A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 49. I Do Miss You Too



"Auww"


Maxwell merintih saat luka di tangan kirinya yang masih belum kering terantuk akar pohon. Ia kembali terjatuh karena menahan sakit di pahanya yang juga masih belum sepenuhnya kering. Ia sudah melakukan pengobatan seadanya sejak seminggu lalu dengan berbagai ramuan tumbuhan yang di dapatkan dari tempatnya terdampar saat ini, namun mungkin karena tidak higienis, luka itu belum kering juga, ditambah ia tidak punya banyak pengetahuan untuk tanaman obat dari alam.


Maxwell kembali menatap pohon liar di hadapannya. Dengan sangat semangat ia berusaha lagi untuk melempari buahnya yang nampak menggiurkan. Akhirnya setelah cukup lelah melempar, ia pun bisa merasakan buah dari perjuangannya mendapatkan makanan. Maxwell sangat bersyukur. Berkali-kali ia menggumamkan kata hamdalah dan kini dengan rakusnya memakan buah hutan yang baru didapatkannya. Setelah cukup puas menghalau lapar dan haus, ia pun duduk bersandar di bawah pohon tersebut sambil menatap lautan yang terbentang beberapa puluh meter dari hadapannya. Ia kembali teringat Ayesha dan semua pengalaman pahit yang ia alami sejak sesampainya ia dari Rusia menginjakkan kembali kakinya ke bumi tanah kelahirannya ini. Ayesha bagaimana kabarmu sayang, Apakah kau merindukanku? You know, I also do miss you too, lirihnya sambil terbayang peristiwa sebelumnya.


Flash Back


Maxwell tergeletak tak berdaya di sebuah ruangan sempit dan bau. Matanya masih berkunang-kunang. Dia baru saja sadar setelah disuntik obat bius yang ditembakkan musuhnya begitu ia masuk ke kamarnya di ruang presdir Powell Group. Seketika ia pingsan dan musuhnya langsung membawanya pergi dengan helly. Maxwell ingin duduk namun ia baru menyadari bahwa kaki dan tangannya telah terikat dengan rantai besi yang bergembok.


Di mana aku sekarang. Sepertinya mereka bukan orang-orang Joeris, batinnya.


"Anda sudah sadar rupanya. Lebih cepat dari yang kami kira", terdengar suara dari pintu yang terbuka.


"Siapa kalian?"


"Nanti juga Anda akan tau. Sekarang menurutlah, atau kami akan menghabisi Anda"


"Dasar Pengecut. Hadapi aku dengan sportif. Jangan hanya mengandalkan kelicikan seperti ini", geram Maxwell.


"Aku tak perlu mendengarkan ocehanmu, Tuan Maxwell Powell. Cepat atau lambat Anda tentu mati di tangan Boss kami. Tapi sebelumnya Anda harus membagi sedikit kekayaan Anda yang terlalu banyak itu. Hahaha haha", seringai sang musuh. Nampak beberapa orang sudah bersiap di belakangnya. Mereka kemudian menggelandang Maxwell yang terpaksa berjalan terseret karena kakinya yang terikat jadi satu dan karena tarikan dua orang pengawal pria asing yang berbicara padanya. Matanya jeli menatap sekitarnya untuk mengenali tempatnya saat ini. Ia merasa seakan oleng namun ia mulai sadar ini bukan karena ia masih belum sepenuhnya pulih dari obat bius namun karena ia sedang di dalam kapal. Ya, kapal besar. Terdengar sesekali suara deru ombak di luar. Sekilas Maxwell melirik benda kecil seperti pemotong kuku di atas TV dinding, dan dengan gerakan seolah meronta ia menggeser badannya ke sana dan berhasil menyambar besi kecil itu. Tak lama kemudian ia kini sudah berada di sebuah ruangan yang lebih luas dan berisi banyak buku yang tertata rapi dalam beberapa lemari bertutup pintu kaca. Sekitar sepuluh orang berdiri stand by menunggu perintah. Maxwell memiringkan kepala ke atas ketika sekilas melihat foto berbingkai besar di dinding dan sontak terkejut.


"Apa kabar?", terdengar suara yang tak asing di telinga Maxwell.


"Luke?", Maxwell terkejut bukan main. Ia tecekat tak percaya, terperangah melihat sosok yang sangat dekat dengannya selama ini. Luke, sekretaris pribadinya yang terpercaya selama ini, kini duduk di hadapannya dengan bersilang kaki di kursi putar. Lelaki bermata coklat itu nampak gagah duduk di kursi kebesarannya.


"Kau pasti sangat terkejut bukan?", Luke tersenyum sinis. Matanya menatap tajam menyiratkan kebencian. Pandangan bersahabat dan patuh pada Maxwell selama ini sebagai tangan kanan, orang kepercayaan yang mengurus segala keperluannya dan mengatur seluruh jadwalnya kini berubah menjadi tatapan tajam penuh dendam. Ternyata ia seorang penghianat besar yang bahkan jauh lebih lihai dibanding Joeris.


"Why...Why did you do this to me", Lirih Maxwell seakan masih tak percaya. Sekilas ia teringat dengan semua kinerja Luke yang menunjukkan kesetiaan dan pengorbanan. Ia bahkan menganggap Luke bukan lagi orang lain sehingga ia pun sering memberikan tambahan gaji bahkan properti yang tak sedikit padanya atas segala dedikasinya padanya dan pada perusahaan.


"Why? Karena itu...Lihat itu...", Luke menunjuk ke arah foto Mr. George Powell di dinding.


"We are the same Maxwell, we are the same. I'm also his son. Aku juga anaknya....", Luke tiba -tiba berteriak kencang. Matanya merah. Ia menyambar pistol di mejanya dan menembakkan dengan membabi buta ke arah Maxwell. Pria bermata biru itu berusaha menghindar sebisanya hingga Luke menghentikan tembakannya. Dadanya turun naik menahan diri. Matanya merah melotot ke arah Maxwell. Sementara Maxwell kini nampak kesakitan. Ia terluka. Darah terlihat mengalir dari paha kanan dan tangan kirinya yang terserempet peluru.


"Kau harus mati. Kau harus mati, Maxwell Powell. Dan hari ini kau akan segera mati. Si tua busuk itu harusnya menjadikanku pewarias tahta kerajaan bisnisnya, bukan kau keparat..!!!!"


"Kau...pantas saja Daddy tidak menganggap dirimu ada, karena kau memang tidak pantas mendapatkannya Luke", Maxwell membalas ucapan Luke dengan geram. Penghianatan dan kelicikan Luke sangat membuatnya shock.


"Hahaha...Kau pikir kau yang pantas...? Cihhh!


Aku. Aku yang layak, keparat!!! Aku lebih cerdas darimu bukan? Lihatlah, bertahun-tahun aku bersamamu dan kau bahkan tak menyadari siapa aku bukan? Hahaha...dan kini...sebelum kau mati...aku akan membuatmu memberikanku terlebih dahulu apa yang seharusnya menjadi milikku...hahaha.."


"Kau...", Maxwell melihat nanar ke arah dokumen yang dipegang Luke sekarang. Dokumen dari pengacaranya yang diberikannya untuk mengecoh Joeris. Hati Maxwell mulai tenang. Setidaknya Luke tidak akan mendapatkan apapun. Ia percaya Ayesha bisa menangani semuanya saat ini.


"Pengawal....!", teriak Luke.


"Siap Tuan"


"Kau tau apa yang harus kau lakukan bukan?"


"Baik Tuan"


Kedua orang suruhan Luke kemudian mendekati Maxwell dan memaksanya untuk menandatangani dokumen wasiat penyerahan perusahaan pusat pada Luke. Maxwell pura-pura berusaha menolak namun akhirnya ia harus menyerah. Luke pun menyambar dokumen yang diberikan oleh anak buahnya dan kemudian tertawa terbahak-bahak karena senangnya.


"Akhirnya....Akhirnya...Hahaha...Tak sia-sia aku rela berjuang menjadi jongos Maxwell Powell selama bertahun-tahun dan kini..


Hahaha...Aku telah memiliki semuanya".


Tanpa menunggu lama lagi, Maxwell kembali digelandang keluar ruangan dan sebelum orang-orang Luke menyadari, rantai di tangan dan kaki Maxwell sudah terlepas, dan begitu melihat kondisi sepi dari para anak buah Luke yang tadi bergerombol, serta merta Maxwell menendang dan memukul kedua musuhnya dengan sepenuh tenaga. Gerakan yang mendadak membuat kedua musuhnya tak bisa melawan dan hanya pasrah dengan senjata yang terlempar. Dengan sigap Maxwell mengambil senjata tersebut dan menembak keduanya. Suara tembakan tentu saja menyadarkan anak buah Luke yang lain. Mereka berhambur mengejar Maxwell yang terus berlari dengan terseok-seok sambil tak hentinya menembaki musuh-musuhnya yang semakin banyak. Melihat ke luar jendela yang terbuka, akhirnya Maxwell memutuskan untuk melompat terjun melalui jendela dan disambut gelombang lautan yang akhirnya menghantarkannya ke sebuah pulau tak berpenghuni.