
Ayesha dan Maxwell baru saja keluar dari sebuah Panti Asuhan untuk menyalurkan zakatnya ketika terdengar dering handphone dari saku baju Maxwell. Ayesha hanya memperhatikan saja ketika sang suami dengan sedikit ekspresi terkejut menerima suara dari seberang.
"Kau yakin?"
"Lacak segera dan laporkan padaku"
Maxwell menutup teleponnya dan menarik tangan Ayesha bergegas masuk ke mobil. Mereka pun melaju membelah padatnya jalan raya karena waktu menunjukkan pulangnya para warga Sydney dari rutinitas pekerjaan mereka.
"Ada apa By?", Ayesha menggenggam tangan suaminya yang tak lepas memegang tangannya sejak keluar dari panti asuhan. Tangan kanan Maxwell masih sibuk dengan HP nya.
"Patch melaporkan bahwa Bibi Cristine sempat menelponnya dan terdengar suara tembakan, lalu terputus. Bibi belum sempat mengatakan apapun"
"Dimana Bibi?"
"Paman Sam melaporkan pada Patch bahwa Bibi sudah keluar sejak pagi tadi, tak lama setelah kita berangkat ke IC", Maxwell masih sibuk dengan HP nya lalu ia menelpon seseorang. Ayesha hanya diam mengamati.
"Kerahkan orang-orang terbaik kita. Aku tak ingin mendengar kata gagal".
Hubby ternyata sangat menyayangi Bibi Cristine, gumam Ayesha dalam hati.
"Apakah musuh Hubby ingin menjadikan Bibi sebagai sandra?"
"Sepertinya begitu", Maxwell menatap lurus ke depan.
"Mereka melihat Bibi sangat penting dalam hidup Hubby, bukan?"
"Seharusnya tidak. Dia hanyalah pembantuku. Mereka tidak akan mendapatkan apapun"
"Tapi Hubby sangat cemas"
"Dia sudah menjagaku sejak kecil", Maxwell menoleh ke arah Ayesha. Ia tarik tangan kanan sang istri dengan tangan kirinya dan mencium punggung tangannya dengan lembut. Ayesha tersenyum. Sesaat mereka saling berpandangan dan Maxwell kemudian melepas pandangan ke depan dengan tangan mereka tetap saling berpegangan. Ayesha mencoba memahami sikap sang suami yang kini diam tanpa ekspresi. Dia sadar pasti ada pikiran yang sedang berkecamuk dalam benak Maxwell dan belum bisa dibaginya.
Maxwell sesekali menghela nafas. Ia teringat sosok Bibi Cristine. Lelaki dingin itu tak bisa menampik peran perempuan tua itu yang turut membesarkan dirinya bersama nenek angkatnya dulu. Walau hatinya benci dengan sosok wanita tersebut namun ia tetaplah manusia yang tau balas budi. Seingatnya, betapa pun sang bibi sudah membuatnya ill feel pada sosok wanita namun semua hal keras yang dilakukan Bibi Cristine padanya untuk kebaikannya juga ketika sudah dewasa.
Wanita tua itu, meski hanyalah seorang pembantu tapi turut andil dalam pertumbuhan dan perkembangan mentalnya. Dia mengurusnya sebagai seorang baby sitter dengan perlakuan keras selayaknya orang tua sendiri. Tak segan dan tak takut pada mendiang ayah angkatnya yang terkenal dingin dan ditakuti oleh siapapun. Dengan seenaknya di depan George Powell, sang Bibi memukulnya dengan cambuk jika sekali saja Maxwell kecil membangkang perintahnya. Membangunkannya untuk jogging di pagi hari dengan air jika ia malas bangun ketika tidur dan juga mengurungnya di kamar gelap jika ketahuan memakan makanan atau minuman tidak sehat yang sudah menjadi aturan sang bibi. Belum lagi ia juga tak segan menendangnya jika sekali saja melakukan kesalahan ketika latihan menembak karena suka bermain-main. Bahkan, Maxwell remaja pernah ditenggelamkan di kolam renang untuk memberi efek jera karena pernah berteriak padanya menolak pergi latihan bela diri dan berkuda karena keasyikan main games. Waktu itu sang bibi mengikat kaki dan tangannya lalu mendorongnya ke kolam renang. Sang ayah melihat namun hanya diam saja seakan mendukung sang bibi. Hingga akhirnya dengan kekuatan dan kecerdasan Maxwell ia berhasil melepaskan diri dari maut tersebut.
Flash Back
"Hai Baby..", sapa Cristine muda yang waktu itu masih berusia 33 tahun dengan panggilan mesra. Ia menghampiri seorang pria berpakaian casual berkaca mata hitam yang baru saja muncul dari arah sudut restoran hotel. Sang pria menyambutnya dengan senyuman dan seketika mencium pipi Cristine dengan mesra pula. Keduanya kini duduk di salah satu meja yang masih kosong dan menikmati hidangan jus, cake dan puding yang sudah disiapkan Cristine sebelumnya. Di sebuah sudut restoran hotel nampak Maxwell remaja yang kebetulan sedang hang out bersama geng nya di junior high school. Pria muda bermata tajam itu menangkap sosok yang sangat dikenalnya dan seketika mendengus kesal. Dasar murahan, pikirnya sambil terus mengawasi sosok Cristine dengan pandangan muak. Terbayang wajah beberapa pria lain yang pernah dilihatnya bersama Bibi Cristine sebelumnya dan bertingkah sama.
Tak lama setelah menikmati setengah makanan yang tersedia, Cristine dan sang pria beranjak dari duduk mereka dan menuju ke arah kamar hotel. Maxwell yang penasaran dengan baby sitter nya itu permisi ke toilet pada kawan-kawannya dan tentu saja bukan untuk ke toilet melainkan diam-diam mengikuti sang bibi.
"I miss you Baby", kedua tangan Cristine bergelayut mesra di pinggang sang pria dan dibalas pula dengan pelukan mesra oleh si lelaki. Keduanya kemudian memasuki salah satu kamar hotel yang nampaknya sudah di booking sebelumnya. Maxwell sudah menebak apa yang akan mereka lakukan di ruangan tersebut namun jiwa detektifnya menuntunnya untuk memastikan kembali. Perlahan ia melangkah ke kamar sang bibi dan pura-pura membenarkan tali sepatunya ketika ada OB yang memergokinya. Ketika dirasa aman, ia pun berusaha membuka pintu yang terkunci. Tak sulit baginya, dengan kemahirannya yang sudah terlatih, hanya dengan bantuan sebuah pinset yang selalu di kantonginya pintu pun kini terbuka. Tanpa suara, remaja nakal itu pun masuk perlahan dan terpaku melihat pemandangan menjijikkan di depannya. Dengan masih mengendalikan dirinya, ia pun keluar dan kembali menutup pintu tersebut dan menguncinya kembali seperti semula. Ia kembali ke kawan-kawannya dengan perasaan muak dan jijik. Dasar kupu-kupu malam, batinnya.
Flash On
"Hubby, boleh aku bertanya tentang Bibi Cristine?", Ayesha membuyarkan lamunan Maxwell.
"Apa yang ingin Honey tanyakan?"
"Apakah Bibi mempunyai saudara perempuan?"
"Tidak. Semua orang yang bekerja padaku di mansion tidak punya keluarga. Mengapa Honey bertanya begitu?"
"Oh begitu ya? Aku hanya ingin tau saja. Ternyata memang wajah manusia di dunia banyak yang memiliki kemiripan ya..."
"Benar. Kecuali DNA, tidak ada yang bisa dianggap saudara jika dia menghilang jika tidak dibuktikan dengan hal yang tak terbantahkan itu bukan?"
"Hubby benar"
"Apakah Honey melihat ada seseorang yang mirip dengan Bibi?"
"Ah lupakan saja By. Setiap orang di dunia barangkali memang punya kemiripan dengan orang lain. Oh ya ada satu lagi pertanyaan yang ingin Honey tanyakan. Tapi jika Hubby tidak ingin menjawabnya juga tidak apa-apa", Ayesha melirik wajah Maxwell yang sedikit tertegun lalu menoleh ke arahnya.
"Tanyakan saja Sayang...", Maxwell kembali meraih tangan Ayesha dan mencium punggung tangannya. Entahlah mengapa, sejak mereka melewati malam pertama, pria gagah itu sangat suka memegang dan menciumi tangan istrinya jika ada kesempatan.
"Maafkan Honey jika bertanya ini. Honey ingin tau tentang keluarga kandung Hubby. Apakah Hubby tau siapa orang tua kandung Hubby atau keluarga lainnya yang sedarah dengan Hubby?", Ayesha berkata dengan hati-hati. Maxwell terpaku dan menghela nafas.