A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 38. Maafkan Ayah, Elena.



Akhirnya urusan pabrik selesai juga. Kucuran dana dari Maxwell kembali menghidupkan denyut nadi pabrik. Uncle Joh ditunjuk menjadi wakil direktur menggantikan posisi Ayesha. Ahmed tetap menjadi direkturnya dan dia sekarang fokus mengurusi pabrik karena kuliah S3 nya sudah selesai. Sementara Alex dengan gerak cepat menggantikan tugas Ayesha mengontrol jalannya pembangunan Aysh Parfume Company yang saat ini sudah mulai pada tahap penyelesaian gedung laboratoriumnya. Selanjutnya, tanpa diketahui Elena, Alex membantunya dengan mencari para investor yang bersedia menanamkan modal untuk pendirian perusahaan parfum yang baru dirintis tersebut. Alex memberi jaminan bahwa para investor tersebut tak akan rugi menanamkan saham mereka dengan menunjukkan bukti perusahaan-perusahaan fashion terkenal yang telah percaya pada APC (Aysh Parfum Company) untuk mengendorse produk-produk parfum APC pada fashion mereka. Tanpa kesulitan karena memang sample parfum APC yang sudah diberikan Ayesha pada Alex sangat berkualitas, maka para investor itu langsung setuju dan segera mengucurkan dananya. Tentang para security yang berkomplot dengan Alex juga sudah melapor ke Ayesha dan meminta maaf. Mereka cukup terharu karena majikan mereka sangat pemaaf dan mereka cukup berjanji tidak akan mengulangi lagi dan setia pada pabrik serta memberikan loyalitasnya dengan sepenuh hati. Selain itu, uang sogokan atau bayaran dari Alex untuk mereka dikembalikan ke pabrik.


Hari ini Alex merasa cukup puas dengan hasil usahanya. Sudah seminggu ia berjibaku dengan lobby-lobby investasi dan hunting para investor besar, dan hasilnya cukup menggembirakan. Setiap hari ia melaporkan progressnya pada Ayesha dan Maxwell dan sesuai pesan Maxwell, Ayesha tetap menjadi pemegang saham terbesar yaitu 55 persen dan investor lainnya adalah sisanya. Kini Alex berencana menemui Elena untuk meminta maaf padanya dan ia ingin menuntaskan semua keraguannya dengan mengajak Elena test DN, itu pun jika gadis itu tidak keberatan atau pun marah. Alex hanya ingin mengentaskan semua perasaan ragunya hingga kelak tidak ada lagi penghalang perasaannya pada anaknya tersebut. Kini ia sudah duduk di hadapan Elena di dalam rumahnya di belakang kebun bunga.


"Ayah minta maaf padamu Elena, atas semua perlakuan ayah selama ini. Sungguh ayah menyesalinya, ayah minta maaf", Alex menunduk. Ia tak sanggup menatap gadis berkaca mata yang sangat mirip dengannya itu. Elena yang semula kaget dengan kedatangan sang ayah awalnya tidak ingin membiarkan pria itu masuk ke rumahnya, tapi karena Alex yang mengiba dan menahan pintu rumahnya akhirnya ia tak kuasa menghalangi sang ayah masuk menemuinya.


"Tidak perlu minta maaf padaku. Engkau tak pernah salah bukan? Dan aku memang bukan putrimu", Elena memalingkan wajahnya menatap keluar. Hatinya sangat sakit mengingat semua perlakuan pria di depannya selama ini. Terbayang semua adegan semasa hidup dengan pria yang ia selalu ia panggil Ayah namun tak pernah mendapatkan kasih sayang yang tulus sebagai anak dari sang ayah.


"Aku minta maaf Elena, aku...aku sangat menyesalinya...aku ingin kita bisa berkumpul bersama seperti dulu, dan engkau masih menganggap aku sebagai ayahmu", Alex tercekat dengan ucapannya sendiri. Ia masih ingat bagaimana perlakuannya selama hidup bersama wanita di depannya ini, sejak kecil hingga remaja bahkan hingga dewasa saat ini. Ia tak pernah memperlakukan Elena dengan baik sebaik ia memperlakukan putrinya yang lain, Linores. Perlahan ia angkat wajahnya dan menelusuri wajah anaknya. Ia bisa melihat bagaimana rupa rambut dan mata gadis di depannya yang benar-benar mirip dirinya. Mata coklat Elena, rambut coklat halus bergelombangnya dan juga hidung mancung yang agak besar persis dengan yang ia punya. Jangan lupakan senyumnya yang menimbulkan lesung pipi sebelah, sama dengan Alex. Sesaat Alex menelan ludahnya sendiri. Benar kata Ayesha, bagaimana mungkin ia menampik putri kandungnya sendiri yang jelas-jelas karakter fisiknya persis dengannya? Tanpa test DNA pun semua orang akan mengatakan bahwa Elena adalah keturunannya. Tuhan seolah-olah ingin mengatakan pada dunia bahwa Alex salah besar jika tidak mengakui gadis di depannya ini adalah anaknya sendiri.


"Aku tidak sanggup saat ini menganggapmu sebagai ayah karena aku masih sangat sakit mengingat semuanya. Aku tidak tau mengapa kau tiba-tiba hadir dan minta maaf seperti ini. Ini bukan dirimu. Tolong pergilah dan lupakan aku sebagai anakmu, karena seperti yang pernah kau katakan bukan? Bahwa aku bukan anakmu", Elena kemudian berdiri dan melangkah masuk. Ia berdiri di balik pintu ruang tengah. Perlahan air matanya menetes. Prilakunya pada sosok pria di dekatnya tadi benar-benar menghianati perasaannya sendiri.


Alex perlahan bangkit dari duduknya dan menatap kepergian Elena ke bagian dalam rumah. Setengah berteriak ia berlutut.


"Elena, anakku, ku mohon maafkan ayah nak. Engkau pasti masih terluka dengan semua perbuatan ayah selama ini. Tapi percayalah, ayah sudah menyadari semua kesalahan ayah selama ini. Tolong maafkan ayah. Ayah tau engkau masih menyayangi ayah bukan? Saat ini aku tau kau belum bisa menerima ayah lagi, tapi aku janji suatu saat aku akan kembali mendengarkan engkau memanggil ayah lagi padaku. Aku tunggu saat itu Elena. Ayah pamit dulu. Sekali lagi maafkan ayah", Alex bangkit dan kemudian melangkah pergi. Ia sudah merasa lega. Sekali lagi ia menoleh ke belakang, berharap Elena keluar dan menyusulnya. Tapi ia tidak menemukan bayangan putrinya itu. Meski kecewa tapi kini cukup merasa lega mengatakan isi hatinya. Dengan gontai ia pun pergi meninggalkan rumah Elena.


Di balik gorden jendela ruang tamu, Elena hanya mampu menatap pilu ayahnya. Bibirnya tersenyum namun ada isakan tangis yang mengiringi. Entahlah, ia masih bingung, sedih atau bahagia saat ini. Pelan ia hapus air matanya dan terduduk di lantai.


"Ayah...", lirihnya.