A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
98. Pertarungan Hidup dan Mati



Sambil menonaktifkan ponsel yang dimiliki keduanya, Ayesha dan Maxwell terus berjalan menyusuri lorong bawah tanah, jalan rahasia di bawah mansion dengan bantuan lampu senter dari jam tangan canggih milik Maxwell yang sudah lebih dulu dimatikan jaringan selulernya. Setelah sepuluh menit berjalan, mereka pun sampai di ujung dengan melihat samar-samar cahaya bulan dari luar. Maxwell keluar lebih dulu dan membantu Ayesha naik. Keduanya terkesima melihat sekeliling. Maxwell segera menyadari dimana mereka kini berada.


"Ini dimana Hubby?"


"Ini area belakang mansion. Kita sudah ada di luar. Mari ikut denganku Honey", Maxwell bergegas menarik lengan sang istri untuk mengikutinya dengan langkah setengah berlari. Mereka menyusuri jalan setapak remang-remang dengan bantuan cahaya lampu taman belakang mansion yang tersekat dinding beton setinggi dua meter. Ayesha dan Maxwell sesekali membungkukkan badan mereka dan bersembunyi di balik pepohonan ketika menangkap sorotan lampu kendaraan dari jalan raya yang tak jauh dari jalan setapak yang mereka lalui. Kini sampailah mereka di sebuah hanggar tersembunyi di balik deretan pepohonan besar. Ayesha takjub melihat hanggar kecil berpagar jeruji tinggi berisi sebuah Helly yang cukup besar yang terparkir manis di sana, lebih besar dari Helly yang dimilikinya maupun yang pernah diterbangkannya ketika lari dari Luke. Sebuah cahaya lampu temaram di hanggar membantu penglihatan mereka. Agaknya tempat rahasia ini memang sengaja disiapkan oleh Tuan George maupun Bibi Christine jika sewaktu-waktu terjadi peristiwa emergency seperti saat ini.


Maxwell dan Ayesha pun kini menghampiri Helly tersebut tanpa kesulitan karena Maxwell dengan mudah membuka pagar canggih dengan sidik jarinya. Kini keduanya sudah bersiap menerbangkannya. Baling-baling mulai berputar dan capung besar itu pun mulai naik ke angkasa dengan gesitnya menuju suatu tempat yang hanya Maxwell yang tau.


"Honey, kirim pesan pada kakakmu dan Mark bahwa kita selamat. Setelah itu matikan semua seluler kita dan pendeteksi radar Helly"


"Sure"


Ayesha pun melaksanakan semua perintah suaminya. Setelah itu ia pun menoleh sejenak ke arah mansion yang tentu saja tak dapat dilihat sama sekali apa yang terjadi di dalam sana. Bibirnya melantunkan istighfar dan zikir dengan penuh penyerahan diri sembari memejamkan mata. Dalam kondisi mendesak dan darurat saat ini, ia pun mengingat beberapa amal kebaikan yang dilakukannya juga suaminya yang ia yakin ikhlas hanya untuk mengharap keridhaan Tuhan semata. Ia pun menjadikannya sebagai wasilah, sebagai jalan untuk pengabulan do'a. Ia meminta dengan khusyuk kepada Sang Pencipta, Sang Pelindung, Sang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Besar bagi makhluk tapi amat kecil bagi Allah jika Dia sudah berkehendak. Bait-bait doa khusus ia berikan untuk semua penghuni mansion yang ia kenal, yang ia sebutkan nama mereka satu persatu beserta bayangan wajah-wajah mereka, dan secara umum seluruh anak buah suaminya yang masih setia, agar mereka semua dalam perlindungan Allah, Rabb semesta alam, selalu dalam penjagaan-Nya, dan diselamatkan dari serangan para musuh yang zhalim.


Sementara itu Maxwell yang menjadi sang pilot pun nampak fokus menerbangkan kendaraan berekor yang kini sudah jauh mengangkasa menuju titik aman yang terlintas di benaknya manakala mendengar pesan sang Bibi yang menyuruhnya untuk melarikan diri dengan selamat. Teringat kisah sang Bibi, mendadak ada rasa perih di sudut hati Maxwell membayangkan wanita tua yang mengasuhnya sejak bayi tersebut bahkan yang turut serta membantu tumbuh kembangnya dengan ASI dari tubuhnya sendiri. Bibi Christine, kau juga Ibuku, Ya Allah, selamatkanlah ia, hanya ia yang ku punya saat ini sebagai pengganti Bunda Sofia. Sebaris doa ia untai dalam hati yang semakin menghangat.


Sementara itu, pertarungan sengit sedang terjadi di halaman depan mansion juga di dalamnya. Tubuh-tubuh manusia bergelimpangan bak benda tak berharga dengan ceceran darah dimana-mana. Mereka adalah para penjaga mansion di halaman depan mansion yang terlambat sadar akan serangan musuh yang tiba-tiba sehingga tanpa perlawanan berarti akhirnya mereka pun meregang nyawa tanpa ampun. Keadaan mengerikan itu berlangsung beberapa menit. Serangan dari pasukan bertopeng itu begitu mendadak. Sepertinya mereka berhasil meretas sistem keamanan dan berhasil mengelabui pasukan mansion. Dalam jumlah personil yang kini lebih banyak karena banyaknya korban dari pihak mansion, ditambah dengan persenjataan yang lebih canggih, para penyerang pun terus merengsek maju hingga masuk pintu utama dan di sinilah mereka baru mendapatkan lawan yang cukup berarti dari para elit ajudan Maxwell. Meski kewalahan, untungnya rumah bak istana yang terdiri dari banyak ruangan itu membantu para penghuni dan penjaga mansion yang ada di dalam untuk berupaya mempertahankan diri dan menyusun serangan balasan sebisanya. Mark beserta tim-nya, Jack dan Thodor, juga ajudan tempatan Maxwell yaitu Patch yang sudah terbiasa dalam dunia peperangan segera berusaha mengambil alih dan perlahan mencoba menyusun strategi pertahanan. Dibantu Ahmed yang cukup mahir bela diri dan menggunakan senjata api, mereka mulai melakukan serangan balasan. Para penyerang bertopeng nampak terkejut karena mendapat perlawanan dan langsung menyerang dengan membabi buta, menembakkan selongsong peluru tanpa arah. Mata Mark yang awas dan selalu mengarah ke ruang pustaka tempat sang majikan berada menangkap bayangan para penyerang yang merengsek mendekati ruangan tersebut.


"Shit! Mereka sepertinya sudah tau jika Tuan ada di sana", gumam Mark.


"Patch, tahan musuh. Lindungi aku. Tuan dan Nyonya dalam bahaya", bisiknya melalui ear phone yang senantiasa menempel di telinganya. Ia pun segera mengejar serombongan musuh bertopeng yang sudah berhasil membuka pintu dan melumpuhkan Paman Sam. Pria tua itu sudah tergeletak dengan dada dan perut berlumur darah. Patch yang mendapatkan pesan dari Mark pun bergegas menguatkan serangannya ke pihak musuh yang menuju ruang pustaka untuk melindungi Mark yang mulai masuk mengejar ke dalam. Patch dengan gesit meledakkan peluru-pelurunya dengan tangan kanannya disertai senjata pisau-pisau kecil dari tangan kirinya. Matanya memerah marah menangkap bayangan para musuh bertopeng yang kini menatap ke arahnya dengan tatapan membunuh yang tak kalah tajamnya. Serangan saling berbalas pun terus terjadi tak henti. Sekilas Patch melirik perutnya yang berdarah terserempet peluru. Keadaan semakin genting karena jumlah yang sangat timpang. Ahmed yang terus berusaha menembakkan peluru dari dua pistol di tangannya ke arah musuh yang terus datang bak air bah sekilas menangkap bayangan Grace yang sedang bersembunyi di balik lemari kayu di sudut dinding dekat dapur. Wajah gadis berjilbab itu nampak pucat ketakutan. Ahmed pun mendekatinya dan melirik sebuah pistol yang tergeletak di lantai milik anak buah Maxwell yang sudah terkapar. Dengan cepat disambarnya senjata tersebut dan dilemparkannya ke arah Grace yang seketika menangkapnya dengan tangan gemetar.


"Lindungi dirimu dan naiklah ke atas melalui tangga belakang. Masuklah ke kamar Ayesha dan kunci pintunya dari dalam", bisiknya ketika sudah berada di dekat Grace. Gadis itu pun mengikuti perintah Ahmed dan begitu wanita itu dengan sembunyi -sembunyi berlari cepat naik ke tangga di belakangnya, Ahmed pun berusaha melindunginya dari para tamu tak diundang dengan mengalihkan perhatian mereka. Ia mulai terdesak karena pancingannya tersebut. Pria Rusia itu pun segera berlari zigzag diantara barang-barang perabotan dan tiang-tiang di ruangan menuju keluar sisi samping mansion. Tenaganya mulai terkuras, pelurunya sudah habis. Serangan senjata laras panjang dari empat orang pasukan bertopeng terus mengejarnya tanpa ampun. Ahmed mulai melakukan apapun untuk melindungi dirinya. Berbagai barang di dekat pelariannya ia lemparkan untuk menahan para penyerang. Hingga sampailah pada posisi terpojok, saudara lelaki Ayesha itu tak dapat menghindari rentetan tembakan beruntun yang salah satunya berhasil bahunya. Ia luruh terjatuh memegangi bahunya yang bersimbah darah. Dilemparnya guci di dekatnya sekuat tenaga ke arah musuh terdekatnya sebelum ia berhasil lolos melewati situasi genting yang berbahaya itu. Sang musuh terjatuh karena lemparan guci tepat mengenai kakinya sehingga Ahmed tak menyia-nyiakan kesempatan. Segera dirampasnya senjata laras panjang sang musuh yang terjatuh tersebut sehingga terjadilah saling menarik sambil bergumul di lantai keramik yang dingin. Pergumulan masih terus terjadi hingga akhirnya terjadi suara tembakan-tembakan di sekitar tempat mereka. Ahmed yang sudah berdiri karena berhasil mendapatkan senjata, kini terkesima melihat situasi di luar prediksinya.