
Pria tinggi tegap bertato di dada yang nampak menyembul dari kerah bajunya itu menarik nafas sejenak. Ia melirik arlojinya dan kemudian menarik dan mendorong gagang pintu kamar di depannya. Sesampai di dalam kamar nan luas bernuansa putih itu ia pun menatap ke sekeliling dan segera menemukan sang penguasa yang duduk di kursi roda membelakanginya.
"Kemarilah!", perintah sang penguasa yang sudah nampak tua. Usianya sekitar 80 tahun.
Sang pria yang baru saja masuk pun terus melangkah mendekat dan kini berdiri di hadapan sang Tuan setelah membungkuk hormat.
"Kau sudah membereskan wanita busuk itu?"
"Aku sudah memenjarakannya di markas eksekusi Tuan"
"Bagus. Habisi wanita busuk itu segera. Nyawa harus dibayar dengan nyawa", sang Tuan nampak menahan amarah.
"Lalu bagaimana dengan Tuan Muda Ketiga, Tuan Besar?"
"Kau laksanakan saja perintahku. Kau mengerti?"
"Baik Tuan"
"Selain wanita gila itu, pastikan juga pergerakan para kelompok mafia lainnya berada dalam kendali kita"
"Mereka belum bergerak Tuan Besar, tapi kita harus tetap waspada"
"Aku tidak ingin kecolongan lagi. Beri satu pelajaran pada salah satu kelompok untuk efek jera pada yang lainnya"
"Bagaimana jika kelompok Tiger Tuan Besar?"
"Good. Habisi mereka!"
"Baik Tuan Besar. Yang lain tentu akan ketakutan dan tidak akan berani lagi menyentuh kita dan juga Tuan Muda Cucu Tuan Besar"
"Kau cerdas, Pavlo! Kau memang bisa ku andalkan!"
"Terima kasih Tuan Besar. Anda telah menyelamatkanku. Aku bersumpah akan mengabdi pada Anda"
Sang pria bernama Pavlo kembali mengingat dirinya tatkala terjebak dalam konspirasi para penguasa di negaranya hingga ia harus dideportasi dengan tidak hormat dan akhirnya terdampar dan mendapatkan perlindungan Sang Tuan Besar.
"Aku tidak suka menerima balas budimu"
"Tapi aku menyukainya Tuan"
"Balaslah dengan memastikan kehidupan cucuku ke depan akan terus baik-baik saja. Aku hanya memiliki satu orang cucu generasi penerus. Aku tak ingin ada yang menyentuhnya lagi walau seujung kuku"
"Anda yakin hanya memiliki satu orang cucu Tuan?"
"Maksudmu?"
"Ada temuan terbaru yang akan ku sampaikan hari ini pada Tuan dan semoga Tuan menyukainya"
Sang ajudan bernama Pavlo kemudian mengulurkan sebuah foto lama yang diambil dari dalam sakunya. Sang Tuan Besar pun menerimanya dan nampak terkejut. Sebuah foto lama berisi seorang pria yang sangat dikenalnya sedang menggendong seorang anak perempuan bersama seorang wanita. Di sisi sang wanita juga berdiri seorang remaja perempuan.
"Abraham", gumamnya lirih.
"Aku menemukan foto ini di kediaman wanita busuk itu Tuan. Silakan Tuan lihat tanggal di belakang foto tersebut"
Sang Tuan pun menuruti perkataan Pavlo. Dahinya mengernyit.
"Ini sebelum Abraham mengalami kecelakaan itu. Apa maksud semua ini?"
"Tuan Muda Abraham telah menikahi wanita lain dan mempunyai anak darinya"
"Wajah anak perempuan ini sangat mirip dengan neneknya", batin Sang Tuan Besar. Seketika Sang Tuan Besar pun teringat mendiang istrinya yang Abraham dan Sofia sendiri juga mungkin tidak sempat mengingat sang ibu, karena ketika mereka berdua masih balita sang ibu sudah meninggal dunia akibat sakit kanker. Sang Tuan Besar pun tersenyum. Ada kebahagiaan membuncah di hatinya. Bagaimana tidak, kekhawatirannya akan kutukan tidak mempunyai generasi penerus kini sudah dipatahkan bahkan ia langsung mendapatkan dua orang. Satu orang cucu laki-laki yang bisa diandalkan dan satu cucu perempuan yang bahkan sangat mirip dengan istri yang dicintainya.
"Lalu siapa remaja putri ini?"
"Tuan Muda menikahi seorang janda Tuan. Itu putrinya yang pertama"
"Abraham menyembunyikan ini sekian lama?"
"Tuan Muda sendiri bahkan tidak menyadari kedua istri dan anaknya tersebut, Tuan"
"Maksudmu?"
"Bukankah akibat kecelakaan tersebut Tuan Muda hilang ingatan sebagian Tuan?"
"Jadi...itulah sebabnya Abraham tidak mengingat anak dan istrinya sendiri....?"
"Benar, Tuan", Pavlo berhenti sejenak.
"Wanita busuk itu lebih dulu mengetahui tentang madunya dan anak perempuan Tuan Abraham sehingga itulah yang mengubahnya menjadi iblis wanita yang serakah, Tuan. Dia tidak rela suaminya memiliki anak dari wanita lainnya sedangkan ia berencana untuk menjadikan anak adiknya yang sakit itu menjadi anak adopsinya dan menjadikannya pewaris harta keluarga. Bom yang dipasang oleh orang suruhannya tersebut dimaksudkan untuk membunuh Tuan Muda Maxwell sekaligus anak madunya juga, namun Tuhan telah menyelamatkan keduanya "
"Sungguh iblis! Shit!!!!", Sang Tuan Besar semakin menggeram marah.
"Satu lagi temuan tentang wanita tersebut, Tuan. Aku harap Tuan mampu menahan kemarahan Tuan. Aku tidak ingin Anda jatuh sakit karena ini"
Sang Tuan Besar Alexander al Qudri pun menduga sesuatu.
"Apakah kecelakaan Abraham waktu itu ada kaitannya dengan wanita busuk itu?"
"Benar Tuan. Dialah dalangnya. Ia bermaksud mencelakai madu dan anaknya namun taqdir berkata lain. Waktu itu Tuan Muda tidak jadi bepergian dengan anak dan istri keduanya dan terjadilah kecelakaan yang salah sasaran tersebut".
Seketika wajah Sang Tuan Besar merah padam.
"Biadab. Ia bahkan ingin membunuh suaminya sendiri. Pastikan ia mati mengerikan Pavlo", Sang Tuan Besar menahan dirinya sendiri dari kemarahan yang memuncak.
"Katakan, Pavlo. Apalagi yang engkau ketahui"
"Selama ini, sebelum pengeboman mobil terakhir, putri Tuan Abraham dari istri keduanya tersebut juga sudah sering mengalami percobaan pembunuhan, dan semuanya didalangi oleh wanita busuk tersebut".
"Shitttt!", sang Tuan menggemeretakkan giginya.
"Ceritakan padaku tentang putri Abraham, cucu perempuanku"
"Namanya Julia Grace. Dia seorang dosen di sebuah kampus besar di Sydney saat ini. Baru-baru ini, ketika resepsi pernikahan Tuan Muda digelar, dia hampir saja tewas akibat kecelakaan yang juga di rekayasa oleh wanita busuk itu. Saat ini Nona Muda sedang dirawat akibat kecelakaan tersebut. Kakinya patah, dan lebih dari itu, saat ini jiwanya juga terguncang akibat kematian kakak tirinya yang selama ini menjadi sandaran hidupnya. Namanya Christine. Ia turut tewas dalam ledakan mobil tersebut. Beruntung Nona Muda luput dari ledakan tersebut karena ia turun untuk ke toilet bersama pengawalnya, Mark, yang juga anak buahku sewaktu di Moskwa, Tuan"
Sang tuan besar pun terkejut. Ia memandang lekat Sang ajudan di dekatnya.
"Apa? Lalu bagaimana sekarang keadaannya? Siapa yang merawatnya?"
"Nona Muda sepertinya sudah menikah mendadak dan saat ini dirawat oleh suaminya Tuan Besar"
"Suaminya adalah bodyguard-nya sendiri, maksudku pengawal Tuan Muda Maxwell"
"Maksudmu Mark? Anak buahmu itu?"
"Ya Tuan", Pavlo menggigit bibirnya sendiri. Ia merasa takut membayangkan jika Mark tidak diterima di hati sang penguasa di hadapannya tersebut.
"Bagaimana bisa cucuku menikah dengan seorang pengawal?", Sang Bos Besar mengernyitkan dahinya.
"Sepertinya Nona Muda dan sang pengawal saling jatuh cinta Tuan. Sang pengawal pernah menyelamatkan Nona Muda dari percobaan pembunuhan"
"Apakah Mark pria yang baik?", sang Bos menatap gusar.
"Jangan khawatir Tuan. Mark seorang pria yang selama menginjak dewasa belum pernah bermain dengan perempuan. Aku sudah mengenalnya selama lebih dari 10 tahun di Rusia", Pavlo menunduk. Ia membayangkan kesetiaan Mark selama menjadi bawahannya dan seluruh pengabdian yang diberikan pria itu padanya sejak ia ikut dengannya setelah menjadi seorang remaja yatim piatu.
"Pastikan dia tidak akan pernah menyakiti hati cucuku, jika tidak, kau sendiri yang harus memenggal lehernya"
"Baik Tuan", Pavlo menelan ludahnya yang pahit.
"Lalu bagaimana dengan istri cucuku. Bukankah saat ini dia sedang mengandung cicit ku?"
"Benar Tuan Besar, tapi Anda tidak usah khawatir karena Nyonya Ayesha bukanlah wanita biasa. Ia seorang wanita yang sangat hebat. Meski keterpurukan di tengah kematian keluarganya yang tragis tapi ia nampak kuat menghadapi semuanya. Aku yakin Nyonya Muda akan baik-baik saja.
"Tapi kau harus memastikan bahwa cucu menantuku dan calon cicit ku baik-baik saja. Kepergian suaminya yang dianggap tewas tentu sangat menyedihkan hatinya....",
"Baik Tuan Besar"
"Pastikan cucuku segera pulih dan ia bisa berkumpul kembali bersama istri dan calon anaknya"
"Baik Tuan Besar"
"Oh ya, bagaimana dengan tempat yang kuperintahkan kan. Apakah kau sudah mendapatkannya?"
"Sudah Tuan Besar"
"Di negara mana?"
"Di Indonesia"
"Apakah itu wilayah Asia?"
"Benar Tuan. Indonesia termasuk satu negara yang paling luas di dunia. Negara Asia ini juga berpenduduk muslim terbanyak di dunia. Aku rasa kelak Tuan Muda dan Nyonya Muda akan betah tinggal di sana. Selain wilayah yang sangat luas, penduduknya juga ramah dan bersahabat"
"Apa kau yakin cucuku dan cucu menantu ku akan mudah beradaptasi di sana?"
"Aku rasa mereka tidak akan kesulitan Tuan Besar, apalagi dengan sikap kesalihan selaku muslimah dan kedermawanan Nyonya Muda. Bukankah dengan pengaruh kuat Nyonya Muda, Tuan Muda sekarang adalah orang yang paling gemar berderma? Nyonya dan Tuan Muda akan disukai banyak orang di Indonesia, apalagi mereka adalah bagian dari negara berkembang yang banyak berhutang. Masih banyak warga miskin yang butuh bantuan".
Sang lelaki tua merasa tertarik mendengar kehidupan sang cucunya saat ini. Dengan penuh rasa ingin tahu ia pun bertanya kembali pada orang kepercayaannya tersebut.
"Ceritakan padaku apa saja yang sudah dilakukan oleh Maxwell cucuku"
"Cucu Tuan Besar sekarang menjelma menjadi orang yang suka mendonasikan uang dan hartanya untuk masyarakat. Selain menjadi donatur tetap berbagai kampus swasta dan negeri, dan juga Panti Asuhan dan Yayasan Sosial, saat ini Tuan Muda juga sedang membangun sebuah pusat pendidikan orang Muslim. Dia sedang mendirikan sebuah Islamic Center yang menelan tidak sedikit uang. Sebuah kompleks pusat kegiatan orang-orang muslim, baik meliputi kegiatan keagamaan, pendidikan bahkan perdagangan. Aku rasa Islamic Center ini akan menjadi Kompleks terbesar di Benua Australia ini Tuan Besar".
"Ia sanggup membebaskan tanah di sekitar kompleks untuk memperluas area tersebut? Bagaimana mungkin dia sanggup melakukan itu? Apakah tidak ada perlawanan dari penduduk sekitar?"
"Tentu saja ada Tuan Besar. Tapi taukah Anda, Tuan, Nyonya Mudalah yang berhasil meyakinkan warga sekitar kompleks untuk sukarela memberikan tanah dan rumah mereka untuk perluasan kompleks Islamic Center tersebut"
"Wanita yang luar biasa. Baiklah cukup informasinya. Terima kasih Pavlo! Engkau memang bisa kuandalkan", sang Tuan Besar tersenyum puas. Sorot matanya jauh ke depan, menembus dinding kaca kamarnya yang luas.
"Sudah menjadi kewajibanku Tuan Besar"
"Kembalilah dan segera laporkan kondisi terbaru berikutnya"
"Baik Tuan Besar"
Sang pria kepercayaan bernama Pavlo itu pun membungkuk hormat dan melangkah pergi.
***********
Abraham Alexander Al Qudri baru saja menapakkan kakinya di mansion milik Mr. Powell. Pagi ini, setelah menempuh perjalanan tidak kurang dari 20 jam dari New York, pria paruh baya yang masih nampak gagah tersebut disambut oleh para pengawal yang sudah mengenalnya. Paman kandung sang pemilik mansion itupun melangkah masuk dan sampailah Ia di ruang tengah di mana seluruh keluarga Aisyah dan orang-orang kepercayaan Maxwell berkumpul. Mark pun mempersilakan sang Paman untuk duduk. Lelaki paruh baya itu pun duduk tepat di depan Ayesha yang sebelumnya hanya menyambut sang paman dengan menangkupkan kedua tangannya di dada. Abraham sudah mulai paham dengan kebiasaan wanita muslimah bercadar di depannya tersebut. Ia menarik nafas sesaat dengan berat. Suasana mendadak hening. Semua orang nampak menahan diri untuk tetap diam. Setelah beberapa saat lamanya senyap, Abraham pun mulai bicara. Matanya mulai nampak berkaca-kaca. Ia kembali teringat kelebatan orang-orang yang dikabarkan meninggal, terutama sang keponakan yang sudah dianggapnya sebagai anaknya sendiri, putra dari adik kandung terkasihnya. Ia menarik nafas sesaat. Sekilas ia merasa Maxwell ada di depannya dan menatapnya dengan ekspresi datar seperti biasa. Seketika Abraham membayangkan penderitaan yang dialami sang keponakan ketika merasakan koyakan bom yang meluluhlantakkan jasad bahkan mobilnya, sebagaimana yang diberitakan. Gerahamnya pun semakin terkatup.
"Aku sangat berduka cita akan peristiwa yang menimpa keluarga Anda", Abraham berhenti sejenak.
"Aku bersumpah tidak akan mengampuni orang-orang yang telah membunuh putraku, putra Sofia Alexander juga orang-orang yang dekat dengannya, kakek, kakak dan siapapun itu dari keluarga Anda".
Ayesha dan yang lainnya turut merasakan kemarahan dalam nada bicara Abraham yang bergetar.
"Tenanglah, aku pasti akan menemukan pembunuh suami dan saudara-saudara Anda secepatnya", ucap Abraham dengan tangan gemetar.
Ayesha mendongak dan menatap wajah dewasa di depannya.
"Nyawa sudah terlepas, tidak mungkin akan kembali kecuali ada mukjizat dari Sang Pencipta, Paman", Ayesha menarik nafas perlahan. Dadanya terasa sesak menahan kesedihan.
"Namun terlepasnya jasad tanpa alasan, tidak akan dibiarkan begitu saja. Bukankah hukum juga berkata, tiap perbuatan pasti dibayar dengan setimpal?", Ayesha melirik sekilas ke arah sang Paman yang terus memandanginya. Selintas ia mengingat rekaman CCTV yang sudah dilihatnya bersama Mark tadi malam.
"Nyawa harus dibayar dengan nyawa. Dan siapapun mereka yang terlibat harus dihukum dengan hukuman yang adil. Apakah Paman setuju?", sambung wanita cantik yang tertutup kain wajah itu. Wanita yang lembut dalam bersikap terhadap orang-orang terdekatnya namun nampak tegas memegang prinsip hidupnya itu kini tiba-tiba menatap tajam ke arah kosong di depannya.
"Tentu saja. Siapapun mereka, aku akan membalas kematian Maxwell dan keluarga Anda"
"Baiklah. Bagaimana jika mereka adalah orang terdekat dengan Anda sendiri Paman?"
Abraham terkejut. Ia mulai penasaran dengan kata-kata istri keponakannya tersebut. Ayesha kemudian melirik ke arah Mark. Sang body guard pun bergerak mengambil ponselnya dan memutar sebuah video di sana. Lalu ia berikan pada sang Paman.
Abraham memperhatikan dengan seksama isi video tersebut selama beberapa saat dan nampak membelalakkan matanya seakan tak percaya. Berkali-kali ia stop dan zoom sosok yang ada di video tersebut untuk memastikan hingga kemudian ia pun menyerahkan kembali ponsel tersebut kepada Mark dan mengepalkan kedua tangannya. Berputar kembali dalam kepalanya bagaimana sosok wanita di sana tertawa puas di seberang jalan dengan jarak aman dari peristiwa ledakan. Terlihat dengan jelas di CCTV jalan tersebut, bagaimana tiba-tiba dua mobil berpenumpang meledak hampir bersamaan dengan dahsyat hingga melemparkan sesosok tubuh jauh dari badan jalan, lalu terlihat pula dua buah mobil berhenti di jarak yang cukup aman dari ledakan. Nampak di salah satu mobil tersebut sorang wanita yang menyembulkan wajah dari kaca mobil sedang menatap dengan intens peristiwa ledakan yang seolah ditunggunya sejak lama. Seketika ia tertawa bahagia begitu menyaksikan ledakan yang mengerikan di depan matanya. Tak lama, setelah jalanan mulai ramai ia dan mobil di belakangnya nampak berputar dan pergi dengan cepat.
"Caroline", lirih Abraham menyebut nama sosok di dalam video.
"Anda mengenalnya Paman?"
"Ya. Dia istriku"
"Menurut Paman, apakah mungkin istri Paman melakukan pembunuhan berencana ini?"
"Aku tidak tau. Aku tak menyangka Caroline melakukan ini"
"Belum tentu istri Paman yang melakukan ini bukan? Siapa saja bisa berada di jalan dan tertawa bahagia seperti Nyonya Caroline. Belum ada bukti kuat bahwa dalang pengeboman ini adalah istri Paman", lanjut Ayesha. Sekilas ia teringat dengan sosok yang terpental dalam peristiwa ledakan tersebut. Dalam lubuk hatinya ia sangat berharap sosok itu adalah suaminya dan sekarang masih hidup. Terlihat di rekaman CCTV tersebut bahwa sosok yang terpental itu kemudian diangkat oleh seseorang dan dengan cepat dibawa bersama sebuah mobil dan melaju jauh. Di bagian ketika sosok tersebut disambar seseorang telah dihapus dari video yang ditunjukkan pada sang paman. Fokus video hanya pada gerak-gerik mencurigakan dua mobil yang ditumpangi salah satunya oleh Caroline dan bagaimana tingkah Caroline tertawa puas seperti bahagia melihat ledakan mengerikan di depannya. Dan tentu saja, siapapun orang yang menyaksikan rekaman tersebut akan menyimpulkan siapa yang kemudian menjadi otak dalam penyerangan yang pengecut tersebut.
"Tapi barusan saja kita mendapatkan bukti itu Nyonya. Dan ini terkait dengan keserakahan wanita itu karena ketakutannya pada ahli waris Tuan Abraham dari wanita lain", suara Mark kemudian mengejutkan seluruh penghuni ruang tengah mansion. Abraham semakin terperanjat dan bingung.