A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 77. Aku Pergi Dulu Sebentar



Assalaamualaikum readers,


Maaf kan author ya tidak tepati janji update setiap hari....🙏🙏🙏


Mohon doanya untuk ayah author karena saat ini beliau sakit keras. Author sedang di kampung ini untuk merawat beliau bersama saudara author yang lainnya. Thanks a lot readers atas pengertiannya. Author akan tetap usaha update di sela-sela waktu yang ada ya. Sorry ya.... 🙏


*************


Maxwell terlihat berbincang dengan serius bersama Ahmed di room nomor 100 yang berjarak sekitar 100 meter dari kamar mereka berdua. Ruangan khusus pemilik Powell Resort itu memang privasi hanya keluarga Maxwell yang menggunakan. Isinya seperti ruang keluarga.


Ahmed nampak menarik nafas berat setelah mendengarkan semua penuturan adik iparnya tersebut.


"Baiklah jika itu menurutmu lebih baik walaupun sebenarnya aku tau Ayesha pasti tidak suka engkau tinggalkan. Ia lebih suka menanggung segala resiko bersama sang suami, apapun itu".


"Aku tau Ayesha bukan wanita biasa, namun aku tak mau membahayakan hidupnya lebih jauh. Aku sedang akan memasuki markas harimau. Tidak akan kubiarkan resiko kematian lebih mendekat ke Ayesha sementara aku sendiri dengan jelas sudah mengetahuinya".


"Untuk inikah engkau melatih diriku begitu memasuki kediamanmu ini?"


"Ya. Aku harus pastikan kakaknya ini memang layak untuk menjaga istri tercintaku, bukan? Dan aku sudah melihat kemampuanmu Brother. I can count on you", Maxwell tersenyum sembari menepuk bahu Ahmed pelan.


"Sure. Insyaa Allah, Allah will take care us all here. Just go ahead. Aku doakan engkau berhasil".


Mereka pun berpelukan sesaat. Maxwell kemudian pergi. Ketiga orang body guard-nya yang dari Rusia sudah menunggu di depan pintu. Sementara, tak jauh dari kamar tersebut, Peter dan Jack berikut semua anak buah Maxwell terlatih berjaga pada pos mereka masing-masing. Ahmed yang sudah mendapatkan gambaran yang jelas tentang posisi pos tersebut hanya bisa menarik nafas panjang. Ia baru benar-benar merasakan aroma dunia mafia yang selama ini melingkupi kehidupan Maxwell. Dunia yang tidak benar-benar bisa memberikan ketenangan bagi para pemerannya meski bahkan di tempat rekreatif sekalipun juga bahkan di kandang sendiri. Powell resort yang saat ini dia tempati adalah salah satu benteng Maxwell, markas yang lumayan besar di samping resort tersembunyi Maxwell lainnya yang merupakan markas utama.


Waktu sudah menunjukkan setengah jam setelah awal sholat Subuh ketika Ayesha menyadari dia masih sendiri di dalam kamarnya. Ia berpikir Maxwell akan segera kembali setelah Subuh berjamaah bersama kakaknya di mushollah, namun setelah ditunggu-tunggu sosok yang selalu dirindukannya itu tidak muncul juga. Wanita cantik itu sudah siap dengan pakaian olah raganya ketika ia kemudian membuka ponselnya dan tercenung dengan pesan Maxwell yang dikirimkan sebelum Subuh. Hatinya diliputi pertanyaan yang membuatnya gelisah.


Honey, maafkan aku. Aku pergi dulu sebentar ya. Bersenang-senanglah di sini untuk melepas rindu bersama kakakmu. Namun Ingatlah. Dunia mafia-ku masih mengelilingiku. Tetaplah waspada meski di sini adalah markas ku. Meminjam bahasa Syekh Hasan, kutitipkan dirimu pada Rabb dan kakakmu. Allah-lah sebaik-baik penjaga. Sampai ketemu kembali beberapa hari ke depan, Insyaa Allah. Ohya, hari resepsi pernikahan kita dua minggu lagi. Meski bidadariku ini selalu cantik memakai pakaian apapun, namun jangan lupa untuk fitting pakaian pengantin kita, hm?


Ayesha tersenyum membaca bagian akhir chat suaminya namun kemudian beristighfar dengan perasaan cemas. Sudah tiga kali ia mengulang membaca isi pesan suaminya dan akhirnya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuknya. Ya Allah, jagalah suamiku, di manapun ia berada, lirihnya dalam hati. Wanita bercadar itu kemudian bangkit dari sofa kamar yang didudukinya tersebut dan keluar untuk menemui Ahmed saudaranya. Ia ingin mengajak sang kakak untuk jogging bersama. Namun baru saja ia membuka pintu kamar, seraut wajah yang ingin ditemuinya tersebut sudah muncul di sana dengan seulas senyuman.


"Kakak?"


"Apakah adikku ingin mengajakku jogging pagi ini?"


"Kakak selalu tau isi hatiku"


"Tentu saja. Bukankah aku satu-satunya saudaramu yang lahir dari rahim yang sama? Ayolah! Yang lain pikirkan nanti saja"


Ayesha mengernyitkan dahi.


"Tentu. Mari kita nikmati dinginnya pagi di resort raksasa ini. Hutang penjelasan darimu kutunggu setelah ini"


Ahmed nampak tak peduli dengan perkataan Ayesha.


Keduanya pun bergerak dan kini sudah mulai beraktivitas dengan semangat berlari kecil mengelilingi resort. Ayesha berusaha menghalau rasa penasarannya akan kepergian sang suami di saat suasana romantis masih sedang hangat-hangatnya hadir dalam hidup mereka. Bahkan ini adalah bulan madu mereka, begitu istilah yang digunakan Maxwell untuk keberadaan mereka selama beberapa hari ini di pantai dan di kaki gunung ini. Untuk mengusir perasaan yang tak menentu dalam aktifitas jogging ini, ia pun bertekad, meski sangat luas, namun ia harus mampu mengelilingi wilayah wisata sekaligus markas kedua sang suami yang masih berada dalam dunia mafia tersebut. Ada banyak rasa penasaran menyelimuti hatinya dan ia ingin sepenuhnya memahami dunia Maxwell agar tahu bagaimana cara membuat sang suami keluar dari zona penuh resiko itu.


Setelah satu jam jogging dan terkadang berjalan kaki santai, Ayesha dan Ahmed tiba di sebuah taman kecil yang dilengkapi dengan beragam peralatan Gym. Mereka berdua kemudian memutuskan untuk berhenti dan kini sudah duduk saling berhadapan di bangku-bangku stainless teel yang berada di antara fasilitas olah raga di sana.


"Mau minum?", tanya Ahmed.


"Memangnya ada minuman di sekitar sini?", Ayesha balik bertanya.


Ahmed tidak menjawab. Matanya tertuju pada sebuah titik dan tangannya memberi isyarat minum. Ayesha hanya memperhatikan tingkah kakaknya dan turut menoleh ke belakang melihat ke arah pandangan sang kakak. Ia tercenung ketika dari jarak sekitar 40 meter dari tempat mereka berada, terlihat seorang pria sedang berjalan membawa nampan berisi beberapa cup dan botol minuman. Pria tersebut semakin dekat dan setelah sampai ke tempat mereka duduk ia pun kemudian meletakkan nampan tersebut ke kursi yang kosong di dekat Ahmed.


"Silakan Tuan dan Nyonya".


"Hai, dari mana Anda tau ini minuman favorit kami berdua?", Ayesha heran melihat apa yang disuguhkan di hadapannya. Dua cup jus jeruk tanpa es dan dua botol air mineral.


"Tuan Maxwell yang memerintahkannya Nyonya. Mohon maaf saya harus segera kembali", sang pria segera berlalu seakan enggan menjawab pertanyaan Ayesha lebih lanjut. Ayesha hanya terdiam dan semakin diliputi rasa penasaran.


"Kakak harus segera menjelaskan semuanya kepadaku. Jangan tutupi apapun atau aku akan marah pada kakak"


"Aku baru saja berjumpa denganmu semalam. Dan dengan Maxwell aku belum sepenuhnya mengenali dirinya. Engkau yang selama ini sudah tinggal bersamanya selama beberapa waktu. Mengapa seakan ada begitu banyak tanya untukku seakan aku lebih banyak tau daripada dirimu?"


"Kak, engkau tau bahwa aku sangat ahli dalam menganalisis bukan?"


"Benarkah?"


"Kedatanganmu ke kamar lengkap dengan pakaian olahraga ke kamarku, perkataanmu agar aku sebaiknya memikirkan sesuatu nanti saja dan kode yang engkau berikan pada pelayan itu di tempat yang masih baru sama sekali untuk kita berdua ini...semua itu...cukuplah tanda bahwa dirimu sudah mendapat info yang lengkap tentang semua hal yang saat ini terjadi"


"So?"


"Kak, ceritakan padaku semuanya. Kemana suamiku sebenarnya? Mengapa tidak mengajakku turut serta?", sorot mata Ayesha terlihat sedih dan menyimpan rasa ingin tau yang amat besar. Ahmed yang melihatnya sekilas hanya tertunduk sambil menikmati jus jeruk di tangannya.


"Ayesha, bagaimana menurutmu jika aku tidak bisa menjawab pertanyaanmu?"


Ayesha terdiam. Dia tau arti ucapan Ahmed. Bagaimanapun usahanya untuk membuat sang kakak berbicara maka hasilnya akan tetap sama. Hanya keinginannya sendiri yang bisa membuat dia bercerita.


"Baiklah. Aku mungkin tidak membutuhkan jawaban dari semuanya bukan?"


"Benar. Tinggallah dengan tenang di sini. Maxwell sudah menyiapkan penjagaan yang ketat untukmu. Aku juga akan menjagamu. Just pray to God, semoga suamimu akan baik-baik saja dan segera kembali paling lambat tiga hari lagi".


"Aamiin", Ayesha mencoba menutupi semua rasa penasarannya. Walau ia bisa menebak tentang hal apa yang membuat suaminya meninggalkannya saat ini, tapi ia tidak bisa menyimpulkan lebih jauh. Ia memejamkan matanya sesaat sebelum kemudian melangkah ke arah salah satu fasilitas Gym untuk melatih kekuatan tangannya. Sementara itu, Ahmed hanya memandangi adiknya dan menarik nafas berat. Maxwell, ku harap kau segera kembali dengan selamat dan sukses untuk menebus kesalahanmu ini dengan segera. Ayesha tak akan memaafkanku jika itu tidak terjadi, gumamnya dalam hati.