A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 83. Luke Kembali



Ayesha baru saja sadar dari bius tidur yang diberikan padanya selama perjalanan dengan helly ketika cahaya matahari menyapu wajahnya dari jendela kamar berjeruji yang terbuka lebar. Sudah 6 jam lamanya ia tak sadarkan diri selama musuh Maxwell datang menculiknya di pagi hari dan kini matahari sudah menunjukkan teriknya.


Ayesha membuka matanya perlahan dan mendapati dirinya sedang terbaring di atas tempat tidur yang mewah di sebuah kamar mewah yang cukup luas. Ia bingung melihat ke sekeliling. Ingatannya perlahan pulih dan kini sadarlah ia apa yang terjadi. Dengan serta merta ia melihat ke arah dirinya sendiri. Seketika ia menarik nafas lega. Pakaian dan jilbabnya masih utuh seperti semula. Tidak ada yang berubah.


"Alhamdulillah ya Allah. Aku yakin akan penjagaan dari-Mu selama aku menjaga-Mu dalam hidupku", gumam Ayesha pada diri sendiri.


Wanita cantik berhijab lengkap itu pun perlahan turun dari tempat tidurnya dan memutari ruangan tempatnya dikurung.


"Aku tau kalian menginginkan suamiku karena aku tidak punya musuh. Namun mengapa mengurungku dengan fasilitas mewah ini?", Ayesha berbicara sendiri. Ia terus menelusuri isi kamar dengan waspada. Ada lemari pakaian berisi banyak pakaian muslimah seperti kriteria yang disukainya bahkan mukena untuk beribadah. Ada satu buah sofa panjang yang cukup lebar dan nampak empuk. Sebuah meja rias dengan make up ber-merk muslimah. Di sudut ruangan dekat jendela yang besar ada karpet tebal berwarna hijau daun yang cukup untuk seseorang melaksanakan ibadah sholat. Di dekatnya, ada meja kecil dengan selembar sajadah yang terlipat rapi. Ayesha tercenung melihat semuanya dan bergerak mendekat. Ia raih sajadah tersebut dan membuka lipatannya. Sebuah sajadah yang cukup lebar berwarna hijau muda bergambar ka'bah dengan kompas di tengahnya. Bahkan musuh suamiku mengetahui dengan baik aku seorang muslimah dan membutuhkan ini semua, gumamnya dalam hati. Wanita mukminah itu pun semakin penasaran. Setelah yakin tidak menemukan cctv di kamar tersebut kini matanya mengarah ke jendela dan ia pun terbelalak. Ini sebuah villa dengan pemandangan alam yang menakjubkan. Masyaa Allah, batinnya.


Dari jendela yang terbuka lebar, Ayesha bisa melihat pegunungan yang tinggi menjulang. Di lerengnya tanaman sayur mayur nampak subur menghijau. Di beberapa tempat yang tidak ditanami sayuran, rerumputan subur membentang dengan beberapa ekor kuda merumput dengan lahapnya. Nampak puluhan orang bertopi lebar seperti pakaian petani sedang sibuk membereskan alat-alat bertani mereka dan ada juga yang sudah duduk beristirahat di pondok-pondok kayu yang kecil dan unik. Mereka nampak saling berbicara ditemani minuman dan makanan. Melihat mereka asyik makan, Ayesha teringat dengan dirinya sendiri dan refleks menyentuh perutnya. Ia menangkap benda persegi yang berdetak di dinding kamar dan barulah sadar bahwa hari sudah siang. Ia sekarang merasa lapar. Ayesha menatap ke sekitar dan matanya membulat sempurna ketika melihat sekeranjang buah terletak di atas nakas, di samping tempat tidurnya. Perlahan ia mencari letak kamar mandi dan segera mendapatkannya. Wanita Rusia itu pun bergegas masuk dan hanya mencuci wajah dan kedua tangannya dengan terburu-buru. Sekilas ia merasa kagum dengan kamar mandi yang luas dan bersih serta lengkap dengan segala fasilitasnya apalagi untuk wanita seperti dirinya. Tapi entahlah, membayangkan sekeranjang buah tadi membuat air liurnya tidak dapat ditahan. Ada sesuatu yang lebih dari biasanya yang ia rasakan saat ini.


Begitu selesai bersih-bersih seadanya, dengan mata berbinar Ayesha pun kini sudah keluar dari kamar mandi dan mendekati buah. Ia mengambil pisau dan sebuah apel. Dikulitinya buah segar di tangannya tersebut tanpa memotong lalu ditariknya kursi meja rias dan duduklah ia di dekat jendela. Setelah membaca do'a, dengan penuh kenikmatan wanita yang cantik alami itu pun memakan buahnya dengan lahap sambil matanya menyapu pemandangan alam di luar jendela. Mata birunya benar-benar takjub akan keindahan ciptaan Tuhan dan tak henti-hentinya berzikir mengagungkan asma-Nya. Ketika nyaris habis satu apel hijau dimakannya, terdengar suara pintu yang terkunci dibuka dari luar. Mata indah itu pun berpaling ke arah sumber suara dan mendapati seorang wanita paruh baya berpakaian pelayan datang dengan sebuah nampan berisi makanan.


"Selamat siang Nyonya. Ini makan siang untuk Anda", sang pelayan menaruh makanan di atas meja sofa.


"Terima kasih. Dimanakah ini?"


"Maaf saya tidak bisa menjawabnya, Nyonya. Permisi"


Ayesha menghela nafas. Setelah dihabiskannya buah yang ia makan, ia pun kembali melihat ke bawah dan seketika tercenung. Sesosok pria tinggi sedang berdiri di bawah pondok kecil yang berjarak sekitar 15 meter di bawah jendelanya dan kini mendongak ke atas menatapnya. Sang lelaki nampak tersenyum. Ayesha mencoba memfokuskan pandangannya dan seketika ia menemukan jawaban atas pertanyaannya tadi. Mr. Luke, gumamnya. Ia sesaat termangu melihat pandangan Luke yang tak beralih ke arahnya. Ayesha segera sadar dan menjauh. Ia menutup tirai jendela dan duduk di sisi tempat tidur.


Astaghfirullah. Luke. Apa yang diinginkannya? Ayesha mulai gelisah. Ia membayangkan wajah suaminya dan Luke. Ia membayangkan bagaimana Maxwell mendekati Luke dengan wajah penuh amarah. Lelaki itu memegang kerah baju Luke, sang asisten yang bertahun-tahun dipercayainya tersebut namun ternyata adiknya sendiri, sesama anak adopsi sang ayah. Lalu Maxwell pun menghantam wajah sang adik dengan penuh kebencian dan amarah. Ayesha bergidik. Ia sangat tahu, Maxwell benar-benar marah terhadap Luke atas semua yang dilakukannya padanya karena menipu dan mengkhianatinya apalagi pernah hendak menyakitinya, sang istri yang sangat dicintainya. Memikirkan semua itu, mendadak Ayesha bergegas dengan langkah cepat mendekati pintu kamarnya dan berusaha menguncinya. Namun begitu ia memeriksa pintu tersebut, ia tak menemukan sesuatu pun untuk mengunci pintu tersebut. Hanya ada satu pengunci dan sang pelayan menguncinya dari luar. Gundah dengan pintu yang tak bisa dikunci dari dalam, Ayesha masih terus berpikir cara untuk membuat kunci sendiri dan ia pun baru saja menemukan caranya. Namun baru saja ia hendak melangkah, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki mendekat dan langsung memutar kunci pintu tersebut dari luar. Ayesha menarik nafas dan melangkah mundur. Matanya nanar ketika melihat siapa yang datang.


"Selamat siang Nona. Bagaimana kabar Anda?"


"Mengapa membawaku kemari?", Ayesha tidak menyahut melainkan langsung menanyakan alasan Luke mengurungnya.


"Sambutlah salam orang yang sudah lama tidak bertemu Nona. Apakah Nona tidak merindukanku?"


"Jaga ucapan Anda, Mr. Luke. Panggil aku Nyonya Maxwell"


"Oh, saya sudah lupa, Nona. Oh, No. Kamu adalah Nona Ayesha, bukan Nyonya Maxwell karena sebentar lagi kamu akan menjadi Nyonya Luke".


Ayesha melotot mendengar kata-kata Luke yang kini menatap sayu dengan penuh kerinduan ke arahnya.