A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 97. Rahasia Berikutnya dan Penyerangan



Bibi Christine, Maxwell dan Ayesha sekarang sudah berada di dalam ruang pustaka mansion. Bibi Christine terus melangkahkan kakinya ke arah rak buku yang berjajar rapi di dalam ruangan yang cukup luas. Sejenak Maxwell terheran karena ia berpikir mereka akan berhenti di salah satu rak atau lemari buku, namun sang bibi terus melangkah hingga kini tiba di sudut kiri ruangan di depan sebuah lemari kayu yang nampak berdiri kokoh. Wanita paruh baya itu pun lalu mendorong lemari kayu yang menempel di dinding beton putih tersebut dan Maxwell dan Ayesha pun tercengang. Lemari bergeser ke belakang dan nampaklah ruangan lain di belakangnya, dan itu adalah kamar Bibi Christine.


"Jadi selama ini...."


"Ya Tuan. Saya dan Tuan Besar sering melakukan pertemuan rahasia melalui pintu rahasia ini"


Maxwell betul-betul terkejut. Ia selama ini tidak menyadari semua rahasia ini. Ia menggelengkan kepala pusing. Terbayang diingatannya, jika sang ayah dan bibi sering ke ruang pustaka. Ternyata ada hal lainnya yang dia tidak ketahui. Terbersit ingatan tentang kelakuan menjijikkan Bibi Christine ketika di hotel dan Maxwell pun seketika geram.


"Untuk apa kalian melakukan pertemuan rahasia?", Maxwell berusaha menahan emosinya.


"Inilah yang akan aku sampaikan. Masuklah Tuan dan Nyonya" sang Bibi seakan tak peduli dengan apa yang dipikirkan oleh sang Tuan karena dia memang tak mengetahui jika Maxwell pernah memergokinya di hotel bersama seorang pria waktu itu.


Bibi Christine pun masuk dan terlihatlah kamar yang cukup luas dan rapi. Lagi-lagi wanita tua itu bergerak ke arah lemari kayu yang ada dan menggesernya sedikit. Menekan dinding di belakang lemari tersebut dan terbukalah lubang berlapis baja seukuran bantal tempat tidur tepat di dinding beton putih yang tak sedikitpun menampakkan garis celah jika tidak benar-benar diteliti dengan seksama. Sebuah kotak tersimpan di lubang rahasia tersebut dan sang bibi pun mengambilnya.


"Bukalah. Tuan akan segera tau", Bibi Christine memberikan kotak tersebut ke Maxwell. Ia kini duduk di sofa. Maxwell dan Ayesha pun turut duduk di dekatnya.


Dengan perlahan Maxwell membuka kotak di tangannya dan ia menemukan beberapa amplop plastik berwarna coklat dan beberapa kotak kecil di dalamnya. Pria keturunan para milyarder itu pun perlahan membuka sebuah amplop coklat yang ternyata berisi dokumen usang yang ternyata adalah akte lahirnya. Di sana tertulis nama sang ayah dan ibu kandungnya yang persis sama dengan yang diceritakan sang bibi yaitu George Powell dan Sofia Alexander Al Qudri. Bahkan keterangan sang Bibi sebagai ibu susunya dan selanjutnya diangkat sebagai ibu angkatnya juga tertera di lembar kedua berikut surat wasiat untuknya. Di sana tertera bahwa sang ibu angkat mendapatkan sebidang tanah yang cukup luas dan juga rumah di sebuah negara di kawasan Eropa. Maxwell tau persis daerah tersebut karena ia pernah ke sana dalam rangka bisnis. Selanjutnya amplop kedua juga berisi dokumen usang yang mengungkapkan data keluarga Bibi Christine. Awalnya Maxwell tidak terlalu peduli dengan dokumen tersebut namun sang Bibi memintanya untuk membaca semuanya dengan teliti dan terkejutlah Maxwell ketika melihat selembar dokumen yang berisi nama Julia Grace dengan nama ayahnya Abraham Alexander Al Qudri.


"Apa maksudnya ini Bibi?", Maxwell terpana memegang kertas di tangannya dan menunjuk tulisan nama Grace dan ayahnya.


"Nona Grace adalah anak Abraham Alexander Al Qudri, paman Tuan Maxwell, kakak lelaki dari Nyonya Sofia, satu-satunya saudara Nyonya yang menyayangi Nyonya dengan tulus meski Nyonya sudah diusir dari keluarganya", ujar Bibi Christine dengan mata yang kembali basah.


"Lalu ibunya Grace? Adalah ibu Bibi Christine juga? Kalian kakak adik?", Ayesha yang sejak tadi hanya diam kini bersuara. Ia juga turut membaca semua dokumen yang dibuka Maxwell.


"Benar Nyonya. Kami satu ibu beda ayah. Ayahku bercerai dengan ibuku dan ibuku menikah kembali dengan paman Tuan Maxwell secara agama, karena Tuan Abraham sudah menikah secara agama dan negara dengan wanita lain namun belum mempunyai keturunan hingga sekarang. Sayangnya, ketika Grace yang lahir dari pernikahan Tuan Abraham dengan ibuku waktu itu sudah berusia tiga tahun, Tuan Abraham tiba-tiba meninggalkannya begitu saja tanpa berita"


"Sayang...Grace adalah sepupumu...sekaligus bibimu..", lirih Ayesha seperti tak percaya. Teka- tekinya terjawab sudah. Wajah Grace memang memiliki kemiripan dengan Bibi Christine, pun matanya mirip dengan Maxwell, suaminya. Gen sang ibunda Grace bertemu dengan Bibi Christine, dan gen Abraham Alexander bertemu dengan Maxwell, sang keponakan Abraham.


"Bibiku?", Maxwell tersenyum tipis. Banyak hal yang datang dalam hidupnya, dan tiba-tiba sekarang ia baru mengetahuinya.


"Bibi Christine adalah Ibu susumu, mahrammu Sayang...maka Grace juga mahram Hubby..."


Maxwell hanya diam mendengarkan Ayesha. Sekilas ia terbayang wajah Grace yang selama ini tak pernah diperhatikannya. Ia juga teringat dengan sosok sang paman, Abraham Alexander, yang sempat bertarung dengannya di pulau tak berpenghuni ketika Ayesha diculik Luke. Kembali ia menyadari suatu hal.


"Keluarga Al Qudri tidak ada yang mempunyai cucu, namun cucu yang ada disia-siakan?" Maxwell memejamkan matanya.


"Bukan begitu Tuan", Bibi Christine berbicara hati-hati.


"Mereka tidak tau dengan kehadiran Tuan Maxwell dan Grace, karena status kalian dirahasiakan dengan sangat rapat oleh Tuan Besar George"


"Apakah Ayahku juga mengetahui tentang Grace?"


"Semua hal tentang keluarga Nyonya Sofia tidak ada yang luput dari seorang George Powell. Tuan George pun turut menyimpan rapat-rapat rahasia tentang ayah Grace. Karena jika keluarga Nyonya Sofia sampai tau tentang Grace, maka Tuan Maxwell juga akan tersangkut paut karena ayah Grace adalah paman kandung Tuan. Jejak Nyonya Sofia bagaimanapun masih menjadi misteri untuk keluarganya. Meski mengatakan telah mengusir ibunda Tuan, Ayah Nyonya Sofia yaitu Kakek Tuan, tetap terus berusaha menyelidiki keberadaan ibunda Tuan", jawab Bibi Christine.


"Ibuku telah dicoret dari daftar keluarga. Bukankah mereka tak peduli lagi dengannya?"


"Itu dulu sewaktu Kakek Tuan sedang emosi, namun begitu ia menyadari kesalahannya, apalagi sejak ia melihat tak ada satu pun anaknya yang memberinya cucu, maka Tuan Alexander mengirim para bawahannya untuk terus mencari informasi tentang Nyonya Sofia meski Nyonya menurut info media yang direkayasa Tuan George, diperkosa musuhnya dan mati"


"Dari mana Bibi tau?"


"Beberapa kali bawahan Tuan Alexander menemui ayah Tuan dan mengancamnya. Mereka sudah curiga bahwa ibu Anda bersama Tuan Besar George. Namun ayah Anda pandai merahasiakan semuanya hingga kini"


Maxwell mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ayahku sudah tidak ada. Untuk apakah lagi rahasia ini dipertahankan?", Maxwell tak mengerti.


"Bukalah satu lagi dokumen ini Tuan", Bibi Christine menunjuk satu lagi berkas usang yang belum dibuka.


Ayesah pun meraihnya dan membukanya, lalu memberikannya pada sang suami tanpa ingin membacanya lebih dulu. Maxwell pun menerimanya dan seketika matanya terbelalak.


"Agen MOSSAD?"


"Benar Tuan. Tuan Besar adalah salah seorang agen Mossad yang terkenal di dunia"


Ayesha pun turut terkejut melihat kenyataan ini. Ia tahu betul bagaimana sepak terjang agen Mossad. Mossad adalah Badan Intelligent terkenal paling sukses di dunia dengan tujuan melindungi kepentingan Yahudi di seluruh dunia. Agen rahasia ini menyebar ke seluruh negara dan menghalalkan segala cara dalam rangka melindungi dan mensukseskan kepentingan Israel. Mossad seperti momok yang paling menakutkan bagi seluruh operasi intelligent di dunia karena kepiawaiannya menjaga seluruh rahasia bahkan kekejaman yang tak terbayangkan demi tercapainya tujuan yang ada. Dan hal yang harus diingat adalah, siapapun yang sudah masuk ke dalamnya menjadi bagian dari badan intelligent tersebut maka tidak akan bisa keluar lagi selamanya.


"Jika ayahku adalah seorang Agen Mossad, lalu Bibi?"


"Benar. Aku juga seorang mantan agen Mossad"


"Mantan? Tidak ada kata mantan untuk seorang agent Mossad kecuali kematian bukan?", Ayesha menyela. Ia mulai waspada dengan sosok di dekatnya kini.


"Nyonya benar. Karena itulah aku dan Tuan Besar tidak bisa menghindari kematian tersebut. Saat ini aku masih beruntung, masih bisa bernafas, karena aku belum meminta mundur, tapi Tuan Besar..."


"Jadi...ayahku dibunuh oleh rekannya sendiri, sesama Mossad?"


"Mungkin Tuan, tapi aku tak punya bukti itu. Karena kerja mereka begitu rapi dan rapat. Tuan Besar George sebenarnya sudah ingin hengkang dari Mossad, sebulan sebelum kematiannya, namun permintaannya tentu saja ditolak. Untuk itulah ia selama ini menutupi jati diri keluarganya, siapa istri dan anak kandungnya walau dengan kedok karena permusuhan keluarga istri dengan keluarga ayahnya. Yang sebetulnya, alasan Tuan George menutupi jati diri Nyonya Sofia dan Tuan Maxwell adalah agar jika Tuan Besar keluar dari Mossad, maka mereka tidak mengendus keberadaan Anda berdua dan pastinya akan membahayakan Anda berdua. Untuk itulah Tuan Besar menjaga kerahasiaan Anda berdua bahkan sampai kematiannya"


"Daddy...", lirih Maxwell. Sang istri yang hanya diam mendengarkan semua drama kehidupan suaminya hanya bisa menarik nafas dan mencoba memberikan perhatiannya pada sang pendamping. Dengan lembut, muslimah cantik itu meraih dan menggenggam kembali tangan suaminya seakan ingin memberi kekuatan padanya mengetahui semuanya. Sementara itu Bibi Christine hanya menunduk menatap lantai dengan pandangan sendu.


"Lalu ibuku...apa yang telah menyebabkan kematiannya...apakah mungkin juga sama dengan pembunuh Daddy?"


"Meskipun Tuan Besar dan Nyonya dinyatakan tewas dalam kecelakaan, tapi aku tidak percaya sepenuhnya Tuan. Segala kemungkinan bahwa Mossad-lah pelakunya tidaklah mustahil"


"Aku akan menyelidikinya", geram Maxwell. Matanya mulai memerah.


"Mossad tidak mudah untuk ditembus. Tapi aku yakin Tuan akan mampu mengungkap ini semua, minimal menemukan satu dalangnya".


"Semua yang terlibat harus bertanggung jawab"


"Tuan bisa saja mendapatkannya jika Tuan tidak sendirian. Maaf bukannya aku tidak percaya kemampuan Tuan, tapi aku sangat tau kekuatan musuh kita"


"Kita? Bukankah Bibi masih anggota Mossad saat ini?", Ayesha menyela.


"Anda benar Nyonya. Aku memang masih menjadi anggota Mossad. Tapi bukan berarti hatiku masih Mossad", mata Bibi Christine mendadak menyala. Pancaran dendam berkobar di sana. Maxwell teringat kembali dengan satu hal. Ia akan menanyakannya namun Bibi Christine sudah menjawabnya secara tidak langsung.


"Di Mossad, awalnya aku merasa nyaman karena tidak ada lagi rasa takut. Banyak orang kuat yang melindungiku dan aku mendapatkan uang yang cukup. Namun, lambat laun aku baru menyadari, begitu juga dengan Tuan, namun kesadaran kami sudah terlambat. Kami tidak bisa lagi keluar kecuali selalu bersembunyi dari kematian yang mengintai setiap waktu"


"Apa yang membuat Tuan George dan Bibi ingin keluar?", Ayesha menyelidik. Seketika Bibi Christine menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Aku...aku kotor...aku kotor Nyonya...aku kotor...semuanya harus kulakukan...semua dosa kulakukan untuk menuntaskan semua misi yang ditugaskan padaku. Membunuh, menipu, bersandiwara, dan...dan juga...", Bibi Christine tak sanggup melanjutkan.


"Dan juga melayani para pria hidung belang?" sambung Maxwell


"Tuan....tuan melihatnya?", Bibi Christine gemetar.


Maxwell mengangguk. Ia ingin menghapus memori ketika Maxwell remaja melihat sang Bibi melakukan pekerjaan hina itu di hotel.


"Lalu Ayah? mengapa ia ingin keluar dari badan rahasia itu?"


"Sejak ayah Tuan kehilangan Nyonya Sofia, ia mulai paham apa rasanya kehilangan. Nyonya Sofia begitu berarti dalam hati Tuan Besar. Kemuliaan pribadi Nyonya selama bersama dengan Tuan Besar, ketulusan hatinya mengabdi menjadi seorang istri bak bidadari bumi, meluluhkan sebagian kekejaman Tuan Besar selama ini. Hingga ketika Nyonya meninggal, Tuan membenci dirinya sendiri dan bertekad menjadi orang kuat dengan harta dan kekuasaan agar ia bisa membalaskan dendam dan tak bisa disetir oleh Mossad lagi. Namun meskipun sudah menjadi Penguasa, Mossad tetaplah bukan sesuatu yang mudah dikendalikan. Walaupun Tuan ingin keluar tapi tetap ditolak dan Mossad tak takut dengan ancaman kekuasaan Tuan Besar, karena agen Mossad sendiri adalah jaringan intelligent terkuat dan terbesar di dunia. Mereka punya semuanya", Bibi Christine berhenti sejenak. Maxwell dan Ayesha masih menunggu. Sesuatu paling besar, satu rahasia lagi yang masih belum dibeberkan sang Bibi sedang mereka tunggu.


"Dan puncak dari keinginan Tuan George untuk mengundurkan diri dari Mossad adalah...ketika ia menemukan bahwa ada sumber tenaga nuklir di Ausy ini yang akan diambil alih oleh Mossad"


"Jadi...karena itulah Mossad ingin membunuh Tuan George?", tanya Ayesha.


"Benar. Aku yakin merekalah dalang dari pembunuhan Tuan Besar, karena Tuan Besar memiliki bukti otentik rencana besar Mossad untuk menguasai sumber nuklir tersebut".


"Lalu dimanakah bukti tersebut Bibi? Mereka berhasil memusnahkannya?", Maxwell menatap sang Bibi.


"Ya. Mereka berhasil membakarnya, bersamaan dengan terbakarnya mobil yang ditumpangi Tuan Besar", air mata sang Bibi kembali mengalir mengenang semuanya.


Ketiga insan di kamar Bibi Christine itu sekarang hanya terdiam saling bergelut dengan pikiran masing-masing. Lima menit berlalu setelah ucapan sang Bibi, Ayesha yang melihat kedua ibu susu dan anak susuannya tersebut masih diam entah kenapa berinisiatif untuk melangkah mengambil semua dokumen yang kini tergeletak di atas meja di hadapan Maxwell. Seperti didorong oleh firasat tertentu ia pun mengambil semua berkas tersebut dan menyimpannya lagi ke tempat semula. Menggeser kembali lemari kayu yang berat itu dan kini semua kembali seperti semula. Tak lama setelah Ayesha menutup kembali tempat rahasia tersebut tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar. Suara tembakan dan teriakan terdengar saling bersahutan. Maxwell dan Ayesha pun tersentak kaget dan saling berpandangan. Bibi Christine nampak pucat.


"Tuan dan Nyonya, kumohon, apapun yang terjadi nantinya kalian harus selamat, ingatlah pengorbanan Tuan Besar selama ini untuk melindungi istri dan keturunannya"


"Apa maksud Bibi? Siapa yang datang menyerang?"


Tak sempat berkata lagi, mendadak suara pintu ruang pustaka di sebelah didobrak dari luar. Lima orang berpakaian hitam bersenjata laras panjang dengan topeng hitam menyergap masuk tanpa peringatan. Maxwell dan Ayesha terkesiap. Mereka baru saja bangkit namun Bibi Christine langsung mendorong mereka berdua ke arah Sofa di sudut kamar dan dengan cepat sang Bibi menekan sesuatu di kolong sofa dengan sandi telapak kakinya dan terbukalah pintu rahasia di sana. Sofa digeser dan sang Bibi dengan cepat mendorong paksa Tuan dan Nyonya-nya turun. Dengan kebingungan dan tanpa sempat menolak dan berbicara lagi, Maxwell dan Ayesha pun turun dan Sang Bibi dengan cepat segera merapikan semua seperti semula dan kini bersiap menyambut kedatangan tamu tak diundang dengan sebuah benda bulat di tangannya yang baru saja diambilnya dari lemari pakaiannya. Dengan jantung cangkok yang berdetak kencang, perempuan paruh baya itu menatap waspada ke arah dinding dimana pintu tembus rahasia kamarnya dengan ruang pustaka mansion terhubung. Tangannya sudah bersiap melemparkan senjata pamungkas di tangannya jika sewaktu-waktu terjadi bahaya.