
"Hubby..Allah tidak hanya beri kita satu ada dua baby....tapi....ada tiga baby di dalam sini...", Ayesha berkata dengan mata berbinar memandang suaminya.
"Oh God....", Maxwell membelalakkan matanya. Ia nyaris melompat sangking gembiranya mendengar kabar langka dari Ayesha. Kembar tiga? Benarkah? Diberi satu saja oleh Allah rasanya sangat berbahagia, tapi ini sampai tiga kali lipatnya? Maha Berkuasa Allah atas segala sesuatu.
"Apakah ini bukan mimpi, Sayang? Kita akan punya anak tiga sekaligus?"
Ayesha mengangguk mantap.
"Insyaa Allah, Hubby. Semoga Allah menjaga mereka hingga lahir ke dunia dengan selamat dan sehat. Aamiin".
"Aamiin", Maxwell seketika mengaminkan dan berlutut lalu menengadahkan kedua tangannya ke atas seraya berdoa di dalam hatinya. Kemudian mengusap wajahnya dan menunduk untuk menciumi perut sang istri.
"Ah, cepatlah kalian besar dan lahir. Daddy sudah tidak sabar lagi nak....", ucapnya dengan binar kebahagiaan yang kentara. Ayesha hanya tersenyum melihat tingkah suaminya. Keduanya pun larut dalam kebahagiaan, hingga kemudian setelah membersihkan diri, mereka pun beristirahat hingga keesokan harinya tiba di suatu tempat yang tak pernah mereka bayangkan sama sekali.
Pagi bersinar dengan cerahnya. Setelah kemarin sore menjelang magrib menempuh perjalanan selama kurang lebih delapan jam dengan menggunakan pesawat jet pribadi, lalu istirahat beberapa jam sebelum subuh di sebuah hotel terdekat, kini Maxwell dan Ayesha terbangun untuk sholat subuh di kamar mereka.
"Sayang, kita ada dimana sebenarnya sekarang ini?", Ayesha melipat sajadahnya dan menghampiri sang suami yang sedang duduk di lantai berkarpet hijau bersandar dinding bed king size tempat tidur mereka. Semalam ketika turun dari pesawat dia sempat melihat tulisan Kualanamu International Airport. Ayesha mengernyit heran, dia tidak pernah mendengar nama tempat tersebut dan belum sempat searching di internet.
"Kita di Asia Tenggara, Indonesia", jawab Maxwell yang sudah browsing dengan ponsel barunya.
"What?", Ayesha cukup terkejut.
"Aku tau negara ini, negara mayoritas muslim di dunia, terkenal dengan kekayaan alam dan keindahannya....dihuni para penduduk yang ramah bersahabat...namun sayang...saat ini dikhianati oleh para elit pemimpinnya...", Ayesha menghela nafas prihatin. Ia kemudian meraih teh panas di meja kecil di dekat mereka dan mengambil sepiring roti bakar. Dimakannya dengan lahap dan penuh nikmat. Maxwell tersenyum melihat sikap istrinya yang sangat bersemangat makan. Ia pun turut serta mengikuti karena juga merasa lapar.
"Kau amat tau negeri kecil ini, Sayang...", Maxwell cukup kagum dengan wawasan istrinya. Ia sendiri memang kurang mengetahui keadaan Indonesia yang hanya dikenalnya sedikit selain urusan bisnis hotel dan wisata yang ditanamnya di negeri tersebut.
"Aku hanya tau Bali dan Sumbawa, salah satu provinsi di sana yang famous dengan panorama dan budayanya. Aku pernah ke sana beberapa kali untuk urusan bisnis dengan Luke, juga Jack dan Peter....", Maxwell seketika teringat dengan ketiga orang yang kini sudah tidak bersamanya tersebut. Dia sebenarnya punya banyak lahan bisnis di Indonesia namun sering diwakili Luke dan sekretarisnya untuk urusan visiting dan monitoring.
"Indonesia seharusnya menjadi negara besar....namun sayang ...", kalimat Ayesha menggantung. Ia memang cukup memahami berbagai kondisi negara-negara muslim di dunia, sehingga Indonesia pun tak luput dari perhatiannya. Ketika terjadi bencana tsunami yang mengguncang dunia di tahun 2004 silam, dia termasuk salah seorang donatur yang mendonasikan sebagian rezekinya ke Aceh, salah satu provinsi di Indonesia dengan dampak tsunami terbesar di dunia.
"Teringat dengan Luke, apakah Hubby pernah bertemu dengannya lagi?", Ayesha tiba-tiba teringat pria yang masih mengharapkannya tersebut.
"Tidak, tapi sepertinya aku akan menemuinya sebentar lagi... ", mata Maxwell menerawang.
Ayesha teringat dengan kecurigaannya pada Luke sebelumnya bahwa ia adalah dalang dari pemboman mobil yang menewaskan keluarganya. Namun ia tidak mempunyai bukti, apalagi dengan temuan CCTV oleh Mark yang tidak menghubungkan sama sekali Luke dengan peristiwa mengerikan tersebut. Mereka masih menyelidiki siapa penghuni mobil yang terlihat mencurigakan di sekitar kejadian pemboman tersebut.
"Ah ya, apakah berita gembira ini sudah sampai ke Moskwa, Sayang? Kakek dan kakakmu pasti akan sangat shock mendengar ini semua...", Maxwell menatap sang kekasih dengan binar kebahagiaan. Namun kemudian ia teringat sesuatu.
"Oh ya, aku lupa...bukankah mereka seharusnya masih di Sydney ketika....", Maxwell melotot seketika. Ia kembali teringat peristiwa pemboman di mana mobil yang nyaris dimasukinya meledak.
"Arghhhh...", mendadak Maxwell memegangi kepalanya. Ia kembali merasakan sakit yang kuat. Traumanya muncul kembali.
"Hubby.....Hubby....", Ayesha pun meraih tubuh suaminya dan mendudukkannya ke sisi ranjang.
"Sudah, jangan diingat lagi...istirahatlah dulu, Sayang. Hubby masih belum pulih", Ayesha membimbing suaminya untuk tidur. Ia seketika teringat kakek dan kakak serta Bibi Christine yang menjadi korban pemboman waktu itu. Suaminya ternyata belum tau apa yang terjadi. Dimanakah selama ini ia berada? Sejak mendadak bertemu di kamar mewah pesawat, mereka memang belum berbicara apapun kecuali kebahagiaan bersua kembali. Dan Ayesha memang enggan untuk mengenang luka hatinya karena kehilangan keluarga yang dicintainya.
"Aku tidak apa-apa, Sayang. Kepala ini sering sakit jika berusaha mengingat kejadian waktu itu. Tapi tidak mengapa, sebentar lagi akan pulih sendiri", Maxwell kemudian berusaha duduk menyender. Sakitnya mulai berangsur reda. Ia ingin menanyakan semuanya yang mengganjal di hatinya selama ini sejak ia sadar dan dirawat di hotel oleh para pengawal asing dari penguasa yang tak diketahuinya saat ini. Maxwell menarik nafas sejenak.
"Honey, bagaimana dengan kabar kakek, kakak dan Bibi Christine?", pria tampan yang masih mempunyai luka-luka kecil yang sudah kering di tangan dan kakinya itu memandang lekat sang istri. Ayesha tercekat. Ia tak sanggup membalas tatapan suaminya melainkan menatap balkon. Duduk di sisi ranjang.
"Mereka sudah tidak apa-apa Hubby. Jangan khawatir".
"Apakah mereka tidak terluka parah?", Maxwell mengernyit heran. Ia yang terlempar karena ledakan saja merasa sangat sakit hingga pingsan. Bagaimana mungkin mereka yang ada di dalam mobil? Atau mungkin cuma perasaannya saja bahwa mobil itu yang meledak? Bisa jadi ada benda lain di sekitarnya yang meledak bukan? Maxwell tidak sanggup memikirkan lagi. Kepalanya akan kembali sakit jika berusaha mengingatnya.
"Mereka sudah tidak apa-apa lagi sekarang. Sudah tenang", jawab Ayesha pelan. Maafkan aku Hubby, nantinya engkau juga akan tau. Saat ini sepertinya kepalamu tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Bukankah terlihat di CCTV tubuhmu saat itu terpental jauh dan jatuh membentur sisi mobil orang lain yang berhenti dan langsung dibawa oleh orang tersebut? Lalu siapakah mereka yang sudah menyelamatkanmu hingga kita bisa bertemu kembali? Apakah hubungan mereka dengan Pavlo dan Mark? Aku yakin Mark pun tidak tau tentang Hubby ketika itu karena aku bisa melihat kejujuran di matanya.
"Tapi...", kalimat Maxwell terhenti ketika terdengar ketukan di pintu kamar.
Ayesha mendekati pintu dan setelah mengintip melalui lubang intai dia pun membukanya.
"Maaf Nyonya, kini saatnya kita bergerak".
"Suamiku sedang sakit kepala. Bisakah menunggu sebentar lagi?", Ayesha menoleh ke arah suaminya. Maxwell kemudian menyahut.
"Tidak apa. Tunggulah lima menit lagi", sahut Maxwell.
"Baiklah, kau mau menunggu di sini?", kata Ayesha pada sang pengawal.
"Ya Nyonya. Saya akan tunggu di luar. Permisi", jawab sang pengawal lalu berbalik dan berjaga di depan pintu bersama beberapa orang lainnya. Ayesha pun menutup pintu kamar dan berkemas. Tak lama mereka berdua pun segera meninggalkan kamar dan kini melanjutkan perjalanan.
Sepanjang perjalanan di waktu yang masih pagi sejuk berembun ini, Ayesha dan Maxwell yang duduk di belakang kursi pengemudi pun bisa menikmati pemandangan dari luar jendela mobil. Mark yang menjadi driver sesekali memantau sang majikan lewat kaca spion.
"Apakah Pavlo ikut?", tanya Maxwell ke Mark.
"Dia sudah menunggu kita di sana,Tuan", jawab Mark.
"Masih jauhkah?", giliran Ayesha bertanya.
"Sekitar satu jam setengah lagi, Nyonya".
Ayesha hanya mengangguk. Ia melirik jalanan yang belum ramai. Gedung-gedung pencakar langit nampak menjulang di kiri kanan jalan. Meski tidak terlalu rapi tata kota yang dilihatnya, namun cukup menggambarkan bahwa Medan termasuk kota metrapolitan selain ibu kota negeri ini. Ayesha cukup merasa nyaman dengan layanan di hotel Haper Wahid Hasyim Medan yang dihuninya beberapa jam bersama suaminya tadi. Kini diambilnya ponsel dan melihat google maps untuk mengetahui posisi mereka saat ini hingga kemudian ia pun terserang kantuk dan akhirnya terlelap kembali. Maxwell hanya tersenyum melihat sang istri. Dengan lembut disandarkannya kepala Ayesha ke bahunya. Tak lama, karena melihat muslimah bercadar itu seperti tak nyaman, ia pun kemudian memposisikan tubuh wanita tercintanya tersebut berbaring dengan kepala berada di pangkuannya.
"Tidurlah Sayang. Nyamankan dirimu. Sejak hamil ini Engkau memang terlihat lebih cepat lelah. Wajar saja, ada tiga nyawa di rahimmu. Semoga Allah menguatkanmu hai wanita tangguh", lirih Maxwell. Sesekali ia membelai jilbab sang istri dan mengelus pipi mulus di balik cadar tersebut. Maxwell melirik ke jalan yang sudah mulai tidak mulus dan melihat ternyata mereka sudah memasuki wilayah yang asri. Maxwell melirik ponsel barunya. Mereka sudah berada di Kecamatan Pantai Labu, Deli Serdang. Kiri kanan terlihat perkebunan sawit yang membentang.
Setelah kurang lebih satu jam setengah menempuh perjalanan karena jalanan yang mulai ramai, akhirnya sampailah mereka di sebuah bangunan kokoh tinggi bercat putih bersih tanpa pagar dengan halaman rumput jepang yang luas. Di sekitar halaman nampak beberapa pohon kelapa pendek sedang berbuah lebat, juga beberapa pohon besar yaitu rambutan, kelengkeng dan mangga madu. Ketiga pohon tersebut cukup rindang dan sedang berbunga. Setiap mata memandang pasti akan merasakan senang dengan kesejukan dan kehijauan yang dirasakan begitu memasuki area bangunan tersebut. Memasuki area bangunan, maka para tamu akan disambut teras depan rumah yang cukup luas dengan aneka tanaman hias yang subur dan memukau di pinggirannya juga digantung di atasnya. Lalu satu set kursi jepara yang nampak mewah dengan ukiran kayu yang khas dengan meja kayu berlapis kaca juga tersedia untuk sekedar duduk bersantai .
Maxwell dan rombongannya kini memasuki bangunan rumah asing di depannya. Ayesha yang semula hendak digendong sang suami telah terbangun dan tidak mengijinkan Maxwell untuk menggendongnya. Ia merasa malu dan khawatir dengan keadaan suaminya yang belum sepenuhnya pulih.
"Rumah ini cukup nyaman. Aku suka", celetuk Ayesha pelan ketika tiba di depan teras namun bisa didengar Maxwell dan Mark. Kedua pria itu hanya tersenyum.
"Maaf, kita kan cuma tamu ya...", Ayesha menyadari perkataannya. Ia lupa kalau cuma berkunjung saja dan ini pun penuh diliputi tanda tanya karena semua masih serba misterius.
"Sebentar lagi tidak, Nyonya", sahut Mark, membuat Maxwell dan Ayesha semakin penasaran.
Kini mereka pun memasuki ruangan tamu yang sudah dibuka oleh seorang wanita paruh baya berjilbab, mungkin salah seorang khadimat/ pembantu di rumah tersebut.
Ayesha terkesima dengan isi ruangan yang menurutnya cukup mengesankan. Simple tapi elegan, dengan tempat yang cukup luas tanpa disesaki barang-barang perabot. Cukup satu set sofa mewah, satu lemari kaca transparan cukup tinggi dan tidak terlalu lebar dengan pondasi kayu jepara yang isinya masih kosong. Hamparan karpet tebal yang empuk di depan satu set sofa yang mengambil tempat ke kanan, dengan bantal dan guling karakter yang cukup besar dengan sebuah TV berukuran besar dan tipis tertempel di dinding di depannya. Ruangan terasa lapang dan menenangkan dengan jendela besar berjeruji di tiap sisi dinding beton ruang tamu yang bertirai tipis putih berlapis gorden warna hijau muda.
Sang khadimat rumah yang menyambut kedatangan para tamu mempersilakan Ayesha dan rombongannya untuk duduk di sofa. Tak lama ia datang lagi membawa minuman hangat dengan kue - kue basah dan roti yang menggugah selera.
"Silakan dinikmati Tuan dan Nyonya".
"Dimana Tuan Rumah ini?", tanya Ayesha.
Sang khadimat tertegun. Ia sontak memandang ke dalam ruang tengah tepat di depannya berdiri.
"Bukankah Anda berdua pemilik rumah ini?", jawab sang wanita paruh baya.
"Maksud Bibi?"
Sang bibi menunjuk ke arah matanya tadi memandang sambil berjalan menyibakkan tirai tranparans tipis berwarna putih penyekat ruang tamu dengan ruang tengah. Semua mata pun memandang ke arah yang sama, karena Ayesha duduk di dekat sang bibi maka ia cukup mencondongkan tubuh ke kiri untuk melihat dengan jelas apa yang ada di depan sang bibi, sedangkan Maxwell dan Mark bergerak mendekat, mengikuti arah telunjuk sang bibi. Dan kini mereka pun terkesima melihat apa yang ada di dinding ruang tengah. Tepat menghadap ke arah mereka, sebuah bingkai foto yang cukup besar memperlihatkan sepasang suami istri yang sedang duduk di taman. Sang istri yang bercadar sedang menyuapkan sesuatu ke mulut sang suami. Keduanya nampak saling memandang dengan tatapan penuh kebahagiaan.
"Hubby....bukankah ini..." Ayesha langsung teringat dengan moment di taman Moskwa waktu itu.
"Ya....itu foto ketika kita berdua jalan-jalan sore di taman kota Moskwa. Honey sedang memaksaku memakan jajanan pinggir jalan...lalu aku menikmatinya karena ternyata enak....", Maxwell menyambung ucapan Ayesha.
"Bagaimana mungkin....", Ayesha dan Maxwell serentak berbicara sambil menatap satu sama lain. Tak menyangka akan ada yang mengabadikan momen mereka berdua.
"Sosok sepasang suami istri muslim yang sedang bercengkrama mesra di taman Moskwa viral waktu itu di medsos....dan kalian sama sekali tidak mengetahuinya?", tiba-tiba terdengar sebuah suara dari dalam. Seorang pria tua berkursi roda muncul dari ruang tengah dengan diikuti oleh seorang lelaki tinggi besar dengan tato menyembul di kerah bajunya yang mendorong kursinya.
"Pavlo...dan Anda?", Maxwell mengernyitkan dahinya.