A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 64. Betapa Beruntungnya Aku



Terdengar dering notifikasi whatsapp di HP Maxwell di atas nakas ketika pria dewasa itu menuju kamar mandi. Tanpa menghiraukan benda pipih itu, lelaki gagah yang barusan terbangun dari tidurnya itu terus menyelesaikan urusannya di kamar mandi dan keluar 15 menit kemudian. Ayesha sudah lebih dulu membersihkan dirinya dan kini sedang duduk di depan cermin mengeringkan rambutnya tatkala melihat sang suami sudah selesai. Dengan rambut yang masih basah dan masih berhanduk Maxwell pun melangkah mendekati ranjang. Pakaian yang akan ia gunakan sudah lengkap tersedia di sana. Ayesha segera menghampiri sang suami dan membantunya mengeringkan rambut dan berpakaian. Maxwell terus menatap ke wajah wanita cantik di hadapannya yang hanya berjarak dua jengkal saja. Tiada pernah bosan baginya menelusuri tiap inci pahatan maha indah di diri Ayesha yang selalu nampak segar dipandang mata.


"Betapa beruntungnya diriku ini", gumamnya pelan namun Ayesha mendengarnya.


"Aku juga. Betapa beruntungnya diriku mempunyai seorang suami yang perkasa dan menyayangiku", Ayesha mengedipkan matanya. Maxwell tak tahan langsung menowel hidungnya gemas.


"Honey sangat pandai menggoda ya sekarang"


"Begitukah? Aku tidak bermaksud menggoda, aku bicara apa adanya saja", Ayesha tersenyum sambil menyelesaikan tugasnya. Maxwell tak tahan untuk tidak segera memeluk tubuh harum nan segar istrinya itu.


"Hubby, awas pakaiannya kusut"


"Tak masalah. Aku tak peduli"


"Asal Hubby bisa menahan diri tak masalah"


"Aku tak pernah bisa menahan diri jika ada di dekat my honey..."


Keduanya masih terus berpelukan mesra sampai akhirnya terdengar dering telepon dari HP Maxwell.


"Ada apa?", Maxwell langsung ke inti pembicaraan dengan si penelepon. Beberapa menit berikutnya ia menatap Ayesha dan menutup panggilan dengan raut wajah tak terbaca. Yang ditatap sedang sibuk memakai jilbabnya.


"Ada yang ingin Hubby sampaikan?"


"Joeris berhasil kabur dari penjara pemerintah"


Ayesha terdiam. Sudah lama sebenarnya dia ingin menanyakan tentang keadaan kedua musuh Maxwell, Joeris dan Luke. Dia khawatir jika suaminya melakukan kesalahan yang sama dengan menyiksa kedua musuhnya itu di penjara khususnya. Namun ternyata Joeris dibawa ke penjara pemerintah dan tentang Luke, Ayesha sama sekali tidak tau. Dia tak bisa membayangkan jika Luke dipenjara khusus itu. Terbayang kondisi penjara bawah tanah yang dimiliki Maxwell ketika Ayesha sempat mengunjunginya sewaktu Maxwell masih dalam penculikan. Ayesha langsung teringat dengan Bibi Grey dan Bibi Lorenz.


"Hubby, sudahlah. Biarkan saja Joeris. Setiap perbuatan jahat akan mendapatkan balasannya. Lalu bagaimana dengan Luke? Apa yang Hubby lakukan padanya?"


"Aku mengirimnya ke benua Antartika"


"Hubby..."


"Aku bercanda. Ia kini sudah di ujung benua Amerika. Lupakan saja penghianat itu"


"Lalu bagaimana dengan Bibi Grey dan Bibi Lorenz? Maafkan aku Hubby...aku..."


"Bukankah Honey yang membebaskan mereka?"


"Maafkan aku By...aku tidak bermaksud..."


"Tidak apa. Honey sudah berbuat yang benar. Aku memang tidak bisa mengendalikan diri waktu itu dan menyuruh anak buahku mengirim mereka ke penjara khusus. Namun sebenarnya untuk mereka berdua aku tidak benar-benar marah"


"Aku tau, suamiku ini orang yang pemaaf"


"Saat ini aku maafkan tapi tidak untuk ke depannya. Jika mereka masih berulah aku tak tau apakah senjataku masih kering dari darah mereka"


"Niatkan Hubby, tidak akan membunuh lagi. Bukankah Hubby sudah berjanji akan mengubur masa lalu?"


"Tapi aku tak sepenuhnya bisa menghindari", Maxwell terbayang kembali kejadian di pulau tak berpenghuni.


"Dalam kondisi terpaksa, kita boleh menumpahkan darah. Jika itu menyangkut keselamatan nyawa", Ayesha paham dengan apa yang dimaksud suaminya.


"Bukankah kita juga wajib membela diri?", tanya Ayesha retoris. Maxwell pun tersenyum.


"Terima kasih Honey. Aku sudah paham sekarang"


"Setidaknya ketika ingin melukai orang lain, itu dalam rangka membela diri dan kita dalam kondisi terpaksa melakukannya, Hubby. Anggaplah kita dalam situasi perang. Bukankah dalam perang membunuh atau dibunuh?", Ayesha mengakhiri bicaranya.


Mereka berdua kini sudah menuju mobil yang parkir di halaman depan. Zeny dan pengawal lainnya sudah stand by dengan posisi mereka. Siang ini menjelang Juhur, mereka berencana meninjau pembangunan pagar kompleks Islamic Center yang lebih dulu dibangun sebelum proyek fasilitas lainnya dan dilanjutkan dengan kunjungan ke universitas-universitas dan sekolah-sekolah penerima zakat perusahaan legal yang dimiliki Maxwell. Untuk perusahaan-perusahaan illegal yang masih berjalan dikeluarkan juga keuntungannya untuk panti asuhan dan rumah sakit-rumah sakit kecil yang membutuhkan. Pelan-pelan Ayesha ingin mengarahkan suaminya untuk membersihkan uang dan hartanya dengan zakat dan waqaf dan kelak menutup bisnis yang tidak berkah. Uang dari bisnis illegal diarahkan untuk berbagi ke orang-orang yang membutuhkan pertolongan seperti orang miskin dan anak yatim atau piatu di panti asuhan karena prinsipnya uang umat kembali ke umat. Sedangkan dari bisnis legal, zakatnya diambil dan dikeluarkan untuk fasilitas umum yang tepat sasaran. Untuk waqaf Maxwell di Islamic Center sendiri adalah uangnya yang jelas asalnya yang didapat dari bisnis legalnya selama ini.


Ayesha dan Maxwell sudah meninjau proyek di IC dan bertemu langsung dengan para pengurus IC yang kebetulan semuanya hadir. Mereka semua takjub dengan sosok konglomerat yang masih muda itu dan tak hentinya mengucap syukur atas waqaf tak ternilai yang akan digelontorkan oleh pria muallaf tersebut. Ketika hendak pergi, ustadz Mahmud sempat memberikan sebuah buku berbahasa Inggris yang cukup tebal berjudul 'The Miracle of God's Glow' kepada Maxwell.


"Bacalah Nak Maxwell. Jika ada waktu luang Nak Maxwell. Insyaa Allah ini bermanfaat untuk menuntunmu. Semoga Allah memberikan kekuatan padamu untuk isriqamah dalam jalan kebenaran". Ucapan Ustadz segera diaminkan oleh semua yang hadir.


"Terima kasih Ustadz. Mohon doanya selalu", sahut Maxwell.


"Tentu saja", jawab sang Ustadz.


"By the way Ustadz, jika boleh meminta tolong, bisakah Ustadz pilihkan kelompok untuk suami saya ini agar bisa rutin mengikuti kajian di sini?", Ayesha melirik Maxwell yang nampak mengernyitkan dahi mendengarkan perkataan sang istri.


"Oh jadi Nak Maxwell ingin ikut halaqah rutin? Boleh sekali. Kebetulan ada kelompok pebisnis muda Ausy yang pas sekali dengan Nak Maxwell. Setiap malam Sabtu. Jadi, lusa malam Nak Maxwell sudah bisa bergabung", Ustadz Mahmud menatap Maxwell dengan antusias.


"Kajian tentang apa Ustadz?", tanya Ayesha.


"Bisnis ala Rasulullah. Tadabur Quran dan Hadist sebagai motivasi tentang tema ini akan semakin meningkatkan keimanan dan pemahaman orang-orang yang haus iman dan ilmu seperti Nak Maxwell. Kita ada beberapa da'i dari kalangan pebisnis yang mempunyai kapabilitas untuk hal ini. Insyaa Allah sangat cocok untuk Nak Maxwell. Nak Maxwell bisa bertanya apa saja nantinya di forum kecil ini"


"Forum kecil?"


"Ya Nak. Halaqah Bisnis Qurani. Tiap Jumat malam dan hanya ada 9 orang yang rutin mengikuti, ditambah Nak Maxwell genap 10 orang"


"Mengapa hanya sedikit orangnya Ustadz? Bukankah sayang ilmu yang luar biasa dari nara sumber hebat hanya sedikit yang menikmatinya?", Maxwell penasaran. Ayesha tersenyum melihat sang suami. Ia senang pancingannya berhasil.


"Kita fokus pada hasilnya Nak Maxwell. Makanya perlu sedikit orang saja dalam kelompok kecil. Untuk orang banyak namanya Tabligh. Ini kita programkan sebulan sekali di Masjid IC yang dihadiri orang banyak dengan berbagai topik sesuai request jamaah. Ah Nak Maxwell nantinya akan tau bagaimana bentuk halaqah yang saya maksudkan itu. Datanglah lusa malam. Sholat Isya di sini. Bagaimana?"


"Baiklah Ustadz. I will", jawab Maxwell.


"Bagaimana dengan yang muslimah Ustadz?"


"Nak Ayesha nanti akan bertemu dengan Halaqah baru di sini. Datanglah setiap hari Sabtu setelah sholat Juhur di sini. Ustadzah Juraidah istri saya akan menemani Nak Ayesha"


"Apakah tidak ada yang bersamaan dengan saya untuk Ayesha ustadz? Malam Sabtu juga agar kami bisa berangkat bersama", sela Maxwell.


"Maaf Nak Maxwell. Saat ini belum ada karena keterbatasan jumlah para muslimah yang bisa berdua suami istri bersama mengikuti halaqah ini. Selain itu Ustadzah untuk sang guru juga tinggal jauh dari sini jadi tidak memungkinkan perjalanan malam hari. Untuk itu perempuan muslimah lebih aman mengikuti halaqah di siang hari sedangkan pria yang sibuk bekerja halaqah di malam hari", jelas Ustadz Mahmud sambil tersenyum.


"Bisa dipahami Ust. Mudah-mudahan ke depan akan ada lebih banyak pasangan suami istri yang bisa bersama-sama mengikuti kajian dan sang guru juga bisa secepatnya bisa dimudahkan transportasinya ke sini. Terima kasih banyak Ustadz. Sekali lagi Syukron Jazakallah atas infonya", sahut Ayesha dengan mata berbinar.


"Saya rasa kita akan menambah fasilitas perumahan guru mengaji di sini Ustadz. Agar memudahkan jamaah untuk menuntut ilmu dan memudahkan sang da'i juga untuk bekerja", Maxwell berkomentar sambil menyalami sang Ustadz.


"Anda sungguh luar biasa Nak Maxwell. Semoga Allah mudahkan urusan Nak Maxwell. Semua niat baik dimudahkan oleh Allah untuk dilaksanakan. Aamiin".


Setelah perbincangan singkat dengan para pengurus IC mengenai progres pembangunan kompleks IC, Ayesha dan Maxwell pun pamit pergi dan kini menuju sebuah kampus ternama di Ausy. Sebuah tempat yang tak terduga ternyata menjadi torehan sejarah baru bagi kehidupan Maxwell nantinya. Tempat tinggal seseorang yang terkait amat erat tak terpisahkan dengan masa lalunya yang akan menuntunnya mengetahui jati dirinya sendiri.