A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 101. Panggil Aku Paman



Sementara itu, di sudut taman lainnya, Maxwell dan Abraham kini duduk bersebelahan di sebuah bangku panjang di bawah pohon mangga. Sejauh 50 meter di dekat mereka ada gazebo. Maxwell terus mengarahkan pandangannya ke arah gazebo artistik ukuran 3 x 3 meter yang unik itu dengan pikiran yang berkelana. Setiap melihat ke sana, ia akan langsung mengingat sang mendiang ayah serta sebuah makam di dekatnya yang dia pikir selama ini adalah makam neneknya. Sementara sang Paman sesekali melirik sang keponakan. Keduanya masih tetap saling diam beberapa saat. Tak nampak tanda-tanda akan memulai pembicaraan hingga kemudian sang Paman yang sejak tadi juga sesekali memandang sekitar tanpa fokus itu kini mengalah untuk berbicara lebih dulu.


"Bagaimana kabarmu Maxwell?", lirih Abraham.


"Seperti yang Anda lihat"


"Bisakah...Kau memanggilku Paman?", Abraham bersuara setengah berbisik.


"Apa itu penting?", Maxwell masih belum merubah posisinya. Pandangannya masih ke depan.


"Of Course. Aku ingin Kau memanggilku demikian. Karena aku juga ingin merasakan memiliki keturunan seperti orang-orang, meski bukan keturunan sebagai anak kandungku.", suara Abraham terdengar getir. Untuk apakah hidup bergelimang harta jika hanya untuk diri sendiri? Pikirnya. Ia kini menghadapkan wajahnya ke arah Maxwell. Pria dingin yang sudah jadi seorang muslim itu pun mengalihkan tatapannya ke samping, ke arah sang paman. Namun hanya sekilas saja, selebihnya wajah tampan itu menunduk dan kembali ke posisi awal.


"Mengapa begitu penting memiliki keturunan hm?"


"Karena hidup akan terasa lebih hidup. Kita merasa tidak sendirian. Ada semangat baru untuk membahagiakan kehidupan para penerus kita dengan harta yang kita punya", ujar Abraham dengan tatapan menelisik wajah tampan yang menunduk di dekatnya.


"Tuan Alexander bahkan menyia-nyiakan darah dagingnya sendiri hanya karena perbedaan keyakinan dan pendapat", sahut Maxwell sinis sambil mengangkat wajahnya ke depan.


"Itu dulu. Kakekmu dalam keadaan emosi saat itu. Tapi ia segera menyesalinya. Namun semuanya terlambat. Begitu ia menyadari kesalahannya, kabar yang kami peroleh...ibumu...mendapatkan musibah itu..."


"Musibah apa?"


"Ditangkap musuh dan di..ah...sudahlah...aku sendiri tak mempercayainya dan itu memang bukan kenyataan yang sebenarnya"


"Mengapa Anda begitu yakin bukan seperti itu?"


"Walau aku tak berhasil menyelidikinya hingga tuntas tapi aku sudah mendapatkan bukti bahwa wanita yang diberitakan itu bukan Sofia. Dia mungkin masih hidup saat ini dan sempat melahirkanmu, Maxwell". Abraham berhenti sejenak dan menatap ke dalam mata Maxwell.


"Jika demikian lalu siapa yang membuat ibuku bisa melahirkanku?"


"Bisa jadi ibumu menjalin hubungan dengan pria muslim dan menikah dengannya bukan?"


"Lalu keluarga besar Al Qudri sang penguasa dunia yang hebat bahkan sampai 30 tahun lamanya tak pernah bisa menemukannya?"


"Itu...aku..ya..kau benar...kami sungguh bodoh tak mampu menemukan ibumu hingga selama itu", Abraham tak bisa lagi membela diri.


"Karena itulah kami menyangka bahwa Sofia sudah dibawa oleh musuh besar Al Qudri sehingga sangat sulit kami untuk menemukannya"


"Siapa musuh besar Al Qudri yang tak mampu kalian tembus?"


"Hanya keluarga Powell yang mungkin mampu melakukannya, namun hingga ayah angkatmu itu tewas kami pun tidak bisa membuktikannya"


Tiba-tiba Abraham berpikir sesuatu.


"Ataukah engkau sudah menemukan ibumu?"


Maxwell hanya diam dan masih bersikap yang sama. Ia kembali mengingat keprihatinan sang ibu yang sudah dibuang dari keluarganya dan berpikir bahwa Tuhan sudah membalas semua perbuatan kakek dan paman-pamannya dengan tidak memberikan keturunan karena telah menyiakan hidup seorang Sofia, ibu yang melahirkannya. Terbayang di awal bagaimana penderitaan sang ibunda berada di dalam penjara George Powell selama beberapa waktu, walau kemudian sang ayah mulai menyayangi ibunya karena pelayanan dan kelembutan sang ibu. Maxwell menarik nafasnya dan menghembuskannya seolah melepas sesak di dada. Ia lagi-lagi menyunggingkan senyum sinisnya.


"Katakan padaku Maxwell, kau sudah menemukan ibumu? Dimana dia sekarang? Katakanlah!"


"Sofia Alexander sudah dicoret dari daftar keluarga Al Qudri. Tidak penting lagi bukan? Untuk apa Paman mencarinya lagi?"


"Maxwell. Seandainya pun kakekmu juga paman-pamanmu yang lain belum menyadari kesalahan mereka karena sudah membuang nama ibumu, tapi aku sejak dulu tidak pernah melakukannya. Meski aku kecewa dengan keputusan Sofia pindah keyakinan, tapi aku tau itu haknya. Aku tetap menghargai keputusannya"


"Lalu apa usaha Paman untuk ibu? Paman hanya diam ketika ibu diusir bukan?"


"Kau benar. Aku hanya bisa diam waktu itu, karena aku tidak punya keberanian untuk jatuh miskin. Kakekmu mengancamku jika menolong ibumu maka aku juga akan dikeluarkan dari daftar ahli waris. Aku waktu itu masih bergantung pada bantuan kakekmu sehingga tidak berdaya sama sekali. Maafkan aku..."


"Sudahlah Paman. Lupakan saja Ibu", Maxwell sudah tak ingin membahas ibunya. Baginya sudah cukup untuk mengetahui bahwa ibunya sudah tenang di alamnya dan kini ia mengunjungi makamnya setiap hari. Abraham yang mendengar Maxwell menyebutnya Paman seketika merasa bahagia.


"Aku tak memiliki anak. Sofia adalah adik kandung kesayanganku. Kau anaknya, kau darah dagingnya, maka kau juga darah dagingku", bisik Abraham dengan suara parau. Maxwell memejamkan matanya. Entah kenapa, rasa sakit di hatinya mengingat bagaimana nasib sang ibu yang diusir keluarganya hilang entah kemana. Digantikan rasa perih karena guncangan di bahunya. Sang Paman, the lion of desert itu yang selama ini nampak garang sebagai musuh, yang dikenal Mafia kejam penguasa Amerika dan Timur Tengah, ternyata cukup rapuh. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ternyata ia mendambakan seorang anak. Dan alangkah senang hatinya karena selama ini apa yang dicarinya akhirnya sudah ditemukan. Keponakannya, meski bukan keturunannya, tapi ia anggap sebagai anaknya sendiri, karena sang ibu, Sofia Alexander, adalah seorang wanita yang paling dicintainya di dunia ini sebagai saudara perempuan satu-satunya. Maxwell yang merasakan perasaan yang tulus dari sang Paman hanya bisa tersenyum dalam hati. Sesaat ia teringat sosok sepupunya sekaligus bibi mudanya. Penasarannya harus segera dituntaskan dan inilah waktunya. Ia melepaskan pelukan sang paman dengan perlahan. Dipandanginya wajah basah di depannya dengan tatapan menyelidik.


"Benarkah Anda sama sekali tak memiliki anak?", cukup kelu lidah Maxwell memanggil paman pada sosok di hadapannya.


"Panggil aku Paman...", lirih Abraham nyaris tak terdengar.


"Anda yakin tak memiliki anak sama sekali?", ulang Maxwell diliputi kemarahan yang mendadak muncul kembali.


"Apa maksudmu? Aku memang tak memiliki seorang anak pun. Mengapa kau tak percaya?", Abraham terlihat bingung.


"Lalu siapa wanita yang bernama Margaretta?"


"Margaretta?", Abraham nampak berpikir sejenak.


"Siapa dia?"


"Anda masih berpura-pura? Hm, aku sungguh muak dengan keluarga Al Qudri", Maxwell mulai menaikkan intonasinya menahan geram. Rasa harunya barusan dengan air mata sang paman mendadak hilang kembali berganti rasa sakit karena sikap sang paman yang menurutnya berpura-pura. Sedangkan Abraham nampak masih berusaha memaksakan ingatannya.


"Katakan padaku siapa dia? Aku tak berbohong. Aku sama sekali tidak mengenalnya", Abraham kini memijit kepalanya yang mulai sakit.


"Untuk apa aku mengatakan siapa dia. Jika Anda memang sudah melupakannya, maka itu tak penting. Anda dan keluarga Anda, Al Qudri memang tak akan mengingat apapun karena Anda semua memang tak layak mendapatkan amanah dari Tuhan"


"Tolong katakan Siapa Margaretta? Apa hubungannya dengan amanah dari Tuhan?"


"Sudahlah. Lupakan saja. Bukankah sesuatu yang hilang dari ingatan itu karena sesuatu tersebut sama sekali tidak penting Tuan Abraham?"


"Margaretta....arghhhh...", kepala Abraham semakin sakit dan refleks, pria dewasa itu pun semakin menambah tekanan jari jemarinya pada kedua pelipisnya.


"Dia adalah...", Maxwell nyaris mengatakan siapa wanita yang disebutkannya manakala ia melihat sang paman sudah bereaksi seperti kesakitan dengan memegangi kepalanya. Keringat terlihat sudah mengucur mengaliri tubuh sosok paruh baya yang semula nampak sangat rapi dan necis itu. Maxwell terpaku melihat sang paman yang kini mulai berteriak tertahan seperti menahankan rasa sakit yang kuat pada kepalanya..


"Arghhhh...", teriak Abraham.


Maxwell pun segera menangkap tubuh lelaki di dekatnya dan berteriak memanggil dr Jhonson. Sang dokter yang semula asyik bercengkrama dengan burung Nuri di sangkarnya bergegas menghampiri. Keduanya pun sibuk memegangi Abraham yang tiba-tiba lemas tak sadarkan diri. Dua orang penjaga yang melihat kejadian tersebut pun tergopoh-gopoh menghampiri dan membawa Abraham ke klinik mansion. Segenap penghuni mansion yang berada di taman pun saling bertatapan tanpa berani mencampuri. Mereka pun turut serta masuk kembali ke dalam mencari tau apa yang terjadi.


Tiba di klinik, dr Johnson pun segera memeriksa keadaan Abraham dengan peralatan medis yang lumayan lengkap tersedia di ruangan klinik Maxwell tersebut. Setelah selesai m, Maxwell pun langsung bertanya keadaan sang paman.


"Apa yang terjadi dengannya?"


"Sepertinya ia merasakan sakit yang hebat pada kepalanya" jawab dr Johnson.


Maxwell termangu.


"Jadi ia tak berpura-pura kesakitan?"


"Bagaimana mungkin Tuan berpikir demikian? Jangan dulu memaksakan ingatannya Tuan. Ia seperti trauma dan berusaha memanggil memorinya hingga sakit di kepalanya"


"Apakah ia pernah mengalami kecelakaan di kepala sebelumnya"


"Benar. Cuma itu dugaan yang kuat saat ini", sahut sang dokter.


Maxwell pun mengingat ketika Bibi Christine mengatakan bahwa Sang Paman meninggalkan Grace di usia 3 tahun dan tak pernah sekali pun menjenguknya kembali. Pria yang sedang sakit ini kemungkinan hilang ingatan karena kecelakaan dan tak ingat pada anak istri yang sudah dinikahinya.


"Jelaskan padaku tentang Amnesia, dr Jhonson"


Dr Johnson paham dengan apa yang ada dalam pikiran sang Tuan. Ia menarik nafas sejenak dan kini membuka gadget nya. Searching sejenak dan memberikannya pada sang Tuan. Maxwell membacanya dan mulai mengerti. Ia mendenguskan nafas sejenak dan menyapukan pandangannya pada sosok yang masih berbaring pingsan di atas bed.


"Aku sudah menemukan jawabannya Paman. Maafkan aku", lirih Maxwell.