
Akhirnya setelah beberapa hari menjalani detoksifikasi racun-racun dalam tubuh akibat perbuatan Joeris, dibarengi dengan perawatan intensif yang diberikan oleh sang istri, Maxwell yang awalnya sangat lemah karena dehidrasi berangsur-angsur mulai pulih. Kini ia sudah tidak lagi diinfus. Perlahan wajahnya sudah terlihat lebih segar dan bersemangat.
"Hubby, bersiaplah pagi ini aku akan membawamu menghirup oksigen yang lebih bersih".
"Kemana?"
"Nanti hubby juga akan tahu"
"Baiklah. Tunggu sebentar ya", Maxwell bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan tak lama kemudian dia sudah nampak gagah dengan pakaian casualnya.
Tampan sekali, batin Ayesha kagum.
"Apakah aku lebih tampan hari ini?", Maxwell memainkan matanya sedikit sambil tersenyum melihat sang istri terkesima.
"Tentu saja. Karena hubby nampak lebih bugar"
"Jika sakit aku jelek ya"
"Tidak juga, namun terlihat lebih tua saja"
"Apa?"
"Oh tidak. Just kidding. Dont be angry, ok?"
"Hmm...kali ini aku maafkan"
"Aku tak perlu minta maaf untuk sebuah candaan, bukan?"
"Jika candaan itu menguntungkan orang lain maka tidak mengapa, tapi jika merugikan, maka sepatutnya harus minta maaf atau akan diberikan hukuman"
"Baiklah, baiklah, aku minta maaf hubby...please!"
"Hmmm..."
"Thanks dear..."
Maxwell tersenyum senang. Panggilan 'dear' dari sang istri cukup membuat hatinya bahagia pagi ini.
"Let's go".
Keduanya kemudian berjalan beriringan menuju belakang rumah. Sebelumnya Ayesha sudah minta ijin pada Bibi Leida agar jika semua saudaranya kembali dan menanyakannya, mereka tidak akan khawatir.
"Hubby bisa menunggang kuda bukan?"
"Sure"
"Kita akan berjalan-jalan sedikit ke kebun belakang", Ayesha tersenyum.
Kini mereka mengambil dua ekor kuda, dan Ayesha membantu suaminya untuk naik ke kuda karena kondisi sang suami yang masih belum sepenuhnya pulih. Sebenarnya Maxwell tidak selemah itu, hanya saja ia ingin bermanja pada istrinya.
Mereka bergerak perlahan bersama kedua kuda putih menyusuri halaman belakang yang luas. Pohon-pohon gabon yang besar diselingi puluhan pohon buah seperti mangga, apel, dan lengkeng memberi keteduhan dan kesejukan alami yang sangat menyegarkan. Apalagi qadarullah, seluruh pohon mangga madu yang buahnya cukup besar sedang berbuah dan hampir ranum, membuat bibir tak henti bertasbih menyebut kemaha besaran Allah. Maxwell merasa takjub memandangi sekeliling dan merasa sangat bahagia, apalagi bersama wanita yang namanya semakin bersemi di hatinya. Ah nikmat manakah lagi yang engkau dustakan? Ia teringat terjemahan salah satu ayat terkenal Qs Ar Rahman yang pernah disimaknya dari Syekh Hasan dari Yaman di Islamic Center waktu itu.
"Honey, apakah kebun ini semua sudah lama kalian miliki?"
"Belum. Kami tinggal di sini sudah 10 tahun sejak kakek memutuskan kami pindah dari pusat kota ke sini. Dan almarhum mom and dady mendapatkan kebun ini baru setahun lalu dan itu adalah anugerah dari Allah"
"Kalian sangat beruntung"
"Alhamdulillah. Allah mudahkan. Dulu aku sering memimpikan memiliki pekarangan rumah yang luas dan bisa mengeksplorasinya untuk membuat usaha, dan setelah mimpi itu kuidamkan 4 tahun lalu, maka tiga tahun kemudian Allah wujudkan."
"Qadarullah. Taqdir Allah. Tidak ada yang kebetulan terjadi di muka bumi ini. Bahkan sehelai daun kering sekalipun yang gugur ke tanah itu semuanya sudah ditentukan Allah dan sudah tertulis di kitab Lauful Mahfudz, apalagi tanah seluas 10 hektar dengan pohon gabon dan buah-buahan ini, yang begitu saja dijual pada kami dengan harga yang jauh dari pasaran."
"Mengapa si penjual menjual kebun ini?"
"Karena mungkin mereka ingin bersyukur pada Allah atas kesembuhan anak mereka yang atas ijin Allah bisa sembuh"
"Hanya itu? Dan kenapa harus menjual kebunnya pada keluarga kalian?"
"Hmm...anaknya berobat di rumah sakit kakek dan alhamdulillah sembuh."
"Berarti rumah sakit keluarga Vladimir sangat berkualitas dan mempunyai para tenaga medis yang handal. Seperti dr Anne bukan?"
"Tidak. Rumah sakit kami hanyalah sebuah rumah sakit kecil. Waktu itu Garrin, anak tersebut mengidap penyakit kanker otak stadium 3 dan sudah berobat kemana-mana namun belum membuahkan hasil. Entahlah bagaimana mereka mendatangi rumah sakit kami dan meminta untuk menanganinya".
"Lalu?"
"Prinsip kami tidak boleh ada pasien yang pulang tanpa pelayanan, sesulit apa pun kondisi mereka. Nakes hanya wajib berusaha selanjutnya biarlah Allah yang memutuskan, pasien tersebut sembuh atau tidak. Hidup dan mati hanyalah milik Allah. Kesembuhan itu mutlak dari Allah. Apapun yang terjadi kita manusia hanya wajib berusaha dan memberikan yang terbaik. Jangankan alat-alat canggih dan beragam terapi, jika Allah berkehendak, segenggam rumput pun bisa jadi media kesembuhan seperti ynag dialami Nabi Musa bukan?".
Maxwell terpana. Ia tak paham cerita nabi, namun kekagumannya pada prinsip yang kuat dari keluarga barunya tersebut semakin bertambah.
"Lantas bagaimana Garrin bisa sembuh?"
"Itulah pertolongan Allah"
"Adakah penanganan khusus yang berbeda dari rumah sakit lainnya?"
"Tidak. Yang berbeda mungkin dari ketulusan para nakes, semangat dari si pasien sendiri dan doa. Selain itu terapi Al Quran sebagai syifa' "
"Maksudnya?"
"Al Quran sebagai asysyifa' yaitu obat. Hubby masih ingat apa yang pertama kali hubby dulu dengar dan rasakan begitu terbangun dari koma selama 3 hari?"
Maxwell kembali mengingatnya. Ia serta merta menganggukkan kepalanya.
"Ya. Suara murottal quran. Rasanya sangat menenangkan jiwa"
"Apakah hubby menyukainya?"
"Ya. Bahasa dan iramanya sangat menyejukkan hati. Aku langsung menyukai padahal baru pertama kali mendengarnya"
"Apakah itu membantu kesembuhan hubby?"
"Mungkin secara tidak langsung. Tapi yang jelas jiwaku laksana sebuah gurun yang diberi hujan deras sehingga ia menjadi sejuk. Itu pastinya membantuku lebih semangat dan mudah melihat kebaikan orang lain dan tidak salah berprasangka"
"Hubby pernah berprasangka buruk padaku waktu itu?"
"Ya. Lucu sekali. Aku membayangkanmu dengan pakaianmu itu seperti seorang penjahat yang biasa diberitakan di televisi pada peristiwa pengeboman menara kembar di Amerika dulu juga peristiwa lainnya di bagian negara timur".
"Apakah hubby percaya pada semua berita tersebut yang menuduh kaum muslimin yang melakukannya?"
"Entahlah. Tapi aku tahu persis bahwa media bisa ditunggangi oleh orang-orang yang punya kekuasaan dan tentu saja uang. Dunia ini penuh kamuflase dan tak sedikit masyarakat mudah termakan fitnah".
"Benar. Jika pun ada seperti yang diberitakan seharusnya kita sebagai orang yang cerdas bisa berpikir sendiri bukan? Bahwa apapun yang dilakukan manusia itu adalah tanggung jawabnya sendiri dan mereka hanyalah oknum, karena tidak ada satu pun agama di dunia ini yang mengajarkan pembunuhan dan fitnah pada pemeluknya."
"Kau benar honey"
"Dan tentang Garrin tadi, qadarullaah dengan terapi yang salah satunya mendengarkan murottal quran tadi, jiwanya bangkit. Semangatnya kembali hidup"