
Kini Ayesha dan Maxwell sudah ada di dalam pesawat menuju Canberra, Australia. Maxwell menggunakan nama hijrahnya yaitu Yusuf untuk identitas regristrasi penerbangan. Entahlah bagaimana caranya, orang yang sudah menjadi kepercayaannya di Rusia yaitu Pavlo bisa mendapatkan identitas barunya. Yang jelas, Maxwell bisa mengandalkan pria bertato itu.
Sepasang pengantin baru itu melakukan perjalanan malam. Maxwell sengaja menggunakan pesawat komersil untuk kerahasiaan kedatangannya ke negerinya. Ia belum bisa memastikan orang-orang yang masih setia padanya sehingga tidak mengontak bawahannya untuk menyiapkan pesawat jet pribadinya. Ia tidak ingin para musuhnya tahu lebih cepat dan itu tentu berbahaya untuknya dan Ayesha.
Ayesha tertidur di sampingnya dengan pulas. Ia lelah dan cukup mengantuk setelah hampir semalaman menghabiskan waktu bersama keluarganya untuk farewell party. Ia bertiga bersama Sir Vladimir dan Ahmed, duduk bersama di bawah bulan purnama beratapkan tenda camping yang cukup besar di taman samping rumah. Mereka menikmati piknik bulan purnama sambil bercerita dan saling menyimak hafalan Quran yang memang sudah menjadi tradisi keluarga setiap malam. Hingga sepertiga malam terakhir mereka pun qiyamul lail berjamaah di dalam tenda hingga subuh, dan satu jam setelahnya ia dan Maxwell pun pamit berangkat menuju bandara dengan diantar Uncle John menggunakan helly.
Maxwell perlahan menyenderkan kepala Ayesha ke bahunya agar Ayesha merasa lebih nyaman. Ia membelai kepala wanita yang sudah memenuhi relung hati dan doa-doanya itu dengan lembut. Ia pun turut memejamkan matanya untuk kembali mengumpulkan energi setelah sebelumnya juga lelah berjibaku dengan persiapan mereka ke negerinya ini dengan terlebih dulu mengunjungi semua perusahaan Sir Vladimir untuk membantu Ayesha dan Ahmed mengevaluasi manajemen perusahaan dan mengatasi beberapa masalahnya. Satu pelajaran besar yang ia dapatkan dari hal ini. Manajemen dan keuangan yang dimiliki perusahaan keluarga istrinya ini masih belum baik, namun ketulusan hati para pekerjanya mampu membuat denyut nadi perusahaan bisa tetap berjalan baik, dan ini karena prinsip pemilik perusahaan yang mengedepankan pemenuhan kebutuhan pokok para pekerjanya dan kenyamanan mereka dalam bekerja apalagi disertai prinsip kasih sayang dan menganggap semua warga perusahaan adalah keluarga besar. Para pekerja benar-benar dianggap saudara sehingga mereka pun bekerja bukan hanya untuk gaji namun juga dengan perasaan penuh syukur sehingga berusaha melakukan yang terbaik. Maxwell akhirnya tertidur bersama istrinya dengan memeluk bahu sang istri yang sudah lebih dulu masuk ke alam mimpi.
Setelah kurang lebih melakukan 8 jam perjalanan dari Moskwa ke Canberra lalu lanjut 1 jam kemudian ke Sidney, kota kelahiran Maxwell, pagi ini Maxwell dan Ayesha sudah berdiri di depan gerbang sebuah mansion mewah milik Maxwell. Ayesha melihat bangunan putih nan luas dan megah di depannya terpana. Inikah kediaman Maxwell, suaminya. Rumah sebesar ini berapa orangkah penghuninya? Gumamnya dalam hati. Walaupun Ayesha tinggal di rumah yang besar bahkan dengan halaman yang sangat luas, namun tak sebesar dan setinggi bangunan mansion kediaman suaminya yang berlantai dua itu.
Setelah membayar taxi kini Ayesha dan Maxwell berjalan menuju pos security. Mereka tidak banyak membawa barang, hanya satu tas ransel masing-masing yang isinya satu pasang pakaian ganti dan benda-benda penting lainnya. Maxwell sengaja tidak menyuruh taxi masuk karena ia ingin berjalan kaki untuk melemaskan tubuhnya yang kaku karena banyak duduk di pesawat. Selain itu ia juga ingin menguji kesetiaan semua pekerjanya di mansion dengan datang diam-diam tanpa pemberitahuan.
Maxwell mendekati gerbang putih dari baja setinggi kepalanya yang tertutup. Tak lama pintu terbuka dan muncul dua orang yang tinggi dan kekar berpakaian hitam panjang khas seragam security negaranya dengan wajah kaget dan takut. Keduanya sontak berlutut di hadapan Maxwell dan menundukkan kepalanya.
"Ampun Sir. Kami tidak tau Sir datang hari ini". Ucap Patch, yang usianya paling muda berkisar 30 tahun.
"Ampuni kami Sir. Kami siap mendapatkan hukuman", lanjut Peter yang satu lagi yang usianya 35 tahun.
Maxwell hanya diam tanpa ekspresi. Ternyata mereka berdua masih di sini. Tampilanku sudah berubah tapi mereka masih mengenaliku dengan baik, gumam Maxwell dalam hati. Sementara Ayesha cukup terpana menyaksikan pemandangan itu. Ia seperti menonton film lama.
"Bangunlah"
Maxwell menarik lengan Ayesha masuk dan duduk di kursi yang ada di pos security. Kedua bawahannya hanya diam di tempat mereka berdiri dan masih menundukkan pandangannya menghadap ke arah sang tuan.
"Patch. Ceritakan padaku apa yang terjadi di sini selama aku pergi. Peter! Pastikan melalui cctv tidak ada yang keluar mansion sampai aku perintahkan. Kau mengerti?"
"Baik Sir!"
Peter segera bergerak ke arah monitor komputer di samping Maxwell dan duduk di sana. Sedangkan Patch menarik nafas berat dan memulai ceritanya.
"Ketika Sir dikabarkan hilang karena sudah 3 hari dihubungi Bibi Catherine dan Sir Luke tidak terhubung maka saya mendengar bahwa Sir Luke mengambil alih perusahaan utama dan selanjutnya saya tidak tau apa yang terjadi karena hari ini Sir Joeris yang sudah menjadi presdir. Kabar Sir Luke tidak terdengar lagi. Dan seminggu belakangan ini saya melihat Sir Joeris sering ke mansion tuan ini bersama para pengawalnya dan juga seorang pengacara. Awalnya kami menghalangi namun mereka memberi kabar Sir sudah...meninggal dunia...", Patch menghentikan ceritanya sesaat. Ia melirik ke arah tuannya sebentar. Maxwell hanya mendengarkan tanpa reaksi. Ia memang sudah tahu akan berita ini dari pengacara kepercayaannya, Thale.
"Apa yang membuat kalian percaya?", tanya Maxwell.
"Sir Joeris menunjukkan foto Sir yang bersimbah darah karena dibunuh musuh dari Thailand dan menyatakan bahwa mereka membawa surat wasiat dari Sir untuk mengambil alih sementara perusahaan dan mengurus mansion sampai ditemukan pewaris tuan besar Goerge Powell yang lain."
Maxwell hanya diam. Dia berpikir bahwa semua yang diceritakan Patch sama dengan keterangan Thale pengacaranya. Ia tersenyum sangat tipis. Ayesha hanya menjadi pengamat. Ia masih mempelajari apa yang terjadi.
"Well, sekarang bertugaslah seperti biasa. Jangan katakan pada siapapun aku kembali. Jika ada tamu hari ini hubungi aku terlebih dahulu. Masih nomor lama. Jika aku tidak menjawab, kalian tau apa yang seharusnya kalian lakukan bukan?"
"Baik Sir", keduanya serentak menjawab. Maxwell kemudian menarik lengan Ayesha untuk mengikutinya. Mereka menuju bangunan mansion. Jarak dari gerbang ke pintu utama mansion sekitar 100 m dan keduanya kini berjalan bersisian sambil menikmati udara segar pagi hari dari pepohonan brigalow (akasia) dan tanaman hias lainnya yang tersusun dengan apik di sepanjang jalan aspal di dalam halaman mansion. Mata Maxwell nampak menjelajah ke sekeliling. Tidak ada yang berubah. Joeris mungkin tidak sempat mengubah apapun di sini. Dia pasti sibuk mencari hartaku, batinnya. Sementara Ayesha sibuk menikmati pemandangan asing di sekelilingnya. Ia merasa takjub dengan sebagian harta suaminya yang kini terpampang di depannya. Ia benar-benar raja, lirihnya dalam hati.