A Mafia'S Love For A Muslimah

A Mafia'S Love For A Muslimah
Episode 65. Dosen Muslimah Cantik



Maxwell dan Ayesha sampai di gerbang University of Sydney tepat siang hari sebelum matahari di atas kepala. Maxwell melangkah tegak menuju ruang Rektor bersama para stakeholder universitas yang sudah stand by menyambut kedatangan Sang Konglomerat muda itu. Pihak rektorat memang sudah lebih dahulu mendapat informasi bahwa kampus mereka akan mendapat suntikan bantuan yang tidak sedikit dari sebuah perusahaan raksasa kelas dunia. Ayesha berjalan bersisian dengan sang suami dan tangannya dipegang erat oleh Maxwell seakan pria berkuasa itu ingin menunjukkan bahwa wanita di sampingnya ini adalah orang terpenting dalam hidupnya.


Sesampainya di ruangan, terjadi dialog seputar perkembangan kampus yang dengan bangga disampaikan oleh sang Rektor. Ia juga mengungkapkan kebahagiaannya karena Tuan Maxwell Powell bersedia berkunjung ke universitas yang di pimpinnya saat ini. Maxwell hanya diam dan seperti sifat aslinya ia terlihat tanpa ekspresi mendengarkan semua narasi sang rektor. Ayesha yang merasa tidak nyaman dengan sikap suaminya turut merespon sedikit ucapan sang Boss kampus untuk sekedar menghormati.


"Baiklah Sir. Kami turut bangga dengan prestasi universitas yang Tuan pimpin. Aku rasa semua pemuda di negeri ini bahkan dunia bersaing dengan sangat keras untuk mampu masuk ke kampus bergengsi ini, bukan begitu?", respon Maxwell akhirnya. Pandangannya menuju ke sederetan penghargaan universitas yang terpampang di dinding ruangan.


"Sepertinya begitu Tuan. Tapi itu tentu saja tak terlepas dari kerja keras semua tim di kampus ini sehingga kampus ini bisa meningkatkan sedikit demi sedikit prestisnya di kancah nasional dan internasional", Sang Rektor berusaha merendah.


"Lalu apa persyaratan yang kalian berikan pada setiap mahasiswa aplikan?"


"Mampu lulus berkas akademik dan lulus test, Sir"


"Bagaimana dengan biaya kuliah?"


"Kita tau bahwa untuk kuliah yang berkualitas, diperlukan pembiayaan yang tidak sedikit bukan? Para dosen juga harus ditingkatkan kesejahteraan mereka agar tetap bisa merawat loyalitas dan dedikasi kerjanya".


"Artinya akan sulit seorang aplikan dari kalangan menengah ke bawah untuk lulus masuk ke kampus ini, bukan begitu?"


"Tidak juga Tuan. Jika mereka memiliki prestasi kita akan support dengan bea siswa"


"Berapa jumlah para penerima beasiswa di sini?"


"Ada sekitar 150 orang yang berasal dari dalam dan luar negeri"


"Good. Artinya kampus ini juga punya program peduli generasi. Saya cukup salut pada program Anda. Dari mana dana tersebut?"


"Terima kasih atas pujiannya Tuan. Dananya selama ini diambil dari para donatur, biaya kuliah seluruh mahasiswa dan keuntungan produksi usaha dari magang mahasiswa di beberapa jurusan yang ada di sini"


"Well. Aku rasa, kami salah tempat. Tidak perlu kemari karena kalian sudah punya semuanya".


Sang rektor sejenak tergagap dengan bahasa Maxwell namun dengan cerdas segera menutupi keterkejutannya.


"Oh tentu saja kami masih sangat membutuhkan para donatur seperti Tuan karena denyut nadi universitas ini akan lebih sehat jika disokong oleh dana yang lebih besar pula. Masih banyak program yang memajukan anak bangsa belum digulirkan karena kendala dana, Tuan"


"Begitukah? Apa yang akan Anda lakukan dengan tambahan 1 juta dollar? (14,5 milyar rupiah)"


Sang Rektor terkesima dengan angka yang disebutkan oleh Maxwell.


"Kami akan menambah para penerima beasiswa untuk mahasiswa berprestasi juga dosen berkompeten untuk melanjutkan pendidikan mereka. Selain itu kami bisa menambah fasilitas pendidikan yang masih belum cukup selama ini seperti sarpras olahraga dan teknik", ujar sang rektor dengan antusias.


"Tidak. Bangunlah sebuah perusahaan kecil di kampus ini juga yang paling sesuai dengan kapasitas dan kapabilitas mahasiswa di kampus ini. Jadikan ia ajang magang sekaligus pembuktian profesionalitas para dosen dan mahasiswa berprestasi yang diberi beasiswa tersebut. Saya berikan waktu 3 tahun. Jika berhasil mengembalikan sepertiga saja dari modal maka saya akan menjadi donatur tetap universitas ini dan menjadi penyokong perusahaan tersebut hingga menjadi besar. Bagaimana? Kalian sanggup?"


Semua stake holder dari pihak rektorat yang berjumlah 7 orang saling bertatapan dan kemudian menghela nafas.


"Baik Tuan. Kami tentu menyanggupinya. Secepatnya kami akan memberikan proposal rancangan perusahaan tersebut", Sang Rektor menyambut dengan percaya diri.


"Good. Ternyata saya dan istri saya tidak sia-sia datang kemari. Kampus ini memang layak mendapat julukan salah satu Kampus Terbaik Dunia. Senang berjumpa dengan Anda semua", Maxwell menjabat tangan sang Rektor dengan tegas. Yang lainnya pun turut melakukan hal yang sama sebelum Maxwell yang menuju ke arah mereka.


"Tuan, bisakah kita makan siang bersama di sini? Kami sudah menyiapkan jamuan untuk Tuan dan Nyonya", sang Rektor menatap kedua tamunya yang akan pergi dengan pandangan berharap.


"Sekarang sudah menunjukkan waktu beribadah untuk kami Tuan. Mohon maaf", kali ini Ayesha bersuara.


"Kami juga sudah menyediakan tempat Anda berdua untuk beribadah, dan jangan khawatir, hidangan lunch dimasak oleh dosen kami yang muslim. Anda berdua adalah tamu kehormatan kami"


Maxwell menatap ke arah Ayesha.


"Maaf Tuan dan Nyonya. Itu pun jika Anda berdua berkenan. Jika tidak, tak mengapa. Kami sangat berterima kasih atas kunjungan Tuan dan Nyonya ke universitas kami hari ini"


Ayesha balas menatap ke arah Maxwell dan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah. Dimana kami bisa sholat?"


"Terima kasih Tuan. Kami sangat berterima kasih pada kerendahan hati Tuan dan Nyonya. Mari kami tunjukkan tempatnya"


Mereka pun berjalan keluar ruangan rektor dan terus menuju ke arah luar bangunan dengan mengendarai mobil. Setelah menempuh sekitar 200 meter kini mereka sampai di sebuah mushollah yang cukup unik, berbentuk segitiga dengan kubah emas di atasnya. Terlihat rapi terawat dan sangat bersih. Ada tempat wudhuk terpisah di kanan dan kirinya yang tertutup dari pandangan orang yang lalu lalang. Deretan tanaman hias dan beberapa pohon pendek yang rimbun di halaman depan dan samping kanan dekat tempat wudhuk wanita membuat teduh di sekitarnya. Saat ini Sydney sedang musim semi. Cuaca panas di sepanjang jalan dari IC menuju University of Sydney seakan tergantikan dengan atmosfir menyejukkan di tempat ini.


Maxwell dan Ayesha pun turun dan melangkah masuk. Para pengawal mereka dengan setia terus berjaga di sekitar mushollah dan sudah ada yang terlebih dahulu masuk ke ruang ibadah tersebut dan sekelilingnya termasuk tempat wudhuk untuk memeriksa semuanya dengan teliti. Para pihak rektorat hanya memperhatikan dengan pikiran mereka masing-masing melihat penjagaan para body guard Maxwell dan Ayesha yang begitu ketat. Mereka hanya duduk di bangku taman depan mushollah yang disediakan untuk orang-orang yang ingin beristirahat atau sekedar gathering bersama rekan. Mereka hendak menunggu Maxwell dan Ayesha di sana sampai sang Konglomerat selesai sholat.


Setelah dirasa aman, kode dari pengawal Maxwell pun memberi isyarat bahwa majikannya sudah bisa masuk. Maxwell segera ke tempat wudhuk pria dan Ayesha ke tempat wudhuk wanita. Tak lama mereka pun masuk ke mushollah dan bergabung dengan beberapa orang pria dan wanita muslim yang sudah ada di dalam dan sedang melaksanakan sholat sunnah.


Selesai sholat Juhur berjamaah dengan Maxwell yang didapuk menjadi imam, Ayesha yang berada di saf wanita pun beranjak bangun dari duduknya dan hendak bergegas keluar. Namun baru saja berdiri matanya terpaku melihat sosok wanita yang sedari tadi sholat di sampingnya. Mata mereka saling berserobot. Raut wajah sang wanita muda tersebut seperti tak asing di matanya dan sungguh memang tak asing karena Ayesha langsung teringat sosok seorang wanita di mansion. Wajahnya putih bersih dengan mata biru yang indah dan dan bibir tipis. Hidungnya mancung sedikit besar namun proporsional dengan pipi yang sedikit berisi. Sungguh cantik, batin Ayesha.


Ayesha tersenyum di balik cadarnya untuk membalas senyuman dari sang wanita yang juga menatapnya.


"Maaf Nona. Apakah aku mengenalmu?", sapa sang wanita berjilbab mungil tersebut.


"Oh tidak. Aku hanya teringat seseorang yang sepertinya mirip dengan Anda. Maaf aku harus segera pergi", Ayesha teringat dengan sederet agendanya bersama sang suami hari ini yang belum terselesaikan.


"Oh begitu. Senang berkenalan dengan Nona. Namaku Grace"


"Aku Ayesha. Nice to meet you too Grace"


Keduanya kembali melempar senyum dan mereka pun berpisah.


Maxwell dan rombongan kini sudah berada di sebuah ruang makan khusus untuk jamuan tamu-tamu penting universitas. Letaknya tak jauh dari mushollah. Mereka cukup berjalan kaki ke sana. Meja lonjong yang panjang sudah dipenuhi dengan berbagai hidangan yang menggugah selera. Berbagai makanan khas Ausy dan Rusia. Maxwell dan Ayesha spontan saling menatap.


"Sepertinya Anda sudah sangat mengenal kami Tuan James", Maxwell kemudian duduk sambil melihat ke arah sang rektor.


"Anda katakan ini semua dimasak oleh dosen muslim di sini. Benarkah Tuan?", tanya Ayesha sambil melayani Maxwell makan. Dengan sikap luwes, Ayesha mengambilkan sang suami makanan kesukaannya dan melayaninya seperti biasa di mansion. Sesekali Maxwell bersikap manis dengan tersenyum pada Ayesha dengan menanyakannya apakah ia ingin diambilkan makanan yang lebih dekat dengan Maxwell. Sesaat orang-orang yang turut serta duduk untuk makan bersama dalam jamuan tersebut melirik ke arah sepasang sejoli tersebut. Dalam hati mereka seakan tak percaya bahwa sosok penguasa yang dikabarkan sangat dingin dan kurang bersahabat itu tak lain hanyalah seorang suami pada umumnya. Maxwell terlihat seperti lelaki romantis dan sama sekali tak menakutkan seperti yang dikabarkan.


"Anda benar Nyonya. Dia adalah salah seorang dosen terbaik di sini, namanya Miss Julia"


"Oh, sayang sekali dia tidak turut bersama makan dengan kita di sini"


"Apakah Anda ingin bertemu dengannya Nyonya?"


"Tentu saja. Masakannya enak. Dia sangat mengenal Rusia. Jika Anda ada di perantauan, Anda tentu akan senang jika berjumpa dengan orang yang mengenal negeri kelahiran Anda bukan?", ujar Ayesha retoris.


"Anda benar Nyonya", sahut Sang Rektor.


Ayesha dan Maxwell sudah menyelesaikan hidangan utama lunch dan tibalah hidangan penutup. Seorang gadis cantik berjilbab mungil datang dengan nampan di tangannya, ditemani beberapa wanita muda berpakaian sopan yang turut membawa nampan juga. Ayesha melirik sekilas dan mengernyitkan dahi.


"Anda Grace bukan?"


Sang wanita menoleh dan terpana.


"Nona Ayesha?"


"Anda sudah mengenal Miss Julia, Nyonya?"


"Oh kami baru saja berkenalan di mushollah tadi Tuan James. Ternyata Nona Grace sama dengan Nona Julia?"


"Nama saya Julia Grace. Maaf Nyonya jika saya tidak sopan pada Anda. Dan ini tentu Tuan Maxwell Powell, suami Anda bukan?"


"Benar"


"Maafkan Miss Julia jika tidak sopan Tuan dan Nyonya", sang Rektor menangkap sikap tak suka dari Maxwell yang sebenarnya bersikap cuek karena tidak peduli dengan orang lain. Ia ingin segera pergi karena mengingat masih ada beberapa tempat yang akan dikunjungi setelah ini.


"Oh tidak. Miss Julia sudah bersikap baik. Tidakkah Anda bisa duduk bersama untuk menikmati hidangan penutup ini Miss?", Ayesha ingin menahan Julia agar ia bisa mengenal sosok wanita yang membuatnya penasaran itu lebih banyak.


"Maafkan saya Nyonya. Saya tidak pantas di sini"


"Anda orang penting di sini. Tanpa Anda, kami tidak akan makan di sini"


"Nyonya benar. Duduklah di sini Miss Julia. Tamu kita meminta Anda"


"Baiklah. Terima kasih atas penghormatan ini". Julia pun duduk di kursi samping Ayesha yang masih kosong dan memang sengaja dikosongkan sebelumnya karena tuan rumah tau tentang karakter sang istri penguasa muda itu yang sangat menjaga jarak dari lelaki lain selain sang suami.


Bincang-bincang pun terjadi dengan sedikit kaku antara Ayesha dan Julia karena Julia seperti menjaga jarak dengan wanita bercadar di dekatnya tersebut. Sementara Maxwell dan pihak rektorat lainnya juga mengobrol ringan dan kini sudah pindah posisi ke arah teras gedung jamuan. Mereka meninggalkan kedua wanita yang baru berkenalan itu untuk memberi ruang agar mereka bisa lebih bebas.


"Jadi Miss Julia pernah tinggal di Moskow?"


"Ya. Sejak usia sekolah Nyonya. Namun sempat kembali kemari dan balik lagi ke Rusia untuk beberapa tahun. Karena harus melanjutkan hidup dengan mengajar di sini maka saya pindah kemari"


"Moskow pasti membutuhkan Anda di sana. Mengapa harus menyebrang kemari begitu jauh?"


"Di sini cepat memberiku kabar penerimaan. Di sana belum. Dan aku sendiri suka berpetualang"


"I see. Tadi Anda katakan sempat kembali kemari. Apakah Anda lahir di sini tapi dibesarkan di Moskow? Jadi Anda sebenarnya berkebangsaan apa Nona?"


"Australia. I'm Australian".


"Tapi tidak lahir di Sydney?"


"Saya lahir di Canberra"


"I see. Anda punya saudara?"


"No. I'm alone. Maaf Nyonya, sepertinya Tuan Maxwell sedang menunggu Anda"


"Oh ya. Anda benar. Senang berbincang denganmu. Kau tau, amat bahagia rasanya bertemu dengan seorang saudara ketika kita di perantauan. Engkau saudaraku. Aqidah kita sama dan engkau juga pernah tinggal di negeri kelahiranku"


Ayesha dan Julia saling bersalaman dan dengan akrabnya Ayesha memeluk bahu wanita cantik yang baru dikenalnya itu dengan singkat. Maxwell dan yang lainnya hanya menatap keduanya dengan pandangan tak terbaca. Setelah kepergian Maxwell dan orang-orangnya, begitu juga dengan tuan rumah yang membubarkan diri, Julia dan kawan-kawannya pun segera pergi. Tinggallah para staf gedung yang bergegas membereskan sisa acara jamuan.


Sesosok wanita kini sedang berjalan terburu-buru mencari tempat yang aman untuk menerima telpon dari HP nya yang bergetar sejak tadi.


"Ya Kak.


"Ya.


"Aku tau. Jangan khawatir. Dia tidak melihatku dengan baik. Tenanglah.


"Baik.


"Tapi wanita itu sepertinya mulai penasaran denganku karena wajah kita yang mirip.


"Ok.


"Jangan khawatirkan aku.


Sang wanita pun menutup panggilannya dan mendadak matanya melotot ketika sepucuk senjata sudah mengarah ke keningnya begitu ia membalikkan badan.