A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
30. Masalah Pabrik. (Part 1)



Maxwell masih senyum sendiri sambil menggandeng lengan sang istri menuju mobil mereka. Perasaannya sangat bahagia sore ini. Sang istri pun terlihat sama. Bunga-bunga cinta di hati mereka kian bermekaran saat ini.


Setelah melewati sore yang terasa singkat, kini malam pun datang dan mereka singgah di Masjid terdekat sekaligus Islamic Center yang pernah didatangi Maxwell sebelumnya.


Ayesha sholat Magrib di saf perempuan dan Maxwell tentu saja di saf lelaki. Dia kembali bertemu dengan Syekh Hasan dan mendapatkan kembali siraman ruhani penyejuk jiwa. Ia menceritakan kisah pernikahannya dengan Ayesha dan Syech Hasan yang mendengarkan berkali kali memuji nama Allah dan mengatakan bahwa Maxwell harus pandai bersyukur dengan menjaga Ayesha dan melaksanakan amanah menjadi seorang suami dan ayah yang bertanggung jawab.


"Nak Maxwell harus menjaga amanah dari Allah dengan baik. Jagalah istri nak Maxwell dengan segenap jiwa dan jadilah sebaik-baik hamba Allah yang punya banyak manfaat untuk orang banyak", tutup Syekh Hasan mengakhiri perjumpaan mereka dan tak lupa mendoakan kebahagiaan pada rumah tangga Maxwell dan Ayesha. Maxwell terus mengucapkan terima kasih dan pamit pulang.


"Honey, kita singgah makan ya..."


"Boleh. Kita singgah di restaurant favorit Ayesha ya?"


"Boleh"


Keduanya pun menuju sebuah restaurant pinggir jalan yang luas dan nampak elit dan segera menuju meja pojok yang nampak sangat nyaman untuk melihat ke segala penjuru. Sambil menunggu pesanan, Maxwell sibuk dengan gadgetnya. Ayesha hanya memperhatikan suaminya, menahan rasa penasaran ketika ia melihat sesekali nampak guratan di kening sang suami yang menunjukkan susuatu yang cukup berat. Maxwell terlihat beberapa kali mengetik dan menunggu.


"Hubby....apakah tidak ingin menceritakan sesuatu padaku?"


"Jika aku tidak bisa menyelesaikannya sendiri, pasti akan ku bagi bersamamu, honey"


"Bagilah bebanmu. Jangan ditanggung sendiri. Aku istrimu bukan?"


"Aku hanya ingin membaginya jika beban itu tak sanggup lagi kupikul sendiri. Aku tidak ingin istriku yang cantik ini merasa susah. Cukup padanya menanggung beban mengandung, melahirkan dan membantu mendidik anak-anakku kelak."


"Hubby..."


"Aku sudah tidak sabar honey. Aku harap kita segera mencetaknya ketika honey moon di negeri kelahiranku"


"Hmmmm....", Ayesha hanya tersenyum malu di balik cadarnya.


"Oh ya, bagaimana jika minggu depan kita berangkat?"


"Apa hubby sudah cukup merasa sehat?"


"Jika ada istri hebat disisiku, aku tentu akan terus merasa sehat dan kuat"


"Aku serius hubby..."


"Ya. Aku juga serius honey. Insyaa Allah aku sudah merasa lebih baik."


"Bagaimana dengan Joeris dan sekutunya?"


"Belum ada pergerakan. Tapi tenanglah. Aku sudah mempersiapkan diri menghadapi mereka."


"Apakah masih ada yang bisa dipercaya di sana?"


"Masih. Pengacara dan pengasuhku. Minimal mereka berdua. Yang lainnya, aku akan menguji mereka lebih dulu"


"Aku ingin hubby betul-betul menyelidiki semua orang di sekitar hubby selama ini. Ujilah kesetiaan mereka dengan uang dan harta, maka hubby akan melihat siapa yang benar-benar tulus terhadap hubby."


"You are right, honey. Aku pasti akan membuktikan di antara mereka siapa yang masih bisa ku pakai dan mana yang harus dibuang pada tempatnya"


"Jangan membunuh lagi"


"Tentu tidak. Hanya sedikit pelajaran"


Maxwell tersenyum. Matanya menerawang seolah menembus pemandangan nun jauh di negerinya, tempatnya lahir dan dibesarkan.


Tak berapa lama pesanan mereka datang dan keduanya pun larut dalam suasana makan malam yang hening. Hanya ada suara denting sendok dan garpu menemani. Para pengunjung lainnya juga melakukan hal yang sama. Tidak ada canda tawa di meja makan. Semuanya nampak serius menikmati dinner mereka dan barulah berbicara setelah menyelesaikan dessert mereka bersama orang-orang terkasih yang menemani.


"Assalamualaikum kak..."


"Wa alaikumussalaam. Bagaimana kabarmu adikku yang manis..."


"Alhamdulillaah, baik. Bagaimana kabar pabrik kita di sana kak...apakah kakak sudah bisa mengatasinya?"


"Masalahnya cukup serius, untuk itulah aku meneleponmu meminta saran padamu"


"Katakan saja. Jangan menanggung sendirian"


"Ada kasus korupsi yang akan cukup membuat pabrik arang kelapa kita gulung tikar.", suara desahan nafas yang cukup berat terdengar si seberang.


"Innalillaah... Siapa yang tega menggelapkan uang orang tua kita. Bukankah selama ini semua pekerja sudah cukup mendapatkan hak mereka bahkan lebih"


"Semuanya bisa berubah sayang. Dunia ini sangat menggoda bukan?", terdengar suara Ahmed yang terasa getir.


"Lalu apa yang kak lakukan? Apakah sudah terungkap siapa dalangnya?"


"Sepertinya sudah. Tapi belum cukup bukti. Untuk inilah aku perlu minta pertimbangan darimu, apakah kita akan membongkar semua ini untuk membangkitkan kembali pabrik ataukah kita tutupi dengan mengucurkan dana segar untuk menutupi kebocoran dana yang ada."


"Sebuah amanah amat besar pengaruhnya. Aku tak ingin memelihara seorang penghianat. Bukankah dalam dien kita, hukuman untuk seorang penghianat sangat mengerikan? Aku ingin kakak segera menangkapnya"


"Baiklah kalau begitu"


Ahmed menutup telponnya di seberang. Ayesha meletakkan hp nya di meja dan terus memainkan benda pipih itu sambil berpikir keras. Hm, siapa yang sudah tega mengeruk keuntungan pribadi tanpa berpikir panjang untuk mengorbankan puluhan dapur rumah tangga yang sudah bergantung pada pabrik ini. Sungguh orang yang tidak pandai bersyukur. Ayesha cukup gemas membayangkan prilaku pekerjanya yang sudah menyia-nyiakan kepercayaan yang keluarganya berikan selama ini padahal seingatnya mereka semua pekerja sudah diberikan hak yang layak bahkan lebih.


Maxwell baru saja keluar dari toilet ketika ia melihat dari jauh sosok pria yang ia kenal selama ini melalui virtual meeting saja.


Bergegas didekatinya sosok tersebut yang nampak hendak memasuki sebuah mobil sport hitam di parkiran. Maxwell terlambat. Belum sempat ia mengejarnya, sang pria sudah masuk dan bergerak menjauh. Maxwell urung dan bergerak kembali menemui istrinya. Ia melihat Ayesha sedang melamun.


Ia mendekapnya dari belakang.


"Hubby...engkau membuatku terkejut. Sudah selesai?"


"Sudah. Ayo kita pulang"


"Baiklah."


Sepanjang perjalanan pulang Maxwell teringat dengan sosok Pavlo yang dilihatnya tadi. Ia penasaran. Apakah pria itu sedang ada misi di sekitar sini? Ah, wajar bukan? Tepisnya dalam hati. Sejenak ia teringat sang istri yang tadi dilihatnya sedang melamun.


"Honey, adakah yang mengganggu pikiranmu saat ini? Ku lihat engkau berubah ketika hendak pulang tadi"


"Hmm, nanti kita bicarakan di rumah ya hubby..."


"Baiklah. Janji ya...Aku tidak ingin malam ini engkau tidak bisa tidur karena masalahmu. Apakah ini tentang kepergian Brother Ahmed dan Uncle John?"


"Ya. Ada masalah di pabrik"


"Ceritakanlah padaku. Mungkin aku bisa membantu. Bukankah aku suamimu?"


"Nanti saja hubby... Fokuslah mengemudi"


"Baiklah. Tapi berjanjilah untuk menceritakan semuanya padaku. Ok?"


"Sure.", Ayesha tersenyum. Entah kenapa ada sedikit perasaan lega ketika ia hendak berbagi dengan suaminya. Sekilas ia teringat bahwa pria di sampingnya adalah seorang pengusaha kelas kakap.