A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 73. Sambutan untuk Ahmed



Maaf ya Readers setia, author belum bisa update banyak dan belum bisa lancar setiap hari 🙏🙏🙏


*******


Ayesha dan Maxwell baru saja selesai sholat subuh berjamaah ketika dering telpon di HP Ayesha berbunyi. Wanita cantik yang masih lengkap dengan mukenanya itu seketika tersenyum ceria melihat nama yang tertera di sana. Maxwell hanya memperhatikan senyum manis wanitanya yang nampak senang. Dia sudah menduga siapa yang bisa membuat bibir indah itu mengguratkan kebahagiaan selain dirinya. Ya, siapa lagi kalau bukan keluarga Ayesha dari Rusia.


"Apa? Kak sudah di bandara?", Ayesha nampak terkejut.


"Tunggu saja. Aku akan menjemput kakak bersama My Hubby"


"Apa?"


"Ya sudahlah"


"Well"


"I'm waiting for you"


"I miss you too", Ayesha meletakkan HP nya kembali.


Maxwell mendekati Ayesha yang masih berdiri dekat tempat tidur mereka dan dengan mesra memeluknya dari belakang.


"Apakah yang membuat senyum ceria wanitaku ini selain suaminya?"


Ayesha berbalik dan menatap suaminya dengan penuh senyuman


"Apakah perlu aku menjawabnya jika yang bertanya sudah tau apa jawabnya?"


"Kadang konfirmasi itu perlu untuk memastikan bukan?"


"Aku tak mau menjawabnya. Tidak mengapa kan?"


"Bukankah seorang istri harus patuh ada suaminya?"


"Apakah dosa jika aku tidak menjawabnya?"


"Tergantung. Jika menjawab pertanyaan saja dia tidak mau bagaimana dengan permintaan lainnya"


"Hubby....", Ayesha memajukan bibirnya tanda keki.


"Kau ingin menggodaku, hm?"


"Tidak. Tidak", Ayesha menggelengkan kepalanya. Terbayang aktivitas mereka semalaman, bahkan sejak kemarin sore dan berlanjut ba'da isya hingga menjelang subuh tadi. Ayesha tak habis pikir. Kekuatan sang suami di ranjang sungguh luar biasa. Pipinya langsung memerah mengingat semuanya.


Maxwell pun tersenyum melihat ekspresi menggemaskan sang istri. Entahlah, setiap dekat dengan istrinya, ia tak mampu menahan diri untuk tidak menyentuhnya dan ingin selalu menyalurkan hasratnya. Beginikah rasanya pengantin baru? Allah memberikan kebahagiaan syurga dunia pada mereka yang baru saja menggenapkan separuh dien-nya.


"Masih tidak mau menjawab?", Maxwell mengunci pinggang ramping Ayesha yang menghadap ke arahnya.


"Aku sudah tau"


"Maksud Hubby?"


"Tenanglah sayang, Peter sudah bersamanya sekarang"


"Hubby tidak memberitahuku?"


"Sebenarnya aku ingin memberikan istriku yang tercinta ini sebuah kejutan, tapi telpon Kak Ahmed membuyarkan semuanya", Maxwell pura-pura kesal.


"Benarkah?"


"Kemarin orangku di maskapai penerbangan memberikan kabar itu"


"Apa rencana hubby menyambut kakak ipar Hubby?"


"Kita akan membawanya bersenang-senang"


"Hubby tau apa yang membuat Kak Ahmed senang?"


"Tentu saja", Maxwell menjawab dengan percaya diri. Tatapannya penuh arti.


"Dari mana Hubby tau"


"Tinggal di Rusia selama hampir dua bulan membuatku cukup mengenal iparku dengan baik. Dont worry Honey!"


"Apakah Hubby benar-benar ingin menyambutnya dengan sambutan ala Sultan? atau Mafia?", Ayesha menaruh curiga dengan gelagat suaminya.


"Bukankah Kak Ahmed sudah lama tidak menggunakan otot-ototnya dengan baik?"


"Hubby...", senyum Ayesha berubah seketika. Ia sudah tau apa yang ada dalam rencana suaminya.


"Tenanglah my sweet heart. Kak Ahmed hanya harus sedikit berolah raga untuk beberapa saat saja agar jantungnya lebih sehat", Maxwell sudah menutup lisan Ayesha yang bersiap membalas perkataannya dengan bibirnya. Sang istri pun gelagapan namun dengan segera mengikuti keinginan suaminya yang nampak selalu haus jika berdekatan dengannya.


Sementara itu, di perjalanan dari bandara Sydney menuju mansion Maxwell, Ahmed yang menaiki sebuah taxi nampak tertidur karena lelah. Ia yang biasanya selalu terjaga entah kenapa sangat mengantuk dan langsung tertidur di dalam taxi begitu mobil itu bergerak membawanya lima menit yang lalu. Pemuda rupawan itu sangat nyenyak dan dengan tenang menikmati istirahatnya di dalam mobil sewa, di sebuah negara yang baru kali ini dikunjunginya. Sang supir yang memperhatikan dari kaca spion mobil nampak menyunggingkan senyum tipis. Terbayang skenario yang harus dijalankannya nanti. Ia menggelengkan kepala pelan sambil tersenyum mengingat semuanya. Ah, tuannya cukup berbakat membuat drama, pikirnya.


Setelah setengah jam melakukan perjalanan, tibalah mereka di sebuah villa di pinggir pantai. Sang supir yang tak lain adalah Peter pun membuka pintu mobil dan dengan sigap menarik tubuh Ahmed yang sudah tak sadarkan diri karena sudah diberi minuman mengandung obat tidur sebelumnya di pesawat. Lelaki itu cukup kesulitan karena tubuh Ahmed yang cukup kekar dan berat. Namun tak lama anak buahnya yang lain muncul dan mereka pun membawa ipar boss mereka tersebut ke dalam villa.


Ahmed baru saja terbangun dari tidurnya dan merasakan tubuhnya kaku. Alangkah kagetnya ia ketika menyadari keadaannya saat ini. Sekujur tubuhnya sudah terikat dengan tali dan posisinya sudah terbaring di atas tempat tidur. Matanya memandang ke sekeliling dan pikirannya mulai bekerja kembali. Ia berusaha mengingat semuanya dan segera tersadar dari kesalahannya.


Ia kemudian berusaha untuk duduk bersandar. Terbayang kembali serangkaian peristiwa selama di perjalanan menuju Ausy. Ia menggelengkan kepalanya sendiri. Semuanya tidak ada yang mencurigakan kecuali minum jus jeruk di pesawat sebanyak dua kali sebelum landing. Di saat masuk ke taxi dia merasakan kantuk yang melebihi dari biasanya. Hmm, sepertinya minuman itu mengandung obat tidur dosis rendah. Tapi siapa yang mau mencelakakan aku yang tak punya musuh di negara asing ini? Pikir Ahmed bingung. Ah, aku yang salah, tidak berhati-hati di negara orang, batinnya.


Ahmed mengedarkan pandangan ke sekeliling. Ia merasakan ada sesuatu yang mencurigakan. Jika memang ada yang menginginkan nyawaku, mengapa aku ditempatkan di kamar yang bagus? Dan meski tubuhku diikat, tapi aku ditempatkan di tempat tidur yang bagus pula? Benak pemuda berpendidikan itu masih terus bergulat dengan berbagai pertanyaan hingga terdengar pintu dibuka. Muncul sesosok perempuan setengah baya membawa semangkuk sup panas disertai steak daging sapi panggang yang nampak menggiurkan. Segelas jus jeruk hangat turut terhidang. Ahmed refleks menelan ludahnya sendiri. Ia merasakan perutnya melilit karena lapar. Ia melirik jam di dinding dan ingatlah ia bahwa sudah seharian tidak makan apapun selain jus jeruk di pesawat setelah kepergiannya dari Moskwa menuju Sydney.


Sang perempuan tua yang sepertinya seorang pelayan itu memandang Ahmed tanpa ekspresi. Dia hanya meletakkan nampan berisi makanan tersebut ke atas meja kecil di dekat Ahmed terduduk. Dengan ekor matanya, ia mengatakan pada Ahmed untuk memakan sajian yang ada. Lalu tanpa suara ia pun pergi begitu saja. Ahmed lagi-lagi terheran. Setelah pintu tertutup kembali dan dikunci dari luar, Mata Ahmed kembali fokus ke nampan makanan. Ia berpikir keras bagaimana caranya untuk bisa makan. Kedua tangan dan kakinya terikat kuat dengan tali tambang marlon berwarna putih. Ia terus berusaha menggerakkan badannya untuk mengetahui sejauh mana kekuatan tali yang membelitnya. Namun sekuat apapun ia mencoba melepaskan dirinya, ia semakin menyadari tubuhnya tidak akan bisa terbebas begitu saja. Sekilas matanya menangkap ujung sebuah benda tajam yang menyembul dari balik serbet kertas yang dipakai untuk memotong steak daging di atas nampan. Matanya seketika berbinar.