A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 34. Masalah Pabrik (Part 5)



Ayesha nampak berdiri sejajar dengan Ahmed dan diikuti oleh Maxwell. Wanita tinggi semampai yang bercadar ungu muda itu kini memandang dengan tajam ke semua wajah-wajah lesu di depannya. Ia kembali bersuara.


"Bagaimana? Jika Anda semua masih mau mogok kerja sekarang silakan. Kami tidak ingin memaksa. Tapi lihatlah! Jika kami bisa menyelesaikan masalah pabrik dalam waktu satu minggu ini dan Anda semua ketika itu masih mogok kerja atau sudah pergi, maka jangan salahkan kami. Pabrik ini akan tetap berjalan dengan atau tanpa Anda sekalian. Kami akan rekrut kembali pekerja yang baru, yang lebih loyal dan percaya pada kami. Kami tidak membutuhkan orang-orang yang hanya di sisi kami ketika mereka mendapatkan keuntungan tapi kemudian langsung pergi ketika mendapat kerugian, bahkan kerugian itu sendiri pun belum pernah mereka rasakan, tapi hanya sekedar gossip belaka yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Sekali lagi. Kami berikan waktu 10 menit saja. Silakan memilih. Jika kalian setuju untuk menunggu 7 hari ini maka kembalilah tetap bekerja seperti biasa. Tapi jika Anda semua ingin mogok kerja maka absensi kehadiran kalian akan menjadi bukti kami di pengadilan bahwa kalian sudah meninggalkan kewajiban kalian pada pabrik".


Semua pekerja nampak kasak kusuk mendengarkan pilihan dari Ayesha dan kini mereka berkelompok-kelompok kecil membahas pilihan mereka. Sang jubir yang sedari tadi bersuara nampak pasrah dan menunggu hasil diskusi kawan-kawannya. Maxwell yang berdiri di sisi Ayesha hanya tersenyum tipis. Ia menghela nafas sejenak dan kemudian berbisik di telinga istrinya. Sang istri nampak terkejut dan menatap suaminya. Maxwell mengangguk seolah memberi kepastian. Ayesha terperangah dan kembali menatap para pekerja.


Sang pemimpin unjuk rasa kembali merengsek maju dan bersuara.


"Baiklah. Kami memilih menunggu seminggu ini. Kami pegang janji Tuan dan Nona. Kami permisi sekarang. Ayo kawan-kawan kita kembali bekerja".


"Tunggu", Ayesha mencegah.


"Sebelum bubar, pegawai yang bernama Paman Alex silakan masuk ke kantor, jumpai kami sekarang juga".


Para pekerja pun bubar dan kembali ke tempat pekerjaan mereka masing-masing kecuali Paman Alex yang dimaksud. Ayesha, Ahmed dan Maxwell melihat lelaki bermata coklat dan berambut coklat gondrong itu kini berjalan mendekat. Ada raut kekhawatiran di wajah pria itu tapi ia nampak menutupinya.


Semua pekerja telah bubar. Alex masuk ke kantor mengikuti para pemilik pabrik. Sesaat ia ragu untuk masuk namun Ahmed segera menariknya dan menyuruhnya duduk di sofa. Ahmed dan Ayesha serentak menoleh ke arah Maxwell. Pria tinggi tegap itu menganggukkan kepala memberi kode kepada istri dan kakak iparnya kemudian berjalan mendekati Alex. Ahmed dan Ayesha hanya memperhatikan Maxwell penasaran sambil berdiri tak jauh dari mereka berdua. Tersirat sikap dingin dan keras pada gesture Maxwell yang baru ini mereka lihat. Sosok lelaki maskulin itu kini duduk di sebrang Alex dengan wajah datar tanpa ekspresi.


"Perkenalkan, aku Maxwell Powell. Suami Nona Ayesha", Maxwell menatap Alex dengan tajam. Tangannya dilipat di atas dada.


Alex terkejut. Ia baru tahu kalau Ayesha sudah menikah dan lelaki asing di depannya adalah suaminya.


"Hmm, saya baru tau Nona Ayesha sudah menikah. Apakah kau ingin bersandiwara?"


"Apakah aku perlu mengirimkan padamu foto dan surat pernikahan kami berdua?"


"Tentu"


"Apa maksud Anda Tuan Maxwell?", Alex tersentak kaget.


"Anda pikir kami tidak tau bahwa Andalah dalang dibalik kebangkrutan pabrik?"


"Jangan menuduh sembarangan...atau Anda akan saya tuntut balik telah mencemarkan nama baik saya". Sepertinya orang ini bukan orang biasa. Batin Alex mulai gentar.


"Perlu kutunjukkan buktinya?", Maxwell tersenyum sinis.


"Lihat ini", Maxwell menunjukkan layar di HP nya. Terlihat chat dan attachments di sejumlah email dan berbagai notifikasi bank dan message atas nama Alex dan sejumlah orang. Alex mulai bergetar. Wajahnya memerah.


"Apa ini? Jangan merekayasa! Dari mana Anda mendapatkan ini. Ini fitnah!"


"Tuan Alex yang terhormat. Aku bukan orang bodoh dan jika bukti-bukti ini sampai pada aparat negara, maka Anda tidak bisa mengelak lagi. Dan selanjutnya Anda paham bukan?"


"Tidak. Aku tidak melakukannya. Aku akan melaporkan Anda sebagai seorang Hacker. And rekayasa semuanya"


"Baik. Jika itu keinginan Anda. Silakan laporkan saya sekarang. Kita akan lihat sejauh mana Anda bisa mengelak dari tuntutan hukum", Maxwell masih dengan posisinya semula.


"Saya beri waktu 2 menit saja. Akui semuanya sekarang dan kembalikan semua uang pabrik yang sudah Anda curi maka hukuman Anda mungkin akan dikurangi atau bahkan dihapuskan, tapi jika tidak, maka kami serahkan Anda pada yang berwajib dan akan menuntut Anda penjara 10 tahun dan menyita semua aset Anda. Bagaimana?". Tatapan Maxwell tajam ke arah sosok lelaki bernetra coklat di hadapannya. Alex yang balas menatapnya merasakan sesuatu yang mengerikan di balik sorot mata pria asing di depannya. Ia merasakan aura membunuh di sana. Alex bisa melihat bahwa pria tersebut tidak sekedar omong kosong. Siapa sebenarnya pria ini. Ia pastilah seorang hacker besar. Bagaimana ia bisa menyadap semua jenis komunikasiku dan juga bank. Ia bahkan bisa menelusuri semua transaksi bank yang ku gunakan berbeda-beda dengan identitas orang-orang yang berbeda juga.


"Waktumu 30 detik lagi Tuan Alex", Maxwell tersenyum sinis. Ia melirik ke arah Ayesha dan Ahmed yang masih berdiri mengawasi. Di saat itulah tiba-tiba ada pergerakan dari sesosok bayangan yang dengan cepat merampas HP di tangan Maxwell. Semuanya terkejut. HP sudah di tangan Alex dalam hitungan detik dan sudah melayang dengan kuat ke lantai. Benda pipih itu pun pecah dan materialnya berserak di lantai. Tak cukup dengan itu, mendadak terdengar suara gebrakan pintu dan muncullah 4 orang berbadan besar dan bertopeng dengan senjata pistol di tangan mereka semua.


"Hahaha...Bukti kalian sudah ku lenyapkan dan kini nyawa kalian dalam genggamanku. Sekarang apa yang bisa kalian lakukan hah?", Alex tertawa mengejek. Ia sendiri sudah memegang sebuah pistol yang diarahkan ke kepala Maxwell. Orang-orang yang baru datang juga mengarahkan senjata mereka ke arah Maxwell, Ayesha dan Ahmed. Ternyata mereka adalah orang-orang suruhan Alex.


"Kau benar-benar penghianat Paman Alex. Aku tidak menyangka, orang yang selama ini sudah kami anggap keluarga ternyata berlaku buruk seperti ini. Mengapa Paman tega melakukan ini hah?", Ahmed menggeram marah. Tatapannya lurus ke arah Alex. Ia hanya melirik sekilas moncong senjata suruhan Alex yang diarahkan dekat dengan kepalanya. Ahmed sama sekali tidak menunjukkan ketakutan. Ia nampak biasa saja. Ayesha pun demikian. Ia memandang lurus ke arah Alex. Nafasnya memburu. Tangannya mengepal di balik jilbab besarnya yang berwarna ungu.