
Setelah acara perkenalan dengan keluarga besar Vladimir dan ramah tamah dengan disertai hidangan makan malam, Ahmed menjumpai Maxwell dan berbisik.
"Sebaiknya engkau mengajak istrimu ke kamarnya. Aku lihat dirimu cukup lelah dan menahan sakit. Luka-lukamu belum sepenuhnya pulih kan brother?", Ahmed tersenyum.
Maxwell tersenyum kaku dan melirik ke arah Ayesha. Yang dilirik sedang sibuk berbicara dengan dr Anne dan manager wanita di salah satu perusahaan kecil mereka. Sejujurnya Maxwell masih kaku beramah tamah dengan orang lain karena seumur hidupnya ia terbiasa dingin dan arogan pada siapapun. Tapi sejak terdampar di bumi Rusia selama beberapa minggu ini, kearoganannya selama ini sudah banyak berkurang.
"Terima kasih brother. Apa boleh kami pamit dulu?".
"Tentu saja. Aku akan menyampaikan pada para tamu kalau engkau memang sedang butuh istirahat karena lukamu. Mereka akan mengerti. Tenang saja."
"Baiklah"
"Ohya, mulai malam ini Brother Maxwell sudah bisa menempati kamar Ayesha. Engkau tau bukan dimana letaknya?"
"Apakah Ayesha mengijinkannya?"
"Tentu saja. Dia juga sudah menyiapkan keperluanmu di kamar. Bukankah dia sudah menjadi istrimu? Kecuali untuk hak batin, yang lainnya Brother tetap mempunyai hak dan kewajiban sebagai seorang suami."
"Benarkah?",
Maxwell terperangah dan mulai berdebar-debar. Pikirannya sudah mengembara ke mana-mana. Emang apa yang akan aku lakukan? Aku sendiri tidak pernah berkenalan dengan wanita sebagai orang yang istimewa. Ia spontan menggelengkan kepalanya pelan dan tersenyum tipis. Ahmed hanya tersenyum melirik ekspresi lelaki yang baru saja menjadi adik iparnya tersebut. Pikirannya sudah membayangkan hal-hal romantis di dalam kamar adik semata wayangnya yang cantik dan polos itu. Ah, Ayesha, bagaimana sikapmu nanti pada suami tampanmu ini? Apakah kau sanggup bertahan dengan pernikahan gantung ini? Ahmed tak sadar menggelengkan kepalanya sambil tersenyum jahil.
Ayesha yang tak sengaja melihat ke arah Maxwell yang sedang berbicara dengan kakaknya urung mengalihkan pandangannya karena melihat Maxwell yang kemudian berjalan mendekatinya. Refleks ia pun berdiri dari tempat duduknya dan mendekati suaminya. Ia tak ingin bersikap tak sopan dengan mengabaikan sosok lelaki yang baru saja menjadi pendamping hidupnya. Ia sadar, walaupun masih nikah gantung, tapi ia harus menjadi istri yang sepatutnya kecuali tentang hak batin suaminya, tentunya.
"Ada apa my hubby", tanya Ayesha canggung.
Ia bingung harus memanggil bagaimana pada pria tampan di depannya ini. Spontan saja dia panggil dengan sebutan my hubby. Yang dipanggil merasakan sesuatu yang hangat memasuki relung-relung hatinya. Sesuatu yang membahagiakan walau dia tidak sepenuhnya paham rasa apa itu, namun ia senang mendengar istrinya memanggilnya dengan panggilan tersebut.
"Aku merasa lelah. Mungkin karena luka-lukaku."
"Ah sebaiknya My hubby istirahat saja. Mari kuantarkan ke kamar."
Setelah berpamitan pada orang-orang disekitar Ayesha, keduanya pun segera ke kamar Ayesha yang juga ada di lantai bawah. Sebuah kamar yang cukup jauh dari tempat keramaian di ruang tengah dan teras. Kamar Ayesha. Ternyata benar yang dikatakan Ahmed, Ayesha membawaku ke kamarnya. Pikir Maxwell.
"Apakah kita sudah boleh sekamar?" tanya Maxwell menatap Ayesha ketika sudah memasuki kamar.
"Selain hak batin", Maxwell menyambung sambil tersenyum. Ia sangat paham.
"Mari kita berpacaran dulu bukan?" Maxwell menatap wanita di depannya dengan seulas senyuman.
Ayesha salah tingkah dan hanya mengangguk dan tersenyum di balik cadarnya.
"Ayesha, my sweetheart, boleh kupanggil begitu?"
Ayesha tertegun. Ia nampak gelagapan mendengar panggilan mesra suaminya.
"Bagaimana? May I?"
"Boleh. Apapun itu, aku pasti suka", Ayesha melengos, gugup.
"Thanks honey. Hmmm...apakah aku boleh melihat wajahmu dengan jelas? Maksudku...aku belum pernah memandangmu dengan sengaja", Maxwell nampak gugup meminta. Ia khawatir gadis cantik di depannya akan menolaknya. Tapi entah kenapa ia berani memintanya karena ia ingat apa yang dikatakan Ahmed tadi. Kecuali nafkah batin, ia berhak atas diri Ayesha.
Ayesha terperanjat. Walaupun ia tahu cepat atau lambat ia akan meberikan suaminya semua haknya, tapi ia masih merasa ini terlalu cepat dan ia belum terbiasa. Namun, bisikan malaikat di hatinya mencegahnya dari ego di hatinya. Bagaimanapun Maxwell punya hak atasnya. perlahan ia mengangguk dan membuka cadarnya namun masih di posisi menyamping dari suaminya. Ia tidak berani menatap Maxwell yang terus memperhatikannya dengan nanar. Maxwell menelan salivanya. Walau ia sudah pernah sekilas melihat wajah istrinya tapi ini adalah momen yang ia akan bisa menikmati wajah itu tanpa sungkan dan dari dekat. Refleks lelaki itu berdiri dan berjalan menghadap ke wajah istrinya yang saat ini tanpa cadar.
Ayesha menundukkan wajahnya. Ia tak sanggup menatap wajah pria asing yang baru saja menjadi pasangan hidup sah nya saat ini.
"How beautiful you are my sweetheart...Secantik bidadari. Sungguh jelita. Baru ini aku melihat wanita di dunia ini secantik dirimu....", batin Maxwell.
Ia terkesima dengan sosok wajah wanita cantik di depannya. Hidung yang mancung dan lancip, mata biru yang menawan dengan bulu mata panjang dan lentik alami. Pipi berisi yang putih kemerahan, merah alami karena bersemu malu dipandang secara intens oleh pria tampan di depannya. Dan jangan lupakan bibirnya yang merah alami tanpa polesan lipstik sama sekali, hanya vitamin bibir saja, nampak segar menantang naluri pria manapun yang tentunya sangat ingin memilikinya.
Maxwell mengerjapkan matanya. Ia tersadar dari lamunannya yang tiba-tiba nakal secara fitrahnya dan tanpa sengaja mengatakan dengan lirih "cantik sekali...."
Ayesha pun menjadi semakin salah tingkah. Rona merah wajahnya tak bisa lagi ia tutupi dalam cadar yang selama ini setia menyembunyikan ekspresi wajahnya dari siapapun. Ia semakin menundukkan wajahnya dalam-dalam. Ia tersentak kaget tatkala merasakan dagunya disentuh dengan lembut dan perlahan ditarik ke atas menghadap wajah di depannya yang menunduk sedikit. Kedua insan yang baru saja sah menjadi pasangan hidup itu memang tidak terlalu berbeda jauh tingginya. Ayesha dan Maxwell sama-sama tinggi, jika berdiri sejajar maka pucuk kepala Ayesha berada sejajar dengan dagu Maxwell. Ya, wanita secantik bidadari itu memang tergolong nyaris sempurna secara fisik maupun batinnya.
"Your Hubby sedang menatap keindahan ciptaan Tuhan di depannya ini. Apakah engkau juga tidak berbuat yang sama? Ataukah aku tidak layak bersanding dengan rupa yang menawan ini?", Maxwell tersenyum menggoda. Ia ingin Ayesha sedikit saja melihat wajah dan turut serta mengaguminya, sama seperti ia mengagumi paras cantik istri di depannya ini yang sedari tadi tidak berani membuka matanya.
Dengan malu-malu Ayesha membuka matanya dan seketika menatap wajah maskulin menawan di depannya. Ayesha ingin memalingkan pandangannya karena malu tapi kemudian urung saat Maxwell berkata....
"Apakah wajahku ini sebegitu jeleknya menurutmu sehingga engkau tidak sanggup melihat wajah suamimu ini?", Maxwell kembali menggodanya.