
"Brakkk"
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh. Grace yang sedang melakukan pendinginan refleks menoleh ke belakang dan menyaksikan Mark sudah telentang di lantai keramik tak jauh dari tepi kolam. Kursi rodanya nampak terguling di sisinya. Spontan Grace bangkit dari posisinya dan berlari mendekati Mark.
"Anda tidak apa-apa Tuan?"
Mark diam saja. Ia memegangi perut dan dadanya bergantian. Terlihat meringis menahan sakit. Grace yang sudah ada di sisinya bingung akan berbuat apa.
"Apa yang harus ku lakukan?", batinnya. Ia tak ingin menyentuh kulit Mark namun ketika melihat sikap Mark ia merasa sangat kasihan.
"Tuan Mark, tak bisakah Anda bangkit sendiri?", tanya Grace.
Mark hanya diam saja. Matanya terpejam. Dasar wanita bodoh, sudah tau aku meringis kesakitan. Apa dia tidak paham bahwa aku minta tolong untuk dibantu? gerutu Mark dalam hati.
"Tuan Mark, jawablah"
"Arrghh...", teriak Mark pelan.
"Apakah sakit sekali?", Grace nampak cemas.
"Apa yang harus ku lakukan Tuan Mark?"
Grace masih bingung. Tapi kemudian dia mendapatkan ide.
"Ah ya, tunggu sebentar, aku akan meminta pertolongan dulu", Grace hendak bangkit dan berlari namun teriakan Mark mengurungkan niatnya.
"Arghhh...lukaku...", Mark kembali meringis kesakitan dan memegangi dadanya. Nampak warna merah menodai baju kaosnya yang berwarna putih.
"Tuan Mark...Anda..", Grace cukup terkejut dan merasa ngilu melihat sedikit darah yang nampak menembus baju yang dikenakan Mark.
Setelah bergulat dengan pikirannya sendiri, Grace pun urung pergi melainkan mencoba membantu Mark lebih dulu. Segera diambilnya kursi roda yang terbalik dan dikembalikan pada posisi semula. Setelah itu, ia pun duduk bersimpuh dan perlahan dengan sedikit ragu meraih pundak Mark dan menyokong tangan kanannya ke punggung Mark. Sementara tangan kirinya memegangi tangan pria tampan tersebut untuk membantunya duduk. Mark yang sudah membuka matanya diam-diam sungguh menikmati perlakuan wanita cantik yang sangat dekat dengannya saat ini.
Disertai debaran jantung yang berdegup lebih cepat karena posisi menempel dengan tubuh pria yang bukan mahramnya, Grace mencoba sebisa mungkin memapah Mark berdiri untuk menaiki kembali kursi rodanya. Namun sayangnya karena tidak fokus, setelah berhasil mendudukkan Mark ke kursinya, gadis cantik itu mundur sedikit ke belakang dan limbung kemudian terjatuh ke kolam. Posisinya yang terbalik telentang dengan kepala yang lebih dulu menyentuh air diikuti kaki ke atas membuat tubuh Grace langsung jatuh tenggelam ke air kolam yang dalam. Mark pun terkejut melihatnya dan karena tidak melihat lagi tubuh Grace naik ke permukaan setelah beberapa detik, pria yang lukanya kembali terbuka itu pun teriak memanggilnya.
"Grace....Grace...!"
Tanpa menunggu lagi, Mark pun bangkit dari kursinya dan terjun ke dalam kolam. Tak lama ia pun berhasil mendapatkan tubuh Grace yang ternyata sudah berusaha berenang ke atas. Ia segera menyambar tubuh ramping itu dan dengan susah payah sambil menahan sakit ia pun membawanya naik ke permukaan.
Grace terbatuk dan membuang sebagian air dari mulutnya. Ia merasa lega karena tadi sedikit panik dan menelan sebagian air kolam. Mark yang berada di sisinya pun menatapnya lega. Keduanya sama-sama berbaring di lantai bersisian. Mark menghadap ke arah Grace.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku tidak apa-apa".
Setelah beberapa waktu berlalu, barulah Grace sadar akan apa yang terjadi.
"Tuan Mark? Anda...?"
"Arghh...", Mark kembali merasakan sakit pada lukanya. Ia memejamkan matanya menahan nyeri.
"Anda? Isshhh...."
Grace baru sadar dan berpikir bahwa Mark tidak benar-benar sakit. Tanpa berpikir panjang, wanita berjilbab itu pun bangkit dengan kesal dan pergi meninggalkan Mark begitu saja.
"Arghhh...tolong aku..."
"Tolong saja dirimu sendiri. Aku tak akan tertipu lagi...", seru Grace yang sudah berjalan menjauh.
"Arghhh....", teriak Mark. Tubuhnya telungkup.
Grace yang sudah jauh berhenti kembali. Apa aku benar membiarkan dirinya begitu saja? Ah, dia tidak benar-benar sakit. Dia hanya berpura-pura. Buktinya dia bisa menolongku tadi. Tapi darah itu.... Oh God....
Begitu mengingat darah, Grace membalikkan badannya dan berlari ke arah Mark. Lelaki itu masih pada posisinya semula dan dengan cemas, Grace pun berusaha membangunkan tubuh kekar itu dan memapahnya dengan susah payah naik ke kursi roda.
"Ayo tuan Mark, berusahalah sekali lagi. Tubuhmu berat sekali tau...?", gumam Grace yang tentu saja di dengar Mark.
"Terima kasih sudah kembali", lirih Mark sambil memandangi wajah cantik di dekatnya yang tak sadar dikerjai sejak tadi. Akhirnya, dengan kepura-puraan sebagian, karena memang nyeri pada lukanya yang terbuka kembali, badan tegap berotot itu pun berhasil didudukkan ke kursi dan kini Grace pun segera berperan bak seorang perawat yang mendorong kursi pasiennya menuju klinik mansion. Tanpa diketahui Grace, Mark yang merasa misinya berhasil tersenyum tipis. Sekelebat kejadian sebelum ia berniat memasang jebakan untuk Grace kembali terbayang. Awalnya Mark hanya ingin berpura-pura sakit kram pada kakinya saja, dan ingin minta tolong pada Grace, tapi ternyata rencananya sakit malah jadi kenyataan. Ia terjatuh karena lantai licin sebelum sampai ke kursi rodanya. Dan kursi yang sempat dicapainya pun tertarik dan terguling. Jadilah insiden tadi seperti nyata tanpa rekayasa. Ah, tidak sia-sia aku melakukan drama tadi, batinnya geli. Aww....ringisnya, luka itu terasa cukup menyakitkan. Padahal tadi cuma pura-pura, ini memang benar-benar sakit, racaunya dalam hati.
Sementara itu, sepasang mata yang tak sengaja menyaksikan semua ulah Mark sejak awal hingga akhir tadi nampak menggelengkan kepala di balik sebuah tiang besar di teras belakang. Sudut bibirnya naik dan bergumam pelan. Dasar bucin, sudah jadi licik sekarang ya. Baiklah, aku akan membantumu. Dan kau akan berhutang banyak padaku. Tenang Nona Grace, aku akan membalasnya juga untukmu. Hahaha. Tubuh milik sepasang mata yang usil itu pun segera berbalik dan dengan cepat melangkah ke tempat yang sama yang akan dituju Grace dan Mark agar bisa sampai lebih dulu.
Sesampainya di klinik, Grace pun segera melaporkan keadaan Mark pada sang dokter yang nampak sedang duduk santai di kursi kesayangannya.
"Ah Tuan Mark, mengapa bisa basah begini? Anda sudah melanggar perjanjian rupanya"
"Nona, bajunya basah. Ia harus mengganti dulu pakaiannya"
"Baiklah. Aku akan keluar dulu. Tolong dokter segera menangani Tuan Mark", Grace pun beranjak hendak keluar.
"Hi Nona, hendak kemana?"
"Tentu saja keluar. Tuan Mark harus segera mengganti pakaiannya bukan?"
"Ya. Tapi aku minta tolong Nona yang melakukannya"
"Apa? Tidak. Tidak", Grace terkejut. Begitu juga dengan Mark yang masih duduk di kursinya.
"Nona, Tuan Mark harus segera diobati. Luka yang terbuka kembali jika tidak segera ditindak akan infeksi. Aku harus segera meracik obat khusus untuknya. Dan ini membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Cepatlah. Kita tak punya waktu. Apa Anda ingin Mark dioperasi kembali hanya gegara kelalaian kita yang tidak bertindak cepat?", mimik sang dokter sangat serius. Grace tercekat.
"Aku akan panggil pengawal pria untuk membantu. Tunggu sebentar"
"Mereka sedang berlatih di tempat latihan. Tidak ada yang boleh meninggalkan pos penjagaan setelah kejadian baru-baru ini. Come on, tidak ada waktu lagi. Cepatlah", dr Johnson langsung meninggalkan Grace dan Mark tanpa menunggu jawaban dari Grace.
"Hei, Anda mau kemana?"
"Tentu saja ke Lab. Anda masih tidak mau? Ya sudahlah, terserah saja", sang dokter cuek saja dan melenggang pergi. Tak seorang pun yang tau ketika ia tersenyum begitu membelakangi sang gadis polos.
"Dokter Jhon...", teriak Grace dan ia pun resah tak berkutik. Wajahnya pias membayangkan harus membantu Mark menggantikan pakaiannya. Namun begitu mengingat sesuatu ia pun merasa lega. Ia berbalik kembali melihat keadaan Mark yang ternyata sedang berjalan tertatih menuju lemari pakaian di dekat tempat tidur. Sesaat Grace merasa semakin lega. Aku tidak harus melakukan hal yang memalukan lagi dan melanggar syariah, bukan? Syukurlah. Ia pun langsung berbalik namun seketika langsung terkejut kembali mendengar benda berat yang terjatuh.
"Tuan Mark....", refleks Grace berbalik berlari menangkap tubuh Mark yang sedang berdiri di dekat lemari.
"Aku akan menolongmu. Jangan gegabah lagi. Kau ingin dioperasi lagi? Cukup sudah kau kritis waktu itu. Jangan lagi membuatku cemas", Grace meracau tak sadar. Kedua tangannya masih melingkari pinggang pria yang bukan mahramnya itu. Mark terkejut melihat apa yang dilakukan gadis cantik di belakangnya. Keadaan itu pun terus terjadi beberapa saat lamanya. Ketika mulai sadar dengan tindakannya, Grace seketika tergagap. Ia membelalakkan mata melihat meja yang terbuat dari stainless yang terjatuh di lantai di dekat kakinya. Beberapa buku tebal juga nampak berserak di lantai. What? Tuan Mark tidak apa-apa tadi?, pikirnya. Blush. Wajahnya langsung memerah ketika menyadari apa yang saat ini dilakukannya. Ia sedang memeluk erat seorang pria yang sejak tadi berdiri baik-baik saja. Grace pun langsung melepaskan pelukannya dan berdiri dengan salah tingkah.
"Maaf aku kira tadi..."
"Aww...", Mark meringis memegangi perutnya yang sempat terkena pelukan erat Grace barusan.
"Maafkan aku... Ah, Tuan bisa mengganti baju sendiri bukan?"
"Menurutmu?", Mark melirik wajah merah di sampingnya dengan ekspresi datar.
"Aku...aku permisi. Aku juga harus mengganti pakaianku"
"Pergilah", Mark menjawab dengan ketus. Ide jahil kembali menghampiri kepalanya.
"Arghhh...", ia duduk di lantai memegangi luka di dadanya yang mengeluarkan darah. Grace yang melihat bercak merah darah di tangan Mark pun langsung bergidik ngeri dan semakin merasa bersalah.
"Pergilah. Jangan pedulikan aku lagi...", lirihnya sambil melirik gadis di sampingnya yang terpaku tidak jadi pergi.
"Aku akan membantumu. Tolong jangan marah".
Dengan perasaan tak menentu, Grace pun buru-buru mengambil pakaian Mark di lemari. Diambilnya kemeja garis-garis biru dan celana longgar selutut juga sebuah handuk kecil. Setelah itu ia pun duduk di sisi Mark dan minta ijin untuk membuka bajunya.
"Maaf aku..."
"Lakukanlah...", ujar Mark sambil meringis.
Grace pun dengan kaku membuka kaos putih yang dikenakan Mark. Menahan salivanya manakala tubuh atas Mark yang sekarang terekspos bebas di depan matanya. Perut six pack, meski dalam keadaan terluka, juga dada bidang meski bernoda darah, dengan otot-otot pria yang maskulin menjadi pemandangan yang memabukkan setiap kaum hawa. Dengan risih dan gugup, Grace pun memberanikan diri menyentuh kulit pria tampan di depannya dengan beralaskan handuk yang diambilnya tadi. Ia membersihkan darah yang menempel di tubuh tegap itu dengan tissue basah dan selanjutnya mengelap tubuh Mark dengan perlahan dan lembut dengan handuk yang dipegangnya. Ia takut sekali menyentuh bagian yang terluka.
"Apakah tubuhku begitu menjijikkan sehingga kau bahkan bersikap seperti ini? Tidak mau menyentuhku?"
"Aku..bukan begitu...ah, Anda tidak akan paham", Grace menjadi kesal dengan ucapan Mark.
"Sudah kering. Kemarikan tanganmu Tuan", Grace meminta tangan kanan Mark yang masih memegangi dadanya. Dengan pelan, Grace pun memakaikan kemeja Mark tanpa mengancingnya.
"Celana panjang Anda bagaimana Tuan Mark? Anda bisa menggantinya sendiri bukan?", Grace berbicara dengan takut.
"Tentu saja. Pergilah. Aku bisa melakukannya sendiri".
"Baiklah. Aku akan segera kembali. Aku ganti baju dulu ya", ujar Grace yang kemudian ucapan itu disesalinya sendiri. Ah, Mengapa aku harus kembali lagi?, batinnya merutuki ucapannya sendiri sembari bangkit keluar.
Mark yang sudah ditinggalkan hanya menatap punggung sang gadis dengan sebuah senyuman. Ah, kau rupanya peduli padaku. Terima kasih, gumamnya pelan. Ia kembali teringat dengan racauan sang gadis ketika memeluknya tadi. Matanya seketika berbinar ceria. Ia benar-benar cemas ketika aku sedang kritis? Ada sekuntum bunga mekar di relung hatinya saat ini. Aww, sakit. Nyeri di kedua lukanya membuyarkan lamunan Mark yang sempat mengembara barusan. Ah, inikah rasanya jatuh cinta? Ia menggelengkan kepalanya berkali-kali. Teringat akan kehidupannya selama 10 tahun menjadi body guard orang-orang elite sejak usia 20 tahun. Tak pernah ia rasakan dekat dengan wanita, karena baginya, profesinya yang berbahaya akan membuat tiap wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya beresiko menjadi janda muda kapan saja. Dan wanita juga akan membuatnya lemah karena itu akan menjadi kartu as para musuhnya, musuh para konglomerat yang harus dikawalnya dimana pun mereka berada. Mark lupa, di balik resiko buruk itu, ada kebahagiaan lebih besar yang akan dirasakan oleh seseorang ketika ia menikah, sekuat apapun dia. Karena itu adalah fitrahnya manusia. Menikah, dan memperoleh keturunan yang akan mewarnai kehidupan yang lebih bahagia, sebagaimana yang dialami sang Tuan Besar yang saat ini dikawalnya.
Perlahan Mark pun meraih celana panjangnya yang basah. Ia hendak menggantinya dengan celana yang sudah disediakan Grace tadi. Oh shit! ini bahkan lebih sulit dibandingkan menggantikan pakaian atas ku. Harusnya aku berdrama lagi tadi, rutuknya. Dengan susah payah karena harus membungkuk dan menekan luka di perut, akhirnya Mark berhasil membuka pakaian bawahnya. Dengan buru-buru ia pun memakai bawahan yang sudah diberikan Grace. Setelah selesai, ia pun beranjak ke atas tempat tidur. Berbaring dengan pandangan ke langit-langit kamar. Membayangkan semburat wajah merona yang sempat ditangkapnya dari wajah seorang wanita yang akhir-akhir ini menghiasi kalbunya. Ah, apakah aku benar-benar sudah jatuh cinta padanya? Apa kelebihannya hingga aku menyukainya? Dia wanita dingin yang menyebalkan. Tapi bukankah aku juga pria kaku yang dingin seperti dr Johnson katakan? Ah, dimana pria brengsek itu sekarang. Dia pasti mengerjaiku kan? Mark berdialog sendiri dalam hati. Diambilnya selimut dan mulai memejamkan mata karena merasa lelah dan kedinginan. Ia ingin sekali meminum teh hangat dan menyuruh pelayan untuk membawakannya. Tapi entahlah, ada harapan seseorang datang lagi dan menggantikan sosok pelayan tersebut. Bukankah ia tadi katakan akan datang lagi bukan? gumamnya.