
Ayesha menembakkan pelurunya ke depan seiring dengan Maxwell yang menjatuhkan tubuhnya ke bawah dan kedua peluru pun saling menyambut. Joeris melotot tak percaya ketika kedua benda kecil kuning itu berbenturan di udara dan terjatuh tepat di bawah kakinya. Tiba-tiba saja ia merasakan tetesan darah di dada kirinya sebelum peluru keduanya selesai ia tembakkan ke arah wanita bercadar di depannya. Sementara itu, Maxwell tak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan gerakan super cepat, ia kini sudah mendekap leher Joeris dan merebut pistol pria itu dan berbalik menyanderanya. Ayesha dengan cepat bergegas mengeluarkan sesuatu dari saku bajunya yang longgar dan menyerahkannya ke Maxwell. Pistolnya sendiriasih terus mengarah ke kepala pria penghianat itu. Kini Maxwell sudah mengikat kedua tangan Joeris dengan borgol baja kecil. Tak seorang pun bisa membukanya kecuali dengan kuncinya atau harus melukai tangannya terlebih dahulu.
"Keparat!", Joeris sumpah serapah merasakan kekalahannya. Terlintas dibenaknya kemungkinan semua orang suruhannya yang belum juga tiba sudah dihabisi oleh Maxwell. Ia menggeram marah.
"Sekarang, bukankah aku yang betul-betul menertawakanmu?"
"Kau memang keparat Maxwell. Aku akan membalasmu", teriak Joeris sambil menahan sakit.
"Balaslah sekarang kalau kau mampu. Kini giliranku membalasmu", ujar Maxwell dengan senyum sinis. Ia lantas duduk di dekat Ayesha, membiarkan Joeris yang terduduk di karpet putih berbulu yang kemudian ternoda karena tetesan darah akibat luka yang dialami musuhnya itu. Pria itu yang semula ingin berteriak lagi perlahan mulai kehilangan kesadaran. Peluru yang ditembakkan Ayesha memang sengaja disertai obat tidur yang kemudian membuat pria itu pun jatuh tertidur.
Maxwell mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Ayesha pun ikut duduk di sofa di samping Maxwell. Tak lama datanglah Mark seorang diri menyusul Patch dan Peter.
"Bagaimana tugas kalian?"
"Semua sudah beres Tuan", sahut Patch.
"Very Good. Bawalah penghianat ini ke klinik. Pastikan aparat suruhanku menjemputnya dan membawanya ke sel. Kau paham Patch?"
"Baik Tuan"
Patch dan Peter pun segera membereskan Joeris. Mark tetap di tempatnya.
"Duduklah Mark. Kau pasti lelah bukan?"
"Aku cukup berolah raga tadi tapi sudah minum sedikit Tuan"
"Heh, ini ada tambahan minuman untukmu jika kau mau". Maxwell menunjuk meja di depannya. Ayesha sontak melirik suaminya.
"Tapi kau tidak boleh mabuk", sambung Maxwell.
"Tetap saja tidak bagus untuk kesehatan, bukan?" Ayesha menatap Maxwell.
"Tapi dia sudah biasa dan tidak haram untuknya honey".
"Ah tidak. Aku tidak akan meminumnya", Mark duduk sesuai perintah Maxwell. Ia mengernyit kan dahi mendengarkan kedua orang yang mempekerjakannya itu. Ia mulai menilai keduanya.
"Walau dia bukan muslim, tidak mengenal halal dan haram, namun agama apapun di dunia ini tidak mendukung umatnya menjadi rusak karena menenggak minuman tak bermanfaat bahkan merusak kesehatan ini, bukan?", Ayesha berkata panjang lebar. Maxwell mengangguk.
"Kau benar, honey. Aku sendiri pun tidak pernah meminumnya", Maxwell meletakkan tangannya ke belakang bahu Ayesha.
"Terkadang rekan bisnis kita mengharuskan kita menghormatinya dengan ikut bersama meminumnya, bagaimana jika meminumnya karena kondisi seperti itu Nyonya?", Mark bertanya.
"Apapun kondisinya kita harus punya komitmen sendiri bukan? Masih banyak hal lain yang bisa menunjukkan penghormatan pada rekan bisinis dengan cara memberi pelayanan bisnis yang terbaik dan menjaga kepercayaan mereka. Jika bukan kita sendiri yang menjaga kesehatan diri kita, lalu siapa lagi? Dan bukannya ku dengar banyak trik kotor rekan bisnis melalui benda memabukkan ini?"
"Tapi hal seputar minum dan makanan tidak bisa dihindari dan ini seperti aturan tak tertulis jika kita ingin mendapatkan mitra kerja yang kita inginkan, karena kalangan atas selalu melakukan itu, Nyonya", Mark mulai tertarik dengan prinsip wanita di depannya.
"Oh ya, mitra kerja yang baik tak akan memaksamu dan bersedia bekerja sama dengan saling menghormati prinsip hidup masing-masing bukan? Satu lagi, inilah pentingnya bersahabat atau bermitra dengan orang baik. Karena kelak ia akan berefek padamu. Ia bisa mempengaruhimu sedikit atau banyak. Analoginya, bertemanlah dengan penjual parfum karena minimal engkau akan harum karena terkena percikan wangi parfumnya. Jangan berteman dengan pandai besi karena mungkin sekali engkau akan terkena percikan apinya jika mendekat". Ayesha menutup ceramahnya. Baginya, siapa pun harus mendapatkan pencerahan jika ia memiliki kesempatan untuk itu. Ia hanya menyampaikan yang ia tahu, dan Allah lah sang Pemberi Hidayah itu, termasuk pria konglomerat yang sedang memeluk bahunya saat ini.
Maxwell hanya menjadi pendengar dan semakin menyadari siapa istrinya. Ia tersenyum menatap Mark yang mulai kagum pada pemikiran perempuan bercadar, istri bossnya tersebut.
"Apakah diskusi ini sudah selesai?", ujar Maxwell.
"Hm, terima kasih Nyonya. Anda sungguh wanita aneh yang punya prinsip", Mark menyahut.
"Wanita aneh?", Ayesha bingung.
"Wanita aneh, karena dikala wanita-wanita saat ini kebanyakan mengobral tubuhnya namun Anda bahkan menutup diri dengan pakaian seperti ini dan ketika mereka kebanyakan bersikap seakan-akan bergelimang kemewahan namun Anda nampak sedehana padahal istri salah seorang penguasa dunia", Mark memuji.
"Sudahlah. Jangan sampai kau jatuh cinta juga pada istriku", Maxwell mendadak menatap tajam ke arah Mark. Ia baru teringat, jangan-jangan pria bayarannya ini sempat melihat Ayesha bertarung tanpa cadarnya ketika di depan lift, karena saat itu istrinya belum sempat memasang cadarnya kembali ketika mendadak menghadapi anak buah Joeris.
"Tenang Tuan. Aku seorang yang tak suka melanggar garis", Mark tersenyum ke arah Tuannya.
"Bagus. Sekarang kita lanjutkan plan berikutnya"
"Baik Tuan", Mark pun bergegas melangkah keluar.
Maxwell kemudian menuju kamar pribadinya di belakang kursi presdir. Tangannya masih setia memegang senjatanya. Ayesha sendiri berdiri dan berkeliling lalu menuju lemari buku. Ada banyak buku tentang bisnis kelas dunia dan ia tertarik ketika melihat judul-judul buku yang berderet rapi di balik pintu lemari kaca transparan itu. Dengan antusias ia membuka lemari tersebut dan mengambil buku yang sangat menarik perhatiannya. "The Most Outstanding Enterpreneur in the World". Ayesha seketika larut beberapa menit dalam bacaannya sambil tetap berdiri. Hobby bacanya membuatnya lupa situasi saat ini. Hingga ia mendengar suara benda berat jatuh dari dalam kamar Maxwell yang terbuka.
"Hubby...", sontak ia bergegas mendekat dengan waspada. Tiba-tiba suara kaki berlari mendekat setelah suara pintu ruangan presdir terbuka.
"Nyonya, apakah kalian baik-baik saja?", Peter dan Mark muncul dengan nafas terengah-engah.
"Tadi Tuan kalian masuk ke kamar ini dan aku mendengar benda jatuh".
"Biar aku saja Nyonya", Max masuk ke kamar Tuannya dengan pandangan waspada dan senjata di tangan.
Mereka terhenyak. Maxwell tidak ada. Kamar mandi terbuka kosong. Nampak plafonnya terbuka dan tangga tergeletak di bawah.
"Shit", Patch bergumam. Ia langsung mengambil tangga dan memasangkannya lagi ke plafon dan naik dengan cepat. Ayesha muai paham. Mark pun menyusul dan diikuti Ayesha. Kini mereka sudah ada di roof top menatap helly yang belum jauh terbang.
"Hubungi Tim udara segera", teriak Mark pada Patch. Mereka tidak mungkin menembak helly karena Maxwell juga di dalamnya.
"Mengapa kalian sampai lengah begini"
"Maafkan kami nyonya. Sepertinya Joeris bukan satu-satunya yang saat ini mengincar Tuan Maxwell. Kami sudah membereskan seluruh kaki tangannya, sampai kemudia sistem keamanan tiba-tiba bobol dan kami menyadari mereka sedang menuju kemari", Mark nampak bersalah.
"Tidak ada manusia yang sempurna. Lakukan yang terbaik saat ini", Ayesha kembali ke bawah lebih dulu dari jalan yang sama. Sementara Mark dan Patch sibuk berkoordinasi dengan yang lain.