A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 112. Menikahlah Denganku



“Ada apa Kek?”, Ahmed langsung memegangi sang kakek yang ada di sampingnya.


“Sepertinya penyakit asam lambung kakek kambuh”


“Suster, cepat lakukan tindakan”, seru Maxwell pada sang perawat yang sejak tadi masih mendampingi keluarga tersebut.


“Baik Tuan. Mari Sir, ikuti saya. Apakah masih bisa berjalan Sir?”


Sir Vladimir mengangguk pelan. Ahmed yang melirik ada kursi roda di dalam ruangan pun segera menyambarnya dan mendudukkan sang kakek di sana, lalu mendorongnya mengikuti sang perawat. Ayesha pun mengikuti.


“Kakek tidak apa-apa Ayesha. Ini kambuh biasa, biasalah usia tua. Tetaplah di sini. Jika sudah selesai kau bisa menjengukku nanti”


“Tidak kek, aku harus pastikan kakek baik-baik saja”


“Ayesha, kembalilah, nanti menyusul”, perintah sang kakek dengan tegas.


“Baiklah kek”, Ayesha pun melepas ketiga orang di depannya keluar. Sebelumnya, sang Big Boss sudah meminta sang perawat untuk memberikan ruang beristirahat sang kakek di raungan terdekat dari Grace agar mereka mudah menjenguk sang kakek.


“Bibi, kami pamit dulu. Ada beberapa orang di sini untuk membantu. Berilah perintah apa saja pada mereka jika kau membutuhkannya”, ujar Maxwell yang bersegera hendak keluar, namun tertahan karena sang istri sepertinya belum menuntaskan keperluannya.


“Terima kasih Tuan”, jawab Bibi Christine.


“Bi. Ini kewajiban kami. Tidak perlu mengucapkan terima kasih”


“Ah Nyonya. Kami sangat beruntung mendapat perhatian yang besar seperti ini”


“Sudah seharusnya Bi. Jangan sungkan. Miss Grace, kami pamit dulu ya… Sekali lagi, yang terakhir aku katakan, sampaikanlah keinginanmu yang mungkin bisa kami bantu. Ayolah, jangan sungkan”


“Tidak ada Nyonya. Aku hanya ingin Anda berdua bahagia. Demikian juga dengan aku. Semoga aku juga bisa bahagia seperti Anda berdua”


“Tentu saja. Tiap orang bisa bahagia. Dan kau tau, pernikahan itu memang akan melengkapi kebahagiaan seseorang, karena padanya penggenapan separuh agamanya”, Ayesha melirik sang pengawal sekilas. Ada sebuah misi dalan hatinya. Ia pun tersenyum dari balik cadarnya.


“Oh ya Miss Grace, ku sarankan, cepatlah menikah, suamimu akan merawatmu dengan lebih baik dibandingkan seorang suster. Jika memang belum ada calon, aku bisa membantumu, tentu saja yang seiman denganmu”


Mark dan Grace sontak saling mengangkat wajah dan tatapan mereka pun bersirobot. Grace seketika tertunduk kembali dengan wajah memerah.


“Ah Nyonya ada-ada saja. Jangan bercanda. Tidak ada pria yang mau menikahi wanita yang sedang terluka parah sepertiku saat ini bahkan menikah untuk merawat istrinya. Biasanya, sang istri yang merawat sang suami bukan?”


“Jika sudah cinta, maka semuanya tidak mustahil, Miss Grace. Aku mendoakanmu segera mendapatkan pendamping hidup yang tulus mencintaimu dan bersedia menjalani suka duka berdua bersamamu”


“Aamiin. Terima kasih doanya Nyonya”


“Oh ya, aku serius. Ada banyak orang solih di Islamic Center yang bisa aku ta’arufkan untukmu. Bagaimana Miss Grace?”


“Aku…aku terserah Nyonya saja”, lirih jawaban Julia Grace yang bisa didengar dengan jelas oleh Mark. Sang pria Rusia yang sejak tadi terus menahan gejolak hatinya itu pun hanya bisa diam memendam bara di hatinya. Ingin rasanya ia berteriak mengatakan “jangan” pada kedua makhluk cantik di depannya tapi ia masih cukup waras untuk menutup mulutnya rapat-rapat.


“Jika kau katakan seperti itu, berarti aku akan segera memprosesnya. Bukankah niat baik harus segera dilaksanakan? Bukan begitu Hubby?”, Ayesha melirik sang suami dengan ekor matanya. Sang suami yang sudah bisa menangkap misi pembicaraan sang istri pun segera kooperatif.


“Benar. Aku akan membantumu, istriku. Apalagi ini untuk saudaraku juga, bibi dan sekaligus sepupuku yang baru, Miss Julia Grace”, sahut Maxwell tegas. Gemuruh perasaan Mark pun makin mendidih. Sebisanya ia bertahan meredam semuanya, hingga kemudian ia mengikuti sang majikan keluar ruangan tanpa menoleh ke arah pasien sama sekali. Grace yang menangkap perubahan di raut wajah Mark begitu sang Nyonya membicarakan tentang calon untuknya hanya bisa menarik nafas. Ada senyum tipis menghias sudut bibirnya yang masih pucat itu.


*****


Ayesha akhirnya memutuskan agar sang kakek rawat inap di rumah sakit, karena menurut dokter, sang kakek sebaiknya dirawat karena kondisi tubuh yang sedang drop akibat kelelahan ditambah kambuhnya asam lambung. Karena jika harus kembali melanjutkan perjalanan ke mansion yang memerlukan waktu setengah jam lagi, kondisi pria tua berusia 85 tahun itu akan memburuk. Ahmed pun memutuskan untuk mendampingi sang kakek dan menyuruh sang adik untuk kembali lebih dulu ke mansion karena tidak enak dengan Ali dan para sahabatnya dari Moscow yang sudah jauh-jauh datang dan sudah tiba di mansion lebih dulu.


“Percayalah, kakek akan baik-baik saja. Besok mungkin sudah bisa ke mansion bersama Miss Grace sekalian. Engkau bisa lebih dulu kembali bersama suamimu. Ingat keponkanku jangan sampai kurang istirahat di dalam sana”, ujar Ahmed menenangkan sang adik.


“Kita bisa bersama-sama ke mansion besok pagi. Malam ini aku dan suamiku bisa menginap di sini. Ada banyak kamar yang nyaman untuk ibu hamil sepertiku, bukan begitu Hubby?”


“Lalu bagaimana dengan para tamu yang sudah di sana saat ini?”


“Percayalah, dr Anne, Yovanna, Linores dan Elena adalah sahabat-sahabatku yang sangat pengertian. Aku akan memberikan kabar”


“Terserah padamu saja, adikku”, Ahmed pun pasrah dan melirik sang adik ipar yang hanya mengedikkan bahu tanda pasrah juga. Ayesha pun tersenyum dan mulai mengetikkan pesan di ponselnya untuk para tamu di mansion.


Maxwell dan Ayesha pun akhirnya menginap di rumah sakit malam ini. Pihak manajemen pun spontan dibuat kelabakan karena tidak ada lagi ruang kosong di dekat kamar Grace dan sang kakek yang berdampingan. Namun kemudian Ayesha memudahkannya untuk sekedar menyiapkan ekstra bed untuknya dan suaminya tidur di ruangan yang sama dengan sang kakek. Ruangan pun diatur sedemikian rupa. Lemari yang tersedia dijadikan sekat untuk ekstra bed yang ditempati Ayesha dan suaminya. Sedangkan Ahmed tidur di sofa panjang di dekat bed pasien, sir Vladimir.


Menjelang pukul 10 malam, Ayesha dan Maxwell pun sudah terlelap di kamar dadakan mereka, meninggalkan Ahmed yang masih terjaga di sisi sang kakek yang sudah terlebih dulu beristirahat karena pengaruh obat.


Ahmed yang merasa gerah pun kemudian beranjak dari sofa dan setelah memastikan kondisi sang kakek yang aman dan pintu ruangan yang sudah terkunci, pria tampan bermata biru itu pun masuk ke kamar mandi di belakang sofa, yang terletak di tengah ruangan, sebelum ruangan bersekat lemari dimana sang pasangan suami istri saat ini terlelap di balik sana. Namun sebelum langkahnya mencapai pintu kamar mandi, pria berusia 30 tahun itu mendengar sesuatu di luar. Ia seperti mendengar langkah-langkah kaki yang perlahan mendekati ruangan mereka saat ini. Ahmed pun urung meneruskan niatnya untuk membersihkan diri ke kamar mandi. Ia sekarang berjalan menuju pintu ruangan rawat inap sang kakek dan berhenti tepat di depan lubang pengintai untuk melihat siapa yang datang. Ahmad tercenung sesaat ketika mengetahui siapa yang sekarang sedang berdiri di depan pintu di sebelah ruangannya saat ini yang tak lain adalah Mark. Rupanya suara yang dia dengar bukan menuju ruangannya tetapi menuju ruangan di sebelahnya. Dengan rasa penasaran, Ahmad terus memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh sang pengawal kepercayaan adik iparnya tersebut. Sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tatkala mengingat bagaimana sikap Mark selama ini terhadap pasien penghuni kamar di sebelahnya, yang tak lain adalah Julia Grace. Ahmad tahu bahwa diam-diam sang pengawal tersebut mempunyai perasaan lebih terhadap dosen muslimah cantik itu. dengan penuh rasa ingin tahu Ahmad pun terus mengikuti setiap gerakan yang dilakukan oleh bodyguard asal Rusia itu.


Mark yang tidak menyadari bahwa setiap gerak-geriknya diperhatikan oleh Ahmad yang mengintip dari lubang pengintaian kamarnya saat ini berdiri gelisah di depan pintu ruangan Grace. Pria tampan bertubuh kekar tersebut nampak gelisah. beberapa kali tangan kanannya terayun untuk mengetuk pintu tetapi dibatalkan. lelaki bertubuh tinggi itu nampak ragu dan tidak mempunyai keberanian sama sekali bahkan untuk mengetuk pintu kamar wanita yang dicintainya yang saat ini berada di sana. beberapa kali urung mengetuk pintu dan beberapa kali pula iya mengusap rambutnya dengan galau. kurang lebih 10 menit lamanya pria yang biasanya nampak dingin dan tegas itu itu berdiri tanpa kepercayaan diri di depan pintu kamar rawat Grace yang masih mengintainya sejak tadi bahkan merasa bosan menunggu. Akhirnya dengan maksud membantu Mark yang tak kunjung mempunyai keberanian, Ahmad mendapatkan sebuah ide. Diraihnya ponsel di sakunya dan kemudian menelpon seseorang.


Mark yang sejak tadi masih berdiri gelisah di depan pintu ruangan rawat inap Grace mendadak terkejut karena tiba-tiba pintu di depannya terbuka. sesosok wanita tua yang tidak lain adalah Bibi Christine muncul di depan pintu. Mereka pun saling berhadapan.


"Silakan masuk Tuan Mark", sapa sang Bibi.


Mark yang cukup terkejut karena langsung dipersilakan masuk menjadi lebih gugup, tapi dia mencoba menutupi kegugupannya dengan bersikap biasa saja sambil memikirkan sesuatu.


"Tuan Mark, bolehkah saya titip adik saya sebentar?"


" Anda mau ke mana Bibi Christine?"


" Tdak kemana-mana Tuan, tetapi saya ada keperluan di kamar mandi"


"Oh silakan saja".


"Terima kasih Tuan"


Sambil masih memikirkan sikap aneh Bibi Christine yang tiba-tiba membuka pintu dan menyuruhnya masuk serta menitipkan Grace padanya tanpa rasa sungkan, Mark pun kini mendekati Grace yang saat ini sedang berbaring di bed pasien. Dosen muslimah yang masih menggunakan jilbab tersebut ternyata belum sepenuhnya tidur. Ketika mendengar suara langkah kaki Mark dia pun membuka matanya dan tentu saja terkejut mendapati laki-laki yang sejak tadi berada dalam kepalanya itu saat ini tiba-tiba muncul di hadapannya.


"Tuan Mark? Mengapa anda tiba-tiba muncul di sini?Apakah aku bermimpi?", Grace mengusap-usap matanya karena dia merasa dia barusan tertidur dan ini mungkin memang mimpi.


"Ya. Anda bermimpi gadis aneh...", jawab Mark.


"Oh iya....tentu saja aku bermimpi...aku kan sedang tidur tadi....mengapa aku bodoh sekali memikirkan seorang pria sepertimu, hah?"


Grace benar-benar percaya apa yang dikatakan oleh Mark bahwa saat ini ia memang sedang bermimpi.


"Memangnya Mengapa jika engkau memikirkan Pria sepertiku? Bukankah aku layak menjadi pria yang engkau pikirkan?"


"Siapa bilang engkau adalah pria yang layak aku pikirkan? Engkau adalah pria yang sangat arogan Engkau juga pria yang sangat dingin dan tidak menyayangi perempuan. Selain itu kita juga tidak seiman. Untuk apa aku memikirkan pria sepertimu?Wah aku bodoh jika pernah berpikir pria sepertimu akan menyukai wanita sepertiku. Engkau pernah menyelamatkan ku kan itu hanya dalam rangka tugas, bukan karena bersimpati kepadaku. Apalagi saat ini ini aku sedang sakit seperti ini. Ah, Nyonya Ayesha terlalu mengada-ngada. Mana ada seorang pria yang mau menikahi wanita untuk merawatnya bukan? Yang benar saja...apalagi pria sepertimu...tidak mungkin mau menikahi wanita yang sedang sakit sepertiku dan merawatku sebagai suami yang benar-benar tulus menyayangi istrinya dan mau merawatnya ketika sakit seperti ini. Ah, Nyonya Ayesha memang sangat berhati mulia sehingga dia selalu berbaik sangka kepada siapapun termasuk pria sepertimu. Ah aku tidak ingin bermimpi lagi. Sudahlah! Pergilah! Apalagi kita tidak seiman. Aku tidak akan mungkin menikah dengan pria yang tidak seiman denganku. Pergilah! Pergilah dari mimpiku! Aku ingin tidur. Mudah-mudahan besok aku akan bertemu dengan pria yang dikatakan Nyonya Ayesha itu. Pergilah! Pergilah! Pergilah! Aku ingin tidur tanpa memikirkan pria sepertimu lagi Mark!"


Terperangah mendengar semua kata-kata wanita cantik berjilbab di depannya, kini Mark pun tahu apa yang sedang ada di dalam pikiran wanita yang ada di depannya saat ini. Seraya tersenyum, Ia pun kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku celananya. Sebuah kotak biru kecil sekarang ada dalam genggaman tangan kanannya. Perlahan ia julurkan benda tersebut dan menyodorkannya tepat di depan pasien wanita yang saat ini berpikir sedang bermimpi itu.


" Miss Julia Grace, menikahlah denganku! Jika engkau bersedia, maka aku akan bersedia menjadi pasangan hidup yang seiman denganmu, bahkan merawatmu sebagai suami yang baik. Apakah engkau mau?"


"Wah indah sekali mimpi ini. Seandainya ini benar-benar terjadi tentu aku mau", Grace tersenyum menerima kotak kecil yang saat ini terbuka dengan sebuah cincin indah terlihat di dalamnya.


"Dasar wanita aneh dan bodoh. Engkau saat ini tidak bermimpi. Bukalah benar-benar matamu itu dan lihat aku baik-baik. Terimalah cincin ini sebagai buktinya. Kau mengerti? Besok aku akan menemuimu kembali".


Karena khawatir tidak bisa menahan dirinya untuk mencium dan memeluk wanita yang dicintainya yang saat ini terlihat sangat menggemaskan itu, Mark pun kemudian pergi meninggalkan sebuah kotak berisi cincin bermata biru di tangan Grace. Perlahan dibukanya pintu dan bodyguard kepercayaan Mark itu pun keluar sembari mengulum senyum dengan mata berbinar.


Sementara itu Grace yang masih merasa dirinya sedang bermimpi kini tersentak kaget. Sang Bibi yang sejak tadi diam diam menyaksikan semuanya dari balik lemari itu tersenyum dan mendekati sang adik.


"Dasar gadis yang benar-benar bodoh. Kau pikir kau masih bermimpi saat ini?"


Wanita tua itu kemudian mencubit hidung sang adik dengan gemas. Grace hanya mengerjapkan matanya dan sontak kaget melihat benda yang ada di tangannya.


"Astaghfirullaahal'adziim.... jadi ini bukan mimpi Kak?"


Gadis cantik itu pun menepuk pipinya sendiri.


" Ya ampun....betapa malunya aku...", pipinya pun merona merah. Dia merasa sangat malu sekarang ini membayangkan apa yang telah dikatakannya di depan Mark barusan. Sang kakak yang berbeda keyakinan dengan sang adik itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum.


"Nyonya memang Cerdas sekali", batin Bibi Christine.