A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 57. Zooming with Rusia's Family



Malam ini adalah malam bulan purnama. Ayesha yang sudah janjian dengan keluarganya di Rusia dengan semangat segera menghidupkan laptopnya. Selama ini ia masih berkomunikasi dengan keluarganya via whatsapp group dan malam ini mereka akan zooming untuk saling bercengkrama menikmati purnama di lokasi masing-masing. Maxwell sudah tiba. Ia baru saja pulang dari kantor sebelum magrib tadi karena banyak sekali meeting hari ini. Sementara Ayesha lebih dulu di rumah karena Maxwell memintanya siang tadi mewakili untuk meninjau IC bersama Zeny dan pengacaranya. Ayesha dan Maxwell memilih zooming purnama di halaman belakang mansion. Mereka duduk di bangku panjang beratapkan langit. Halaman belakang ini cukup luas, dengan fasilitas kolam renang disertai beberapa pohon buah dan aneka tanaman bunga yang sedang mekar.


Setelah menunggu beberapa saat, zoom pun mulai terkoneksi dengan Ahmed, Sir Vladimir, Uncle John, Ali dan Bibi Leida. Selain dengan mereka, Ayesha juga punya rencana lainnya, yaitu memperbaiki kembali hubungan antara Paman Alex, Paman John, Elena juga Linores.


Ahmed lebih dulu menyapa Ayesha yang terlihat sudah duduk bersama Maxwell. Nampak keduanya duduk bersisian dengan tangan Maxwell yang setia memeluk bahu sang istri.


"Assalamualaikum adikku yang sholihah"


"Wa alaikumusssalaam wa rahmatullaahinwa barakaatuh", Ayesha dan Maxwell kompak menjawab.


"Gimana kabar di sana kak?", Ayesha mendahului.


"Alhamdulillaah. Everything runs well. Cuma Kakek agak sedikit demam hari ini", sahut Ahmed.


"Dont worry. Cuma demam dikit, biasa orang tua, Nak. Kalian di sana bagaimana? Nak Maxwell, are you ok?", Sir Vladimir menimpali.


"I'm ok, Sir! Kami masih dalam lindungan Allah"


"Syukurlah, Nak. Seminggu lalu kakek terus memikirkanmu. Entahlah, kakek lebih banyak mengingatmu dibanding Ayesha, cucu kakek sendiri", Sir Vladimir tertawa. Maxwell tercenung. Mungkin doa kakek mertuanya-lah yang membuat dia selalu lolos dari kematian selama dalam penculikan Luke kemarin ini.


"Thanks very much kek. Aku sangat terharu. Mungkin doa-doa kakek lah yang membuatku masih hidup saat ini"


"Eh, aku tidak bilang mendoakanmu, cuma mengingatmu"


"Hahaha...", Ayesha refleks tertawa namun hanya sebentar dan langsung menutup mulutnya. Maxwell gemas melihat istrinya dan salah tingkah mendengar perkataan Sir Vladimir. Jujur, ia tak biasa bercanda.


"Kek, Dia pasti kesal dengan ucapan Kakek"


"Eh, kakek cuma bercanda Nak, jangan cemberut ya..Tentu kami mendoakan Nak Maxwell dan juga Ayesha serta orang-orang dekat kalian di sana...karena kakek ingat makanya kakek doakan...", Sir Vladimir tersenyum. Maxwell juga tersenyum.


"Brother, bagaimana di Ausy, apakah Non Ayesha betah di sana?", kini Ali yang bicara.


"Sepertinya begitu. Tapi tanyalah langsung padanya. Orangnya di sini kan?"


"Brother Ali, di manapun kita berada, semuanya bumi Allah. Aku betah", sahut Ayesha.


"Apalagi karena ada suami tampan di sisi. Ya kan Ayesha?", Bibi Leida ikut nimbrung. Ayesah merona.


"Bibi tau...aja...", Ayesha berkata manja. Maxwell tersenyum melihat sisi lain istrinya.


"Nak Maxwell, bagaimana proyek besar di sana? sudah berhasil?", giliran Uncle John.


"Kok paman tau?", Maxwell melihat ke Ayesha seperti menuduh.


"Aku? No. Aku tidak cerita apapun tentang itu"


"Hai, itu kan sangat penting. Ingat Ayesha, kamu memang masih 23 tahun, tapi suamimu sudah 30 tahun. Jangan lama-lama nak. Apakah engkau masih ragu?", Uncle John menghakimi.


Ayesha dan Maxwell saling menatap bingung. Mereka mulai menyadari bahwa mereka berdua sudah missunderstanding.


"Kini giliranku bicara. Hai kalian semua. Aku kakak kandung Ayesha dan iparnya Maxwell. Beri aku waktu yang banyak", Ahmed seolah marah karena sejak tadi mau bicara lagi tidak bisa.


"Iya, iya, kakak kandung dan kakak ipar....", Ali seolah mengejek. Yang lain tertawa semua. Maxwell juga tertawa. Hatinya selalu menghangat di tengah-tengah keluarga istrinya.


"Aku akan ke sana dalam waktu dekat untuk liburan. Ayesha, siapkan tempat terbaik untukku. Ok? Barangkali aku akan mendapat jodoh di sana, sehingga aku bisa mengawasi kalian berdua. Oh ya sekalian aja, kalian carikan aku ya...yang terbaik untukku, yang cantik, yang sholihah, yang cerdas...yang seperti..."


"Seperti siapa?", tanya Ayesha


"Seperti adikku ini..."


"Ah Kakak...Kakak pikir diriku ini kembar apa? Dan kak pikir mencari jodoh sempurna seperti yang kita mau itu seperti mencari baju di butik? lihat, dapat, langsung ke kasir dan bayar? Jika seperti itu tiap orang di dunia ini sudah bahagia karena gak perlu lama-lama menjomblo, langsung dapat dan nikah. Selesai", Ayesha memanyunkan bibirnya dari balik cadarnya. Maxwell yang mulai melihat kecerewetan sang istri jadi makin gemas dibuatnya apalagi membayangkan bibirnya yang nampak dimajukan itu. Rasanya ingin sekali menghabisinya. Sementara itu Ahmed dan yang lainnya tertawa di sana.


"Inilah aslinya Ayesha, nak Maxwell. Dia banyak bicara bukan? Mungkin selama ini Nak Maxwell melihat dia itu kalem kan?", Sir Vladimir tersenyum. Ayesha salah tingkah dan melirik suaminya. Wajahnya merona malu di balik cadarnya.


"Gak juga Kek, aku tau dia ini aslinya memang cerewet", Maxwell mengedipkan mata ke Ayesha. Yang dilirik cemberut. Tapi mana ada yang tahu?


Kedua keluarga lintas benua itu pun terus larut dalam cengkrama melepas kerinduan. Ada banyak canda tawa yang terlempar membuat suasana hangat penuh suka cita. Maxwell yang selama hidup hanya dipenuhi keseriusan, kompetisi dan ketegangan kini merasakan sisi lain dari dunia, yaitu kehangatan sebuah keluarga yang sungguh membuatnya bahagia.


"Jadi ngomong-ngomong gimana dengan proyeknya Nak Maxwell?", Uncle John kembali menyinggung pertanyaannya tadi.


"Hadeehh..sudah 30 tahun hidup. Proyek terbesar pasca menikah. Tiap pasangan pasti menginginkannya", Ahmed nyeletuk.


"Oh...Segera. Secepatnya Paman. Doakan saja kami berdua siap melakukannya"


"Apa? Jadi...."


"Eh, bulan depan kami akan melaksanakan resepsi pernikahan. Semuanya bisa datang kan?", Ayesha memotong ucapan pamannya. Ia sudah kalut jika perkataan pamannya diteruskan.


"Apa? Jadi karena menunggu itu ya, kalian baru akan honey moon...ok lah, nak, silakan nikmati saja masa pacarannya dulu. Semoga semuanya berjalan lancar. Kami usahakan datang. Kalian kirimkan saja satu jet kemari"


"Aamiin. Tentu kek", Maxwell dan Ayesha kompak menjawab.


Akhirnya, setelah satu jam bersenda gurau berkomunikasi via zoom, pembicaraan mereka pun berakhir. Namun tak lama, Ayesha sudah membuka meeting baru. Maxwell mengernyitkan dahi menatap layar laptop. Wajah Elena dan Linores kini yang muncul.


"Hai Elena, Linores. How are you?"


"Hai Ayesha. Aku baik selalu", jawab Linores.


"Hai. Aku juga", Elena menyahut. Ia nampak kikuk. Sudah lama ia tak melihat Linores. Dan kini ia melihatnya secara virtual. Ia melihat ada satu partisipan lagi namun tidak ada nama dan mode stop video.


"Siapa yang satu lagi Ayesha?"


"Nanti juga kau akan tau Elena, saat ini mungkin lagi sibuk, nanti pasti akan muncul. By the way, bagaimana perkembangan Parfume Company Elena?"


"Everything runs well. Our plans go well. Don't worry!"


"Sure. Aku yakin tidak salah menempatkan kalian berdua untuk berkolaborasi dalam perusahaan baru ini"


"Apa?", Elena tak mengerti. Linores nampak salah tingkah.


"Emmm, maaf Elena, aku belum mengatakan kalau...Linores yang membantumu membuatkan semua proposal dan mencarikan para kontraktor bangunan yang jujur agar memudahkanmu Elena."


"Oh gitu ya..."


"Maafkan aku Kak...aku...tak bermaksud diam-diam, namun aku khawatir Kak akan menolakku", Linores salah tingkah.


"Sudahlah. Kita tidak ada masalah, bukan?"


"Jadi, Kak tidak marah kan? Kak menerimaku?"


"Tentu saja"


"Terima kasih, Kak. Kau memang yang terbaik", Linores tersenyum senang.


"Alhamdulillaah. Semoga ke depan kalian bisa bekerja sama dengan lebih baik dan terbuka. Lalu bagaimana dengan para investor dan pihak pengiklan, Elena?"


"Sungguh mencengangkan. Mereka datang sendiri dan menawarkan investasi dan endorsement. Apakah kau yang membantuku, Ayesha?"


"Untuk itu...Mmm, Paman, muncullah...", Ayesha mempersilakan seseorang untuk menampakkan diri. Muncullah Paman Alex yang tentu saja membuat Elena terkejut.


"Hai Elena, apa kabarmu Nak?", Alex nampak gugup. Elena yang melihatnya sekilas kemudian menatap ke arah lain. Sementara itu, Maxwell hanya menjadi penonton. Ia tidak ingin mencampuri urusan keluarga dari istrinya ini.


"Elena, tolong maafkan aku. Ini pasti membuatmu tidak nyaman. Namun aku hanya ingin membuat kalian bersatu. Mempunyai keluarga yang utuh amatlah membahagiakan. Seperti yang aku rasakan selama ini. Amatlah menyenangkan jika kita bisa saling memaafkan bukan?", Ayesha menunggu sesaat. Tidak ada reaksi. Paman Alex dan Elena hanya diam.


"Elena, yakinlah, Paman sudah menyesali semua perlakuannya padamu. Ia ingin menebusnya walau sedikit. Paman Alex-lah yang selama ini bertugas melobi para investor dan endorser. Dia lah yang terus bekerja dalam diam untuk memudahkanmu"


"Elena...", Alex membuka suara kembali. Ia menatap ke arah putrinya.


"Aku...betul-betul meminta maaf padamu, Nak. Tolong maafkanlah segala kesalahanku. Aku sungguh menyesali semuanya. Ku mohon terimalah aku...sebagai ayahmu...Elena, kau adalah putriku...", Alex terbata-bata. Air mata nampak menetes di kedua pipinya.


Elena tak urung melihat ke arah sang ayah. Ia terkesima melihat ketulusan di wajah pria paruh baya itu. Tak dapat ditahan, matanya berkaca-kaca dan air mata pun tumpah begitu saja. Ia masih mengingat bagaimana pertemuan terakhirnya dengan pria itu di rumahnya sendiri. Sang ayah berkali-kali minta maaf padanya. Namun sangat sulit Elena untuk bersuara padanya kala itu.


"Kak...Tolong maafkan Ayah ya...Aku, aku ingin kita bisa membina keluarga yang bahagia seperti orang-orang. Aku punya ayah, ibu, dan kakak. Kita saling memaafkan dan menyayangi. Aku tau semua kepedihan yang Kak rasakan dulu...Aku melihat semuanya...Tapi Ayah sudah berubah Kak...Tolong maafkan Ayah ya...", Linores mencoba mengetuk pintu maaf kakak tirinya itu. Elena semakin tergugu.


"Ayah....ayah....", Elena tak mengatakan apapun. Dia hanya menyebut ayah. Air matanya bercucuran. Bagaimana pun ia menutup hatinya seolah-olah keras dari kata maaf, tapi sungguh sebenarnya ia memiliki hati yang sangat lembut. Ia merindukan keluarganya. Tiba-tiba wajah Alex dan Linores menghilang. Mode stop video. Elena bingung. Dan di sana ia mendengar suara pintu rumahnya diketuk dari luar. Bergegas ia membukanya masih dengan memegang ponsel yang masih live zooming.


Ayesha dan Maxwell seperti menonton sebuah film. Mereka terharu. Sesaat layar kosong namun tak lama kemudian kini terpampang di layar, bagaimana Elena dan Paman Alex sedang berpelukan. Linores pun maju dan turut memeluk keduanya. Tak lama seorang wanita paruh baya pun tiba. Dia adalah ibu kandung Linores, ibu tiri Elena. Ia juga turut memeluk semuanya. Sebuah drama keluarga yang selama ini menyedihkan untuk seorang Elena yang tidak diakui sebagai putri oleh ayahnya sendiri, juga mengalami penderitaan batin juga fisik karena ketidakadilan oleh sang ayah, kini berakhir dengan happy ending. Ayesha dan Maxwell saling berpandangan. Mereka tersenyum bahagia. Turut merasakan atmosfir keharuan di Rusia saat ini, nun jauh di dekat kebun bunga Elena.