhenti di situ. Tolong jangan berbuat lebih padaku atau aku akan sangat membenci Anda dan tidak akan memaafkan Anda", Ayesha berteriak marah. Luke seketika berhenti. Matanya mendadak menatap wanita di depannya dengan sendu.
"Anda tau Nona, Anda adalah wanita pertama yang paling berkesan di hatiku. Cobalah lihat diriku. Tidakkah aku bisa menggantikan Maxwell? Aku cukup tampan, tidak kalah dengannya. Aku juga bisa memberikanmu kemewahan. Apakah cinta? Aku bahkan bisa memberikan apapun yang Anda mau demi cintaku padamu"
Ayesha memalingkan wajahnya mendengar semua perkataan Luke. Ia mulai memikirkan sesuatu. Ia tidak bisa melawan lelaki di depannya dengan kekerasan, karena ia belum tau kekuatan musuh di villa yang mengurungnya saat ini. Mengingat para pekerja di bawah sana, ia bisa menebak bahwa mereka semua adalah orang-orangnya Luke. Di dalam hatinya, Ayesha terus berdoa kepada Rabb-nya meminta pertolongan. Ayesha menarik nafas dan kembali menghadapkan wajahnya ke Luke.
"Dengar Mr. Luke. Ini bukan cinta. Namun nafsu belaka. Karena cinta tidak menyakiti orang yang dicintai dan tidak memaksakan kehendaknya pada orang tersebut"
"Aku tidak peduli dan aku tidak menyakiti Anda"
"Secara fisik tidak. Namun batinku, telah Anda sakiti"
"Aku bahkan menahan diri menjaga kehormatan Anda, Nona"
"Benar dan terima kasih karena Anda masih menghormati ku dengan tidak menyentuhku. Namun tindakan Anda menculikku dan memaksakan kehendak Anda, bukankah itu suatu kesalahan dan menyakiti perasaanku?"
Luke masih mendengarkan.
"Anda harus ingat. Aku sudah menikah dan masih berstatus istri Maxwell. Anda tak bisa..."
"Aku tidak peduli. Maxwell akan mati...!!!!", Luke tiba-tiba berteriak.
"Dan Aku akan menjadi suami-mu segera dan tentu tidak akan ada lagi masalah bukan?", Luke menyeringai dan kini nafsunya telah menguasainya. Ia kembali mendekat dan jaraknya tinggal sehasta saja dengan Ayesha.
"Berhenti Mr. Luke!"
"Tidak. Kau akan menjadi milikku"
Ayesha yang tidak mempunyai pilihan dengan gerakan cepat melayangkan tendangan bebas ke arah Luke. Kakinya menendang ke arah perut lelaki gagah tersebut. Namun ternyata Luke sudah bersiap lebih dulu. Ia cukup tau akan kemampuan bela diri wanita cantik nan istimewa yang membuatnya jatuh cinta tersebut. Dengan mudah ia menghindar dan dengan licik hendak mengarahkan pukulan tangannya ke tengkuk Ayesha. Wanita jagoan tersebut dengan gesit mampu menghindar namun kakinya tersandung kaki Luke yang sengaja menjebaknya sehingga tak ayal tubuhnya pun nyaris terjatuh ke lantai. Ayesha segera berdiri kembali dan melepaskan dekapan tangan Luke yang tadi sempat menangkap tubuhnya yang hampir terjatuh. Muslimah tangguh itu bergerak menjauh menjaga jarak dari Luke dengan tatapan waspada.
"Jangan melukai dirimu sendiri. Berdamailah denganku. Aku tidak mungkin menyakitimu. Aku sungguh mencintaimu"
"Berhentilah menginginkan-ku Mr. Luke. Jangan mengambil sesuatu yang bukan hak-mu. Masih banyak wanita istimewa yang masih single di luar sana yang bisa Anda cintai dan bersedia menjadi istri Anda", Ayesha mencoba memahamkan Luke walaupun ia merasa pesimis. Ia hanya ingin berusaha sebisanya untuk selamat saat ini. Tubuhnya terasa belum fit. Energinya yang besar selama ini separuhnya entah kemana. Sepertinya ada yang salah dengan kondisi tubuhnya saat ini. Ayesha baru ingat bahwa ia bahkan cuma makan sebuah apel, belum sempat melahap makanan yang diberikan pelayan tadi.
"Jangan membicarakan wanita lainnya. Aku tidak semudah itu menyukai wanita. Dan ingat! Engkau akan segera menjadi single, Nona cantik"
"Jaga ucapan-mu Mr. Luke"
"Sebentar lagi berita kematian Maxwell akan ku terima dan di saat itulah status jandamu akan memudahkan-ku menjadi suamimu. Sekarang istirahatlah dulu. Malam ini kita akan menikmati makan malam romantis kita yang perdana sebelum menikah", Luke tersenyum tipis dan melangkah keluar kamar. Ayesha terpaku di tempatnya dan begitu Luke sudah menutup pintunya kembali, ia pun bergegas mendorong sofa yang cukup berat di ruangan tersebut ke arah pintu sebagai pengganjal jika sewaktu-waktu Luke atau anak buahnya akan masuk ke dalam kamar tersebut.
Ayesha mendekati meja tempat makanan dan mulai mengambilnya. Ia tak lupa berdoa. Ya Allah, jagalah hamba. Hanya pada-Mu aku menyembah dan hanya pada-Mu hamba mohon pertolongan. Sekilas ada pikiran negatif melintas di kepala Ayesha akan makanan yang akan disantapnya. Namun Ayesha bertawakkal pada Allah. Bukan-kah Allah berada pada prasangka hamba-nya? Ayesha yakin Allah menjaganya. Semoga makanan ini akan memberinya energi lebih agar bisa melarikan diri dan bertemu kembali dengan suaminya. Mengingat perkataan Luke yang seolah sudah menyusun rencana membunuh Maxwell, Ayesha pun terus melantunkan doa dalam hatinya agar Allah juga senantiasa menjaga suaminya dari segala bahaya.
Ayesha sudah mencuci tangannya dan berniat makan. Pada suapan pertama, begitu makanan itu masuk ke mulutnya, mendadak ada rasa mual yang mendera dan ia pun berlari ke kamar mandi. Semua isi perutnya pun keluar karena ia memuntahkan semuanya di wastafel. Ayesha merasakan pusing yang amat sangat dan berusaha keluar dari kamar mandi dan kini berhasil naik ke tempat tidurnya. Ia duduk bersandar dan meraih selimut. Mendadak ia merasakan tubuhnya kedinginan. Dalam kondisi demam yang tiba-tiba, ia teringat dengan keluarganya di Rusia. Selintas bayangan sang kakek, kakak dan seluruh penghuni rumahnya berkelebat. Terakhir, sebelum jatuh tertidur, bayangan wajah Maxwell yang menatapnya penuh cinta melintas dan membuatnya tersenyum tipis.
Sementara itu, Luke yang sedang ada di kamarnya, tepat di sebelah kamar Ayesha nampak sibuk dengan ponselnya. Matanya terlihat merah menahan amarah.
"Bedebah. Mengurus itu saja kalian tidak becus? Ingat! Jika kali ini kalian gagal lagi, anak istri kalian menjadi taruhannya", Luke mematikan ponselnya dengan marah.
Pria berjambang dan berkumis tipis itu meraih minuman keras di meja dan menenggaknya habis. Ini sudah botol ketiga ia habiskan setelah keluar dari kamar Ayesha dikurung. Ia kembali mengingat wanita yang membuatnya kali pertama jatuh cinta itu. Semua berita tentang bagaimana Ayesha dan seluk beluk keluarganya sudah ia ketahui. Sejak wanita asing itu masuk Powell Group dan menunjukkan pesonanya sebagai seorang wanita cerdas berkarakter yang sangat menjaga kehormatan diri dan suaminya itu, Luke sudah merasakan simpatik yang tidak biasa. Apalagi ketika wanita itu dengan tulus menolongnya dari serangan anak buahnya sendiri bahkan dengan rela memberikan potongan pakaian yang ia kenakan untuk menolong Luke waktu itu dari lukanya, hati Luke semakin menggila dan mulai terobsesi untuk memilikinya, di samping rasa dengkinya pada Maxwell yang menjadi penyebab ia ingin memisahkannya dengan orang yang paling dicintainya. Mengambil Ayesha dari sisi Maxwell bukankah sama saja dengan menghancurkan hidup Maxwell? Jika harta warisan dari George Powell tidak banyak ia dapatkan dan membuatnya kalah dari Maxwell, maka cukup dengan memiliki Ayesha yang menjadi obsesinya maka akan bisa mengalahkan Maxwell sekaligus, bahkan
Mata Luke mulai nanar. Pandangannya sudah kabur dan kini ia pun jatuh di atas tempat tidur karena mabuk. Wajah Ayesha yang cantik masih terus menemani angannya hingga ia benar-benar jatuh tak sadarkan diri lagi.
"Ayesha...Ayesha...Ayesha...", Luke menceracau masih dengan terus menyebut nama Ayesha hingga terbangun dari tidurnya. Hari sudah sore beranjak maghrib tatkala bunyi telepon dari ponselnya yang persis di dekat telinganya berdering dengan bising.
"Hallo...", Luke yang berusaha mengumpulkan kesadarannya dari mabuk beratnya menjawab telpon orang kepercayaannya.
"Apa?", mendadak pria yang bertelanjang dada itu tersentak dan bangun dari tidurnya. Ia lemparkan ponselnya ke samping dan bergegas ke kamar mandi untuk mencuci mukanya. Pusing karena pengaruh alkohol ia netralkan dengan segelas air madu dan sambil mengenakan baju kaosnya ia pun berlari keluar.
"Apa yang terjadi", Luke sudah berada di sisi Ayesha. Seorang dokter wanita sedang memeriksa Ayesha yang sedang merintih dalam sakitnya.
"Efek obat tidur mempengaruhi tubuh Nyonya yang sedang dalam kondisi tidak biasa. Nyonya menjadi demam tinggi, Tuan"
"Tidak biasa...apa maksudnya?"
"Saya juga tidak tau, Tuan. Untuk lebih jelasnya, Nyonya harus di test urine"
"Tidak tau? Apakah kau dokter amatiran?", Luke menatap tajam ke arah sang dokter wanita yang mulai tersinggung dengan kata-katanya.
"Tolong jaga kata-kata Anda, Tuan. Saya tau Anda sangat menyayangi istri Anda ini. Namun, Anda juga harus tau bahwa diagnosis tidak sembarangan disimpulkan tanpa test valid sesuai keilmuan yang ada. Anda saya sarankan untuk test urine istri Anda ini karena setelah itu perkiraan saya baru bisa terjawab"
"Sampaikan saja perkiraanmu. Jangan berbelit-belit. Atau Anda memang tidak kapabel sama sekali dengan status kedokteran Anda", Luke menatap sinis. Sang dokter nampak sangat jengkel dan akhirnya menjawab dengan ketus.
"Tuan Richard yang terhormat. Istri Anda ini kemungkinan sedang mengandung Tuan Richard junior dalam rahimnya. Namun usianya masih sangat muda sehingga saya tidak bisa memastikannya kecuali dengan alat ini", sang dokter kemudian mengeluarkan sesuatu dari dalam tas kerjanya dan beranjak pergi dengan wajah kesal.
"Permisi"
"Apa...apa yang harus aku lakukan dengan benda ini...?", Luke tergagap menerima benda yang diberikan sang dokter.
Sang dokter yang mendengarnya berbalik sejenak dan berkata.
"Anda pikirkanlah sendiri. Bukankah Anda orang yang berpendidikan?". Kini sang dokter benar-benar pergi dengan perasaan kesal. Dasar orang-orang aneh dan menyebalkan, mereka mengganggu tidur siangku seeanak hati dengan menggedor rumahku hanya untuk menemukan seorang suami bucin yang bodoh. Dasar, pria, mau enaknya aja, giliran sakit, menjaga istri saja tidak becus, gumamnya dalam hati.
Sementara Luke yang masih bingung dengan benda di tangannya kini duduk di sisi ranjang tempat Ayesha berada.
"Benarkah engkau sedang hamil?", lirih Luke. Matanya iba melihat Ayesha yang masih merintih tak sadar dengan tubuh tertutup selimut. Ia nampak menggigil. Keningnya tertutup obat pengompres penurun panas. Sang pelayan wanita masih tegak berdiri menunggu perintah dari sang majikan.
"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?", ujar Luke pada sang pelayan.
"Tentu Tuan. Jangan khawatir. Nyonya akan segera sembuh. Ibuk dokter tadi sudah memberikan obatnya dan katanya Nyonya sebentar lagi akan sadar.
"Good. Pastikan Kau ada di sisinya hingga ia terbangun"
"Baik, Tuan"
"Dan ini, apa kau tau benda ini apa?", Luke menunjukkan benda pipih panjang dan kecil di dalam kotak transparan yang diberikan sang dokter tadi.
"Ya, Tuan. Itu testpack untuk menguji kehamilan seorang wanita"
"Kau tau cara menggunakannya bukan?"
"Baik, Tuan. Jika Nyonya sudah sadar, saya akan segera membujuk Nyonya melakukannya"
"Well. Aku pergi dulu"
Luke akan keluar namun kembali berbalik dan berkata.
"Pastikan Nyonya memakai kembali cadarnya ketika bangun. Hanya aku pria yang boleh melihat kecantikannya, kau paham?"
Luke kembali menatap Ayesha yang kini tidak bercadar. Wanita yang sedang sakit itu nampak pucat namun tidak menghilangkan kecantikannya sama sekali.
"Bahkan dalam kondisi sakit dan mungkin hamil pun kau masih nampak sangat cantik dan menggodaku, Nona Ayesha. Ah, aku sudah gila. Mengapa wanita yang bahkan selalu menutup seluruh tubuh hingga wajahnya ini pun bisa membuatku tergila-gila seperti ini? Sebelum melihat wajahmu pun aku sudah menyukaimu dari dulu. Hm, Maxwell, kau sungguh beruntung. Namun meskipun ada benihmu di rahimnya, aku tidak peduli. Kau harus tetap jadi wanitaku, Ayesha", Luke berbicara dalam hatinya. Bibirnya tersenyum tipis menatap Ayesha sekali lagi sebelum kemudian keluar meninggalkan Ayesha bersama sang pelayan.
"Pastikan koki memasak makanan istimewa untuk seorang wanita hamil yang sedang sakit, kau mengerti?", Luke memberikan perintah pada bawahannya yang berjaga di depan pintu kamar Ayesha.
"Baik, Tuan", sang penjaga pun bergegas menelpon sang koki begitu Luke berjalan pergi menuju ruangan gymn yang tak jauh dari ruangan Ayesha dikurung.