A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 74. The Power of Ahmed



Peter tersenyum melihat CCTV ketika memperhatikan Ahmed makan dengan lahapnya. Pria berusia 32 tahun itu puas dengan tugas awalnya yang sukses. Ia sudah melihat sendiri kecerdasan Ahmed yang berhasil mengambil pisau makan dengan mulutnya dan memotong tali yang mengikat tubuhnya dengan susah payah. Pria Rusia yang mirip orang Arab itu bermandi peluh setelah berhasil melepaskan diri dari lilitan tali dan kini sudah selesai menghabiskan makannya. Ahmed nampak mengedarkan kembali pandangan ke sekililing tempatnya berada dan kini menuju pintu lalu menguncinya dari dalam. Matanya nampak tajam menatap ke arah Peter dan sudut bibirnya naik sedikit. Sepertinya ia sudah menyadari keberadaan CCTV di kamar tersebut dan seketika layar komputer di ruang Peter pun langsung menjadi gelap. Peter hanya tersenyum tipis.


Sementara itu, Ahmed yang memang sudah mengetahui keberadaan CCTV di kamar tempatnya dikurung kini menuju kamar mandi. Setelah berhasil menutup kamera tersebut dengan serbet, kini kakak lelaki Ayesha itu pun memanjakan tubuhnya dengan segarnya air shower yang seakan membantu menghilangkan penat lahir dan batinnya. Lima belas menit kemudian dia sudah keluar kamar mandi dengan balutan handuk kimono yang dia dapatkan di dalam sana.


"Baiklah. Anggap saja kau sedang piknik unik Ahmed. Kau tidak benar-benar sedang diculik. Lihatlah! Mereka memperlakukanmu seperti seorang tamu bukan?", Ahmed berbicara sendiri. Bibirnya tersenyum. Saat ini matanya mengawasi isi lemari dekat pintu kamar mandi yang baru dibukanya. Mulutnya terbuka.


"Benar bukan? Kau sedang diajak merenggangkan otot-ototmu yang sudah lama kaku karena kursi sidang kampus dan kursi-kursi direktur di pabrik dan rumah sakit", gumamnya lagi. Tangannya segera mengambil satu satunya set pakaian untuk latihan taekwondo.


"Ayo kita berolah raga sejenak", ucap Ahmed sendirian. Ia nampak bersemangat. Setelah berpakaian, ia pun melakukan pemanasan di kamar yang cukup luas itu. Ahmed melakukan jogging di tempat dan beberapa gerakan senam. Sepuluh menit kemudian ia pun selesai. Tubuhnya yang awalnya segar karena siraman air kini kembali basah karena keringat. Tiba-tiba telingannya menangkap sesuatu. Sebuah suara yang tak asing di telinganya. Matanya kini menatap tajam ke arah jendela kamar yang cukup tinggi. Tidak ada penghalang di sana. Jendela kecil yang cukup untuk tubuh seorang remaja itu terbuka dan menampakkan pucuk-pucuk daun. Sepertinya ada pohon di dekatnya. Ahmed pun bergegas mendekatinya dan benarlah dugaannya. Ia yang kini berdiri dekat jendela dengan bantuan meja tempat makannya langsung membelalakkan mata. Ternyata ia berada di lantai dua sebuah villa yang sepertinya cukup besar di dekat laut. Dari jarak sekitar 100 meter ia bisa melihat pantai yang indah.


"Wow... Masyaa Allah ..ini sungguh menyenangkan. Apakah ada seseorang yang sedang menyambutku saat ini dengan menu kesukaanku?", Ahmed bergumam kembali dan tersenyum. Tidak ada lagi raut khawatir di sana. Dengan tenang ia kembali turun dari meja, menyambar pisau makan dan garpu dan kini menuju pintu kamar lalu membuka kuncinya dari dalam. Perlahan ia mengutak atik pintu tersebut dengan alat di tangannya dan tanpa kesulitan ia pun berhasil membuka pintu tersebut. Dengan mata yang awas memperhatikan sekelililng ia pun keluar dan menyusuri koridor yang sepi. Sesekali terdengar deru ombak sampai di telinga. Tiba dipertigaan koridor ia pun terhenti karena mendadak sesosok bayangan bertopeng dari jauh sudah menyambutnya dengan serentetan peluru. Ahmed segera melemparkan tubuhnya ke sana kemari menghindari tembakan bertubi-tubi sang penyerang sambil berusaha mencari perlindungan dengan menggunakan benda-benda di sekitar lokasi. Sampai suatu saat ia melihat cela untuk membalas serangan tersebut dengan melemparkan vas bunga yang ada ke arah sang penembak. Lemparannya pun berhasil mengenai tangan si lelaki bertopeng itu dan pistol pun terlepas dari genggamannya. Sang pria bertopeng refleks berlari pergi. Ahmed pun mengejarnya setelah sebelumnya sempat mengambil pistol sang penyerang. Terjadi aksi kejar-kejaran yang kemudian membawa mereka ke luar dan kini Ahmed pun terhenyak saat menyadari semuanya.


"Siapa sebenarnya kalian? Apa mau kalian?", Ahmed berteriak sambil mengawasi tubuh-tubuh tinggi yang mengelilinginya dengan tangan kosong. Ia mulai menghitung dalam hati. Sepuluh orang, batinnya.


Tak ada jawaban. Semuanya hanya diam tanpa suara. Dan perlahan mereka bergerak berputar mengelilingi Ahmed dengan tatapan tajam. Hingga kemudian salah satu dari mereka mengawali serangan ke Ahmed.


Ahmed pun berkelit dan terbebas, namun baru saja ia terhindar dari tendangan kaki si pria pertama, menyusul selanjutnya bogem mentah tangan penyerang kedua ke salah satu sisi perutnya. Ahmed meringis kesakitan. Ia memang kurang waspada. Menyadari kekuatan musuhnya yang tak main-main dalam menyerangnya ia pun segera meningkatkan kewaspadaan dan mulai aktif membalas. Serangan-serangan ke sepuluh pria bertopeng pun terus menggempurnya tanpa jeda dan membuat Ahmed cukup kerepotan. Sesekali ia berhasil membalas setiap serangan yang ada dan akhirnya mengambil strategi melarikan diri karena peluang menang cukup tipis.


Ahmed pun terus berlari sambil menembakkan peluru dari pistol yang diperolehnya ke arah para musuh. Dan kini sudah masuk ke dalam hutan kecil dekat pantai. Ia berlindung dari balik pepohonan dan melakukan serangan balasan satu demi satu ke para pria bertopeng yang terus mengejarnya. Pukulannya yang bertenaga dalam cukup kuat berhasil mendarat ke titik-titik vital para musuhnya dan mereka pun kewalahan. Ahmed akhirnya bisa bernafas lega ketika dia merasa semua serangan berhenti. Kesembilan pria bertopeng sudah berhasil ditumbangkannya dengan teknik gerilya seiring dengan habisnya peluru dari pistolnya yang ia gunakan untuk menghalau para pengejarnya. Dilemparkannya benda mematikan itu ke semak-semak di sampingnya sambil memandang ke arah orang-orang bertopeng yang kini terkapar tak sadarkan diri. Tinggal satu orang lagi yang Ahmed tunggu namun belum menampakkan diri. Sambil terus mengatur nafas karena kelelahan, Ahmed duduk bersandar di sebuah pohon yang paling besar didekatnya. Matanya masih awas memandang ke arah musuhnya biasa kumuncul. Namun belum ada tanda-tanda kedatangan orang yang ditunggu, hingga akhirnya ia merasakan benda dingin sudah menempel di keningnya. Matanya melirik pucuk senjata tersebut dengan sorot mata kanannya dan menarik nafas.


"Angkat tanganmu ke atas!", suara berat si empunya senjata menginstruksikan Ahmed. Pria yang barusan melepas rasa lelahnya itu pun bergerak mengikuti. Kedua tangannya naik ke atas dan perlahan badannya berputar menghadap si penyerang. Mendadak, dengan gerakan kilat Ahmed merampas senjata musuhnya dan berusaha memelintir tangan pria kekar yang barusan menodongkan senjata ke kepalanya tersebut. Sang pria bertopeng tidak tinggal diam. Dia masih terus mempertahankan senjatanya dan terjadilah aksi saling rebut di antara mereka. Ahmed terus berusaha menumbangkan musuhnya dengan menindih dan mengunci kedua tangannya dengan dorongan tubuhnya, namun sang musuh cukup kuat. Ia belum terkalahkan dan malah balik membalas Ahmed. Ia kini berada di posisi Ahmed sebelumnya. Tubuhnya yang keras menindih pria kuat itu sampai kemudian tembakan meletus dari pistol yang mereka perebutkan dan mengarah tepat ke atas. Ahmed melotot. Ia menahan nafasnya. Matanya kemudian terpejam merasakan luruhnya sebuah benda berat.