
"Saya mau minta ijin pada Kakek untuk kembali ke tanah kelahiran saya lusa. Dan...", Maxwell menoleh ke arah Ayesha yang duduk di sisi kakeknya.
"Dan saya ingin mengajak Ayesha turut serta. Bagaimana menurut kakek. Boleh?"
Sir Vladimir menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Matanya menatap kedua sosok cucu dan cucu menantunya bergantian disertai senyuman penuh makna. Ternyata waktunya sudah tiba, batinnya sedih. Aku harus ikhlash melepas Ayesha, Allah pasti akan menjaganya dan suaminya, lirihnya dalam hati.
"Tentu saja boleh. Ayesha sudah menjadi istrimu, nak Maxwell. Kewajiban seorang istri adalah menaati semua perkataan suaminya selagi semua itu tidak ada yang melanggar syariat Allah".
"Jadi...Kakek tidak keberatan berpisah dengan Ayesha?"
"Tentu saja berat".
"Maksud Kakek?", Maxwell bingung dengan jawaban sang kakek. Sir Vladimir menyuruh Ayesha mendekat dan ia pun kini merangkul bahu cucu kesayangannya tersebut sambil mengelus kepalanya dengan lembut. Ayesha memejamkan matanya. Ia menyandarkan kepalanya ke bahu sang kakek. Hatinya mulai diliputi kesedihan.
"Ayesha sejak kecil bersamaku. Orang tuanya sebelum meninggal dunia sudah berwasiat padaku untuk menjaganya. Kami sudah bersama selama 24 tahun. Suka duka kami jalani bersama. Tawanya. Tangisnya. Kejahilannya waktu kecil hingga remaja. Semuanya terekam jelas dalam ingatan kakek. Bagi kakek, ia adalah permata hidup yang sangat berharga. Ia menjadi salah satu penyemangat hidup kakek karena selama hidup kakek, ia sering menjadi pengobat hati dikala jenuh dan penyemangat dikala lesu. Sehari saja tidak melihatnya, hati rasa rindu dan ingin sekali mengelus kepalanya dan ingin menjadi sandaran kepalanya untuk tempatnya melepas lelah dan mencurahkan hatinya. Namun sekarang....tiba-tiba saja dia akan pergi meninggalkan kakek bahkan dengan jarak yang sama sekali tidak dekat. Tentu kakek dan keluarga ini akan sangat kehilangan dan merindukannya. Tidak ada lagi yang akan memanjakan kakek dengan masakan-masakan khasnya. Tidak ada lagi yang akan menanyakan keadaan kakek sambil memijit pundak dan kaki kakek.
Tidak ada lagi yang akan menemani kakek di mushollah ini untuk menyimak hafalan dan murojaah quran. Tidak ada lagi yang akan menyambut Ahmed ketika pulang dengan tingkah menggemaskan dan panggilan kakak. Dan tidak ada lagi yang bisa diandalkan disamping Ahmed untuk mengurus semua perusahaan juga rumah sakit amal. Sungguh sangat berat, bukan?"
Maxwell menelan ludahnya. Ia bisa merasakan perasaan lekaki tua di depannya. Setetes air mata nampak jatuh di pipi keriput itu.
"Namun, seberat apapun perasaan kami ditinggalkan Ayesha ke negeri jauh nantinya, kami tetap menyadari bahwa itu adalah takdir yang sudah digariskan Allah pada cucuku ini. Dia pergi dari kami bersamamu adalah sebuah keniscayaan dan kami sungguh merasa bahagia".
"Bahagia?", Maxwell masih bingung.
"Kakek bahagia karena pernah membesarkan Ayesha dan turut serta menggembleng jiwanya menjadi yang sekarang ini. Kakek merasa tugas kakek sudah selesai dan kini saatnya semua tugas dan tanggung jawab kakek beralih padamu, suaminya. Kakek bahagia karena kini lahan dakwah Ayesha semakin luas dan tentunya lahan pahalanya juga semakin bertambah. Mengikuti suaminya kemanapun pergi adalah kewajibannya dan itu semua bernilai ibadah. Ayesha sudah menggenapkan separuh agamanya dan kini akan pergi melaksanakan tugas sucinya sebagai seorang istri juga seorang da'i"
"Menyempurnakan agama kek?"
"Ya. Menikah adalah menyempurnakan separuh agama. Itu sunnah dalam agama kita. Maka alangkah ruginya jika ada orang yang tidak berniat menikah dalam hidupnya karena itu artinya dia masih hidup hanya dengan melaksanakan separuh agamanya. Kelak ketika sudah semakin jauh bahtera rumah tangga kalian jalani, maka kalian akan semakin memahami apa maksud dari sunnah Rasulullaah ini"
"Aku sedikit paham dan mulai merasakannya kek. Ketika aku sudah menikah, aku mulai merasa berkewajiban untuk membantu istriku. Membahagiakannya. Bertanggung jawab atas keselamatannya dan memperhatikannya. Juga terhadap keluarganya. Ini berarti menambah tugas dalam hidupku dan tentunya aku mendapat tambahan pahala. Jika aku masih single, tentu aku tidak akan pernah melakukan hal seperti itu bukan? Demikian juga Ayesha, dia juga bertambah tugasnya ketika menjadi seorang istri yaitu dengan mengurusiku sebagai suaminya. Merawatku dikala sakit, menghiburku dikala sedih. Menyemangatiku dikala aku terpuruk. Dan masih banyak lagi. Ayesha tak akan mendapatkan pahala ini jika dia masih belum menikah. Bukan begitu kek?"
"Aku belum mengerti yang ini kek".
"Jika anak kalian bisa kalian didik menjadi generasi yang sholih, yang banyak memberikan manfaat untuk banyak orang, menunjuki banyak orang menjadi pribadi-pribadi yang beriman dan berakhlak mulia, bukankah akan semakin banyak orang yang akan berzikir di bumi mengingat Allah?"
"Oh....Benar sekali kek. Aku paham sekarang. Terima kasih banyak kek atas pencerahannya. Mohon doanya kami mempunyai keturunan segera, bahkan Ayesha bisa melahirkan keturunan yang banyak supaya akan semakin banyak orang-orang baik hadir di bumi seperti yang kakek katakan tadi", Maxwell sangat bersemangat. Sekilas diliriknya wajah istrinya yang pasti merona di balik cadarnya. Sementara Sir Vladimir hanya tersenyum bahkan terkekeh pelan.
"Aamiin. Kakek selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian. Semoga keinginan Nak Maxwell segera diijabah, dikabulkan oleh Allah swt."
"Aamiin", Maxwell segera mengaminkan.
"Iyyaaka na' budu wa iyyaaka nasta'iin. Hanya pada Allah lah kita menyembah, dan hanya pada Allah lah kita memohon pertolongan. Apapun yang kita inginkan, mintalah pada Allah. Yakinlah. Tidak ada yang mustahil bagi Allah karena Allah Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Tidak akan ada yang sanggup membahayakan seseorang kecuali atas ijin Allah, dan tak ada satu pun yang mampu memberikan petunjuk pada seseorang melainkan atas petunjuk dari Allah semata. Semoga ini bisa kita jalankan dalam kehidupan kita sehari-hari sehingga kita tidak akan pernah putus asa atas rahmat Allah dan tidak akan pernah takut pada sesuatu di dunia kecuali takut pada Allah."
"Terima kasih kek. Nasehat kakek ini akan selalu ku ingat. Ini sungguh sangat berharga bagiku, karena terus terang terkadang aku takut akan kehidupanku mendatang karena aku punya banyak musuh di sana. Aku takut karena aku sekarang sudah punya istri dan ini biasanya menjadi kelemahan seorang mafia sepertiku. Karena musuh-musuhku akan menargetkan istriku untuk menghancurkanku. Namun sekarang aku yakin, dengan pertolongan Allah seperti yang kakek katakan tadi, aku tidak usah lagi takut berlebihan. Semuanya aku serahkan pada Allah. Ia Maha Berkuasa untuk menjaga kami. Mohon doanya selalu untuk kami kek"
Maxwell kemudian menyalami Sir Vladimir dan lelaki tua itu menariknya dalam pelukan yang hangat.
"Jagalah Allah dengan selalu taat padaNya, maka Allah pasti akan turut menjagamu. Dirikanlah sholat dan tunaikan zakat, maka Allah akan selalu bersama dengan hambaNya yang taat pada perintahNya dan menjauhi larangannya. Ayesha akan membantumu. Sayangilah dia sebagaimana engkau menyayangi dirimu sendiri Nak Maxwell. Berjanjilah padaku"
"Baik kek. Aku berjanji."
"Katakan Insyaa Allah nak Maxwell"
"Ya. Insyaa Allah. Aku berjanji akan menjaga Ayesha dengan nyawaku."
"Semoga kalian selalu dalam lindungan Allah swt. Jangan lupa berkabar selama di sana agar bisa mengobati rasa rindu kami di sini. Dan...segeralah berusaha memberi kami bayi-bayi yang lucu"
"Insyaa Allah", Maxwell berseru. Ayesha semakin merona di balik cadarnya.