
Grace baru saja membereskan seprai tempat tidur mereka berdua dengan susah payah di atas kursi rodanya tatkala terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Mark muncul dari sana dengan hanya memakai handuk putih yang melilit di pinggang. Spontan wajah cantik muslimah yang tengah duduk di sisi ranjang itu pun memalingkan wajahnya karena malu sudah melihat aurat suaminya. Ia jadi salah tingkah. Mark yang melihat ekspresi tak tertutupi sang istri malah menatap nakal.
"Mengapa berpaling Sayang...", dengan cueknya, Mark pun memakai pakaiannya di depan Grace yang sudah disiapkan sebelumnya oleh sang istri di atas tempat tidur. Pria yang baru saja nyaris hilang kendali hendak menagih malam zafafnya itu ke sang istri yang masih sakit kakinya itu tersenyum melirik sang wanita. Grace sendiri segera berpaling memutar kursi rodanya dan berpura-pura merapikan selimut. Ia benar-benar semakin kikuk menghadapi suaminya yang terlihat semakin mesum.
Setelah selesai mengenakan pakaiannya, Mark pun menghampiri istrinya, memegang bahunya dari belakang dan mencondongkan wajahnya ke arah wajah sang istri yang makin bersemu merah.
"Sayang....apakah engkau juga ingin mandi?", bisik Mark.
"Aku ...tadi...aku sudah mandi suamiku....aku..."
"Tidak ingin mandi lagi? jangan sungkan untuk meminta tolong kepadaku...."
"aku... tidak... aku sedang... tidak ingin ke kamar mandi".
"Ya sudah kalau begitu...", Mark tiba-tiba nampak cemberut dan kini naik ke tempat tidur yang sudah rapi.
"Suamiku..."
"Hm?", Mark nampak cuek dengan memegang ponselnya.
"Apakah kita tidak jadi...ke...dokter?", Grace menunduk.
"Oh ya?", Mark tetap tidak mau melirik. Ia masih terlihat tidak peduli. Sibuk membuka email.
"Ya sudah", Grace berbalik dan memutar kursi rodanya menuju balkon yang terbuka.
Mengapa jadi dia yang marah? Mark bingung. Terbayang kembali tadi pagi ketika sang istri menolaknya. Mereka nyaris saja melakukan hubungan suami istri tatkala Grace tiba-tiba menutup matanya dan berteriak manakala melihat junior Mark yang sepenuhnya sudah keluar dari sarangnya dan hendak bertugas. Grace pun menangis dan ketakutan. Meminta sang suami berhenti karena dia merasa tidak siap, ditambah ekspresi kesakitan dari kakinya yang patah. Akhirnya, Mark pun menuntaskannya sendiri di kamar mandi dan merasa kesal karena merasa digantung. Apa iya, gadis se-dewasa istrinya sungguh naif dengan ***? Mark semakin penasaran dan merasa menikahi seorang wanita yang sangat polos. Ia pun tersenyum tipis.
Grace sudah di balkon dan memandang ke bawah. Pemandangan taman belakang tertangkap indah. Matanya jatuh ke kolam renang di sana yang membuatnya teringat dengan kisahnya bersama Mark sebelum menikah. Tatkala sang suami waktu itu sedang dalam perawatan akibat luka tembakan pasca penyerbuan agen Mosad ke mansion Maxwell Powell. Mark waktu itu dengan kursi rodanya begitu nekat mencoba menyelamatkan Grace yang jatuh ke kolam dan hampir tenggelam karena keram kakinya.
"Kau pasti mengingatnya kembali bukan?", suara Mark sudah sampai ke telinganya.
"Hm?", Grace mengerjap dan refleks mendongak ke sumber suara. Tak ayal, wajah keduanya yang dekat pun langsung bersentuhan. Kedua hidung mancung pun saling memberi salam dan ini tidak disia-siakan oleh sang pria yang terlihat semakin mesum.
"Hmmm...", Grace gelagapan mendapat serangan dari bibir sang suami. Ia pun hanya pasrah mengikuti.
Sekian detik kemudian, Mark pun melepas rengkuhannya. Tangannya meraih wajah mulus di depannya.
"Jangan cemberut begitu...atau...aku akan menghukummu lebih jauh heh?". Mark tersenyum nakal.
"Dan...bukankah harusnya aku yang marah...bukan my wife?"
Grace seketika teringat adegan tadi pagi dimana ketika Mark sedang berada di puncak keinginannya untuk menyatukan dirinya dengan sang istri, namun mendadak Grace membuyarkan semuanya. Grace seketika merasa bersalah.
"Maafkan aku....aku...betul-betul takut...."
"Sudahlah...lupakan saja...ayo kita ke rumah sakit..."
"Benarkah?"
"Aku tidak akan mengulangi dua kali"
"Ayolah...", dengan semangat Grace pun memutar kursi rodanya. Sebelum dia menggerakkannya sendiri, tangan kekar sang suami sudah meraih tubuhnya dan mengangkatnya ke bed. Dengan cekatan, Mark mengambil pakaian di lemari dan memakaikannya ke tubuh sang istri tanpa ijin.
"Suamiku...aku...bisa sendiri..."
"Diamlah...atau kita tidak jadi pergi?"
"Aku..."
"Tidak perlu malu...aku sudah melihat semuanya bukan?", Mark nampak cuek dan melakukan aktivitasnya tanpa melihat ke wajah Grace yang sudah memerah. Namun belum berhasil memilikinya seutuhnya, sambung Mark dalam hati.
"Selesai"
Grace pun gelagapan. Mereka berdua kemudian keluar kamar menuju lift dan turun.
Setengah jam kemudian sepasang pengantin baru itu sudah berada di salah satu ruangan di rumah sakit milik Powell Group.
"Bagaimana kondisi kaki istri saya dok..."
"Progressnya cukup baik. Tidak usah khawatir. Jika rutin perawatan, patah tulang tertutup ini hanya membutuhkan waktu sekitar empat bulan saja untuk sembuh", jelas dokter orthopedi pada Mark. Grace merasa lega.
"Adakah terapi yang bisa mempercepat penyembuhannya?"
Sang dokter nampak tersenyum.
"Aku bisa merekomkan salah seorang teman herbalis yang tak diragukan kemampuannya. Ini bisa jadi salah satu solusinya selain dari sisi medis"
"Berikan yang terbaik untuk istri saya. Berapa pun biayanya"
"Baiklah Sir. Ini kartu namanya. Hayeshi Ogawa. Aku akan menghubunginya agar istrimu menjadi prioritas"
Mark mengambil kartu nama yang diberikan dan membacanya.
"Apakah kami harus ke Jepang?"
"Baiklah. Terima kasih banyak dokter"
"Semoga Nyonya cepat sembuh, berjodoh dengan pengobatan bersama Tuan Ogawa"
"Aamiin. Thanks doc", Grace turut mengaminkan.
"Apakah kita akan segera ke Tokyo?"
Grace bertanya dengan semangat ketika mereka berdua sudah kembali dalam mobil menuju pulang. Mereka saling bergenggaman tangan di kursi kedua.
"Secepatnya. Aku akan meminta ijin dulu pada Boss"
"Semoga Tuan Maxwell mengijinkannya"
Mark tersenyum. Ia sudah memikirkan cara meminta cuti pada sang Tuan selama menghabiskan waktu bersama sang istri untuk menemaninya berobat.
Tiga bulan kemudian
Di sudut sebuah negara berkembang, sepasang suami istri yang bercadar terlihat sedang berjalan pagi di sekitar lingkungan rumah baru mereka. Suasana asri dengan deretan tanaman kelapa pendek dan aneka bunga berbatang besar memberikan oksigen bersih yang cukup untuk paru-paru manusia, khususnya mereka berdua dengan kondisi kehamilan sang istri yang sudah nampak dari luar. Wanita berbadan empat itu sejenak berhenti dan duduk di kursi kayu di dekat mereka. Sang pria pun mengikuti.
"Apakah engkau lelah?"
"Sedikit Hubby...", sang istri menyeka keringat di dahinya. Dengan lembut sang suami pun mengambil sapu tangan di sakunya dan membantu melap cairan bening tersebut.
"Pasi berat ya...membawa empat nyawa sekaligus bersamaan...dan dalam waktu yang lama..."
"Tidak..jika dinikmati...", sang wanita tersenyum dan menatap teduh suaminya.
"Honey selalu mengatakan itu..."
"Fabiayyi 'aalaa irobbikumaa tukadzzibaan..."
"Nikmat yang Tuhan berikan memang begitu banyak....terima kasih sudah hadir dalam hidupku yang selama ini gelap...", sang lelaki meraih tangan istrinya dan menciumnya. Kini ia beralih mengelus lembut perut wanitanya dan kini membungkukkan tubuhnya mencium perut yang semakin membesar itu.
"Hubby...."
"Ya Ayeshaku...."
"Terima kasih juga sudah menjadi bagian dalam hidupku...menyempurnakan agamaku..."
Maxwell Powell, sang pria yang dipanggil hubby itu pun tersenyum. Ia mendekat ke wajah sang istri dan hampir saja meneruskan kebiasaannya di negara asal, namun dengan cepat, sepasang tangan lembut memegang rahang yang kokoh itu.
"Sayang ...ini Indonesia, budaya timur yang tak sama dengan budaya di negara kita"
"Aku lupa.."
Keduanya kini melanjutkan perjalanan semakin jauh menyusuri jalan perkampungan yang ramah penduduk itu. Sesekali Ayesha menyapa beberapa perempuan di jalan yang sudah biasa mereka temui selama tiga bulan ini tinggal di negeri yang sangat luas itu. Tak jarang, ia juga membalas sapaan orang-orang yang mereka temui di jalan. Sudah menjadi kebiasaan mereka selama sebulan ini untuk berjalan di pagi hari memperhatikan lingkungan sekitar sambil membawa buah tangan. Terkadang oleh-oleh tersebut sengaja dibawa Ayesha dari rumah atau juga dibeli di kedai yang mereka lalui. Dengan mengingat-ngingat wajah kenalan baru yang ramah menyapa mereka di jalan, Ayesha yang sedikit bisa bicara Bahasa Indonesia dengan belajat otodidak selama tinggal di negara kepulauan itu pun akan kembali menemui orang tersebut keesokan harinya dengan membawa buah tangan.
"Assalamualaikum Nyonya..eh...umi..."
"Wa alaikumussalaam Ibuk...sehat?"
"Alhamdulillaah...seperti yang umi lihat...."
"Wah gimana kabar si kecil? sudah sembuh?"
Maxwell hanya tersenyum melihat sikap sang istri yang cukup lembut dan ramah pada para warga sekitarnya ini.
"Sudah...ini sudah mau bermain dengan kakaknya..berkat bantuan Umi dan keluarga....terima kasih umi.....", sang wanita berumur dua puluhan berkulit sawo matang berkucir kuda nampak malu-malu menunjuk batitanya yang kini asik bermain mobil-mobilan bersama saudaranya di teras rumah. Ia ingat betul ketika seminggu sebelumnya, setelah berkenalan dengan Ayesha di pasar buah di pagi hari, tiba-tiba ia terharu karena wanita bercadar dengan hidung mancung dan kulit putih itu menyambangi rumahnya di siang harinya bersama suaminya yang bule sekaligus seorang dokter yang berwajah bule juga. Ketika di pasar ia sempat nampak menangis khawatir sambil menggendong anaknya yang sakit typus. Ia sedang meminta bantuan pinjam uang pada saudaranya pedagang buah tempat Ayesha dan suaminya berbelanja. Dan semua itu dilihat oleh Ayesha. Sang ibu muda itu sama sekali tak menyangka bahwa orang yang baru di kenalnya mendadak membantunya hingga kini anaknya sembuh.
"Hai Zul...assalaamualaikum...", sapa Ayesha ramah pada sang batita yang kemudian menoleh padanya dengan tatapan malu-malu.
"Salim Umi nak...ayo salim....", sang ibu mengarahkan sang batita untuk menyalami sang tamu. Namun si anak yang disapa Zul itu hanya diam menunduk.
"Dia masih malu. Tak apa"
Kini Ayesha pun terlibat obrolan singkat dengan keluarga muda tersebut. Tak lama ia pun dan Maxwell berlalu dan kini kembali berjalan menuju mushollah kecil yang tak jauh dari rumah si Zul kecil.
"Apakah menurut Hubby...mushollah ini bisa menjadi sebuah pusat pembelajaran di sini?"
"Ya. Posisinya cukup strategis. Lahan kosong yang luas. Dekat dengan fasilitas umum yang potensial. Asalkan pemilik tanah ini bersedia menjual tanah mereka...maka daerah ini akan berkembang dengan cepat...", Maxwell menyahut dengan mata berbinar dan pandangan menerawang jauh. Ayesha tersenyum menatapnya.
"Suamiku selalu optimis. Allah memudahkanmu"
"Mengapa Honey tidak mengatakan semoga...", Maxwell mengerutkan dahi.
"Allah ada pada prasangka hambaNya. Niat yang mulia dengan rasa optimis dibarengi usaha maksimal dan doa...tidakkah sudah mendekati kenyataan?"
Ayesha tersenyum manis dari balik hijabnya. Maxwell pun tersenyum.
"Aamiin...", lirih Maxwell.