A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 89. Pertemuan Berdarah



Maxwell dan rombongannya baru saja tiba di bandara Kuala Namu Medan, Indonesia, setelah hampir seharian terbang dari Washington DC. Hari masih pagi dengan matahari yang mulai naik ketika dua fortuner hitam yang disewa konglomerat Ausy itu kini tengah meluncur membelah keramaian kota Medan dan kini mulai memasuki wilayah dingin Sibolangit. Maxwell sudah beberapa kali menelpon Ayesha sebelumnya dan hatinya semakin membuncah ingin bertemu begitu mendengar suara wanita yang selalu menghiasi hatinya tersebut. Ia kembali mengingat bagaimana sang istri menceritakan perjuangannya hingga berhasil melarikan diri dan sementara ini ia berhasil mengecoh Luke. Kerinduan Maxwell sudah memuncak dan ingin rasanya dia terbang cepat dengan Helly seandainya ada saja yang bisa disewa atau dibelinya sekalipun. Namun dikarenakan ia tak mendapatkannya maka ia harus bersabar dengan mengendarai mobil apalagi dengan pertimbangan bahwa membawa Helly akan mengundang perhatian yang mencolok dan musuhnya yang menculik Ayesha akan lebih mudah menyadari kedatangannya.


"Boss, apakah tempatnya masih jauh?", Mark membuyarkan lamunan Maxwell.


Maxwell melirik ponselnya.


"Tidak. Sepuluh menit lagi. The Green Hill Sibolangit", Maxwell terus menatap google map di ponselnya.


Tak lama kini mereka pun sampai di tempat yang dituju. Sebuah resort yang cukup besar dan asri berdiri kokoh di sebelah kiri jalan. Dengan tidak sabarnya, Maxwell pun turun dan langsung menuju lobby dan mendatangi meja resepsionis. Setelah berbasa basi sejenak, sang resepsionis pun menunjukkan nomor kamar Ayesha di lantai dua dan Maxwell pun bergegas menuju posisi kamar yang dimaksud. Sementara ke sepuluh anak buah Maxwell sebagian berjaga di lobby dan sebagian mengikuti sang Tuan dari depan dan belakang dengan sikap penuh kewaspadaan.


Maxwell kembali melihat layar ponselnya. Lima belas menit sebelumnya Ayesha mengirim pesan padanya bahwa ia sedang menunggunya di dalam kamar. Dengan perasaan tak terlukiskan dipenuhi kerinduan hingga menyebabkan debaran jantung yang tak menentu, Maxwell kini sudah berada tepat di depan pintu kamar Ayesha. Ia pun segera mengetuk pintu dan memanggil nama istrinya.


"Ayesha...."


Tidak ada sahutan.


"Ayesha...".


Masih hening.


"Ayesha, ini suamimu Sayang...".


Tetap hening. Maxwell pun semakin galau dan memutar handle pintu di depannya. Ia pun menarik nafas begitu menyadari pintu kamar tidak terkunci. Matanya memandang tajam ke sekeliling dan refleks mengambil pistol dari saku jaketnya untuk mewaspadai segala kemungkinan yang terjadi. Lima orang pengawalnya segera menerobos masuk dan memeriksa dengan sikap tak kalah waspada. Kedua tangan mereka sudah memegang senjata dan mengarahkan ke depan.


"Ayesha...", Maxwell berteriak tertahan. Matanya terus mencari sosok wanita yang memenuhi segenap hati dan jiwanya tersebut. Pengawalnya sudah memeriksa kamar mandi dan balkon namun sosok yang dicari tak kunjung muncul.


Maxwell yang mulai panik mulai ingat dengan ponselnya dan langsung menghubungi sang istri. Namun ia pun semakin menelan rasa penasaran yang tinggi dan kecemasan manakala nomor Ayesha sudah tidak bisa dihubungi.


"Astaghfirullaah...dimana kau Honey...Ayesha...", lirihnya cemas.


Para pengawal Maxwell yang masih sibuk menggeledah isi kamar yang tidak terlalu luas kini kembali ke hadapan sang Boss.


"Tuan, Nyonya tidak ada. Barangkali Tuan mau melihat isi lemari pakaian untuk melihat petunjuk", Mark menghadap Maxwell memberi laporan.


Maxwell segera memandang ke lemari kayu di dalam kamar dan membukanya. Matanya tertegun melihat isinya. Ini bukan milik Ayesha. Tapi bisa jadi ia membeli pakaian baru karena tidak membawa bekal. Dan ini memang pakaian muslimah. Jadi dia sendiri pun tidak sempat berkemas dan artinya ia baru saja pergi, batin Maxwell.


"Periksa balkon. Lihat apakah ada yang mencurigakan", teriak Maxwell.


Anak buah Maxwell yang masih di balkon segera memeriksa dengan teliti dan begitu menemukan sesuatu yang aneh yang berasal dari secarik kain yang menyangkut di atas tembok berpagar besi dari pembatas balkon ia pun melaporkan.


"Tuan, sepertinya Nyonya melompat dari balkon ini ke bawah"


Maxwell melotot dan berlari ke pembatas balkon. Ia melihat ketinggian sekitar delapan meter dari balkon ke lantai bawah dan tanpa menunggu ia pun ikut melompat turun dengan begitu lincah melalui pohon hias di dekatnya. Para ajudan pun mengikuti seperti tupai yang begitu ringan. Mereka pun kini sudah berada di bawah dan tertegun melihat sekeliling yang dipenuhi tanaman hias dengan berbagai fasilitas resort. Halaman hijau nampak luas dan menyajikan jalan memanjang ke arah dalam dan luar resort. Suasana pagi yang cerah nampak belum ramai. Beberapa pengunjung resort terlihat lalu lalang dengan kegiatan mereka masing-masing.


Mark sudah membagi anak buahnya ke beberapa titik untuk menyebar, termasuk yang masih berada di lobby resort dan ada yang ditugaskan untuk melihat rekaman cctv. Pria tangguh itu masih setia mengikuti sang Boss kemanapun melangkah. Di saat mereka setengah berlari mencari Ayesha, dering ponsel Mark memecah ketegangan di antara mereka.


"Apa kau sudah mendapatkan rekamannya?"


"Baiklah"


"Tuan, mari kita lihat rekaman cctv yang sudah diperoleh pengawal kita", Mark menunjukkan HP nya dan meminta Maxwell melihat HP nya sendiri. Mereka berdua pun memutar rekaman yang dikirim dengan seksama. Suasana begitu menegangkan ketika mereka melihat beberapa orang pria mendatangi kamar Ayesha dan wanita bercadar itu membuka pintu kamarnya. Seketika rekaman berhenti dan kini mereka melihat rekaman balkon kamar Ayesha yang memperlihatkan Ayesha melompat dari balkon melalui pohon hias terdekat meluruh ke bawah dengan lincahnya dan diikuti oleh seorang pria yang turut melompat mengejarnya dengan cara yang sama. Selanjutnya aksi kejar mengejar mereka pun tak terlihat lagi.


"Sepertinya Nyonya berpikir yang datang ke kamar Nyonya adalah Tuan", ujar Mark.


"Kau benar. Sepertinya dari tubuhnya itu Luke. Dia sudah menemukan Ayesha lebih dulu. Oh God", sahut Maxwell cemas.


Maxwell dan Mark pun refleks berlari ke arah Ayesha berlari yang terlihat di cctv dan diikuti oleh yang lainnya. Mereka terus membelah jalanan pagi di resort tanpa mempedulikan tatapan heran orang-orang di sekeliling mereka hingga tibalah mereka di hutan bambu yang masih sunyi. Mark menyebar anggotanya dan ia sendiri bersama Maxwell masuk melalui akses utama. Tanpa lelah keduanya terus berlari hingga terdengar suara sesuatu terjatuh. Mark menatap sesosok tubuh di depannya yang tergeletak dengan luka memar di wajahnya.


"Siapa kau?", tanya Mark.


Sang pria yang baru saja terjatuh dari ketinggian tersebut menatap ke arahnya dengan pandangan nanar.


"Kau anak buah Luke bukan?", Maxwell mengenali wajah di depannya yang pernah turut menculiknya di pulau.


"Katakan di mana tuanmu", Maxwell sudah menodongkan pistolnya ke pelipis sang pria. Namun orang yang ditodong hanya diam.


Mark memukul wajah di depannya untuk mengancam kembali. Darah segar pun muncul di sudut bibir sang pria.


"Bicaralah atau peluru ini akan membawamu ke neraka. Pistol kami menggunakan peredam suara, cukup bagiku memasukkan mayatmu ke danau buatan dan tidak akan ada yang tau perbuatan kami karena di sini tidak ada cctv"


"Cepat katakan, di mana tuanmu membawa Ayesha istriku", Maxwell sudah tak sabar.


Mark kemudiaan memukul tengkuknya dan menyenderkan badan pria yang sudah tertotok tersebut ke pohon bambu di dekatnya.


Maxwell dan Mark merengsek ke dalam hutan bambu. Baru saja mereka berlari masuk, sebuah suara yang paling dirindukan Maxwell terdengar dari sela-sela pohon bambu.


"Lepaskan aku, Luke. Tolong lupakan aku dan carilah wanita lain yang masih sendiri", Ayesha terus melangkah mundur. Sementara Luke terus mendekat dengan pistol di tangannya.


"Tidak. Hanya engkau yang pantas bersamaku. Tinggalkan Maxwell. Aku bisa memberikanmu kebahagiaan. Percayalah! Engkau akan menjadi ratu dalam hidupku Ayesha"


"Luke. Jika itu maumu, maka engkau hanya akan mendapatkan mayatku saja."


"Tidak Ayesha. Menyerahlah. Aku tidak mungkin menyakitimu"


"Aku juga tidak akan mengkhianati suamiku"


"Ayesha, kemarilah, di belakangmu tidak aman. Kau bisa terjatuh", teriak Luke. Di belakang Ayesha tanah mulai menurun.


Ayesha melirik ke belakang sekilas dan kembali menatap Luke namun seketika ia tersenyum melihat siapa yang berada di belakang penculiknya tersebut.


Luke yang mulai menyadari sesuatu seketika berbalik dan tercengang. Tanpa menunggu, Maxwell yang tepat berada di belakangnya langsung menyerang Luke dengan tembakan yang tepat mengenai pistol di tangan kanan Luke yang memegang senjata. Namun Luke tidak tinggal diam. Meski pistolnya terlepas ia segera membalas menyerang dengan tendangan kaki ke arah Maxwell. Keduanya kini terlibat aksi saling serang dan Maxwell pun berhasil menembakkan pelurunya untuk kedua kalinya ke perut bagian kiri Luke. Kini pria yang sudah berlumur darah tersebut jatuh terduduk sambil memegangi perutnya. Maxwell menodongkan pistolnya ke kepala Luke dengan mata menyala.


"Pergilah atau aku berubah pikiran menggiringmu ke neraka sekarang juga Luke", Maxwell masih mendongkan pistolnya.


"Bunuh saja aku. Aku tidak takut"


"Kau...masih mau sesumbar tidak takut mati?"


"Aku tidak takut. Untuk seorang pecundang sepertimu yang hanya berani melawan orang yang tak bersenjata...untuk apa takut hah?"


Luke mulai memprovokasi.


Maxwell serta merta melempar pistolnya ke arah Mark dan Mark pun menangkapnya.


"Ayo jika kau memang ingin melawanku", Maxwell menatap Luke dengan geram.


Luke tak menyiakan kesempatan. Ia pun bangkit dan mengarahkan pukulan ke arah Maxwell sekuat tenaga. Maxwell menghindar namun tidak balas menyerang. Ia hanya bergerak menghindari semua serangan Luke yang mulai membabi buta hingga akhirnya Luke terjatuh dengan sendirinya sambil terus memegangi perutnya yang semakin banyak mengeluarkan darah. Ayesha yang menyaksikan semuanya kini bergerak menghambur ke sang suami. Ia memeluknya dari belakang.


"Hubby. Sudahlah!"


"Ayesha...", Maxwell pun berbalik dan memegangi wajah Ayesha yang bercadar. Ia balas memeluk wanita yang selalu dirindukannya tersebut. Tidak berlangsung lama, Ayesha melepas pelukannya dan menatap ke arah Luke yang hanya berlutut merasakan sakit. Bukan hanya fisik yang sakit, namun batinnya juga, menyaksikan pemandangan wanita tercinta di depannya bersama orang yang dibencinya.


"Luke. Sudahlah. Ku mohon berhentilah dari ambisimu dan obsesimu! Aku mohon kembalilah!"


"Tidak. Bunuh saja aku sekarang, atau kelak aku akan kembali menjemputmu dan membunuh suamimu"


"Kau...", Maxwell menggeram dan berbalik kembali ke arah Luke. Diambilnya pistol secepat kilat dari tangan Mark dan menembakkannya ke kepala Luke. Peluru nyaris mengenai sasarannya jika saja Ayesha tidak dengan cepat memegang tangan Maxwell hingga alat pencabut nyawa itu pun meleset dan hanya mengenai pohon bambu di dekat Luke. Luke terkesiap dan dengan sinis menatap Maxwell.


"Pelurumu masih ada bukan? Tembaklah lagi, aku tidak takut"


Ayesha kembali menurunkan tangan Maxwell dan perlahan mengambil pistol dari genggaman tangan Maxwell dan menyimpannya ke saku. Wanita berjilbab segi empat dengan bross emas putih di dada kirinya itu menggelengkan kepala menatap Maxwell.


"Hubby. Istighfarlah! Ingat, jangan kotori tangan Hubby dengan pembunuhan lagi. Please! Jangan terpancing emosi lagi. Lihatlah aku, yang penting aku sudah ada di sisimu sekarang tidak kurang sesuatu apa pun. Lepaskanlah Luke. Biarkan dia. Ayo pergi. Aku ingin pulang kembali ke Ausy", Ayesha berbisik pelan ke telinga Maxwell. Matanya memandang sayu ke wajah suaminya yang sedang menahan amarah. Maxwell seakan terhipnotis dan kini melihat ke arah Luke.


"Aku memaafkanmu kedua kalinya. Setelah ini jangan harap ku lepaskan", Maxwell pun menarik lengan Ayesha dan bergegas meninggalkan Luke seorang diri. Luke meludahkan liurnya ke tanah dan hanya bisa menatap kepergian orang yang diinginkannya dan dibencinya dari jauh. Mendadak matanya menangkap bayangan seseorang yang dikenalnya mendekat perlahan ke arah Maxwell dan ia melihat pucuk senjata menyembul dari balik baju orang tersebut. Dengan gerakan tiba-tiba tangan sosok tersebut meraih senjatanya dan menembak ke arah Maxwell namun sang wanita di sisinya tiba-tiba berbalik dan berdiri menghalangi tubuh pria di sisinya dengan kedua tangannya yang membentang. Luke berteriak memanggil nama wanita yang dicintainya namun terlambat.


Dorrrr!


Dorrr!


Dorrr!


"Ayesha....Tidakkkk!!!", teriak Luke yang hanya bisa diam berlutut di tanah seperti posisi semula.


Tiga buah tembakan terdengar pelan karena berperedam. Luke hanya melotot menyaksikan apa yang terjadi. Mulutnya menganga tak percaya. Ayesha jatuh bersimbah darah, sementara sosok yang dikenal Luke luruh ke tanah dengan dua luka tembak di dada. Mark mendekatinya dengan pistol di tangan. Menyeret tubuh tak bernyawa itu ke bawah pohon bambu dan menyembunyikannya di sana.


"Joeris...", desis Maxwell ketika melihat sang pelaku. Pria itu meluruh memegangi sang istri yang duduk memegangi dada sebelah kiri. Darah keluar merembes dari balik baju putih Ayesha. Mata biru sang wanita cantik mengerjap perlahan hingga kemudian terpejam.


"Ayesha....Ayesha....!!!", lirih Maxwell dengan suara gemetar sambil memegangi tubuh sang istri. Matanya melotot seolah tak percaya menyaksikan apa yang terjadi. Air matanya lolos begitu saja tak dapat dicegah. Sejenak Maxwell bingung dan tak berbuat apapun sampai terdengar teriakan Luke menyadarkannya.


"Bawa Ayesha ke rumah sakit, Bodoh !!!! ", suara Luke menggema memenuhi kepala Maxwell. Refleks Maxwell menggendong Ayesha dan bersama Mark mereka pun berlari menuju Fortuner hitam di parkiran. Kawanan pengawal lainnya pun sudah stand by mengikuti karena sudah mendapat perintah dari Mark. Setelah mendapat info dari warga, kedua mobil mewah itu pun segera meluncur menuju rumah sakit terdekat dengan kecepatan penuh. Sementara beberapa orang berpakaian security mulai menghambur mendatangi lokasi pertarungan di hutan bambu Green Hill. Mereka masih bingung dengan apa yang terjadi. Sebelum mereka sadar atas semuanya, Luke dan seorang anak buahnya yang sudah sadar dari totokan Mark kini diam-diam sudah pergi meninggalkan lokasi. Meninggalkan mayat Joeris yang belakangan baru ditemukan oleh pihak keamanan.