A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 36. Masalah Pabrik (Part 7-end)



Maafin author telat lagi ya...ada banyak kesibukan sosial di keluarga. Semoga readers masih setia dan terobati sedikit karena kali ini up nya banyak kok. tq atas kemaklumannya...🙏😊♥️


*****. *****. *****. *****


"Jika Paman tau penjara itu menghinakan orang yang ada di dalamnya, mengapa paman berani melakukan kehinaan dengan mencuri seperti ini?", Ahmed tersenyum sinis.


"Aku...aku butuh uang itu untuk..."


"Untuk berjudi bukan?", Maxwell menyela.


"Tidak. Tidak", Alex tergagap. Ia tidak menyangka Pria asing di depannya serba tahu.


"Jujur saja Tuan Alex. Aku rasa istri dan kakak iparku terlalu baik dan lambat menyelesaikanmu. Aku akan memanggil aparat sekarang", Maxwell melirik ke arah Ayesha dan Ahmed. Belum sempat ia mengambil HT di meja kerja Ahmed, terdengar suara langkah-langkah kaki berlari dari arah luar. Tak lama muncul 3 orang pria tegap dengan seragam security muncul di pintu kantor.


"Tuan, Nona. Ada apa?", ketiganya nampak ngos-ngosan dan terkejut melihat kondisi Alex. Mereka bertanya-tanya apa yang terjadi. Mereka datang karena mendengar suara tembakan yang memecah kaca jendela.


"Paman bertiga, bawa saja Paman Alex ke kantor polisi sekarang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya", Ahmed berseru.


"Jangan. Tolong jangan penjarakan aku. Aku mohon.", Alex menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Kali ini kami tidak bisa memberimu kesempatan lagi Tuan", Maxwell terlihat cukup emosi.


"Tolong beri aku kesempatan lagi. Baiklah, aku akan jujur. Aku memang selama ini yang menggelapkan uang pabrik. Aku...ah, aku...aku janji akan mengembalikan uang itu, tapi janji lepaskan aku!", Alex mulai nampak ketakutan.


"Terlambat. Lagi pula bukankah paman katakan uang itu sudah habis bukan? Bagaimana bisa Paman mengembalikannya?", Ayesha mulai tidak sabar.


"Tidak. Uang itu masih ada sebagian. Aku masih menyimpannya", Alex menunduk.


"Berikan uang sisanya sekarang juga. Cepatlah!", Maxwell semakin geram.


Perlahan Alex merogoh saku bajunya dan mengambil HP nya. Ia sibuk mengetik sesuatu beberapa saat.


"Aku sudah mentransfernya ke rekening pabrik."


Ahmed dengan cepat mencheck notifikasi bank di HP nya dan benar apa yang dikatakan Alex.


"Ini masih separuh dari hasil jarahan Paman. Sisanya?"


"Aku akan mencarinya segera. Sekarang lepaskan aku".


"Hmm, mudah sekali Anda mengatakan itu setelah apa yang Anda lakukan pada pabrik, bukan hanya mengambil uangnya bahkan memprovokasi para pekerja sehingga berani unjuk rasa seperti tadi. Tidak hanya itu, Anda bahkan ingin membunuh kami, Tuan Alex", Maxwell geram.


"Aku...aku minta maaf...aku..aku tidak benar-benar ingin membunuh kalian...tadi karena aku terdesak...dan aku berjanji akan mengembalikan sisa uangnya dalam minggu ini juga. Percayalah!"


"Bagaimana kami bisa mempercayai seorang pencuri yang sudah diam-diam mencuri selama berbulan-bulan bahkan nyaris menembak kami?", Maxwell menyahut marah.


"Percayalah. Kalian bisa pegang kata-kataku ini. Aku tidak bohong".


"Katakan pada kami bagaimana caranya Paman mengembalikan uang yang tidak sedikit itu", giliran Ayesha menatap tajam Alex.


"Aku...aku..aku akan menang banyak di Kasino besok. Percayalah", Alex sangat gugup. Ia memang tidak tahu bagaimana cara mencari uang itu selain dengan berjudi. Uang itu pun memang sebagian habis di meja judi, untungnya sebagian lagi belum sempat dihabiskannya karena keburu tertangkap saat ini.


"Apa? Astaghfirullaah...", Ahmed sontak berseru. Ia bertambah geram. Ia menggelengkan kepalanya. Alex hanya menunduk takut. Ayesha menghela nafasnya. Kini ia tarik kursi di dekatnya dan duduk tak jauh di depan Alex dengan tetap memegang pistolnya waspada.


"Astaghfirullaah Paman. Berarti benar apa yang dikatakan suamiku, paman suka bermain judi. Apalah keuntungan orang bermain judi. Kemenangan sesaat yang semu yang bahkan bisa menyeret orang untuk candu dan akan diikuti oleh kekalahan demi kekalahan yang semakin membuat orang penasaran dan akhirnya berakhir dengan kebangkrutan. Seperti paman saat ini. Selama ini paman bekerja dengan sangat baik. Namun karena sudah candu dengan judi akhirnya paman korbankan kepercayaan kami bahkan tega mencuri karena terjebak dengan judi", Ayesha menelusuri gesture Alex. Ia ingin melihat seberapa dalam orang di depannya yang selama ini dikenalnya baik terjebak dalam kesenangan judi. Alex nampak salah tingkah dan memalingkan wajahnya. Ia sepertinya enggan menatap mata wanita di hadapannya.


"Paman. Apakah hati paman puas setelah berjudi? Apakah paman bahagia setelah mendapatkan kemenangan di meja judi? Jawablah!", Ayesha masih mencecar pertanyaan pada sang pesakitan. Ahmed mulai paham dengan maksud adiknya. Ia menarik nafas dan menggeleng-gelengkan kepala melihat apa yang akan dilakukan adiknya. Sementara Maxwell merasa kedua orang keluarga barunya ini terlalu lemah dan lambat, namun ia masih berusaha sabar menunggu kelanjutan interogasi ini. Alex tidak menjawab. Ia masih memalingkan wajah dari orang-orang di depannya.


"Kenapa paman tidak menjawab?"


Alex akhirnya menggeleng pelan namun masih tetap memalingkan wajahnya dan memejamkan mata.


"Jika paman tidak bahagia mengapa paman tetap lakukan? Tidakkah paman pernah memikirkan bahwa perbuatan paman yang mencuri karena terjebak candu judi bisa menggiring paman ke penjara seperti ini? Dan tidakkah paman pikirkan bahwa bukan hanya paman yang akan menanggung semua kehinaan ini tapi juga keluarga paman? istri dan anak-anak paman? Tidakkah paman pikir mereka akan sangat malu?"


"Aku...aku..jangan kalian beritahukan itu pada mereka...", Alex tergagap.


"Bagaimana mungkin mereka tidak akan tau jika paman nantinya tidak akan berkabar selama bertahun-tahun? Apalagi anak kesayangan paman yang sebentar lagi akan menikah. Mungkinkah ia tidak akan membutuhkan paman di sisinya di hari bahagianya nanti? "


"Tidak..jangan beritahukan mereka ku mohon..kalian bisa katakan aku pergi tak tau kemana...", Alex makin gelisah. Ia meremas rambutnya gusar.


"Kami tidak akan bisa menyembunyikannya dalam waktu yang lama. Berita paman dibui cepat atau lambat pasti akan tersebar. Kami tidak bisa menghentikan para pemburu berita bukan? Apalagi anak dan istri paman bukanlah orang bodoh. Mereka dengan cerdas pasti akan menemukan paman".


Tiba-tiba Alex menjatuhkan tubuhnya ke depan sambil menahan kakinya yang tertembak. Ia menangkupkan tangannya ke dada, memohon dengan mata berkaca-kaca.


"Ku mohon..tolong bunuh saja aku..aku tak mau anakku Linores hancur karena ulahku. Dia pasti malu dan calon suaminya tentu akan membatalkan pernikahan mereka. Tidak. Tidak. Tolong jangan hancurkan rencana indah Linores. Ku mohon! "


"Siapa yang menghancurkannya paman. Kamikah?"


"Tidak. Maksudku...aku mohon berilah aku kesempatan untuk mengembalikan uang itu..jangan penjarakan aku..atau lebih baik kalian bunuh saja aku..."


"Aku tidak mungkin membunuh ayah dari sahabat-sahabat kecil yang menyayangiku selama ini. Karena jika aku membunuhnya, maka sama saja aku menghancurkan menhianati mereka dan menghancurkan kebahagiaan sahabatku sendiri", Ayesha menarik nafas sesaat.


"Demi anak-anak Paman yang sekaligus sahabat-sahabat terbaikku, bisakah Paman menebus kesalahan besar ini?"


Alex terpana. Ia menatap mata wanita di depannya dengan penuh asa.


"Tentu saja. Aku akan melakukan apapun".


Alex menganggukkan kepalanya.


"Ya. Sungguh, aku menyesalinya. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi"


"Apakah Paman juga bisa berjanji tidak akan berjudi lagi?"


"Ya. Aku janji. Aku tidak akan terjebak judi lagi".


"Bagaimana aku bisa pegang janji paman ini?"


"Kalian bisa membunuhku jika aku mengulangi lagi"


"Jangan mengobral kata membunuh. Nyawa manusia itu amat berharga. Jauh berharga dibandingkan nyawa seekor nyamuk. Paman tidaklah serendah seekor nyamuk bukan? Bahkan nyamuk cukup berharga karena menginspirasi manusia untuk bisa membuka lapangan pekerjaan sebanyak-banyaknya. Tolong jangan sekali-kali mudah mengucapkan bunuh karena itu dosa besar yang tentunya tak akan kami kerjakan. Dosa besar yang akan membawa pelakunya menjadi penghuni neraka yang mengerikan".


"Aku...aku..."


"Paman Alex. Sungguhkah Paman ingin menebus kesalahan paman pada pabrik dan kami?"


"Ya. Katakanlah bagaimana caranya. Aku akan berusaha"


"Aku akan mengikhlaskan separuh jarahan paman yang sebesar 50 juta rubel itu (1 milyar rupiah) dengan syarat Paman berjanji tidak akan mengulangi perbuatan Paman yang mencuri ini, tidak akan berjudi lagi, tidak akan membunuh siapapun dan...", Ayesha menghentikan ucapannya. Ia menatap tajam wajah basah di depannya.


"Aku berjanji, aku berjanji tidak akan melakukannya lagi...Lalu...apa satu lagi syaratnya Nona..."


"Satu lagi...minta maaflah pada Elena..sayangilah ia sebagaimana Paman juga menyayangi Linores".


Alex tercekat. Ia tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita di depannya. Ia sudah mencuri uang sebanyak itu dan syaratnya hanyalah itu? Bahkan tidak berkaitan dengan orang-orang di depannya ini. Hati Alex tiba-tiba menghangat. Ada yang basah dalam sanubarinya. Ia memang pernah tau kedekatan Ayesha dengan kedua anaknya tersebut. Namun ia tidak tau seberapa dalam hubungan persahabatan di antara mereka.


"Mungkin Paman heran. Tapi ketahuilah Paman, Elena dan Linores adalah orang-orang baik, sahabat-sahabat terbaikku yang cukup layak mendapatkan kasih sayang yang adil dari orang tuanya. Cukup bagiku merasakan ditinggal oleh kedua orang tuaku di masa aku masih sangat membutuhkan mereka dalam hidupku. Sedangkan mereka berdua adalah sahabatku yang masih memiliki kedua orang tua yang saat ini masih hidup dan ada di dekat mereka. Tapi mengapa karena keegoisan sang ayah, anak yang dilahirkan suci tidak tau apa-apa harus menanggung ketidak adilan dalam hidupnya? Apakah Elena tidak berhak mendapat kasih sayang ayah kandungnya, sedangkan Linores saudaranya juga mendapatkan limpahan kasih sayang yang besar dari sang ayah?"


"Aku...aku...Maafkan aku Elena...aku...aku tidak bermaksud...", Alex kini tak sanggup membendung air matanya. Terbayang selama ini perbuatannya yang kasar dan kejam pada Elena, putri kandungnya sendiri, kakak dari Linores beda ibu.


"Elena adalah putrimu Paman. Sama dengan Linores. Jika Paman masih berprasangka padanya, meski wajahnya tak bisa dipungkiri sangat mirip dengan Paman, bukankah Paman bisa test DNA untuk memastikannya?".


"Elena...", Alex memejamkan matanya. Terbayang di benaknya saat terakhir ia mengusir gadis manis berkaca mata itu dari rumahnya tanpa membawa apapun dan ia melihatnya lagi setahun kemudian di rumah Sir Vladimir ketika ia ada urusan kerja. Di situlah ia tau bahwa putri sulung dari istri pertamanya itu adalah sahabat dekat Ayesha sejak kecil di sekolah dasar.


"Apakah Elena akan mau memaafkan aku? Dia sudah membenciku...", Alex mengingat kembali kejadian ketika bertemu di rumah Sir Vladimir secara tidak sengaja. Elena waktu itu nampak memalingkan wajahnya dan berusaha menghindarinya.


"Saat ini ia memang membencimu. Tapi Paman bisa membantunya diam-diam dan kelak muncullah di hadapannya dan bantu dia dengan sekuat tenaga untuk membesarkan perusahaan Aysh Parfume yang saat ini sedang dirintisnya"


"Aysh Parfume? Maksudnya? Dia sudah Nona minta mengelola perusahaan sendiri?"


"Ya. Bantulah ia hingga sukses. Maka aku memaafkan Paman dan menganggap hutang paman ini lunas".


Alex terkesima. Ia tidak menyangka apa yang dia dapatkan kini. Hatinya semakin basah. Sungguh mulia hatimu Nona, lirihnya dalam hati. Sementara Maxwell semakin terpana dengan hal yang dilakukan istrinya saat ini. Hatinya bergemuruh. Bagaimana Ayesha bisa dengan mudahnya memaafkan makhluk jahat di depannya ini, pikirnya heran.


Tiba-tiba Alex kembali menjatuhkan tubuhnya dan menangis.


"Nona. Sungguh mulia hatimu Nona. Aku sungguh malu pada kalian. Aku memang tak layak kalian maafkan dengan cara seperti ini. Tapi aku berjanji, kebaikan kalian ini tidak akan pernah aku lupakan. Sekali lagi aku minta maaf atas semua perbuatanku selama ini. Aku berjanji tidak akan mencuri, tidak akan berjudi, tidak akan membunuh dan aku pasti akan minta maaf pada Elena dan membantunya bahkan dengan nyawaku. Percayalah. Sekali lagi aku ucapkan terima kasih atas kebaikan kalian ini. Terima kasih!"


"Buktikan saja Paman. Ku harap kami bisa memegang janji Paman Alex", Ayesha melirik ke arah ketiga securitynya.


"Paman Jack, tolong bawa Paman Alex ke klinik sekarang dan antarkan ia kembali ke Mess."


"Baik Nona"


Ketiga security yang sejak tadi bersiap di tempatnya pun bergegas memapah Alex dan membawanya ke klinik di dalam kompleks perumahan pabrik di sebrang kantor. Sementara Ahmed dan Maxwell saling bertatapan.


"Sayang...apa yang kau lakukan?", Ahmed segera mengambil kursi dan duduk di depan Ayesha.


"Seperti yang kakak lihat"


"Lalu bagaimana dengan masalah pabrik?"


"Aku masih ada uang tabungan. Kita bisa urunan bukan?"


"Baiklah. Aku percaya padamu cantik. Bagaimanapun jika kita meminta Paman Alex dia tak akan mampu mengembalikan uang itu", Ahmed menarik nafas berat.


"Ayesha, mengapa Engkau mudah sekali memaafkan orang itu? Bagaimana jika ia lari dari janjinya?", Maxwell masih tidak habis pikir dengan jalan pikiran istrinya.


"InsyaaAllah, aku melihat penyesalan di matanya. Jika ia mengingkarinya, biarlah Allah yang akan menghukumnya. Hubby...Paman Alex pada dasarnya orang baik. Sebelum ini dia adalah orang yang sangat bisa dipercaya di bidang keuangan dan lobby lobby bisnis. Aku yakin jika dia bertaubat maka keahliannya akan sangat berguna membantu Elena yang masih hijau di dunia bisnis", Ayesha tersenyum tipis.


"Baiklah. Aku percaya dengan firasat istriku yang sholihah ini. Tentang pabrik jangan khawatir, ijinkan aku yang menanggung kekurangannya"


"Tidak hubby. Hubby cukup fokus di cost untuk Aysh Parfume Company saja. Untuk pabrik kami masih bisa mengatasinya".


"Tidak. Tabungan kalian akan diperlukan untuk yang lainnya. Bukankah biaya operasional rumah sakit masih di bawah kendali kalian? Biarkan uangku kali ini kugunakan untuk kebaikan. Pabrik ini salah satunya", Maxwell menatap lekat ke manik mata sang istri.


"Hubby..."


"Jangan menolakku. Aku tak akan bangkrut hanya dengan mengeluarkan 50 juta rubel itu, hm?", Maxwell mendekati Ayesha dan tiba-tiba membuka cadarnya lalu menyentuh pipi Ayesha dengan lembut.


"Lihatlah istriku ini ya Allah. Ia tidak hanya cantik di luar tapi inner beautynya juga luar biasa. Aku sungguh rugi jika tidak mendapatkan ratu bidadari ini ya Allah", Maxwell tersenyum dan menatap intens ke wajah di depannya yang hanya berjarak 2 jengkal saja. Yang ditatap nampak jengah dan tersipu malu. Rona merah pipinya tak bisa disembunyikan. Bibir pink alami nampak menggoda membuat Maxwell seketika ingin sekali menyentuhnya. Namun...


"Ehemmm....", deheman Ahmed membuyarkan angan Maxwell seketika.