
Kini tinggallah Maxwell, Ayesha dan Bibi Cristine yang berada di ruang pustaka mansion yang cukup luas itu. Maxwell masih terus menekan Bibi Cristine dengan interogasinya.
"Jika Bibi masih tidak ingin jujur padaku, maka aku tidak akan segan-segan menghukum Bibi"
"Semuanya sudah Tuan ketahui. Tuan boleh menghukumku jika tetap tidak percaya"
"Baiklah. Hari ini juga silakan angkat kaki dari sini", Maxwell berteriak marah. Ayesha terpaku melihat kemarahan suaminya. Walau baru ini bertemu dengan wanita tua di hadapannya ini, namun ia merasa bahwa wanita tersebut bukanlah orang yang jahat dan cara dia memeluk foto Maxwell kecil cukuplah untuk menandakan bahwa ia sangat menyayangi Maxwell.
"Tuan. Jangan...jangan usir saya...Tuan boleh hukum saya apapun itu saya sanggup menghadapinya, namun tolong jangan usir saya...", Bibi Cristine mengiba. Ia bahkan bersujud di depan Maxwell. Pria yang sedang menahan diri itu memalingkan mukanya dan berdiri. Ia menarik Ayesha dan langsung membawanya ke kamarnya kembali. Sementara sang bibi nampak menangis pilu.
"Engkau masih menyayangiku nak. Aku tau itu", lirih Bibi Cristine dalam hati. Ia menyeka air matanya perlahan. Siapa Nona itu. Benarkah Maxwell sudah menikah? Bukankah wanita itu seorang muslim? Ada banyak pertanyaan dalam benaknya.
Maxwell dan Ayesha sudah berada di dalam kamar mereka. Kini ruangan privasi itu sudah berubah lebih bersih dan rapi. Bed cover sudah diganti dan harum semerbak aroma lavender menyeruak di seluruh ruangan. Gorden dan semua fasilitas kain sudah diganti dengan yang baru.Warna putih dan hijau muda mendominasi. Ayesha seakan baru pertama kali menginjak kamar yang luas ini, karena suasana terlihat sangat berbeda. Kini nampak sangat nyaman dan segar.
Ayesha melempar pandangan ke arah jendela yang terbuka. Dia perlahan mendekatinya dan kini menghirup segarnya udara pagi dari space yang terbuka. Ada banyak tanaman bunga di bawah sana dan seketika ia teringat dengan kebun bunga milik Elena. Ayesha tersenyum.
"Apa kau suka honey?"
"Tentu saja", Ayesha menoleh ke arah Maxwell yang sedang duduk di atas sofa putih di dekatnya. Ia tersenyum dan duduk di samping suaminya.
"Apakah suamiku ini masih marah?"
"Aku tidak pernah benar-benar marah pada Bibi Cristine walau aku sangat membencinya".
"Lalu hubby marah pada Bibi Grey dan Bibi
Lorenz. Begitukah?"
"Ya. Mereka penghianat"
"Namun mereka hanya tidak sanggup mendapatkan ancaman dan itu karena mereka menyayangi keluarganya bukan?"
"Bibi Cristine bahkan mendapat siksaan karena bertahan dan tak mau menjadi penghianat. Orang-orangku sejak dulu rela mati daripada membocorkan rahasia."
"Itu karena hubby ada di mata mereka. Mereka tau Hubby masih ada. Namun kondisi saat itu bukankah hubby dikabarkan bahkan sudah meninggal dan dibuktikan dengan foto kematian hubby? Tentu mereka menjadi kehilangan kepercayaan dan berpikir hubby mungkin memang sudah tidak ada lagi", Ayesha menarik nafas sejenak lalu meraih tangan suaminya dan menggenggamnya. Terlintas sebuah ide di benaknya. Walau ada rasa malu, namun ini mungkin bisa mengurai emosi pria dingin didekatnya yang baru saja berhijrah ini.
"Sekarang ayo lupakan dulu masalah hubby disini. Kita berdua bahkan belum mandi bukan? Bagaimana kalau...aku bantu hubby mandi?"
Maxwell menatap Ayesha tak percaya. Ia membelalakkan matanya.
"Sure. Aku tentu tak akan menolaknya. Rasanya pasti sangat segar, apalagi..."
"Aku hanya membantu hubby mandi. Hm?"
"Hm?"
Ayesha langsung bangkit menuju lemari pakaian. Wajahnya sudah memerah menyadari kata keramat yang barusan disebutnya. Ia nampak sibuk memilih pakaian untuk Maxwell dan handuknya. Ia bergegas ke kamar mandi tanpa menoleh ke belakang. Begitu masuk, terasa sentuhan tangan kekar yang membelit pinggangnya dari belakang.
"Ayo cepat mandi hubby. Setelah ini kita istirahat", ucap Ayesha sambil berjalan pelan ke arah bathtub sambil mengelus tangan suaminya. Terlihat bathtub yang sudah terisi penuh air hangat dan taburan bunga mawar merah. Sungguh pemandangan yang mendebarkan bagi Ayesha. Ia terpana dengan pikiran yang menerawang. Cepat sekali pembantu di sini menyiapkan semuanya. Dan ini tentu bukan pekerjaan para bibi. Oh No. Paman Sam?, batinnya. Ia merasa sangat malu memikirkan semuanya.
"Paman Sam ternyata sangat memahami suasana pengantin baru", gumam Maxwell pelan namun masih bisa didengarkan oleh Ayesha. Seketika wanita cantik itu membalikkan tubuhnya dan tergagap karena kini wajah tampan suaminya sudah berada sejengal dari wajahnya. Pria itu menunduk sedikit.
"Ehm, bukankah tadi ku dengar ada seorang istri yang hendak membantu suaminya untuk mandi?"
"Benar. Sekarang pejamkanlah mata hubby"
"Apa?"
"Apakah suami tersebut tidak ingin membahagiakan istrinya dengan menuruti kata-katanya?"
"Baiklah. Aku tentu ingin membuat istriku ini senang"
Maxwell pun memejamkan matanya. Ia merasakan Ayesha mulai melucuti pakaiannya satu persatu dengan perlahan dan kaku. Tinggallah kini celana boxernya saja. Lalu sentuhan tangan yang lembut dari istrinya itu kini menarik kedua tangannya melangkah memasuki bathtub, dan air hangat yang harum penuh kelopak mawar merah pun terasa mulai merendam tubuhnya hingga bahu ketika dia mulai dibimbing ke bawah dengan lembut untuk duduk. Maxwell hanya meresapi semua perlakuan Ayesha dengan penuh perasaan. Ia enggan membuka matanya tatkala sentuhan kini beralih ke kepalanya. Message kecil mulai dilakukan Ayesha secara perlahan dan lembut seolah-olah ingin membuyarkan segala beban di kepala pria gagah itu. Pijatan-pijatan kecil di kepalanya melahirkan ketenangan yang sulit dilukiskan. Yang jelas Maxwell merasa sangat nyaman dan tak ingin berhenti menikmatinya.
Kini sentuhan message itu pindah ke daerah bahu dengan durasi yang lebih lama dan lebih bertenaga. Rasa penat karena perjalanan mereka yang panjang melalui dua benua perlahan mulai terurai. Setelah beberapa menit message pun pindah ke punggung yang sudah terendam air. Kali ini Maxwell merasakan pijatan yang cukup bertenaga. Ayesha cukup serius memijat punggungnya dengan teknik yang tak kalah dengan para ahli di bidangnya. Maxwell terus memejamkan matanya. Hatinya penuh rasa bahagia. Cukup sentuhan lembut dan penuh kasih sayang dari sang istri membuatnya lebih tenang dan merasa senang. Semua emosi yang dirasakannya tadi menguap entah kemana.
"Bagaimana Hubby? Kau suka?"
"Tentu saja. Ini sangat nikmat, honey..."
"Apakah sekarang aku sudah bisa membantu Hubby mandi?"
Maxwell hanya mengangguk. Matanya masih terpejam. Ayesha meliriknya sekilas dan tersenyum. Ia lalu mengambil shampoo dan mulai mengkeramasi kepala sang suami sembari melakukan message lagi. Lanjut dengan menyabuni tubuhnya. Ayesha tidak lagi risih menyentuh permukaan kulit suaminy a karena sejak sakit dulu dia sudah terbiasa melakukannya. Kini dia tidak takut lagi menyentuh semua bagian tubuh sang suami karena pria tampan di dekatnya ini sedang dalam kondisi sehat.
Acara message dan mandi busa dan mawar di dalam bathtub pun sudah usai. Kini tangan Maxwell ditarik lagi oleh sang istri untuk keluar dan membersihkan diri di bawah guyuran shower. Semuanya selesai dan Maxwell pun membuka matanya. Ia tersenyum manis ke arah Ayesha dan dibalas dengan senyuman yang manis pula. Ayesha benar-benar ingin memanjakan suaminya saat ini. Ketika wanita cantik yang masih terus setia dengan hijabnya itu hendak mengambil handuk di belakangnya, tak sengaja ia terpeleset karena lantai licin. Tubuh tinggi semampainya nyaris terbanting ke lantai jika saja tidak ada tangan kokoh yang langsung menahannya. Kedua pasang mata indah mereka pun saling bersitatap. Maxwell terkesima. Posisi dekat seperti ini sudah berkali-kali terjadi di antara mereka, namun ia tidak pernah bosan untuk menikmati lukisan hidup makhluk Tuhan yang satu ini. Wajah cantik mempesona sang istri yang tanpa cadar di depannya sungguh sangat menggodanya. Bibir pink alami terbuka karena terkejut semakin membuatnya menelan salivanya sendiri. You are so beautiful, inside and ouside, my dear, bisiknya ke telinga Ayesha. Pipi putih itu pun mendadak menjadi kemerahan.