
Maxwell mengangguk-angguk takjub. Ia makin mengerti seperti apa agama yang akan dianutnya ini. Dan kini ia semakin mantap. Di kepalanya sudah mulai dipenuhi berbagai rencana. Namun tiba-tiba ada satu pertanyaan lagi dalam kepalanya.
“Maaf kek, mau bertanya. Saya bukan orang baik dan bahkan sama sekali tidak dikenal oleh Ayesha, kenapa dia mau menolong saya bahkan berani membahayakan keselamatannya sendiri? Orang baik bukankah biasanya hanya menolong orang yang baik saja? Dan kenapa Tuhan menolong saya padahal saya orang jahat?”
Kakek tertegun sesaat. Ia berpikir sejenak untuk menyampaikan hal yang penting untuk membimbing Maxwell yang sepertinya sudah mulai menemui jalan Tuhannya.
“Nak Maxwell, pertanyaanmu sangat bagus sekali. Kakek akan menyampaikan sesuai prinsip hidup kami yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an, buku yang sempat engkau baca semalam.”
Sir Vladimir menarik nafas sesaat. Ia melirik Maxwell yang menatapnya dengan serius. Sejenak orang tua yang bijak itu berpikir, mencoba memilih kalimat yang pas agar mudah dipahami orang yang sedang kehausan iman di depannya ini.
“Jika nak Maxwell serius hendak mendalami agama yang akan nak Maxwell anut nantinya, maka sebaiknya bacalah kitab itu hingga selesai, jika ada yang tidak bisa dipahami, maka bertanyalah pada orang yang paham, jangan pada orang yang akan menyesatkan. Engkau paham maksudku nak Maxwell? Kakek hanya ingin engkau tahu bahwa semua agama di dunia ini diantara para pemeluknya ada yang baik dan ada yang tidak baik. Yang tidak baik adalah oknum. Jadi jangan men-generalisasikan semuanya. Maka nanti di negaramu, carilah para pendakwah Islam yang biasanya ada di gedung Islamic Center. Berdiskusilah dengan mereka. Engkau akan lihat mereka akan menyambutmu dengan ramah. Dan mereka biasanya adalah orang-orang yang professional di bidangnya. Artinya, mereka memang punya ilmu agama yang bisa dipertanggungjawabkan, bukan sekedar taqlid, hanya mengikut orang tanpa dasar”
Kakek berhenti sejenak. Maxwell masih menyimak.
“Tentang pertanyaanmu barusan, ini sangat berhubungan dengan apa yang Tuhan kami ajarkan dalam AL Qur’an, kitab suci kami. Bahwa, barangsiapa yang menyelamatkan satu nyawa manusia, maka sesungguhnya ia telah menyelamatkan semua nyawa manusia. Jadi artinya, Islam memandang setiap nyawa di sisi Tuhan itu sangat berharga. Jadi engkau paham sekarang bukan? Maka kejahatan pembunuhan dalam Islam termasuk dosa yang sangat besar. Dan barangsiapa manusia yang bisa menyelamatkan manusia lainnya, maka ia akan mendapatkan pahala yang sangat besar pula. Pahala yang besar ini akan menjadi jalan baginya mendapatkan syurga dari Tuhan, Rabb semesta alam. Syurga, tempat berkumpul segala kenikmatan yang bentuk kenikmatannya bahkan tak pernah terlihat oleh mata, tak pernah terdengar oleh telinga dan tidak pernah terbersit sedikitpun dalam pikiran penduduk bumi. Inilah kebahagiaan yang hakiki di akhirat nanti. Negeri kekal yang akan kita alami setelah kematian di bumi.”
“Jadi dalam agama ini, ada kehidupan setelah kematian?”
“Ya. Benar sekali. Kami selaku umat Islam akan selalu takut melanggar larangan Allah. Jika melakukannya dan tidak segera bertaubat, maka tunggulah, di negeri akhirat nanti, Allah sudah menyiapkan neraka sebagai tempat untuk mempertanggungjawabkan setiap perbuatan buruk kita di dunia. Semua kezaliman yang dilakukan manusia di bumi maka akan dibayar lunas, tidak hanya di bumi tapi juga di akhirat. Dan coba nak Maxwell bayangkan, apa jadinya kalau di dunia ini tidak ada aturan dari Tuhan bahwa manusia tidak boleh berbuat jahat? Lihatlah tentu dunia akan kacau balau. Kesengsaraan dan kengerian akan terjadi dimana-mana. Sama dengan sebuah negara, jika presidennya tidak memberlakukan hukum yang pantas, tentu negara tersebut juga akan hancur dan tidak akan pernah aman.”
“Bagaimana jika orang jahat itu…lalu berusaha untuk tidak lagi mengulangi perbuatan masa lalunya…bisakah dia memperbaiki dirinya?” Maxwell mulai merasakan kengerian. Terbayang segala kezaliman yang sudah dia lakukan selama ini.
Aamiin. Terimakasih kek. Penjelasan kakek cukup membantu saya. Saya mulai menemukan sebuah jalan. Doakan saya untuk bisa meraih hidayah itu. Mengejarnya dan mendapatkannya. Saya ingin menjadi orang yang beruntung. Sahut Maxwell dalam hati. Dan tiba-tiba ia menangis. Ia sampai sesenggukan, tapi ini bukan menangis sedih, tapi sebaliknya, bahagia. Sambil menahan perasaannya, dia menyampaikan keinginannya di ruangan itu. Sementara semua yang hadir di ruangan itu terkesima. Mereka semua terkejut melihat apa yang dikatakan Maxwell setelah itu.
“Kek, aku ingin bersegera mendapat hidayah itu. Aku tidak mau menunggu terlalu lama untuk sampai di Australia. Bolehkah saat ini juga kakek menuntunku untuk masuk Islam?”
Allahu akbar !!! Sontak semua orang yang hadir di ruang mushollah kecil di rumah Ayesha ini bertakbir. Semua terharu. Tak terasa mata mereka semua berkaca-kaca.
“Apakah nak Maxwell tidak terburu-buru memutuskan ini?”
“Tidak kek. Aku sudah memikirkan ini masak-masak. Walaupun mungkin ini terlalu cepat kuputuskan tapi aku khawatir aku akan termasuk golongan orang-orang yang merugi karena tidak bersegera dalam menyambut hidayah Tuhan. Hidupku dipenuhi dengan bayang-bayang kematian. Bagaimana kalau aku mati sebelum sempat mendapatkan hidayah Tuhan Ayesha. Jika aku tidak bisa memiliki Ayesha saat ini, aku ingin memiliki Tuhan dalam hidupku sekarang juga”
Maxwell kembali menangis. Ia tak tahu. Entah apa yang membuatnya menangis. Ia tak tahu apa nama perasaan ini. Yang jelas, ia seperti diburu rasa bersalah yang tak terkira dan ingin secepatnya keluar dari rasa itu. Ini perasaan bahkan jauh lebih besar dari malam tatkala ia rasakan untuk Ayesha. Ketika ia memikirkan Ayesha akan terbunuh karenanya dan ia dirundung perasaan bersalah yang amat besar.
Sementara Ayesha mendengar keinginan Maxwell yang tanpa ragu hendak memeluk Islam sangat terkejut. Spontan diliriknya Maxwell yang menangis. Ia terpana. Ia tak menyangka lelaki di depannya ini amat berani memutuskan sesuatu yang sangat besar dalam hidupnya hanya dalam waktu beberapa saat saja. Ia melihat sisi baik yang luar biasa dalam diri pria asing ini yang tidak banyak dimiliki manusia. Ayesha tersenyum. Ada sesuatu yang sangat halus menyejukkan relung hatinya yang paling dalam. Tiba-tiba seperti ada hal besar yang sangat menggembirakannya. Ini tidak sama ketika ia melihat Ali maupun uncle John bersyahadat pertama kalinya.
“Baiklah nak Maxwell. Karena kami melihat ketulusan dari wajahmu mengutarakan keinginan ini, maka kami akan membantumu. Siang ini juga. Sebelum azan juhur berkumandang, engkau akan kami tuntun mengucap kalimat syahadat di ruang ini juga”
“Allahu Akbar!!!”, semuanya kembali bertakbir.