A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 56. Konferensi Pers



Pagi ini Maxwell mengadakan konferensi pers di kantornya untuk mengabarkan kembalinya dirinya menjadi Presdir Powell Group sekaligus memperkenalkan nama Ayesha, sebagai istrinya ke publik walaupun tidak memperlihatkan dirinya. Saat ditanya kapan akan memperkenalkan sang istri Maxwell lalu mengumumkan bahwa ia akan mengadakan resepsi pernikahan berkisar satu bulan lagi dan di waktu itulah publik akan mengenal istrinya.


"Tenang saja. Silakan tunggu undangannya. Yang jelas, istriku adalah seorang bidadari".


"Wow...cie..."


Sontak jawaban pria penguasa milyarder itu disambut dengan keriuhan para jurnalis yang ber-wow- ria disertai tepuk tangan mereka karena baru kali ini mereka mendengar seorang Boss Powell Group yang terkenal dingin dan arogan kini memuji seorang wanita dan bahkan sudah menikahinya.


Ketika ditanya tentang alasan mengapa ia menghilang selama ini maka dengan lugas Maxwell menceritakan kejadian dirinya dikhianati oleh mitra bisnisnya dan syukurnya ia lolos dari maut dan diselamatkan oleh sebuah keluarga muslim yang taat yaitu keluarga Ayesha, istrinya saat ini. Begitu ditanyakan apakah ia juga mengikut agama istrinya tersebut, maka Maxwell menjawab dengan kalimat retoris.


"Menurut Anda, apakah seorang muslimah menikahi seorang pria yang berbeda keyakinan darinya?", Maxwell nampak memberi kode untuk menutup konferensi pers-nya dan selanjutnya kembali ke ruangan kebesarannya. Ayesha yang saat itu hanya berdiam di ruangan Maxwell, menyambut sang suami dengan senyuman. Karena hanya berdua, Ayesha pun membuka cadarnya. Dia mengikuti semua konferensi press suaminya di luar melalui streaming youtube di ponselnya.


"Hubby tidak mengatakan padaku kita akan mengadakan resepsi pernikahan"


"Aku ingin semua orang tau bahwa aku sudah menikah. Sehingga tidak ada lagi yang berharap padaku, apalagi padamu"


"Kalau pada Hubby, itu mungkin. Namun padaku? Di sini hanya Hubby yang mengenalku dan melihat wajahku, bukan?


"Benar. Namun nun jauh di sana, di bumi Presiden Putin, ada seorang bidadari bernama Ayesha Vladimir yang senantiasa dalam pantauan para pria muslim kaya yang menginginkannya menjadi istrinya. Jadi mereka harus tau bahwa harapan mereka sudah kandas. Dan sebuah info di zaman sekarang, bukankah hanya dalam hitungan detik akan sudah sampai di benua sana?", Maxwell tersenyum sambil mengerlingkan matanya. Ayesha hanya melengos untuk menyembunyikan rona wajahnya.


"By the way, Hubby belum menceritakan padaku tentang Luke. Aku bahkan tidak melihatnya lagi selepas kemarin kita makan siang bersamanya di restaurant, dan...wait..mengapa juga Hubby harus merencanakan bertemu denganku dengan menyamar menjadi Investor Arab segala?"


Maxwell menarik nafas sejenak. Ia kemudian duduk di sofa di samping Ayesha. Ingatannya masih jelas membayangkan kejahatan yang Luke lakukan padanya sebelum ini. Namun setelah berkontemplasi tadi malam dalam tahajjud-nya, ia seperti diingatkan Rabb-nya, bahwa ia pun dulunya adalah seorang yang kejam dan sampai saat ini juga masih mau melakukannya. Dan Luke kejam padanya karena merasa diperlakukan tidak adil oleh ayah angkat mereka, dan tentunya semuanya karena harta.


"Luke. Dia yang menculikku dan ingin membunuhku."


Ayesha terkejut. Walau pun dia sudah menyiapkan diri dengan kemungkinan terburuk hubungan suami dan sekretarisnya tersebut, namun ia tetap shock mendengarnya.


"Dia ternyata saudaraku. Sama-sama anak adopsi Mr. George Powell, ayah angkatku. Aku tidak tau siapa saja yang menjadi saudara adopsiku, termasuk Luke, dan dia pandai menyembunyikan siapa dirinya selama ini"


"Lalu, kenapa dia begitu tega seperti itu pada Hubby?"


"Karena dia cemburu. Ayah sangat memanjakanku. Ayah memberikan semua yang aku mau dan apa yang menjadi kebutuhanku. Ayah meneruskan semua yang dia punya hanya padaku. Semua perusahaan cabang bahkan pusat di seluruh negeri ini bahkan di benua Eropa, semua harta, properti. Semua diberikan atas namaku. Aku sendiri tak dapat menghitungnya lagi, karena semuanya terus berkembang tiada henti",


Maxwell menyandarkan kepalanya ke sandaran sofa dan memejamkan matanya. Kelebatan memorinya bersama sang ayah terekam kembali ketika dia kecil sudah mulai bersekolah hingga lulus sarjana bahkan master di bidang bisnis. Tatkala dia baru saja melanjutkan pendidikan doktoralnya selama 6 bulan, sang ayah meninggal dan dia pun tidak mau melanjutkan pendidikannya karena dia merasa tidak berguna. Dia sudah punya segalanya. Hanya gelar pendidikan yang diharapkan sang ayah sebagai sebuah prestis. Sebuah gengsi untuk dipamerkan ke khalayak, bahwa anak George Powell adalah seorang yang hebat. Penerus Powell yang mumpuni. Bukan hanya di lapangan sebagai sang Raja bisnis namun juga di ranah pendidikan karena lulus Doktoral di kampus bergengsi dunia. Maxwell tersenyum sinis. Ayesha hanya memperhatikan.


"Aku sebenarnya ingin sekali membalas apa yang sudah Luke lakukan padaku, namun jika mengingat bahwa mungkin aku juga salah karena semua harta kumiliki sendiri, maka aku menjadi kasihan padanya. Tapi aku juga tidak bisa memaafkan sebuah penghianatan begitu saja"


Ayesha tersenyum. Ia sudah tau apa yang saat ini dirasakan suaminya.


"Lalu mengapa Hubby harus berperan manjadi seorang investor Arab untuk bertemu denganku?"


"Kalau tidak begitu, Honey tidak akan datang bersama Luke, dan aku ingin menunjukkan siapa Luke sebenarnya pada Honey. Namun begitulah, di saat aku hendak membongkar kedoknya yang seolah selama ini membantu Honey di perusahaan, entah mengapa, di saat itu pula aku tidak ingin merusak momen pertemuan kita setelah sekian hari tidak bertemu"


"Lalu mengapa pada awalnya harus di Sofitel Sydney Darling Harbour dan mengatakan ada agenda di sana?", Ayesha masih terus mencecar suaminya dengan pertanyaan.


"Karena aku sangat merindukanmu dan berencana menculikmu dan menguncimu di salah satu kamar hotel", Maxwell menatap istrinya dengan intens. Yang ditatap menjadi jengah.


"Dan aku memang ada agenda di sana. Para pengawalku memaksaku untuk melakukan perawatan tubuh, agar aku layak berjumpa denganmu setelah seminggu sebelumnya laksana orang hutan"


Ayesha seketika tertawa dan langsung menutup mulutnya sendiri. Ia tidak bisa bayangkan sang suami yang selalu tampan dan rapi serta berpenampilan borjuis tiba-tiba menjadi acak-acakan dan kotor. Sementara itu Maxwell malah terkesima melihat sang istri yang tertawa walau ditahan, karena ia memang baru kali ini melihat Ayesha tertawa. Ia hanya tau Ayesha sering tersenyum saja padanya.


"Hai Honey, kau tertawakan aku Hah? Pasti istriku ini sedang benar-benar membayangkan aku seperti orang hutan ya?", Tiba-tiba terlintas ide jahil Maxwell. Ia mendekati Ayesha yang masih tertawa ditahan dan dengan cepat menggelitik pinggang dan bagian lehernya.


"Auw...auw...oh no..no no no..Hubby...geli tau..Hubby...jangan...ampun...ampun..ku mohon..", Ayesha serta merta menghindar dengan bangkit dari duduknya dan mencoba berlari karena kegelian. Aksi kejar-kejaran seperti anak kecil pun terjadi. Namun itu tak lama, dengan mudahnya Maxwell menangkap istrinya dan menggelitikinya lagi. Ayesha tak dapat menahan tawanya. Untunglah ruangan Presdir kedap suara, sehingga mereka bebas berekspresi dan mengeluarkan suaranya.


"Ampun By...ampun....sudah By...aku tak kuat...", tubuh Ayesha melorot ke bawah. Matanya sudah berair menahan geli. Ia memang sangat sensitif jika disentuh di bagian pinggang dan leher oleh orang lain. Tentu saja dia tak mampu menahan dirinya.


Maxwell menahan tubuh Ayesha dan menyentuh wajah cantik di depannya dengan kedua tangannya. Ia sejenak menarik nafas dan berkata


"Ayesha-ku. Kau tau, aku tak akan percaya diri jika berhadapan denganmu langsung dalam kondisi baru keluar hutan waktu itu. Aku tak ingin istriku yang cantik ini akan merasa malu bertemu denganku dan bahkan tak mengenaliku lagi"


"Hubby, bagaimanapun keadaan Hubby, dalam kondisi rapi maupun kacau, dalam kondisi kuat maupun lemah, kaya maupun miskin, aku akan tetap menerima Hubby apa adanya. Karena aku telah mencintai Hubby apa adanya, bukan karena ada apanya. Hm?"


"Hm?"


"Hm"


Keduanya pun tersenyum dan serentak tertawa ketika tiba-tiba keduanya tanpa dikomando saling menggelitik satu sama lain.