
Tiga orang pria baru saja keluar dari hutan dekat pantai dengan masing-masing luka di tangan kiri mereka. Kedua pasukan yang sebelumnya berdebar menanti kedatangan para pimpinan mereka kini nampak saling berpandangan bingung. Berbagai pertanyaan muncul di benak mereka dan hanya satu kesimpulan. Pertarungan berakhir seri.
Mark dan Maxwell kembali ke pasukan mereka. Begitu juga dengan Mr Abraham. Kini mereka saling berhadapan seperti semula. Dengan suara lantang, membelakangi pasukannya, Mr Abraham berteriak.
"Mulai hari ini, kita tidak akan mengganggu wilayah kekuasaan Powell Group"
"Mulai hari ini, Powell Group juga tidak akan mengganggu wilayah kekuasaan The Lion of Desert", sahut Maxwell.
Kedua pasukan pun berbalik dan kembali ke kapal mereka masing-masing. Mark sibuk memberi komando pada para bawahannya sedangkan Maxwell hanya berdiri memandang lautan. Ia menunggu Patch yang akan menjemputnya. Tangan kanannya itu baru saja tiba di bandara terdekat dan kini mungkin sedang terbang dengan helly menuju pulau tersebut. Ketika sedang asik dengan pikirannya sendiri, sesosok bayangan berjalan mendekat dan kini berdiri di sampingnya.
"Tiga hari lagi, semuanya akan lebih jelas"
Maxwell menoleh ke lelaki yang baru datang di sampingnya. Tiba-tiba ia menyobek lengan kemeja kirinya yang nampak terluka. Ketika di hutan tadi, selain akting yang dibuat Mark untuknya, ia memang dengan sengaja berjalan di dekat dahan patah yang runcing hingga akhirnya lengannya tersangkut dan berdarah. Kini secarik kain yang ternoda darahnya tersebut ia berikan ke pria separuh baya yang menatapnya lekat.
"Darah ini mungkin membantumu lebih cepat"
"Kau benar. Setelah test DNA ini selesai, aku pasti akan menghubungimu segera"
"Terima kasih"
Maxwell melihat kedatangan helly yang sudah mendekat. Mr Abraham pun bergegas menjauh, namun sebelum pergi, ia menepuk bahu Maxwell dan berkata.
"Sebenarnya, cukup dengan melihat mata dan raut wajahmu, aku sudah melihat Sofia ada di sana".
Maxwell menahan nafasnya. Ada rasa nyeri di sana. Dimanakah ibu? batinnya.
Mr Abraham kembali ke kapalnya. Sebuah kapal pesiar yang cukup besar dan mewah. Tak akan ada yang percaya kapal cantik itu berisi pasukan dengan persenjataan super lengkap di ruang dasarnya. Sang Boss yang berjuluk The Lion of Desert itu kini memasuki kamar pribadinya. Setelah membersihkan diri, sosok pria yang kini nampak berwibawa dengan setelan pakaian mahal itu merebahkan diri di tempat tidurnya yang empuk. Matanya menerawang kembali ke masa lalunya bersama wanita yang sangat disayanginya.
Flash Back
Abraham muda nampak berjalan terhuyung-huyung dengan tubuh berlumur darah. Ia baru saja berkelahi dengan para gengster musuh nya dan kini harus menderita kekalahan lagi. Samar-samar dilihatnya pintu pagar mansionnya yang besar bak istana. Sebelum sempat menyentuh pagar tersebut, ia sudah ambruk dan tak ingat apapun. Begitu sadar, tubuhnya sudah berbaring di kamar rawat inap, di klinik pribadi mansion orang tuanya.
"Syukurlah kakak sudah sadar", sebuah wajah cantik manis muncul dengan ekspresi cemas begitu Abraham membuka mata.
"Sofia?"
"Ya. Ini aku kak"
Begitulah, Sofia sang adik setia merawatnya dengan telaten hingga sembuh. Sedangkan sang ayah, Alexander al Qudri cukup sekali melihat kondisinya yang kritis di awal dan setelahnya menyerahkan sepenuhnya pada tim medis pribadinya juga Sofia yang selalu di sisinya. Sementara ke dua kakak lelakinya yang lain juga tak jauh beda. Mereka cukup sibuk dengan urusan masing-masing di luar kota dan hanya menjenguknya sekali dan selebihnya melakukan video call menanyakan kondisinya pada sang bungsu, Sofia.
Sofia, sang gadis cantik berambut hitam panjang dan lebat itu adalah anak perempuan Mr. Alexander satu-satunya. Di antara ke empat anak Konglomerat penguasa Amerika dan Timur Tengah itu, Sofia paling dekat dengan Abraham sang kakak, anak ketiga dari Mr Alexander. Mereka sering pergi bersama hang out layaknya sepasang kekasih jika saja orang di luar sana tidak menyadari kemiripan wajah mereka berdua. Hingga suatu ketika, terjadilah peristiwa yang menjadi awal dari perubahan semuanya. Yang selanjutnya membuat keluarga Alexander terguncang dengan dahsyat dan menjadikan Abraham kehilangan sosok Sofia hingga kini.
Sore itu, Abraham menelpon Sofia dan memberi kabar tidak bisa datang untuk menjemput seperti biasa. Sang adik yang sedang magang di salah satu perusahaan milik sang Ayah pun memilih untuk memesan taxi. Putri milyarder itu memang tidak seperti putri konglomerat lainnya yang suka dengan kemewahan dengan mobil mewah dan body guard. Ia sering pergi diam-diam dan menyamar menjadi orang biasa dengan pakaian sederhana dan menggunakan taxi kemanapun ia hendak pergi. Tak urung, sang ayah yang notabene seorang raja bisnis sekaligus mafia kelas kakap pun harus ekstra keras mengawasi sang putri bungsunya tersebut. Hal ini dikarenakan statusnya yang mempunyai banyak lawan bisnis dan musuh. Sudah tak terhitung kiranya keempat anaknya termasuk Sofia mendapatkan teror serangan yang mematikan namun berhasil diatasi oleh para bawahan Mr Alexander yang selalu stand by menjaga para generasi Al Qudri tersebut.
Sofia sudah masuk ke taxi yang dipesannya tanpa sadar bahwa ia sudah masuk dalam jebakan musuh sang ayah. Selang lima belas menit kemudian ia baru mengetahui bahwa sang supir sudah membawanya ke arah yang tak seharusnya. Sofia berteriak marah dan menyuruh supir taxi berhenti namun sang supir tersebut tak mengindahkan.
"Kita bersenang-senang dulu Nona. Teruslah berteriak, kau terlihat semakin cantik saja. Hahaha"
Sofia bergidik ngeri ketika melihat sang supir tersenyum nakal dari kaca spion.
Ketika mereka sudah melewati jalanan sepi, begitu kecepatan sedikit berkurang, Sofia pun nekat mendobrak pintu mobilnya dan berhasil keluar dan terguling-guling di jalan dengan luka di kaki dan tangannya. Dari jalan tempatnya terjatuh, sebuah sepeda motor sedang melaju dengan kecepatan sedang seketika berhenti dengan rem mendadak manakala melihat tubuh Sofia. Sementara, sang supir yang tidak menyangka kenekatan Sofia hanya bisa menelan kekecewaannya karena ia tidak berani meneruskan rencananya di jalanan yang mulai ramai karena aksi Sofia tersebut. Mobil taxi pun terus melaju melarikan diri sedangkan Sofia kini sudah ada dalam penanganan seorang pria yang buru-buru turun dari sepeda motornya. Mereka berdua kini duduk di pinggir jalan raya. Beberapa pengendara ikut turun melihat dan bertanya. Sofia hanya diam terpaku dan menjawab sekenanya. Dia mengatakan ada seorang supir taxi yang hendak berbuat jahat padanya.
"Kau ingat nomor plat mobil tersebut Nona?", tanya seorang pengendara paruh baya. Ia memakai pakaian dinas pemerintah.
"Sekarang bagaimana Nona, sepertinya Anda perlu ke rumah sakit", giliran sang pria ber-helm yang menolongnya bertanya.
"Aku...."
"Apakah aku perlu memanggil taxi yang ku kenal Nona? Yang bisa dipercaya untuk mengantar Anda", sang pegawai yang sudah menelpon polisi kini bertanya kembali.
"Tidak...taxi..aku...", Sofia merasa ngeri membayangkan perbuatan supir taxi tadi. Pandangan nakal menjijikkan seketika terbayang disertai bayangan kekerasan seksual yang sering ia dengar beritanya di televisi maupun di media sosial.
"Jangan takut Nona. Percayalah pada Bapak pegawai ini. Aku akan mengikuti dari belakang dan menemani Anda hingga bertemu dokter nantinya. Oh ya ini ada HP yang bisa Anda gunakan untuk menghubungi keluarga Anda". Sang pemuda pun mengulurkan benda pipih di sakunya ke Sofia. Gadis cantik itu bisa melihat ketulusan di mata sang pria yang ternyata cukup tampan.
"Terima kasih. Anda baik sekali", sahut Sofia.
Begitulah awal pertemuan Sofia dengan sang pemuda yang belakangan ia tahu namanya adalah Jusuf. Pria baik dan sederhana itu adalah seorang muslim dan bekerja di sebuah perusahaan minyak sebagai salah seorang manajer lapangan. Ia baru saja pulang dari kunjungan ke wilayah tambang dan bertemu dengan Sofia di jalan tersebut. Selanjutnya, mereka berdua pun ditakdirkan Allah kembali bertemu ketika Sofia diutus sang ayah untuk mewakilinya mengikuti salah satu acara amal di rumah sakit khusus penderita kanker. Di sana, Jusuf sedang mendonorkan darahnya dan ternyata pemuda baik itu rutin melakukan itu setiap bulannya. Karena merasa tertarik dengan kepribadian Jusuf yang terkenal suka membantu, ramah dan sederhana oleh orang-orang di sekitarnya, maka Sofia pun menaruh hati dan diam-diam mempelajari agama yang dianut sang Pujaan hati. Ia tak sengaja mengetahui prinsip sang idaman ketika mendengar ceramah kutbah jumat di salah satu masjid di pinggir jalan ketika ia sedang hang out bersama teman magangnya. Sang pemuka agama mengatakan bahwa seorang muslim haruslah memilih pasangan hidup yang muslim pula, dan neraka lah bagi mereka yang murtad keluar dari agama Allah hanya karena alasan dunia, karena pada dasarnya dunia ini adalah ujian untuk orang-orang beriman yang merindukan syurga.
Abraham mulai melihat perubahan dari diri sang adik secara perlahan ketika gadis kesayangannya itu bercerita berkenalan dengan seorang pemuda tampan dan baik bernama Jusuf. Sofia menceritakan awal pertemuan mereka dan semula Abraham tidak menangkap sesuatu yang spesial dari kisah itu. Namun begitu hari terus berganti, ia mulai menyadari bahwa sang adik mulai berubah dari waktu ke waktu secara perlahan. Ia sudah tidak lagi menggunakan pakaian yang terbuka melainkan menggunakan pakaian panjang yang menutupi bagian atas dan bawah tubuhnya dengan sepenuhnya. Sang adik juga sudah tidak lagi sering hang out bersamanya ke diskotek maupun ke mall melainkan sering beralasan ke perpustakaan maupun acara sosial ke panti asuhan dan rumah sakit. Dan terakhir, puncaknya adalah, ketika Abraham tersentak kaget manakala memergoki sang adik kesayangan sedang selfie di kamarnya yang tak terkunci. Wanita cantik itu sedang duduk di depan meja riasnya dengan penutup kepala (jilbab) dan itulah foto yang diambil terakhir kali oleh dirinya sendiri di ponselnya dan kini salah satu print out nya ada di tangan Maxwell.
"Sofia?", Abraham mendekati Sofia dan kaget dengan penampilan baru sang adik. Pintu kamar tertutup kembali.
"Kak Abra?", Sofia tak kalah terkejutnya.
"Apa maksud semua ini Sofia?"
"Kak..aku..."
Abraham memegang ujung jilbab Sofia yang nampak ketakutan dan mata pria itu kembali terpaku ketika melihat sebuah buku tebal di meja rias.
"Ini kitab orang muslim bukan? Kau...", Abraham tak selesai melanjutkan kata-katanya ketika suara pintu dibuka kasar oleh seseorang.
"Sofia?", Mr Alexander sudah berdiri di sana dengan mata merah melotot ke arah sang bungsu.
"Jadi benar laporan anak buah Daddy?", wajah murka jelas tergambar di sana dan selanjutnya hari-hari Sofia pun berlalu dengan penuh menyedihkan.
Sejak Sofia ketahuan memeluk agama Islam, Mr Alexander dan kedua anak lelakinya yang pertama dan kedua pun sontak murka dan menghukum Sofia dengan berbagai cara agar ia kembali pada keyakinan keluarga mereka. Mulai dari hukuman fisik dengan mencambuk, memotong rambutnya dan mengurungnya tanpa makan dan minum selama tiga hari di kamarnya dan masih banyak lagi yang lain. Namun tak bergeming sedikitpun, Sofia kukuh mempertahankan keimanannya, hingga suatu saat Sang Ayah yang sudah menduda sejak Sofia lahir itu mengancam mengeluarkan namanya dari daftar keluarga dan tentu saja mencoret namanya dari ahli warisnya. Akan tetapi dengan suara bergetar dan kepala tertunduk, Sofia berkata.
"Maafkan Sofia, Ayah. Aku tidak bisa meninggalkan agama ini. Ini adalah pilihan hidupku, apapun resikonya", dan Sofia pun kemudian diseret keluar dan diusir ke tengah jalan tanpa membawa apa pun. Abraham yang turut menyaksikan semuanya pada waktu itu tak punya keberanian sedikitpun menentang perlakuan sang Ayah dan saudara-saudara lelakinya. Ia hanya terdiam dan turut menyaksikan siksaan yang dialami sang adik dengan hati pilu. Meski ia tak suka dengan keputusan Sofia yang pindah agama namun hati nuraninya membenci semua hukuman yang diberikan oleh keluarganya pada Sofia, sang adik yang di matanya begitu baik dan polos.
Setelah diusir oleh keluarga, Sofia pun berjalan sendirian di malam yang gelap di dekat mansion nya. Abraham diam-diam mengikutinya dan ketika dirasa aman, sang kakak pun menemui sang adik dan memeluknya. Sofia hanya diam dalam pelukan Abraham. Air matanya sepertinya sudah kering. Gadis manis yang kini sudah berjilbab dengan terang-terangan itu menatap sang kakak yang melihat wajahnya dengan mata basah.
"Sofia...", Abraham mengeluarkan sebuah amplop tebal dari kantongnya dan memasukkannya ke kantong baju Sofia.
"Terima kasih kak. Aku titip ayah padamu. Katakan, aku mencintainya", kini sebutir air mata luruh dari pipi yang nampak sedikit tirus dan pucat itu.
Selanjutnya, hari-hari dilewati keluarga Alexander tanpa nama Sofia Alexander lagi di mansion itu. Bahkan dokumen keluarga pun telah benar-benar mencoret namanya dari daftar ahli waris Alexander Al Qudri. Sebulan pasca diusirnya Sofia, suasana sunyi di mansion selama ini mendadak digegerkan dengan berita ditemukannya seorang gadis yang pingsan di pinggir sungai yang disinyalir korban pemerkosaan. Wajahnya yang mirip dengan Sofia pun menghiasi surat kabar dan diberitakan sebagai putri Alexander Al Qudri yang menjadi korban musuhnya yang ingin membalas dendam.
Flash Back Off
Mr Abraham mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ketika mengenang kembali Sofia sang adik yang dirindukannya. Matanya kini terpejam dan tak lama tenggelam ke alam mimpi bertemu Sofia. Di dalam mimpinya tersebut, seolah Sofia yang berpakaian putih dengan jilbab putihnya tersenyum ke arahnya seraya mengulurkan tangan ke arahnya dan memanggil-manggil namanya. Abraham pun mengulurkan kedua tangannya pula untuk menyambut tangan sang adik namun ketika baru saja ia berhasil menggapainya tiba-tiba tangan itu terlepas dan tubuh Sofia seakan-akan mundur dan semakin jauh dari jangkauan Abraham.
"Sofia..Sofia...Sofia...", lirih Abraham dalam tidurnya dan seketika ia pun terbangun dengan nafas yang memburu.
"Sofia, aku yakin gadis di surat kabar itu bukanlah engkau. Aku akan membuktikannya dan akan segera menemukanmu, adikku", lirihnya. Wajah Maxwell sekilas melintas di benaknya dan pria paruh baya itu pun tersenyum.