A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 109. Extra Ordinary Walimatul 'Urs



So sorry readers..dah lama x off...krn byk kesibukan yg deadline nya bersamaan...so sorry...author gak bisa menej waktu dgn baik....terpaksa ninggalin lapak online ini sementara...πŸ™πŸ™πŸ™ ini baru bisa update lagi...semoga readers bisa maafin author di hari yang penuh berkah dan ampunan ini ya....aamiin...


heheπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜Š


***********


Akhirnya waktu perhelatan penting seorang Big Boss Powell Group pun tiba. Gedung megah milik sang milyarder yang berada di pusat kota Sydney itu sudah terhias dengan meriah, namun ada yang aneh, karena kemeriahan acara pesta pernikahan seorang kaum borjuis yang selama ini terkenal di dunia legal dan illegal, salah seorang pengusaha dunia sekaligus mafia kelas kakap itu tak cukup wajar diterima kalangan atas. Betapa tidak, ada begitu banyak makanan dan minuman enak terhidang namun tak ada sedikitpun yang mengandung alkohol. Para undangan nampak melirik beragam menu yang tersaji dan tahulah mereka bahwa apa yang tertulis di surat undangan benar-benar direalisasikan. Dalam surat undangan yang hanya dikirim soft copynya melalui email atau pun grup chat itu jelas memang tertulis bahwa pesta tidak menyediakan alcohol baverege karena sang tuan rumah beragama Islam. Semua menu tersaji juga menu Islami yang halal dimakan oleh kaum muslimin.


Bukan hanya terkesima dengan masalah minuman khas pesta orang-orang besar yang tak tersedia, para tamu undangan pun sebelumnya disuguhi dengan pemandangan tak kalah mengejutkan. Sebelum masuk ke pintu utama gedung, mereka semua tanpa terkecuali harus melalui penjagaan yang sangat ketat. Meski tak perlu menunjukkan surat undangan, namun detektor senjata tajam dan bom harus dilalui sebagai syarat pertama dinyatakan layak masuk ke area pesta. Tak cukup dengan itu, nampak para pengawal berseragam jas hitam tersebar ketat di tiap penjuru gedung. Lengkap dengan senjata yang terselip di pakaian mereka juga ear phone yang tersemat di telinga sebagai alat komunikasi antar mereka. Sungguh, di samping aura pesta sang Tuan Besar yang nampak ramai penuh suka cita, terkesan pula suasana kehati-hatian dan keseriusan pengamanan yang cukup mengernyitkan dahi semua undangan. Benar-benar sangat ketat. Tak ada celah untuk seorang pengacau. Mark dan timnya benar-benar berusaha untuk menjaga area resepsi dengan kewaspadaan tingkat tinggi.


Kini terlihat suasana di dalam gedung. Ada lagi hal unik yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah perhelatan terpenting untuk kalangan billionare. Bagaimana tidak. Di area tersakral, di depan pelaminan, berderet bangku-bangku kecil yang isinya anak-anak manis berjumlah lebih dari 100 orang yang dengan pakaian baru dan tawa ceria mereka sedang menikmati kue dan makanan khas kesukaan anak-anak dengan lahap, ditemani alunan musik juga khas anak-anak. Sang mempelai wanita dan pria sedang berdiri bukan di pelaminan, melainkan bersama dengan anak-anak tersebut. Mendengar canda tawa mereka yang saling berceloteh riang tanpa beban. Dan seperti keadaan di luar, pengawalan dari para body guard pilihan juga tak kalah ketat. Mereka dengan seragam khas jas hitam berada di tiap sudut dan dekat dengan sang Big Boss. Ayesha nampak sangat bahagia. Wanita cantik tersembunyi yang sedang membungkukkan badan menyentuh pipi sang gadis kecil di depannya nampak tesenyum, terlihat dari mata birunya yang menyipit.


"Sayang, kamu nampak gembira sekali ya...", sapanya sambil melap pipi si bocah imut dengan tisyu.


"Ya, aunty. Aku senang sekali. Aunty penuhi janji Aunty bawa Shelly ke gedung besar", jawab sang bocah sambil terus makan kue coklat. Mulutnya belepotan. Maxwell pun tersenyum gemas. Dia juga pernah berjumpa dengan si bocah manis ketika menemani Ayesha mengunjunginya di panti.


"Bagaimana yang lain...? Kalian juga senang?", Ayesha mengedarkan pandangan ke anak-anak yang lainnya yang juga tak kalah serunya makan makanan kesukaan mereka dengan kotak kue di tangan masing-masing.


"Kami juga sama...kami senang sekali Aunty...", yang lain riuh menjawab. Para tamu undangan yang tak jauh dari anak-anak pun menyaksikan keakraban sang tuan rumah dengan anak-anak kecil di depan mereka dengan pandangan shock. Diantara mereka bahkan sempat ternganga mulutnya kaget karena begitu masuk ke gedung paling megah di Sydney itu langsung disuguhi pemandangan tak biasa. Puluhan anak-anak nampak duduk manis dan sebagian berlarian kecil di dalam gedung resepsi yang luas itu dengan terus diikuti oleh para wanita yang sepertinya para pengasuh mereka. Tawa riang mereka sungguh tanpa beban dan seakan sedang berada di taman bermain. Semua situasi mengherankan itu pun dilengkapi dengan alunan musik yang sama sekali tak sejalan dengan konsep pernikahan umumnya, melainkan alunan nada musik anak-anak yang ceria. Setelah beberapa saat bergabung dengan wedding party yang tak biasa itu, akhirnya para undangan yang sebagian besar adalah rekan bisnis Powell Group itu pun sadar bahwa anak-anak yang ramai ditemani para ibu pengasuh itu ternyata adalah anak-anak panti asuhan yang sengaja diundang untuk turut menikmati pesta pernikahan sepasang mempelai yang selama beberapa bulan ini sudah menjadi donatur tetap panti-panti mereka. Ya, anak-anak yang berjumlah kurang lebih 100 anak itu berasal dari panti yang berbeda-beda.


Mark yang berada di belakang Maxwell terus mengedarkan pandangan waspada ke segala arah. Ini masih gilirannya memegang kendali pengawasan ketat di sisi Maxwell. Dua jam kemudian akan digantikan oleh Patch meski sebenarnya keduanya juga sama-sama berjaga di dekat sang Boss. Begitulah kedua pengawal profesional itu mengatur jadwal mereka. Bagaimanapun kondisi dan situasi mereka harus tetap waspada. Musuh sang Tuan bertebaran dimana-mana. Berbagai situasi bisa saja terjadi. Cukup peristiwa mengerikan yang menimpa Peter sebelumnya juga peristiwa penyerangan mansion menjadi pelajaran berharga untuk mereka. Mark menangkap bayangan mencurigakan dari seseorang berjas biru elektrik berkemeja kotak-kotak biru yang baru saja muncul dari arah belakang. Setau dia semua tamu wajib melewati pintu depan, sedangkan pintu belakang hanya untuk para pengawal saja yang sudah tertentu seragamnya dengan ear phone putih di telinganya. Ia pun telah berusaha mengingat semua wajah personil yang berjumlah ratusan yang disiapkan untuk melakukan penjagaan selama resepsi berlangsung. Mark pun memberi kode pada seluruh anak buahnya yang ada di dalam dan luar gedung untuk terus meningkatkan kewaspadaan. Matanya terus mengikuti pergerakan sang sosok yang dicurigainya barusan. Membagi pengawasan pada Patch dan beberapa pengawal pilihan di dekat si pria.


Ayesha yang sedang asyik bercengkrama dengan para anak panti tiba-tiba mendapat panggilan telpon dari orang yang terus dinantikannya sejak undangan resepsi disebar. Matanya seketika berbinar.


"Grandfa...Ya...Baiklah...kami menunggumu...", Ayesha mematikan ponselnya dan mencari sang suami yang sudah pindah posisi menyalami para tamu. Ayesha urung mendatangi Maxwell dan kembali ke posisinya. Duduk dengan teang bersama anak-anak panti dan pengasuh mereka. Maxwell memang sudah mengingatkannya untuk hanya duduk dan tidak turut menyambut tamu kecuali Maxwell yang memanggilnya. Pria itu sangat menjaga kandungan sang kekasih. Ia tak ingin Ayesha kelelahan. Wanita bermata biru itu kini kemudian melihat ke arah Mark dan seketika menghampirinya.


"Mark, keluargaku sudah hampir tiba. Mungkin lima menit lagi"


"Benar Nyonya. Jangan khawatir. Mereka sudah dalam pengawalan ketat sejak di airport", jawab Mark mengalihkan pandangan ke arah sang Nyonya untuk beberapa saat. Ingatannya melayang ke laporan anak buahnya yang sejak tiga jam sebelumnya mengawal kedatangan keluarga Ayesha yang dijemput menggunakan pesawat jet pribadi Maxwell di bandara, hingga singgah ke hotel milik Maxwell yang terdekat dari gedung resepsi untuk beristirahat, dan kini menuju area perhelatan akbar yang ditunggu-tunggu warga pebisnis dan juga warga muslim seantero Ausy. Betapa tidak, semua muslim Ausy mendadak mengenal nama Maxwell Powell yang seorang muallaf dari kalangan billionare yang langsung membangun sebuah Islamic Center lengkap nan luas se benua Ausy untuk seluruh muslimnya dalam jangka waktu yang relatif singkat. Hanya dalam waktu dua bulan ini saja pembangunannya nyaris selesai. Maxwell memang memerintahkan semua tangan kanannya untuk mempercepat pembangunan dengan mengerahkan banyak kontraktor yang bersedia mencapai target selesai yang sudah ditentukan.


"Syukurlah. Terima kasih Mark", Ayesha membuyarkan lamunan sesaat Mark.


Ketika Mark teringat kembali pada sasarannya, ia pun terhenyak, sang sosok yang sedari tadi mencuri perhatiannya sudah tidak nampak lagi.


"Dimana dia?", tanyanya di ear phone.


"Dia yang berjas biru?" jawab salah seorang pengawal di dalam gedung.


"Ya"


"Dia sedang berada di meja makanan dan sedang makan saat ini"


Mark pun melayangkan pandangannyan ke tempat yang dimaksud anggotanya. Lelaki Rusia itu pun menarik nafas lega. Sepertinya tak ada yang mencurigakan, tapi aku harus tetap waspada.


"Jangan lengah mengawasinya. Perhatikan setiap pergerakan tangannya", Mark khawatir mengingat makanan dan minuman adalah hal yang sering menjadi sasaran para pengacau jika mereka tidak berhasil melancarkan aksi utama mereka.


"Sure", jawab sang anggota.


Tak lama kemudian datanglah rombongan keluarga Ayesha dari Rusia. Wanita bercadar itu pun segera menghambur menyongsong semua yang datang. Seluruh tamu terpusat melihat ke arahnya. Sejak tadi mereka hanya saling berbisik pelan pada sesama partner mereka bertanya-tanya tentang seluk beluk mempelai wanita yang tertutup cadar putih dan hanya menampakkan sepasang mata indahnya, dan kini taulah mereka apa yang mereka dengar selama ini tidaklah salah. Rombongan keluarga berciri khas wajah Rusia sudah hadir dan membenarkan rumor yang beredar, bahwa seorang Maxwell Powell sang Big Boss dunia bisnis ternyata bertekuk lutut di hadapan seorang wanita Rusia yang negerinya terkenal dengan kecantikan para wanitanya.


"Kakek...", Ayesha langsung memeluk erat sang kakek yang sangat dirindukan.


"Assalaamualaikum sayang...", Sir Vladimir pun membalas pelukannya dan tersenyum. Ia merasakan tubuhnya sedikit basah. Dengan lembut dielusnya punggung sang cucu yang terbalut pakaian pengantin berwarna putih.


"Jangan menangis. Orang akan mengira kau tertekan batin selama ini dan meluapkan semuanya ketika keluargamu datang", sang Kakek berbisik pelan dengan bahasa Rusia dan melepas pelukannya sambil tersenyum menggoda. Matanya sendiri berkaca-kaca. Ia juga amat merindukan sang cucu wanita kesayangan.


"Kakek...aku bahagia sekali kakek datang, untuk itu aku menangis", Ayesha melirik suaminya yang sudah mendekat dan kini bergantian memeluk sang Kakek. Selanjutnya acara berpelukan itu pun terus berlanjut. Ayesha memeluk kakaknya Ahmed, lelaki yang paling tampan di antara semua anggota rombongan, lalu dr Anne sang primadona yang menjadi pusat perhatian karena kecantikannya yang luar biasa, dengan tampilan anggun seorang wanita Rusia, berbalut soft dress panjang dengan lengan pendek, rambut pirang yang bergelombang lengkap dengan perhiasan berlian yang memukau, mata biru dan senyum lembut seorang wanita cantik nan elegan dan mempesona. Semua pria yang menatap akan sepakat mengatakan, sang wanita muslimah muallaf tanpa hijab namun terlihat sopan itu adalah yang tercantik, namun bukan satu-satunya yang cantik. Ada juga wanita-wanita cantik lainnya yang hadir melengkapi kebahagiaan Ayesha di walimatul 'ursy nya hari ini. Yovanna, teman kecil Ayesha yang kakeknya pernah mengobati Maxwell ketika diselamatkan Ayesha di hutan turut serta membersamai. Ada juga Linores dan Elena, kakak adik satu ayah beda ibu yang juga turut hadir. Ayesha memeluk mereka semua dengan penuh haru dan suka cita. Sementara saudara Ayesha lainnya juga turut hadir dan dipeluk sang mempelai pria. Selain Kakek Vladimir dan Ahmed, Ali dan Uncle John serta Paman Alex pun hadir. Lengkap sudah kebahagiaan Ayesha. Ia sangat bahagia. Semua keluarga yang dirindukannya hadir hari ini.


"Lihatlah, para wanita Rusia memang terkenal akan kecantikannya dan kini aku membuktikannya", gumam seorang tamu pada teman di sampingnya.


"Kau benar. Aku juga baru ini menyaksikannya langsung. Selama ini aku hanya melihat mereka di media massa"


"Jika mereka yang tak menutup wajahnya saja terlihat sangat cantik, maka bagaimana wajah sang mempelai wanita. Tentu tak kalah cantiknya"


"Kau tau dari mana?"


"Banyak rumor beredar seperti itu. Hanya karena wanita, ia tak lagi menyentuh bisnis minuman beralkohol dan senjata. Dua bisnis dengan keuntungan paling banyak, di samping drugs tentunya"


"Aku juga mendengarnya begitu. Powell Group sudah tak merambah lahan itu lagi"


"Sebagai gantinya, bisnis properti mereka maju dengan sangat pesat saat ini"


"Kau benar. Powell memang meninggalkan dua lahan menggiurkan tapi menambah aset untuk lahan lain yang tak usang dimakan zaman"


"Aku rasa wanita yang dinikahi Mr Powell juga bukan orang sembarangan"


"Benar. Buktinya seorang atheis seperti Mr Powell bisa beralih menjadi seorang agamais seperti sekarang"


"Ya. Ku dengar dia banyak berderma"


"Lihatlah anak-anak panti itu. Mereka pasti dari panti tempat Powell menjadi donatur tetap"


"Ya. Sepertinya begitu"


"Tentang istrinya, aku dengar juga dia seorang wanita yang lumayan jadi rebutan di tanah Rusia"


"Sama. Aku juga dengar begitu"


"Ya. Seorang wanita muslimah cantik dan pengusaha muda juga"


"Aku dengar selain sang istri juga punya kecantikan dan kemampuan bisnis yang cukup baik, aku juga dengar bahwa ada hal tak terduga seputar dunia pribadi Mr Powell"


"Apakah itu tentang jati dirinya selama ini?"


"Ya. Dia ternyata juga keturunan musuh bebuyutannya sendiri"


"Itu cuma rumor, kita belum tau kebenarannya"


"Jika itu benar, maka Powell Group akan menjadi yang terkuat di tiga benua sekaligus. Eropa, Australia dan Amerika. Luar biasa"


"Kita lihat saja nanti. Kita tunggu koferensi pers pihak Powell mensikapi semua rumor yang beredar"


"Kau benar. Yang jelas, jika itu sebuah fakta, maka konstelasi politik dan arah bisnis kita pasti akan berubah. Akan banyak hal menarik yang akan terjadi nantinya"


"Kita tunggu saja. Kadang masalah silsilah juga tak ada pengaruhnya bukan?"


"Bisa jadi. Tapi itu kemungkinan kecil. Apalagi ku dengar keluarga al Qudri, sang musuh bebuyutan Powell tidak memiliki keturunan. Mr Maxwell Powell tidak mungkin dibiarkan begitu saja menyandang status keturunan Powell Family, Al Qudri pasti akan menyambutnya juga"


"Benar sekali analisamu. Ini sangat menarik. Dua kekuatan jika bersatu, tidakkah kekuatan yang ketiga akan tumbang dengan sendirinya?"


"Belum tentu. Ada banyak trik kotor hasil rekayasa terbukti berhasil mengadu domba dan menghancurkan. Bukan begitu?"


"Iya juga. Begitu banyak intrik-intrik politik bahkan terbungkus situasi normal layaknya berjalan seadanya, padahal ada banyak tipu daya penuh fitnah di sana"


"Yang penting kita terus berhati-hati"


"Benar, pebisnis kecil seperti kita hanya perlu waspada dan jangan salah pilih kawan dan kubu"


"Tepat sekali"


Begitulah kasak kusuk internal kelompok-kelompok tamu yang banyak berasal dari para pengusaha yang hadir dalam perhelatan penting pemilik Powell Group tersebut. Hingga waktu walimatul 'ursy berakhir, suasana masih tetap aman dan terkendali. Seluruh anak panti dikawal kembali pulang ke panti mereka masing-masing dengan wajah tawa ceria. Mereka membawa banyak makanan dan hadiah, karena ternyata semua kado yang diberikan oleh para tamu dengan begitu mudahnya dibagikan para mempelai pada anak-anak. Begitu juga dengan para tamu berhijab yang diundang Ayesha lewat Islamic Center. Semua amplop yang diberikan para tamu dibagikan pada mereka yang berhijab dan membawa anak-anak dan tak lupa juga turut membawa kotak makanan yang sudah disediakan. Para tamu sosialita maupun elit politik dan pebisnis pun tercengang. Mereka tak menyangka bahwa apa yang sudah mereka siapkan sebagai kado spesial untuk mempelai yang sudah jelas seorang milyarder kelas kakap akan mendapat perlakuan balasan seperti ini. Mereka pun hanya bisa pasrah sambil membaca kembali undangan soft file yang sudah dikirimkan seminggu sebelumnya. Di sana tertera, kehadiran dan doa Anda cukup menjadi kebahagiaan kedua mempelai. Tidak perlu membawa kado atau pun amplop berisi uang. Sontak mereka pun menelan ludah yang terasa pahit. Sebagian yang tak ikhlas merutuki keputusan sendiri mengingat betapa banyaknya uang kado yang mereka berikan. Sedangkan sebagian lain malah tersenyum sendiri, senang karena kado yang diberikan tidak terlalu menguras kantong mereka dan akhirnya diberikan pada yang membutuhkan, karena mereka sendiri tidak percaya diri dengan barang yang mereka beli, karena Powell sudah memiliki segalanya.


Sementara itu, di antara banyaknya tamu yang sudah mulai pamit pulang, sepasang mata masih terus berdiri mengawasi. Ia selalu berdiri tak jauh dari Sang Big Boss. Matanya yang sejak tadi mengikuti pergerakan sang pria berjas biru yang kini sudah pamit keluar setelah menyalami Maxwell, kini kembali beralih ke sosok wanita yang selama ini dirindukannya. Sosok wanita cantik yang pernah membuat dia dan mendiang Peter jatuh ke kolam di mansion karena terpesona akan kehadirannya waktu itu. Senyum kecil pun tersungging di bibir tipisnya. Matanya tak henti terpukau pada keelokan paras sang bidadari Rusia tersebut.