
Sudah sepekan ini Maxwell terapi dengan Zikir al Matsurat untuk mengenyahkan bisikan-bisikan halus yang sepertinya terus mengganggunya sejak saat itu. Saat ketika malam itu Ayesha ingin menyerahkan dirinya seutuhnya sebagai seorang istri padanya. Setelah esoknya mereka bersama mengisi qiyamul lail sebelum subuh dengan tahajjud berjamaah dan tilawah quran, lalu subuh berjamaah, Ayesha pun meminta penjelasan dari suaminya apa yang terjadi. Maxwell kemudian menceritakan apa yang ia alami. Ia merasa ada banyak bisikan di telinga dan hatinya bahwa ia adalah iblis yang kejam dan tak layak bersama Ayesha. Ia merasa sangat buruk dan takut dengan akibat semua perbuatannya di masa lalu. Ia sudah banyak membunuh dan menyiksa orang lain, bahkan ia memiliki tempat khusus untuk itu. Maxwell menceritakan pada istrinya dengan jujur semua sepak terjangnya selama menjadi mafia sebelum mengenal Islam. Bagaimana ia memberlakukan musuh-musuhnya dengan sangat keji, dalam menyiksa maupun membunuh mereka. Sebenarnya Ayesha sangat ngilu mendengarnya namun ia berusaha untuk tenang. Ia tak ingin menambah beban hati suaminya yang nampak merasa sangat bersalah.
"Setiap orang punya masa lalu, Hubby. Bukankah Hubby sudah bertaubat? Yang penting jangan lakukan lagi dan perbaikilah semua kesalahan tersebut dengan menghentikan apa yang masih berlanjut, mengganti apa yang masih mungkin diganti dan mengembalikan segala hal yang bisa dikembalikan. Lalu lakukanlah berbagai amal ibadah di setiap kesempatan yang ada. Ok?", Ayesha memegang tangan suaminya dan tersenyum padanya. Semua kata-katanya yang menghibur memberikan motivasi pada Maxwell untuk bangkit dari perasaan menjadi seorang iblis. Hatinya mulai optimis dan kepalanya mulai terisi rencana-rencana sebagaimana sesuai apa yang disampaikan Ayesha.
"Dear, benarkah aku bisa mendapat ampunan Allah atas semua masa laluku itu?"
"Tentu saja. Bukankah kakek juga pernah mengatakan padamu bahwa kehidupan seorang muallaf yang ikhlas akan seperti bayi yang baru lahir? Tidak membawa dosa apalagi jika sungguh-sungguh bertaubat. Jadi sekarang lihatlah masa depan Hubby. Bukan masa lalu. Songsonglah yang di hadapan bukan yang di belakang. Itu semua jadikan sekedar kenangan buruk dan menjadi pelajaran. Lalu hapuslah dalam ingatan"
"Tapi bisikan-bisikan itu terus menghantuiku apalagi ketika aku hendak melakukan setiap amal ibadah", Maxwell kembali memegang kepalanya dan menggelengkannya.
"Itu pasti bisikan setan yang berusaha mengganggu Hubby. Banyaklah beristighfar dan amalkan terapi ini, ok? Everything will be well soon, ok Dear?", Ayesha kembali tersenyum dan memberikan buku kecil bertuliskan Zikir Al-matsurat ke tangan suaminya yang ditariknya dari kepalanya.
"Ayo kita mulai lagi, hm?", kata keramat Ayesha membuat Maxwell tersenyum seketika dan menuruti ajakan istrinya. Sore itu mereka pun larut dengan bacaan zikir yang disunnahkan Rasulullah Saw di tiap pagi dan sore setiap harinya tersebut. Kekalutan Maxwell yang terus dibayangi dosa-dosa masa lalunya perlahan melebur seiring dengan khusyuknya ia melantunkan bacaan-bacaan zikir yang dibimbing Ayesha. Maxwell yang sudah lancar membaca Al Quran pun tidak kesulitan mengikuti arahan sang istri. Tiba pada bacaan-bacaan tertentu yang mewakili kondisinya seperti Bismillahilladzi La Yadhurru Ma’asmihi Syai’un fil Ardhi wa Laa fis Sama’i wa Huwas Sami’ul ‘Alim (artinya, Dengan nama Allah Yang bersama NamaNya sesuatu apa pun tidak akan celaka baik di bumi dan di langit. Dialah Maha Medengar lagi maha Mengetahui), Maxwell pun terus mengulang-ngulanginya dengan penuh perasaan. Ayesha pun merasa terharu dan dalam hatinya ia pun terus mendoakan kebaikan untuk suaminya agar selalu dalam bimbingan Allah. Selalu dalam limpahan nikmat hidayah dan tentu taufiqNya. Dengan hidayah, petunjuk dari Allah, Ayesha berharap sang suami yang baru saja berhijrah ini, diberi kekuatan oleh Allah untuk mendapatkan taufiqNya, mampu melaksanakan hidayah yang sudah diberikan tersebut. Aamiin, ujar Ayesha dalam hati. Hasilnya, selama seminggu ini perlahan namun pasti Maxwell kembali tenang dan sudah jarang memegangi kepalanya lagi.
Hari ini Ayesha mencoba untuk kembali menyibukkan suaminya dengan aktivitas dunia dan ukhrawi sekaligus berkenaan dengan niat Maxwell untuk berwaqaf. Selama satu pekan sebelumnya kesibukannya di kantor pusat banyak dihandle oleh para sekretarisnya yang bisa dipercaya, juga di bawah pengawasan Ayesha. Laporan pengacara Maxwell tentang kelanjutan rencana waqaf itu membuat Ayesha harus segera melibatkan Maxwell secara langsung agar dia bisa merasakan perjuangan beramal yang hanya seorang konglomerat dan penguasa sepertinya yang bisa melakukannya. Ayesha ingin sang suami keluar dari zona masa lalunya dan bangkit menjadi seorang muslim yang optimis dengan amal spesialnya di hadapan Allah. Dan menjadi pengembang tunggal Islamic Center dengan semua rancangan besar ini adalah amalan yang tak semua orang bisa melakukannya, bukan?
Sudah sepekan proyek perluasan Islamic Center mulai berjalan. Alberto, salah seorang pengacara pribadi kepercayaan Maxwell yang ditugaskan untuk mengurus semua masalah hukum sekaligus pembiayaannya harus bekerja keras. Pasalnya, setelah melakukan analisis tajam dan komprehensif agar seluruh rencana Maxwell tentang fasilitas lengkap IC terwujud, maka perluasan kompleks IC membutuhkan setidaknya penambahan area seluas 20 meter untuk setiap sisi tanah umat yang sudah ada, baik dari sisi depan, belakang, kanan dan kiri tanah kompleks IC. Untuk ini, harus ada pembebasan tanah kosong dan bangunan rumah milik penduduk non muslim di lokasi perluasan tersebut. Tentu saja, ini tidak mudah seperti yang dibayangkan, karena issu SARA dan minoritasnya agama ini di bumi Kangguru ini turut mempengaruhi.
"Aku sendiri yang akan menjumpai mereka sekarang", Maxwell menjawab panggilan telpon Alberto sore ini. Dia harus segera menyelesaikan masalah perluasan tanah ini segera. Semangat menggebu dalam dirinya untuk menuntaskan proyek besar ini sangat memotivasi segala aktivitasnya belakangan ini. Segala hal pekerjaan bisnis yang bisa diwakilkan ia tinggalkan dan dia fokus bersama Alberto dan Ayesha mengurai sedikit demi sedikit persoalan proyek IC.
"Hubby butuh bantuanku?", Ayesha menatap sang suami yang sedang bersiap pergi. Mereka ada di kamar setelah seharian Maxwell menyelesaikan satu demi satu urusan masa lalunya sedangkan Ayesha juga berkeliling bersama Zeny meninjau sekolah, panti asuhan dan perguruan tinggi yang menjadi sasaran penerimaan zakat dari Maxwell.
"Honey tidak lelah?"
"Tidak. Insyaa Allah. Untuk suamiku, apa sih yang bisa membuatku lelah?", Ayesha mengerling nakal. Maxwell terpana.
"Wow, sudah berani ya....Kau memancingku, hm?"
"Tidak. Tidak. Aku hanya menguji saja", Ayesha gelagapan. Ia bergerak mundur. Ia yang bertingkah genit malah ia yang ketakutan akan mendapatkan efek dari perbuatannya sendiri. Maxwell yang baru selesai mengenakan jam tangannya terus mendekat dan langsung menangkap istrinya.
"Honey mau tau apa yang bisa membuat honey lelah karena suami yang tampan ini, hah?", Maxwell menatap intens.
"Aku. Aku....", Ayesha semakin mengkerut di dinding kamar. Kok senjata makan tuan sih, aku kan cuma bercanda? Jangan sekarang Hubby, please, batinnya menyesali.