A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 50. Jebakan Luke



Ayesha dan Zeny bernafas lega. Mereka berhasil menyingkirkan para penyerangnya dengan mudah. Mereka melarikan diri setelah mendapatkan serangan balasan dari kedua wanita yang sama sekali tak mereka perhitungkan begitu hebat. Sementara itu, beberapa puluh meter dari mereka berdua, Mr. Luke nampak kerepotan menghadapi tiga pria berbadan besar yang masih terus menyerangnya dengan belati tajam. Ayesha dan Zeny yang melihatnya segera memberikan bantuan. Kini mereka satu lawan satu. Ayesha tidak kesulitan menghadapi lawannya. Dengan pengalamannya menghadapi para penjahat di Rusia dengan mudahnya ia menaklukannya. Namun ketika baru saja hendak menangkis serangan belati lawan, ia melihat musuh Luke nampak mengarahkan belatinya ke perut Luke yang sedang lengah. Sontak ia berlari menghindar namun sekaligus memutar tubuhnya dan menendang lengan lawan Luke sehingga belatinya pun terpental. Luke pun selamat, namun ujung belati lawan sempat menggores kulit perutnya. Ia terkesima melihat gerakan Ayesha yang begitu gesit.


Zeny yang sudah merobohkan lawannya segera menghajar kedua orang lawan Luke dan Ayesha, namun mereka berdua berhasil meloloskan diri dengan meninggalkan bom asap.


"Mr. Luke, Anda baik-baik saja?", Ayesha nampak cemas melihat darah yang merembes keluar dari kemeja putih Luke di balik jasnya.


"Ya, Nyonya. Ini hanya luka kecil. Terima kasih sudah menyelamatkan saya"


"Don't mention it! Kita harus saling menolong bukan? Zeny, kau membawa sesuatu untuk menahan darah Mr. Luke?"


"Maaf. Tidak ada Nyonya", Zeny melihat dirinya sendiri yang menggunakan pakaian kemeja panjang dan celana panjang.


Ayesha kemudian membuka baju luarnya yang merupakan rompi panjang putih sebagai pelengkap fashion gamis hitamnya dan memberikannya pada Luke.


"Anda bisa mengikatkannya pada perut Anda sendiri Mr. Luke?"


"Oh tidak usah Nyonya. Ini hanya luka kecil"


"Kecil bisa menjadi besar jika Anda kehilangan banyak darah"


"Baiklah. Terima kasih Nyonya". Luke segera mengikat lukanya untuk menahan laju darahnya. Kini mereka bertiga keluar gedung dan menuju klinik yang tak jauh dari perusahaan Powell Group. Sesampainya di klinik dan mendapat penanganan medis, tak lama datanglah seseorang berpakaian seragam driver perusahaan Powell Group untuk menjemput Luke dan mengantarkannya kembali ke apartemennya.


"Apa Anda tidak mencurigai sesuatu Nyonya?", Zeny melirik tuannya di sampingnya sambil mengemudikan mobil menuju mansion.


"Tentu saja. Ada musuh baru yang kini muncul, dan bisa jadi dia adalah orang internal dan sangat mengetahui kelemahan sistem keamanan perusahaan"


"Anda benar Nyonya. Sistem keamanan perusahaan harus ditingkatkan Nyonya. Maaf jika saya lancang"


"Kau benar Zeny. Aku senang kau memberikan idemu. Menurutmu apa yang harus ku lakukan agar sistem keamanan perusahaan tidak begitu mudah dihack dan disusupi musuh?"


"Kerahkan hacker yang lebih handal dari yang sekarang"


"Mereka harus diganti?"


"Ya. Nyonya. Aku kira kemampuan mereka untuk perusahaan besar setingkat Powell Group terlalu rendah, Nyonya. Kecuali...."


"Ada penghianat di antara mereka"


"Anda benar Nyonya"


"Aku yakin pada dugaan yang kedua. Kejadian sabotase pertama mungkin terjadi karena ada Joeris yang masih bebas. Namun ini dia sudah dipenjara tanpa alat komunikasi. Artinya, ada orang lain lagi dan dia memiliki kaki tangan di internal Powell Group", Ayesha mendesah pelan. Kepalanya cukup penat memikirkan keberadaan para penghianat dan musuh Maxwell yang datang silih berganti. Ia mulai sadar, bahwa musuh suaminya memang sangat banyak dan saat ini mereka bermunculan untuk mendapatkan kesempatan mendapatkan harta suaminya. Oh God, inilah besarnya fitnah harta, hidup tidak bisa tenang karena terlalu banyak orang yang ingin merampok. Jika saja bisa memilih, aku lebih suka bersuamikan seorang lelaki sederhana yang cukup memberikan cinta dan bisa diajak membangun rumah tangga dakwah yang bahagia pada umumnya, lirih Ayesha dalam hati. Seketika ia teringat sesuatu.


"Zeny, kau sudah mendapatkan informasi tentang Islamic Center di Sydney ini?"


"Oh sudah Nyonya. Maaf jika Nyonya tidak keberatan, infonya sudah saya simpan di dasbor"


"Oh thanks a bunch Zeny". Ayesha pun langsung membuka dasbor di depannya dan mengambil sebuah map. Dia membuka isinya dan tersenyum.


"Besok pagi setelah jogging kita ke sana ya", Ayesha nampak antusias. Besok weekend. Ada banyak rencana yang sudah Ayesha susun.


"Baik Nyonya".


Mereka sudah sampai di mansion dan Ayesha pun langsng menuju kamarnya. Tubuhnya merasa penat. Namun baru saja hendak duduk di tepi ranjang untuk istirahat sejenak, ponselnya berdering. Hatinya dipenuhi harapan.


"Ada apa Mark? Kau sudah menemukan tuanmu?"


"Sepertinya begitu Nyonya. Kami sekarang sedang menuju sebuah pulau kecil terdekat dari Bundaberg. Ada sedikit petunjuk. Mungkin di sana tidak ada signal sama sekali dan..."


"Mark...ya...hallo..hallo...", Ayesha penasaran. Telepon terputus. Sepertinya jaringan terputus.


Ayesha bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah keluar dan waktu Magrib tiba dia pun melaksanakan sholat di kamarnya dan turun untuk makan. Bibi Cristine dan Paman Sam telah menunggu.


"Bibi dan Paman telah lama menungguku?"


"Oh tidak Nyonya", Bibi Cristine menyahut. Mereka berdiri lalu menyiapkan kursi dan mempersilakan Ayesha duduk.


"Terima kasih Bibi. Lain kali tidak perlu begitu. Aku bisa sendiri Bibi. Sekarang mari kita duduk bersama untuk makan malam bersama. Jangan lagi meninggalkanku sendirian di sini. Ok?"


Selama kepergian Maxwell, Ayesha hanya sendirian makan di meja makan yang besar ini. Ketika ia hendak mengajak yang lain makan mereka selalu beralasan sudah makan di belakang. Malam ini, Ayesha memang sudah berpesan agar mereka menunggunya dan mengajak makan bersama, sehingga tidak ada lagi alasan bahwa mereka sudah makan. Dengan kaku, akhirnya Bibi Cristine dan Paman Sam duduk di kursi makan bersama majikannya. Itu pun setelah dipaksa oleh Ayesha. Beberapa menit berlalu dan mereka pun menyelesaikan makannya. Ketika Bibi Crisrtine hendak membereskan peralatan makan, Ayesha mencegahnya dan memintanya duduk kembali.


"Nanti saja Bibi. Ada yang hendak aku tanyakan".


"Ada apa Nyonya?"


"Bagaimana kabar Bibi Grey dan Bibi Lorenz?"


Bibi Cristine dan Paman Sam sejenak saling berpandangan.


"Tolong ceritakan padaku apa yang suamiku lakukan pada mereka"


"Kami...kami tidak bisa mengatakannya Nyonya", sahut Paman Sam.


"Ku mohon kalian mengatakannya padaku. Aku tak ingin suamiku melakukan kesalahan yang sama seperti dulu. Aku bertanggung jawab jika Tuan kalian marah pada kalian nantinya"


Setelah didesak, akhirnya Paman Sam mengatakannya.


"Mereka...sudah dikirim ke penjara, Nyonya"


Ayesha terhenyak.


"Penjara pemerintah atau....?"


"Penjara Tuan Maxwell"


"Antarkan aku ke sana besok siang. Ok?"


Paman Sam hanya bisa mengangguk pasrah sambil melirik Bibi Cristine yang tertunduk. Ayesha menatap keduanya. Ada banyak kengerian yang dibayangkannya mendengar kata penjara seorang Mafia. Bagaimanapun, suaminya baru saja berhijrah. Banyak hal yang masih harus disadarkan untuk ditinggalkan dan semuanya butuh proses yang panjang. Ayesha menarik nafas berat.


Sementara itu, di sebuah apartemen elit, Luke sedang menelpon seseorang dan wajah merah padam. Ia menahan marahnya.


"Dasar bodoh. Mengapa kau sampai melukaiku"


"Ampun tuan, sebenarnya saya hanya berpura-pura saja namun nona itu sudah keburu menendang saya sehingga pisaunya tidak sengaja malah mengenai perut tuan"


"Jika kau di sini, habis kau"


"Ampun tuan. Tapi dengan demikian, bukankah mereka tidak akan mencurigai Tuan?"


"Kau benar. Ya sudah, jangan sampai kalian tertangkap. Segera pergi ke luar kota untuk sementara waktu ini"


"Baik Tuan"


Luke melempar ponselnya ke ranjang. Ia hanya berencana untuk menguji seberapa kuat Ayesha dan Zeny dalam bertarung, dan dia sudah mengetahuinya, namun naas dia malah kena imbasnya. Namun ia pun sadar bahwa apa yang dikatakan anak buahnya benar. Kedua wanita kuat itu akan luput untuk mencurigainya.


Luke merebahkan tubuhnya sambil meraba perutnya yang sudah diperban. Ketika tatapannya jatuh pada sebuah plastik putih di meja sofa ia kembali bangkit dan tersenyum. Diraihnya plastik tersebut dan mengeluarkan isinya. Sebuah rompi putih dengan bercak darahnya menempel di sana. Ayesha. Kau wanita yang unik. Aku yakin di balik cadarmu, tersimpan wajah cantik yang menawan sehingga membuat hati Maxwell menyerah. Pria dingin itu, tidak mungkin sembarangan jatuh cinta pada seorang wanita bukan? Dan apapun yang menjadi miliknya, akan menjadi milikku juga, seringai Luke licik.