
Di sebuah kamar rawatan di rumah sakit besar milik Maxwell, seorang wanita sedang berusaha duduk bersandar di tempat tidurnya. Ia nampak kesusahan dan meringis menahan sakit karena baru saja siuman dari operasi mengeluarkan peluru dari bahu kanannya. Ketika mendengar suara langkah kaki, dengan buru-buru ia pun mencari-cari kain di dekatnya dengan sebelah tangannya yang tak diinfus namun tidak ketemu. Seorang pria tinggi tegap yang cukup gagah yang tak lain adalah Mark, datang menghampirinya.
"Kau sudah sadar Nona?"
"Maaf, sudilah kiranya Anda berpaling tidak melihatku karena aku harus menutup aurat ku dulu", ujarnya dengan berusaha menutup kepalanya dengan bantal menggunakan tangannya yang diinfus. Ia meringis karena merasakan sakit.
Mark tercenung. Ia sudah terlanjur melihat sang gadis tanpa penutup kepala juga kakinya sampai lutut. Namun spontan ia pun menuruti perkataan wanita asing di depannya. Ia pun berbalik ke belakang.
Sang wanita pun kemudian mengambil selimut yang ada di bawah kepalanya dengan susah payah dan menjadikannya sebagai penutup kepalanya.
"Sudah, Tuan. Berbaliklah!", ujarnya.
Mark pun berbalik dan ia mengangkat alis matanya melihat pemandangan membingungkan di depannya. Wanita aneh, pikirnya.
Sang wanita melihat ke arahnya dan ia pun mengingatnya.
"Aku ucapkan terima kasih pada Tuan dan kawan-kawan Tuan karena sudah menolongku", ucap si wanita kembali sambil memegangi selimut.
"Aku sebenarnya tidak berniat menolongmu, tapi karena kau bersama Bibi Christine, aku terpaksa melakukannya".
"Jika sudah berbuat baik karena Anda memang baik, akuilah! Tak usah gengsi menutupinya", ujar si wanita.
Mark menggelengkan kepalanya.
"Kalian korbankan nyawa demi aku yang tak dikenal, tidakkah itu sangat berlebihan untuk dikatakan terpaksa?", kata si wanita lagi. Ia membuang pandangan ke arah lain, tidak ingin membalas tatapan pria asing di dekatnya. Mark tersenyum sinis.
"Jangan memujiku. Aku tak sebaik yang Kau kira, Nona"
"Maaf jika Aku salah menilai Anda dan teman-teman Anda. Tapi sebagai orang yang tau balas budi, Aku sekali lagi mengucapkan terima kasih banyak atas pertolongan Anda dan tim Anda", si wanita kini menunduk, menatap ke bawah. Ia meringis merasakan sakit pada kakinya yang kini dibalut perban. Aurat kakinya yang putih terbuka sampai lutut. Ia tak tau lagi bagaimana menutupinya karena tak ada lagi kain yang bisa ditariknya. Rasa sakit pada sekujur badannya pun membuatnya melupakan rasa malunya karena aurat kakinya terlihat. Oh God, ampuni aku, batinnya.
Mark menatap wanita di depannya dengan tatapan menyelidik. Ia menangkap aliran darah yang sudah naik ke selang infus. Dengan sigap ia mendekat dan mematikan laju infus. Grace hanya diam melihat Mark.
"Siapa Anda?", tanya Mark.
"Namaku Julia Grace. Aku seorang dosen di University of Sydney"
"Aku tau itu. Nona Grace! Kau juga berasal dari negeri ini namun sempat besar di Rusia", Mark menambahkan. Ia sudah melacak profil singkat wanita asing yang ditolongnya karena Tuannya memintanya menyelidiki siapapun yang dekat dengan Bibi Christine. Si wanita nampak tergagap. Namun dengan cepat ia menutupi kegugupannya. Orang ini pasti sudah menyelidiki seluk beluk diriku, batinnya.
"Apa hubunganmu dengan Bibi Christine?"
"Beliau temanku"
"Jangan menutupi apapun Nona, kalau tidak, Anda akan berhadapan dengan penguasa negeri ini", Mark menajamkan pandangannya. Ia sudah melihat gelagat wanita asing di depannya yang terlihat jelas menyembunyikan sesuatu.
"Aku dan Bibi Christine dulu pernah bertemu di Sydney ketika aku masih kecil dan kini saat kami berjumpa kembali kami melepas rindu. Lalu terjadilah peristiwa penculikan itu. Kalau tidak percaya tanyalah pada Bibi Christine"
"Kau akan bicara jujur setelah melihat mayat temanmu itu?", ujar Mark penuh makna.
"Bukankah kalian berhasil menyelamatkannya?", matanya melotot ke arah Mark tak percaya.
"Kami datang terlambat. Maafkan Aku!, Mark menghela nafas berat seakan turut merasa kehilangan. Ia melirik ke arah Grace. Yang ditatap nampak sangat terkejut dengan mulut menganga.
"Sudahlah! Lanjutkan penyembuhan mu di sini. Kami akan segera mengurus pemakamannya". Mark berbalik hendak melangkah pergi.
"Tunggu Tuan! Tolong bawa aku serta", Grace sontak memanggil Mark dengan suara bergetar. Air matanya tumpah seketika begitu mengingat wanita tua yang selama ini paling dekat dalam hidupnya meski terpisah jarak. Berkelebat segala kenangan pahit yang ia alami bersama Bibi Christine yang sangat memilukan dan sungguh membuat air matanya semakin deras berderai. Mark pun kembali membalikkan badannya dan melihat triknya berhasil. Grace tergugu dalam isakan tangis yang ditahan-tahan.
"Menangislah dengan benar!", Mark mendekati gadis cantik yang masih pucat itu.
Mendengar kata-kata Mark, entah kenapa Grace seketika menangis dengan lepasnya. Tak ada lagi isak yang tertahan. Ia keluarkan semuanya. Bahunya sampai terguncang. Ia menutup wajahnya dengan satu tangannya, sedangkan yang satu lagi masih terus memegang selimut menutupi kepalanya. Mark terpana melihatnya. Ia sebenarnya merasa bersalah karena sudah menipu sang gadis, namun ia harus membongkar semuanya agar tugasnya berhasil. Dengan kaku, ia memegang bahu kiri sang gadis dengan maksud memberi dukungan untuk menenangkan. Grace tidak bergeming. Ia masih larut dalam kesedihannya. Tak berapa lama ia membuka tangannya dari wajahnya.
"Lepaskan tangan Anda, Tuan. Kita bukan mahram", ujarnya. Mark pun dengan gugup menarik tangannya. Ia bingung dengan istilah-istilah yang dipakai sang gadis. Tapi ia tidak menanggapi.
"Aku harus pergi sekarang"
"Tuan. Tolong bawa aku. Ku mohon!"
"Kau masih harus dirawat di sini Nona. Dokter belum mengijinkan Anda"
"Aku sudah biasa dengan sakit seperti ini. Tolong. Ku mohon! Aku ingin menemui Bibi meski untuk yang terakhir kali", Grace memandang Mark dengan sorot mata memohon. Mata yang dipenuhi kesedihan, yang siapapun melihatnya pasti akan iba. Mark sekuat hati meneruskan rencananya.
"Baiklah. Tapi Kau tidak boleh menyusahkan ku", ujar Mark datar tanpa ekspresi.
"Jangan khawatir. Aku bisa menjaga diriku sendiri", Grace menggigit bibirnya sendiri. Ingin rasanya ia berteriak mengutuki sikap dingin pria di depannya ini yang seperti tak punya perasaan, namun ia tak mungkin melakukannya saat ini. Sekarang yang dipikirkannya hanyalah menjumpai Bibi Christine meski sudah menjadi mayat. Matanya kembali basah. Air mata mengalir dengan deras tanpa mampu dibendung. Bahunya kembali terguncang. Sedih dan sakit akibat luka-luka di tubuhnya bercampur menjadi satu. Kak, di manakah lagi tempatku bersandar dan berbagi cerita jika bukan dengan Kakak? Lalu bagaimana lagi aku menyusuri jati diriku jika engkau sudah tiada? Apakah aku harus mengubur keinginanku untuk mengetahui siapa ayah kandungku yang sebenarnya? gumamnya pilu dalam hati.
"Kau hanya temannya bukan? Sebegitukah sedihnya seorang teman bersedih ketika temannya tiada?", suara Mark membuyarkan lamunan Grace. Gadis itu sontak mendongak ke arah wajah gagah di dekatnya.
"Orang yang tak punya teman karib tentu tak akan bisa merasakan apa yang kurasakan"
"Oh begitu? Ku rasa itu terlalu didramatisir. Tidakkah menangis pilu seperti ini amat berlebihan untuk kehilangan seorang teman yang hanya sebentar bertemu, Nona? Sikapmu ini berlebihan bukan?"
"Kau.... Sungguh keterlaluan!", teriak Grace.
"Apakah Kau jadi ikut bersamaku? Masih mau lanjut marahnya?", Mark bersikap tak peduli. Grace merasa dongkol. Dengan bergegas ia pun mencoba bangkit.
"Tak bisakah Anda mencarikan aku penutup kepala yang ku pakai sebelumnya Tuan?"
"Kain itu sudah kotor dan mungkin sudah dibuang. Kau tak ingin menyusahkanku bukan?"
"Kau...", Grace merapatkan giginya. Kali ini ia memang harus akui memerlukan bantuan Mark.
"Tuan, saya sungguh minta tolong. Bisakah Anda mencarikan saya jilbab, penutup kepala seorang wanita muslimah seperti diriku ini? Ku mohon! Setelah ini aku tak akan meminta lagi.
"Benarkah? Jangan gengsi jika kau masih membutuhkan banyak bantuan dariku Nona", Mark tersenyum tipis. Grace menunduk menahan diri.