
Jam menunjukkan pukul 11.30 menjelang siang ketika taxi yang ditumpangi Ayesha memasuki halaman samping sebuah rumah yang asri dengan bunga warna warni bemekaran di sana. Setelah membayar argonya, Ayesha pun bergegas menuju teras samping rumahnya. Namun baru beberapa langkah ia memasuki teras rumahnya, sebuah suara yang dikenalnya memanggil namanya.
“Non Ayesha”
Ayesha menoleh dan terkesima mendapati Maxwell yang sedang berdiri tanpa bantuan apapun. Dia nampak sangat segar dan gagah dengan penampilan barunya. Berkaos tanpa lengan dan bercelana sport longgar sedikit di bawah lutut. Di dahinya ada tetesan keringat. Menambah kesan macho meski melekat pada seorang lelaki yang masih nampak belum bugar karena sakit. Sepertinya Ali membelikannya pakaian baru. Sekarang terlihat jelas bentuk dadanya yang bidang dan otot lengannya yang kekar. Lelaki dengan tinggi badan 185 cm dan rambut tebal dan hitam itu terus menatapnya tak berkedip seolah menelusuri sekujur tubuhnya. Ada sinar bahagia di matanya.
“Nona baik-baik saja kan?”
Ayesha mengangguk dan segera mengalihkan pandangannya. Ia tak mau Maxwell mendapati ia tertegun memandangnya tadi.
“Maaf kalian semua pasti cemas memikirkanku. Dimana kak Ahmed dan yang lainnya?”
“Mereka semua menunggu Nona di dalam”
“Terima kasih", sahut Ayesha. Ketika akan berlalu, ia mendadak berbalik dan menatap Maxwell kembali.
"Hai, tuan Maxwell, Anda sudah bisa berjalan sekarang. Semoga Anda akan segera pulih seperti semula.” Ayesha tersenyum tipis dari balik cadarnya.
Ayesha melangkah masuk tanpa peduli dengan keterkejutan Maxwell. Ia tertegun, mendengar nama aslinya disebut oleh Ayesha. Ya, dia sudah menduga tentu kini Ayesha sudah tahu siapa dirinya dan saat ini pasti dia memendam amarah terhadapnya. Maxwell menelan ludahnya sendiri. Entah kenapa dia merasa sangat tidak enak dan tidak suka jika Ayesha akan membencinya nantinya. Ini hal yang aneh. Bukankah selama ini dia tidak pernah peduli pada perasaan siapapun? Betapa banyak orang yang sudah pernah disakitinya namun dia tidak pernah memperdulikan perasaan mereka sedikitpun.
Ayesha masuk dan mendapati ruangan tengah tidak ada siapa pun yang menunggunya. Kemanakah mereka semuanya? Dia berjalan terus dan terdengar suara membaca Al Quran dari arah mushollah di dalam rumahnya. Kakeknya dan kakaknya Ahmed sedang khusyuk tilawah Quran di sana. Pantaslah mereka tidak mengetahui kehadirannya.
“Oh non Ayesha. Alhamdulillaah ya Allah, Engkau menjaga bidadari kami dengan sangat baik”, Ali berseru keras dari arah dapur dan langsung sujud syukur.
Bibi Leida yang berada di dapur mendengarnya dan langsug turut berlari dan menghambur memeluk tubuh majikannya. Di antara mereka memang tidak ada sekat. Ayesha memperlakukan pembantunya seperti bibinya sendiri. Ayesha terharu.
“Ayeshaku, apa yang terjadi padamu cucuku. ”
Sir Vladimir tak kuasa menahan penasarannya. Ia langsung menanyakan hal yang terjadi pada Ayesha setelah melihat suasana mulai reda. Mereka semua kini duduk di ruang mushollah yang berada di tengah-tengah rumah. Tapi sebelum Ayesha bercerita, Ahmed menangkap bayangan tubuh Maxwell yang sedang berdiri di dekat lemari.
“Marilah tuan James, ayo duduk di sini. Kau juga pasti ingin mengetahui apa yang terjadi pada Ayesha bukan?”, Ahmed bersuara.
Maxwell berjalan kikuk mendekati mereka.
“Bolehkah saya ikut bergabung di sini? Saya hanyalah …”
“Engkau juga sudah menjadi bagian dari keluarga ini nak James. Ku kira kau juga sangat mencemaskan Ayesha sama dengan kami yang sangat mencemaskannya. Kau bahkan tidak tidur semalam bukan?”, sang kakek menambahkan.
Maxwell tersipu. Ia tidak menyangka kalau kakek tahu apa yang dilakukannya semalam. Yang diingatnya adalah semalam ketika kakek, Ahmed dan Ali serta Bibi Leida melakukan gerakan aneh di tempat yang diduduki ini dari malam hingga pagi dan membaca buku mereka yang berbahasa Arab dengan keras dan sambil menangis, Maxwell yang sedang gelisah memikirkan Ayesha hanya bisa mondar-mandir di teras depan rumah. Dia bingung mau ngapain kecuali berkali-kali menghubungi bodyguard bayaran yang ditugaskannya mencari Ayesha dan menjaganya serta menghabisi kelima orang suruhan Joeris. Hingga ketika menjelang subuh ia memutuskan untuk kembali membaca buku yang pernah disebutkan Ayesha yang ada di kamarnya, hatinya entah kenapa mendadak menjadi lebih tenang setiap kali melakukannya. Dan tak lama kemudian, ia pun mendengar kabar dari orang suruhannya tersebut bahwa ia sudah menemukan Ayesha. Dan akhirnya ia kini benar-benar bisa melihat Ayesha kembali. Dalam hatinya, ia berterima kasih pada Pavlo, bodyguard yang dibayarnya dengan mahal karena sudah menyelesaikan tugasnya dengan baik. Aku akan memberimu bonus Pavlo, karena Ayesha tidak tersentuh kulitnya walau seujung kuku. Gumam Maxwell dalam hati.
Ayesha pun mulai menceritakan apa yang dialaminya setelah Maxwell ikut bergabung bersama mereka. Ia menceritakan dengan runut pada keluarganya dan mengatakan pada mereka untuk tidak usah khawatir lagi karena para penjahat itu sudah mati semua. Dan kemungkinan saat ini polisi sedang heboh menangani kematian orang asing di negaranya ini. Tapi Ayesha yakin akan sulit polisi mencari saksi mata karena pada waktu itu tidak ada orang yang lewat dan CCTV jalan juga tidak ada. Supir taxi yang pengecut itu tentu tidak akan menyerahkan dirinya untuk menjadi saksi karena ia pasti tidak akan mau sibuk berurusan dengan polisi.
“Tidak seharusnya kau pergi menjauh. Seharusnya kau langsung pulang Ayesha. Kakek hampir pingsan karena belum tahu kabarmu apalagi mendapatkan pekerja kita dibunuh di hutan itu”, Ahmed protes begitu Ayesha selesai bercerita.
“Ya, Ayesha. Engkau seharusnya segera kembali, jangan membahayakan diri sendiri seperti itu sayang... Kalau di sini kita bersama-sama bisa meminta bantuan polisi jika mereka mengejarmu sampai ke sini”, kakek menimpali.
“Tapi aku tidak ingin membuat kalian semua celaka. Lihatlah, hanya ingin mengetahui keberadaanku mereka begitu mudahnya membunuh pekerja kita. Jika aku langsung pulang mereka akan mengikutiku dan menemukan kita semua di sini. Aku takut semakin banyak jatuh korban. Mereka bersenjata ”, Ayesha menyangkal.
“Mereka tidak mencari Non Ayesha, tapi saya. Sayalah yang mereka inginkan.”, Maxwell menyahut. Semuanya terhenyak.