
Abraham Alexander baru saja bangun dari pingsannya dan kini berusaha duduk bersandar di tempat tidurnya. Ia memandang ke sekeliling dan baru menyadari keadaannya kembali. Ia kini sudah dipindahkan dari ruang rawat klinik ke kamar tamu di lantai bawah.
"Aku masih di mansion Maxwell?", gumamnya pelan.
Tak lama terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuklah", seru Abraham.
Muncul Maxwell dan Ayesha. Ayesha membawa sebuah nampan berisi obat dan minuman.
"Paman sudah sadar?", tanya Maxwell. Abraham yang mendengar Maxwell memanggilnya Paman seketika terpana. Ia merasa bahagia. Ia pun tersenyum.
"Aku baik-baik saja"
"Minumlah dulu ramuan ini Paman. Insyaa Allah akan meredakan sedikit rasa sakit yang Paman rasakan", ujar Ayesha lembut. Disodorkannya minuman di nampan dan Abraham pun menerimanya dan langsung meminumnya sampai habis. Pria itu melakukannya tanpa bertanya apapun. Maxwell cukup heran melihatnya.
"Bagaimana perasaan Paman saat ini? Maafkan aku...", ucapan Maxwell terputus.
"Tidak mengapa. Aku sering mengalaminya jika berusaha untuk mengingat kepingan masa laluku"
"Sekarang Paman beristirahat saja dulu di sini. Aku akan pergi sebentar."
"Tidak perlu. Aku tidak apa-apa. Aku akan kembali saja. Dimana para pengawalku?"
"Mereka masih setia berjaga di luar. Paman mau ke mana?"
"Aku akan kembali ke Amerika. Aku kemari hendak mengunjungi keponakanku saja dan sudah selesai bukan? Maaf merepotkan kalian dengan kedatanganku"
"Kami sama sekali tidak repot Paman. Menginaplah di sini beberapa hari. Mengapa buru-buru?", ucap Ayesha.
"Aku akan mengganggu kesibukan kalian"
"Tidak. Tapi aku tidak bisa memaksa bukan? Terserah Paman saja", ujar Maxwell yang hendak membalikkan badan.
"Baiklah. Aku senang jika diterima di sini"
"Tentu saja. Paman beristirahatlah dulu memulihkan kesehatan Paman. Panggil saja pelayan mansion dengan tombol ini jika Paman butuh sesuatu", jelas Ayesha sambil menunjuk tombol saklar putih di nakas.
"Terima kasih Nyonya Maxwell"
"Panggil aku Ayesha, Paman"
"Baiklah Ayesha, Maxwell sungguh beruntung memperoleh istri sebaik dirimu"
"Aku yang beruntung memiliki suami seperti Maxwell Paman"
"Wow, sungguh aku iri pada keponakanku ini"
"Mengapa Paman mengatakan seperti itu?", Ayesha bingung.
"Karena punya istri yang mampu menjaga kehormatannya di manapun berada. Penampilanmu yang tertutup seperti Sofia ibu mertuamu ketika ia memutuskan pindah agama. Kelembutanmu mirip juga dengan Sofia dan kau menjaga marwah suamimu di hadapan orang lain"
"Paman jangan banyak memuji. Tidak baik seperti itu. Aku jadi besar kepala".
"Aku mengatakan apa adanya"
"Terima kasih Paman. Jangan memujiku lagi. Aku permisi dulu", Ayesha melirik suaminya dan meminta ijin. Wanita bercadar tu pun melangkah pergi meninggalkan Maxwell dan Abraham setelah Maxwell mengangguk dan tersenyum padanya.
"Maxwell, apakah engkau akan pergi juga?"
"Bukankah tidak ada lagi keperluan?"
"Ah, bolehkah kita berbincang dulu?"
Maxwell diam saja.
"Aku merasa bosan sendirian di sini. Aku tidak sakit lagi. Jangan khawatir"
"Baiklah. Apa yang akan Paman bicarakan", Maxwell duduk di sofa. Diikuti Abraham yang kemudian beranjak dari bed nya.
"Aku masih mengingat kau sebut nama Margaretta. Bisakah kau ceritakan padaku dengan jelas siapa wanita itu?"
"Aku..."
"Jangan khawatir. Aku tidak akan berusaha memaksakan ingatanku kembali. Sampaikan saja"
"Paman yakin?"
"Kenapa Anda sangat yakin Paman?"
"Nanti aku akan katakan padamu setelah kau ceritakan semuanya"
"Baiklah. Tapi aku butuh dr Johnson sekarang"
"Tidak. Sungguh, aku tidak apa-apa. Katakanlah", Abraham terlihat tidak sabar. Maxwell pun akhirnya menceritakan yang diketahuinya dari Bibi Christine dengan perlahan.
"Margaretta adalah wanita yang Paman nikahi 26 tahun yang lalu secara diam-diam. Paman menikahinya secara siri", Maxwell berhenti sejenak. Ia melirik sang Paman yang nampak terkejut.
"Jadi...", Abraham sejenak memegang kepalanya kembali. Maxwell terlihat cemas. Ia masih mengingat bagaimana kejadian ketika Abraham berteriak kesakitan sewaktu berusaha mengingat Margaretta tadi pagi.
"Paman baik-baik saja?"
"Jangan khawatir. Aku tidak apa-apa"
"Dr Johnson segera kemari", Maxwell menelpon sang dokter.
"Aku tidak apa-apa Maxwell, percayalah"
"Setidaknya aku tidak bingung jika Paman pingsan lagi nantinya"
Abraham hanya tersenyum tipis. Ia tidak lagi memegang kepalanya. Ada sedikit rasa bahagia di hatinya. Maxwell peduli padaku, batinnya.
"Sebaiknya kita lanjutkan pembicaraan ini malam nanti Paman"
"Tidak. Please! Aku bisa menerima semua masa laluku sekarang Maxwell. Aku sudah lama menunggu. Katakanlah"
"Jadi Paman sama sekali tidak mengingat Margaretta dalam memori walau sedikit saja?"
"Tidak sama sekali. Hanya saja, aku mengingat seorang anak kecil perempuan yang selalu memanggil namaku dalam mimpi. Bergantian dengan kelebatan bayangan Sofia yang terus memanggil namaku juga...",
Abraham mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Maxwell hanya memperhatikan saja.
"Lalu, dimanakah Margaretta saat ini? Anak kecil itu....jangan-jangan ia anakku dengan Margaretta?", binar-binar kebahagiaan terlihat dalam sorot mata pria paruh baya yang masih nampak tampan itu. Ia menatap Maxwell penuh harap. Maxwell menelan ludahnya. Ia tak ingin begitu saja menceritakan tentang Grace pada sang Paman sebelum ia mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan pamannya. Mengapa selama ini hidup Grace selalu dalam bahaya? Begitu yang diceritakan Bibi Christine padanya. Ia tak yakin kalau ayahnya lah atau Mossad yang selama ini mengincar nyawa Grace karena George Powell dan Mosad sepertinya tak punya alasan untuk itu. Maxwell merasakan ada sesuatu dalam kehidupan keluarga Al Qudri yang harus diketahuinya.
"Aku tidak bisa menjawabnya sekarang sebelum Paman menceritakan padaku mengapa Paman bisa melupakan perempuan bernama Margaretta".
Abraham seketika melemaskan tubuhnya dan duduk bersandar di sofa. Matanya menerawang mengenang kecelakaan yang menimpanya hingga membuatnya amnesia sebagian saat ini.
"Aku tidak ingat apapun kecuali ketika aku mengalami kecelakaan itu. Aku tersadar sudah ada di rumah sakit dan dokter mengatakan aku mengalami amnesia sebagian. Long term memory- ku masih bertahan. Kenangan masa kecil hingga 5 tahun sebelum kecelakaan itu masih ku simpan dengan baik. Namun short term memory- ku hilang. Itu sebabnya mungkin aku tak ingat sama sekali tentang Margaretta yang ku nikahi di sela waktu short term memory itu"
Maxwell sudah menduga tentang apa yang akan disampaikan oleh pamannya tersebut. Saat ini ia ingin mengungkap motif kecelakaan tersebut. Bisa jadi itu bukan kecelakaan murni. Mungkin ada dalang di balik itu semua dan ini terkait dengan bahaya yang sering mengintai Grace, sebagaimana diceritakan sang bibi padanya, termasuk penyanderaan waktu itu yang melibatkan Bibi Christine dan Grace. Sampai saat ini, dalang yang menginginkan kematian Maxwell waktu itu belum terungkap. Dan yang jelas, dalang penyanderaan waktu itu mengetahui hubungan Bibi Christine dan Grace juga dirinya.
"Sekarang katakan padaku. Apakah benar aku memiliki anak dengan Margaretta?", tatapan Abraham terlihat sayu.
"Aku akan katakan padamu tentang semua yang ku ketahui namun tidak untuk saat ini. Yang jelas aku curiga dengan kecelakaan yang menimpamu waktu itu, Paman", kata Maxwell akhirnya. Bagaimanapun ia tak mau ambil resiko memberikan Grace begitu saja pada sang paman. Biarlah keduanya belum mengetahui hubungan mereka saat ini karena Maxwell ingin semuanya terang lebih dulu.
"Baiklah. Aku paham maksudmu. Tentang keyakinanku padamu bahwa kau tau tentang masa laluku adalah karena aku mencurigai bahwa Sofia diperistri oleh ayah angkatmu dan kau sendiri adalah keturunan George Powell. Aku katakan ini karena aku merasa pernah melihat Sofia dan George Powell beberapa kali berjalan bersama. Meski aku tidak ada bukti itu mereka, tapi hatiku yakin dan mengatakan demikian", Maxwell cukup terkejut mendengar ungkapan Abraham, namun dia hanya menyimpannya.
"Kau tentu heran mengapa aku yakin dengan itu semua bukan?", Abraham berhenti kembali.
"Karena hanya Maxwell Powell yang bisa merahasiakan semuanya dengan begitu rapat hingga kami tak dapat menembus rahasia itu bertahun-tahun lamanya. Dan alasan ia menyembunyikan Sofia dan anaknya adalah karena Sofia anak musuh besar keluarganya dan itu harus disembunyikan karena ia tak ingin berpisah dari anak dan istrinya"
"Paman nampak yakin sekali"
"Aku yakin. Dengan ketulusan Sofia, ayahmu pasti jatuh cinta padanya dan begitu menyayanginya", pandangan Abraham seketika diliputi binar kebahagiaan mengingat sikap sang adik padanya dan bagaimana mereka melalui hari-hari bersama dengan penuh keceriaan dan kepedulian satu sama lain. Apalagi mengingat bagaimana perilaku Sofia di saat merawatnya selama beberapa kali karena terluka parah diakibatkan peperangan dengan para musuh keluarga mereka. Gadis cantik yang ceria itu sungguh baik dan benar-benar menyayanginya juga keluarganya dengan tulus. Itulah sebabnya sang ayah, Alexander Al Qudri begitu marah ketika Sofia beralih agama, karena ia juga sangat menyayangi Sofia dan tak rela anak bungsunya menyeberang jalan yang berbeda dengannya, yang akhirnya, kemarahannya pada sang bungsu pun dengan cepat disesalinya dan ia pun segera mencarinya.
"Lalu mengapa Paman yakin aku tau tentang masa lalumu?"
"Karena sikap dan perkataanmu mengatakan demikian. Amat mudah bagimu menyusuri kehidupan seseorang. Dan itu mungkin saja kau lakukan karena ada hubunganku dengan ibumu bukan?", Abraham tersenyum. Maxwell hanya terdiam.
"Maxwell, dimanakah ibumu sekarang? Tolong katakan padaku. Jika kau tak mau mengungkapkan tentang Margaretta dan masa laluku, ku mohon jangan pisahkan aku dengan adik kesayanganku"
"Dia...", Maxwell tak sanggup berbicara. Ia kemudian berdiri dan melangkah menuju pintu.
"Maxwell...please..."
"Nanti sore aku akan membawamu menemui Ibu. Istirahatlah dulu", Maxwell pun keluar tanpa menoleh ke belakang, bersamaan dengan itu, dr Jhonson muncul di pintu yang masih terbuka.
"Apakah aku sia-sia datang kemari?", seru dr Johnson yang masih didengar Maxwell yang baru saja berjalan keluar dari kamar Abraham.
"Begitulah", sahut Maxwell yang langsung pergi begitu saja menuju lantai dua kamarnya, meninggalkan sang dokter yang hanya bisa menggaruk kepalanya yang tak gatal. Sementara itu, Abraham kini tersenyum bahagia. Ada kebahagiaan dalam hatinya karena akan segera bertemu dengan sang adik tercinta, meski jauh di lubuk hatinya, ada sesuatu yang ia tak tau apa maknanya. Yang jelas, ia merasa tak yakin akan berjumpa dengan Sofia.