
Peter menarik pelatuk pistolnya dan mengarahkan tepat di dahi sang penyusup. Tiba-tiba mata sang pria penyusup melotot seakan hendak keluar dan dari mulutnya mengalir cairan busa berwarna kuning. Peter menatap tak percaya. Ahmed yang baru saja keluar dari kamarnya untuk menemui Ayesha juga terkejut melihat apa yang terjadi.
"Dia mati bunuh diri dengan racun? Oh God", gumam Ahmed. Ahmed dan Peter saling memandang dengan shock, dan belum hilang keterkejutan mereka, tiba-tiba terdengar dering panggilan di HP Peter. Begitu menerima panggilan, sontak ia berteriak.
"Segera masuk ke kamar Nyonya, Tuan!!!!", Peter berseru dan dengan cepat menarik ransel sang penyusup namun ia kesulitan. Karena tak ingin membuang waktu ia pun menyeret dengan terburu-buru tubuh yang baru saja meregang nyawa tersebut ke arah kolam yang berjarak sekitar 15 meter dari lorong penginapan tempat mereka berada. Namun belum sempat mereka sampai, terdengar suara ledakan yang amat keras memekakkan telinga. Ahmed yang sempat terpental beberapa meter kemudian duduk kembali dengan cepat. Mulutnya menganga shock melihat dengan mata kepalanya sendiri kengerian yang terjadi. Ia menyaksikan dengan pandangan tak percaya bagaimana kedua tubuh di depannya hancur menjadi serpihan-serpihan daging bersimbah darah dan bersatu dengan semburan tanah dan bangunan apa saja yang berada di dekatnya. Tak lama terdengar suara kaki berlari mendekat. Mereka adalah anak buah Maxwell yang sedang berjaga. Salah satu dari mereka mendekat ke sumber ledakan dan menatap dengan geram. Matanya merah disertai cairan yang menggantung di pelupuk mata . Peter, aku akan membalaskan dendam untukmu, gumamnya dengan rahang mengeras.
"Tuan segeralah bawa Nyonya ke tempat yang sudah disebutkan oleh Boss Besar", serunya pada Ahmed.
"Baiklah. By the way, apakah engkau..."
"Aku Patch"
"Ya...Hmm...
Aku turut berduka atas kepergian Pete", lirih Ahmed.
"Dia sahabat terbaikku. Aku tidak akan mengampuni mereka. Segeralah Tuan. Bawalah Nyonya sesuai petunjuk Boss Besar. Kami akan menghadapi mereka. Ingat pesan Boss Besar ,Tuan!"
"Baiklah. Terima kasih. Jaga diri kalian!", Ahmed pun segera membuka pintu kamar Ayesha yang memang sudah tidak terkunci karena Ayesha sendiri sudah membukanya dan turut menyaksikan kematian Peter. Ia sendiri kembali masuk kamarnya untuk menenangkan diri dan mengambil senjata.
"Ayesha, ayo ikuti Kakak".
Ayesha hanya menurut dan mereka pun bergegas keluar kamar melalui pintu belakang. Tak lama, setelah beberapa puluh meter mereka berlari meninggalkan kamar, terdengar rentetan senjata dan bom-bom kecil meledak di belakang mereka. Terlihat puluhan pengunjung resort yang sedang berkunjung berlarian menjauh tak tentu arah. Suara jeritan mereka terdengar riuh dan meninggalkan rasa nyeri di hati Ayesha. Bagaimana mungkin ia melarikan diri bersama Ahmed sementara nasib masyarakat biasa tak tentu ujungnya?
"Kak, kita harus menyelamatkan para pengunjung"
"Tapi itu berbahaya Ayesha"
"Aku tak bisa memikirkan diri sendiri"
"Tapi di antara mereka sendiri banyak penyusup, musuh Maxwell"
"Ayesha, mereka menargetkan dirimu"
"Aku tau. Aku akan menjaga diriku"
"Ayesha, Maxwell sudah menyiapkan hellycopter untuk kita"
"Kak, lalu bagaimana dengan nasib para pengunjung. Mereka orang-orang yang tak mengerti apa-apa dan sama sekali tak perlu terlibat dengan diriku dan suamiku"
"Mereka bisa menyelamatkan diri mereka sendiri dan lagi pula para musuh Maxwell tidak menargetkan mereka"
Ayesha menghentikan larinya. Ahmed pun terpaksa berhenti juga. Ayesha menghadap sang kakak.
"Kak, apakah kak bisa jamin tidak ada peluru dan bom nyasar mengarah ke para pengunjung yang tak tau apa-apa itu?"
Ahmed tercekat. Dalam kondisi kacau seperti ini, adiknya masih memikirkan orang lain? Sesaat Ahmed berpikir dan memutuskan.
"Ayesha, dengarkan kakak! Tolong mudahkan aku melaksanakan amanah suamimu. Pergilah lebih dulu. Ada hellycopter menanti di balik bangunan sebelah sana. Masuklah, sudah ada pilot yang menunggumu. Terbanglah lebih dulu. Aku akan menghandle para pengunjung di sini. Setelah selesai aku akan menunggu di hanggar. Katakan pada pilotmu untuk menghubungi temannya menjemputku", pungkas Ahmed.
"Baik kak, jaga dirimu baik-baik", Ayesha menatap Ahmed sesaat dengan perasaan campur aduk dan segera berlari mengikuti arahan kakaknya. Ahmed pun berbalik setelah memastikan sang adik pergi sesuai perintahnya. Pria itu kini sudah bergabung bersama anak buah Maxwell menghadapi musuh yang datang. Mereka terlihat bermasker hitam dengan simbol kepala kobra di tiap tangan kanannya. Ahmed yang tak sengaja melihat itu ketika berhadapan dengan mereka hanya bisa menelan ludah. Sepertinya mereka kelompok mafia kelas kakap, batinnya.
Ahmed terus membidik para musuhnya dengan kedua pistolnya sambil terus berpindah tempat dengan berlindung di balik pohon maupun batu dan kursi baja yang tersedia. Sambil melepaskan tembakan sekedar melindungi dirinya, ia pun terus merengsek ke arah para pengunjung yang terus berlarian dengan jeritan ketakutan mereka. Ahmed pun sibuk mengarahkan mereka ke arah keluar resort melalui jalur evakuasi yang memang sudah dipersiapkan oleh manajemen resort jika terjadi bahaya. Awalnya cukup sulit Ahmed mengarahkan publik tersebut namun karena melihat kesungguhan pria itu yang ingin menolong, para pengunjung pun mulai mempercayainya dan mengikuti arahannya. Mereka pun berlarian ke arah jalur evakuasi dengan pengawalan dari Ahmed. Beberapa anak buah Patch pun kemudian bergabung dan turut mengawal dan membantu Ahmed menghalau musuh yang sepertinya juga hendak mengacaukan para pengunjung.
Di tempat lainnya, saling tembak untuk melumpuhkan lawan pun terus terjadi. Patch dengan dendam kesumat yang menyala dalam jiwanya tanpa ampun membantai para musuh yang menghadangnya. Dengan senjata laras panjang di tangannya, tanpa takut sama sekali ia pun mengejar mereka yang mulai nampak kerepotan dengan keganasan Patch. Musuh pun terus bergerak menghindar dan seakan-akan tak berdaya. Kegarangan mereka di awal seakan lenyap entah kemana. Patch yang semula beringas dengan membunuh semua lawannya mulai menyadari sesuatu. Ia segera memerintahkan anak buahnya yang lain untuk mengganti posisinya dan ia sendiri bergerak ke arah Helly. Namun langkahnya seketika terhenti ketika menangkap bayangan Ahmed yang sedang sibuk berjibaku bersama yang lainnya mengevakuasi para pengunjung.
"Oh Shit!!!", geram Patch sambil terus berlari ke arah Helly berada.
Sementara itu, Ayesha yang sudah tiba di tempat yang dikatakan, kini nampak memasuki Helly. Benda besar dengan baling-baling di atasnya itu sudah stand by dengan mesinnya yang menyala. Seorang pilot sudah berada di sana dan menunduk hormat ke arahnya. Ayesha pun bergegas masuk ke dalam dan memilih duduk di belakang. Tanpa disadarinya, sang pilot pun tersenyum tipis di balik masker hitamnya. Ia nampak mengetik sesuatu di ponselnya dan sesaat kemudian Helly pun bergerak cepat naik dan terbang melintasi udara di atas resort menuju ke satu arah yang Ayesha bahkan Maxwell sekalipun tidak mengetahuinya sama sekali. Nun jauh di bawah sana, di bawah kursi taman yang cukup besar, sesosok tubuh pria sudah terbujur menjadi mayat dengan luka tembakan tepat di kepalanya. Ia adalah pilot yang seharusnya membersamai evakuasi istri sang Boss Besar.