
Malam ini Ayesha mengajak Maxwell ke Islamic Center. Weekend lalu ia sudah ke sana dan bertemu dengan para pengurusnya. Dengan penuh semangat mereka kini memasuki gedung berlantai dua itu yang berada di samping sebuah Masjid yang cukup besar. Sebenarnya Ayesha mengatakan untuk besok pagi saja sebelum ke kantor, namun Maxwell meminta malam ini karena ia tak mau menunda kebaikan walau pun sebentar. Ayesha sungguh terharu akan kesungguhan sang suami yang benar-benar mempraktikkan apa itu Sur'atul Istijabah, bersegera melakukan kebaikan jika sudah ada seruan atau ajakan, inilah yang membuat Ayesha simpatik pada pria di dekatnya ini pada perkenalan pertama dulu di Rusia, dimana Maxwell dengan begitu mudah dan cepatnya mengambil keputusan menjadi muallaf dari masa lalunya yang seorang atheis.
Para body guards Maxwell, sang penguasa Benua Australia itu pun sudah bersiap berjaga di tiap sudut untuk mengantisipasi segala hal agar tidak lagi kecolongan seperti sebelumnya. Tim cyber keamanan sudah diganti dan mereka cukup profesional dalam menjalankan tugasnya. Kali ini Maxwell tidak akan ceroboh lagi mengingat keberadaan dia dan istrinya sudah diketahui publik sejak ia hilang diculik Luke beberapa waktu yang lalu.
"Assalamualaikum Ustadz, Ini saya Ayesha yang hari Ahad lalu ke sini dan sekarang saya membawa suami saya yang ingin berwaqaf"
"Masyaa Allah. Tabaarakallaah. Jadi ini Nak Maxwell Powell yang muallaf itu?", sahut seorang pria paruh baya berwajah teduh menyambut Maxwell dengan senyum ramah. Ia adalah Ustadz Mahfudz Lc, M.A, ketua Islamic Center di Sydney yang berasal dari Indonesia. Mereka kemudian bersalaman dan bahkan Sang Ustadz menarik pria di depannya dalam pelukan dengan sikap yang hangat. Maxwell terlihat kaku. Ia masih belum terbiasa bersikap ramah dan memeluk orang lain selain istrinya sendiri. Salah seorang pengurus IC yang menemani sang Ustadz pun tersenyum ramah dan turut menyalami Maxwell.
"Mari silakan duduk Nak".
Mereka duduk di sofa kuning dalam ruangan kantor yang tidak terlalu luas. Ada dua lemari berisi buku-buku Islam dan dokumen serta meja kerja sang Ustadz. Di Sudut terdapat karpet khusus yang di dekat dindingnya ada meja kecil yang tinggi berisi Al Quran dan meja kecil rendah di kolongnya dengan beberapa buku berada di atasnya. Maxwell melihat sekilas isi ruangan dan setelah berkenalan singkat, kini mereka terlibat pembicaraan yang cukup serius.
"Jadi maksud kedatangan kami kemari, kami ingin ber-waqaf di Islamic Center dan Masjid di sini Ustadz", Maxwell memulai.
"Masya Allah. Kami sangat terharu melihat ketulusan Nak Maxwell yang baru saja masuk agama ini namun sudah berusaha untuk totalitas melaksanakan ajaran agama ini"
"Oh Ustadz. Saya masih jauh sekali dari yang diharapkan. Hidup saya selama ini bergelimang dosa dan saya takut Allah tidak mengampuni saya karena banyaknya kejahatan yang sudah saya lakukan selama ini", Maxwell teringat kembali masa lalunya yang begitu mudah menghilangkan banyak nyawa orang lain, baik secara langsung maupun tidak.
"Allah akan mengampuni dosa apapun yang dilakukan hamba-Nya sepanjang ia mau bertaubat dan mengiringi perbuatan buruknya dengan kebaikan. Amat mudah bagi Allah memuliakan seseorang dalam sekejap dan sebaliknya amat mudah pula bagi-Nya untuk menghinakannya. Insyaa Allah, Allah akan memuliakanmu, Nak Maxwell."
"Aamiin", Maxwell dan Ayesha serta pria muda yang menemani sang Ustadz serentak mengaminkan.
"Jadi, waqaf apa yang Nak Maxwell rencanakan untuk diberikan di sini?"
"Tadi sekilas saya sudah melihat keadaan di sini juga Masjid di sebelah. Sebelumnya saya ingin bertanya tentang kepemilikan Masjid dan Islamic Center ini. Bagaimana statusnya Ustadz?"
"Ini semua milik umat Nak. Umat Islam di sini, awalnya Muslimin dari Indonesia, tergerak untuk membangun komunitas Islam di sini sekaligus sebagai wadah bagi keluarga Muslim perantauan untuk mendapatkan pendidikan dan budaya Islam yang memadai. Namun seiring dengan ghirah (semangat) para kaum muslimin yang terus bertumbuh maka kemudian lahirlah Islamic Center dan Masjid ini sebagai bentuk kebutuhan yang mendasar bagi seluruh komunitas Muslim di Australia khususnya di Sydney ini. Berbagai waqaf dan donasi dari komunitas-komunitas muslim yang ada akhirnya berhasil membangunnya seperti yang saat ini Nak Maxwell dan Nak Ayesha lihat"
"Benar nak"
"Baiklah. Jika Ustadz dan para pengurus di sini bersedia, saya bermaksud untuk berwaqaf dengan memperluas gedung dan masjid di sini sekaligus membuatnya dalam satu kompleks yang luas, yang dilengkapi dengan fasilitas pendidikan anak-anak dari level kinder garden sampai university, juga fasilitas kesehatan, rekreasi dan fasilitas bisnis. Saya berpikir ini semua akan dirasakan manfaatnya oleh seluruh umat Islam yang ada di Sydney bahkan di seluruh Australia", Maxwell berkata dengan penuh antusias dan percaya diri. Sementara Al Ustadz Mahfudz terpana dan berdecak kagum. Ayesha tersenyum dan mulai membayangkan seberapa besar kekayaan suaminya sehingga dengan begitu ringannya mengatakan itu semua.
"Masya Allah Nak..., kami sangat terharu dengan semua rencana waqaf Nak Maxwell. Semoga Allah mudahkan. Allah akan membalas setiap perbuatan yang baik dengan yang lebih baik. Semoga Allah memuliakanmu di dunia dan akhirat, Nak. Semoga waqaf-mu diterima dan menjadi amal jariyah yang pahalanya tak pernah putus hingga hari akhir kelak. Aamiin Ya Rabbal ',aalamiin". Ustadz Mahfudz tersenyum seraya tak hentinya mengucap hamdalah. Yang lainnya mengaminkan dengan rasa haru yang membuncah.
"Besok kami akan kemari lagi untuk menindaklanjutinya Ustadz. Setelahnya, saya akan mengirim pengacara saya untuk membantu pengurus di sini melaksanakan apa yang sudah kita rencanakan tadi. Sekarang kami permisi Ustadz. Assalamualaikum"
"Wa alaikumussalaam warahmatullaahi wa barakaatuh. Baiklah Nak. Syukron jazakumullaah atas silaturahimnya. Semoga Nak berdua dan keluarga selalu mendapatkan perlindungan dari Allah, dan kebahagiaan yang hakiki hingga ke syurga"
"Aamiin ya Rabb. Kami pamit Ustadz. Assalamualaikum", sambung Ayesha.
"Wa alaikumussalaam warahmatullaahi wa barakaatuh", Sahut sang Ustadz dan asistennya serentak. Mereka menatap kepergian tamunya hingga hilang dari pandangan.
"Allahu Akbar! Amat mudah bagi Allah mewujudkan doa para hamba-Nya", sang Ustadz tiba-tiba sujud syukur dengan air mata bercucuran. Sang asisten muda pun mengikuti. Keduanya larut dalam sujud syukur yang panjang. Berkelebat setiap moment perjuangan dari nol pendirian IC dan Masjid yang dari awal mereka ikuti, dan kini, hanya dengan satu orang konglomerat semua cita-cita yang mereka impikan selama ini insyaa Allah akan terwujud dalam waktu yang dekat dan semua terjadi secara mendadak tanpa disangka sekalipun. Demikianlah Allah dengan mudahnya mewujudkan segala sesuatu. Kun faya kun. Cukup mengatakan Jadi, maka Jadilah! Tak perlu manusia pikirkan bagaimana jalannya, yang penting mintalah dan berusahalah memberikan apa yang bisa diberikan untuk dakwah ini. Maka biarlah Allah yang mewujudkan setiap impian dan doa-doa yang diminta.
Sementara itu, Ayesha dan Maxwell saat ini sedang berada di tangga teras Masjid di samping IC. Mereka baru saja menunaikan sholat tahiyyatul masjid karena mereka memang sudah sholat Isya sebelumnya. Ketika sudah sampai di halaman, Ayesha menghentikan langkahnya dan memandang suaminya dengan lekat. Maxwell tercenung melihat tingkah istrinya.
"Ada apa Honey?"
"Aku sangat bangga padamu, Hubby"
"Jangan memujiku di hadapanku. Bukankah itu dilarang? Aku takut itu akan menguji keikhlasanku"
"Maafkan aku. Aku khilaf. Aku hanya ingin mengatakan bahwa apa yang Hubby lakukan sudah benar. Semoga Allah mudahkan niatmu suamiku", Ayesha meraih tangan Maxwell dan menciumnya dengan takzim. Maxwell pun tersenyum dan balas menepuk bahu Ayesha. Ia sangat bahagia melihat binar-binar cinta di manik mata istri bidadarinya tersebut.