A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 105. Kita Sudah Sampai



Abraham Alexander bangkit dari tempat tidurnya dengan bersemangat. Ia barusan tertidur selama satu jam lamanya dan kini hendak membersihkan dirinya. Setelah selesai mandi dan berpakaian, pria paruh baya yang masih nampak bugar itu pun keluar dan menuju ruang tengah. Ia ingin menunggu sang tuan rumah. Tak sabar rasanya ia melirik jam di pergelangan tangannya. Waktu baru saja menunjukkan awal waktu sholat Ashar. Ia baru ingat bahwa Maxwell tentunya sedang beribadah. Untuk membunuh waktu menunggu, diraihnya ponsel di sakunya dan mulai searching berita terkini seputar bisnis. Sepeninggalnya, perusahaan miliknya dititipkan ke Mike, tangan kanan sekaligus body guard nya. Awalnya Mike tidak ingin melepasnya begitu saja karena khawatir dengan musuh-musuh boss nya tersebut yang pastinya selalu mengintai, namun Abraham meyakinkan dirinya bahwa ia akan baik-baik saja. Berbekal para pengawal yang lumayan tangguh, ia pun meninggalkan pusat perusahaannya di New York menuju kediaman Maxwell di Sydney untuk menelusuri masa lalunya.


Tengah tenggelam dalam info bisnis dan progress perusahaannya, tiba-tiba ada panggilan masuk. Abraham tercenung sejenak melihat siapa yang memanggil. Dokter William, dokter khusus keluarganya. Ia meghela nafas menyiapkan segala kemungkinan berita yang akan didengarnya, dengan kondisi sang ayah yang sedang sakit-sakitan di usia tuanya. William tidak akan menelponnya jika tidak ada hal yang sangat penting.


"Ada apa William?"


"Tuan besar menanyakan tentang Anda. Beliau ingin bertemu", Abraham pun seketika menarik nafas lega.


"Katakan padanya, lusa aku akan menemuinya"


"Maaf Tuan. Tuan Besar ingin Anda menemuinya hari ini juga"


"Aku sedang ada urusan penting saat ini. Tidak bisakah Tuan Besar menunggu?"


"Baiklah. Akan aku sampaikan. Tapi setidaknya berilah alasan yang mampu meredakan kemarahan Tuan Besar"


Abraham menarik nafas sejenak. Ia sangat tau jika sang Ayah sudah memberi instruksi maka orang tua itu suka memaksa, apalagi di usia yang semakin tua ini. Karakter buruknya semakin menjadi. Tidak sabar namun cenderung lebih mudah tersentuh dan sangat sensitif. Begitulah post power syndrome yang dialaminya.


"Katakan saja padanya. Jika ia sabar menunggu aku akan memberikan kabar gembira untuknya. Kabar yang selalu dinantikannya. Kau dengar?"


"Baiklah. Terima kasih"


Sambungan pun terputus. Bersamaan dengan panggilan telepon yang terputus, sesosok pria yang ditunggu pun muncul. Maxwell muncul dengan tampilan fresh dengan rambut basah dan pakaian casual. Di tangannya ada sebotol air mineral. Sejenak Abraham tercenung dengan tampilan sang keponakan yang nampak segar dan ceria. Sebagai seorang lelaki, Abraham bisa menduga apa yang sudah terjadi pada pria yang sudah dianggapnya seperti anaknya yang hilang tersebut. Bibirnya menyungging senyuman.


"Sudah lama Paman menunggu?"


"Tidak. Apakah kita jadi pergi?"


"Tentu saja"


Abraham bersiap melangkah ke teras depan, namun ia berhenti manakala melihat Maxwell berjalan ke arah yang berlawanan. Dengan bingung, Abraham pun berbalik mengikuti pria gagah di depannya.


"Apakah kita akan ada keperluan ke belakang?"


Maxwell tidak menjawab. Abraham hanya menghela nafas. Ia tidak biasanya didiamkan oleh orang lain apalagi seorang anak muda. Kehidupan bossy-nya selama ini bahkan di tengah keluarganya sekalipun ia tak pernah dicueki. Walau ia anak ketiga dalam keluarganya, tapi dua kakak lelakinya menaruh hormat padanya karena kekuasaannya selama ini. Mengingat bagaimana ia sampai ke Sydney ini dan bertemu sang keponakan adalah sebuah hal yang penuh perjuangan, Abraham pun menahan diri.


Maxwell menuju gundukan tanah tersebut dan memasuki area pagar bunga mawar lalu berjongkok. Abraham masih kebingungan, namun mau tak mau ia tetap mengikuti dan berdiri di belakang Maxwell. Pikirannya dipenuhi tanda tanya.


"Bukankah Paman ingin berjumpa dengan mamaku?"


"Ya. Tapi tak mengapa. Aku akan menunggumu. Kita bisa pergi jika urusanmu selesai", sahut Abraham.


"Kita tidak akan kemana-mana Paman", Maxwell masih berjongkok dan kini mulai menempelkan kedua lututnya ke tanah tepat di sisi gundukan tanah yang di atasnya juga ditumbuhi tanaman bunga berdaun indah dengan bunga-bunga kecil. Tanaman yang tahan lama. Maxwell menunduk dan mencabuti rumput-rumput halus yang mulai tumbuh di sela-sela tanaman yang ada. Abraham semakin heran. Kini ia pun turut jongkok di sisi Maxwell. Hatinya mulai menduga-duga.


"Kita batal pergi?"


"Kita sudah sampai", Maxwell menjawab lirih. Suaranya bergetar. Abraham terkesima ketika melihat pria garang yang biasanya datar dan dingin itu kini menatap gundukan tanah di depannya dengan mata berkaca-kaca.


"Kita tak perlu pergi jauh Paman. Karena di sinilah mama berada. Di sinilah Adik kesayangan Paman tersebut bersemayam sekarang", suara Maxwell parau. Pipinya yang kokoh sudah basah bergelimang air mata. Abraham shock mendengar kenyataan yang barusan didengarnya dari lisan sang keponakan. Ia sama sekali tak menduga hal ini. Sejak pagi ia sepenuhnya hanya membayangkan kebahagiaan akan berjumpa dengan sang adik. Ia bahkan sudah membayangkan akan berjumpa dengan Sofia dan memeluknya erat, membujuknya untuk menjumpai sang ayah Alexander yang sudah sakit-sakitan memikirkannya. Refleks, pria berjas hitam itu jatuh berlutut. Dipandanginya wajah Maxwell tak berkedip ingin mencari kebenaran. Dan taulah ia bahwa apa yang didengarnya barusan tidak salah.


"Apa maksudmu nak?", lirihnya berharap memperoleh kabar yang tak seperti dipahaminya tadi.


"Mama sudah tiada, Paman. Inilah makamnya", suara Maxwell serak mencoba tegar mengungkapkan kebenaran. Air matanya semakin deras. Maxwell tergugu. Tuk kesekiannya, setiap ia berada di makam tak bernisan ini, setelah sang Bibi mengatakan ini makam sang mama, maka ia pun larut dalam tangisan yang menyesakkan dada. Ia merasa sangat berdosa selama ini karena tak mengetahui ini adalah makam mamanya, dan betapa ia selama ini juga dalam perasaan sedih yang sangat menyakitkan karena sebelumnya menduga bahwa wanita yang tinggal bersama di apartemen sang ayah adalah mamanya. Wanita seksi yang memanggilnya Son, yang mengaku sebagai ibunya namun tak pernah bersikap layaknya seorang ibu. Wanita itu yang selalu di dapatinya tengah mabuk minuman keras dan merokok jika Maxwell terpaksa ada keperluan menjumpai sang ayah yang kadang kala tidak pulang ke mansion melainkan ke apartemen mewah miliknya. Waktu itu Maxwell sungguh sama sekali tak pernah menduga bahwa wanita yang tidak pernah diajak tinggal di mansion oleh sang ayah rupanya bukan ibu kandungnya, melainkan wanita bayaran yang menjadi pengisi kekosongan hati sang ayah jika diperlukan. Itulah sebabnya, sejak kecil Maxwell sudah benci pada sosok wanita karena semua wanita yang dilihatnya adalah orang-orang tak bermoral yang memberikan contoh buruk yang membuatnya jijik. Hanya sang nenek yang tinggal di mansion selama remaja, wanita yang disayanginya, karena beliau adalah sosok yang nampak menyayanginya dengan tulus.


Abraham turut berlutut di sisi Maxwell. Pandangannya berkaca-kaca menatap gundukan tanah di depannya. Ia tak mempersiapkan diri dengan baik menghadapi semuanya. Padahal sebagai seorang Penguasa dunia hitam dan putih yang sudah kenyang dengan berbagai perisitiwa senang dan pahit dalam kehidupan, ia seharusnya sudah memperkirakan semua kemungkinan yang ada. Termasuk kematian.


"Aku lupa.... aku lupa bahwa ibumu sungguh menyayangi keluarganya dengan tulus...meski ia sudah terusir....bahkan ketika ia dizalimi karena kesalahan yang sebenarnya adalah haknya dalam memilih keyakinan...ketika ia baru saja diusir tanpa membawa apapun... ia bahkan masih bisa mengatakan..bahwa ia mencintai kakekmu...", Abraham tergugu. Ia mengingat semua kenangan bersama Sofia. Kenangan dalam long term memory nya yang tak pernah terhapus sedikitpun dari kepalanya meski peristiwa kecelakaan itu terjadi. Maxwell hanya diam.


"Aku lupa....aku lupa berpikir...bahwa...jikalau Sofia masih hidup...ia tak mungkin tega tidak pernah menjenguk kakekmu...tidak mungkin pula...ia tak berusaha untuk menemuiku atau hanya sekedar memberi kabar...ternyata...inilah jawabannya....ia sudah pergi...sehingga tak mungkin akan menemui kami lagi....", Abraham semakin pilu dengan tangisnya. Pria maskulin yang selalu nampak tegas berwibawa di hadapan para anak buahnya itu dan garang serta kejam di hadapan para musuhnya itu kini tak lain hanyalah sesosok manusia biasa yang lemah dan berperasaan. Ia juga sosok manusia biasa yang hatinya lembut, mudah menangis. Perlahan tangannya menyusuri tanah di depannya dengan bergetar. Digenggamnya tanah dengan kedua tangannya dengan linangan air mata yang semakin deras. Sekelebatan bayangan masa lalu ketika sang ayah dan saudara-saudara lelakinya memberi hukuman pada Sofia kembali melintas. Bagaimana Sofia dikurung di kamar, dipotong rambutnya, dipukuli, diberi sanksi tidak diberi makan selama beberapa hari dan masih banyak lagi lainnya. Namun di hari ketika ia diusir dari rumah tanpa membawa apapun karena menolak kembali ke keyakinan semula, ia masih mengatakan agar sang kakak menyampaikan pada sang ayah bahwa ia mencintainya.


"Sofia...Sofia...maafkan aku sayang..maafkan kakak...aku belum sempat membahagiakanmu bahkan hingga akhir hidupmu...Sofia..Sofia....", Abraham terus menangis pilu tanpa rasa malu dengan statusnya sama sekali. Ia menumpahkan semua perasaannya selama ini yang tertekan dengan kehidupan Al Qudri yang menempanya selama ini. Di sini, di mansion Maxwell, di Sydney, ia bebas berekspresi apapun. Ia tak perlu menjaga image-nya dari siapapun. Inilah dia. Pria lemah yang juga boleh menangis seperti rakyat jelata yang tak punya daya di hadapan sang penguasa. Dan Abraham adalah makhluk lemah di depan penguasa tersebut, Tuhan Sang Maha Pencipta.


Maxwell kemudian bangkit dari duduknya dan perlahan membuka botol air mineral yang dipegangnya. Disiramnya gundukan tanah tersebut sambil membacakan sholawat. Setelah habis, ia pun duduk kembali dan berdoa dengan khusyuk. Air matanya kembali berderai. Setelah selesai ia pun menghapus air matanya dengan sapu tangan yang selalu disakuinya dan menoleh ke arah sang paman yang masih menggenggam tanah makam Sofia.


"Mama sudah tenang di alamnya, Paman. Mungkin itu lebih baik baginya sehingga Tuhan berkenan memanggilnya lebih dulu. Setiap manusia juga akan mengalaminya. Tinggal menunggu waktu saja", ucap Maxwell tanpa ekspresi. Ia kemudian bangkit dan meninggalkan sang paman menuju gazebo di dekat makam. Di sana ia duduk memandangi makam dan sang paman. Tak lama, pria itu pun mengambil ponselnya dan membuka aplikasi quran. Pelan, dibacanya lanjutan tilawahnya dengan suara yang merdu diselingi isak tangis yang kadang mendera. Inilah keseharian baru untuk Maxwell. Sebagaimana sang istri yang selalu memberikan contoh dan nasehat yang baik, Maxwell pun terbiasa membantu orang tuanya yang sudah berpindah alam dengan doa terbaik sebagai anak yang berbakti, dan wakaf sebagai amal jariah atas nama mereka dan kelak ia juga ingin segera berhaji dan menghajikan orang tuanya.


Sementara Abraham dan Maxwell larut dalam kesedihan mereka, sepasang mata indah milik wanita berjilbab yang tak sengaja lewat berdiri termangu di tempatnya. Ia baru saja kembali dari klinik menuju kamarnya. Hatinya diliputi keharuan melihat kedua sosok pria penguasa yang sama-sama menangis dan kini duduk berjauhan dengan posisi masing-masing. Sang gadis pun segera beranjak dari tempatnya berdiri dan berlalu menuju kamarnya. Sekilas ia teringat dengan kisah yang diceritakan Bibi Christine sebelum peristiwa penyerangan. Ia baru ingat, bahwa di sana ada makam ibunda Maxwell. Ternyata Abraham Al Qudri, adalah seorang Boss Mafia yang masih berhati lembut karena ia bisa menangis juga, pikirnya menyimpulkan.