
Maxwell sudah selesai diperiksa setengah jam yang lalu dan kini sudah berbaring tepat di samping Luke yang masih tak sadarkan diri. Selang plastik itu terus bergerak mengalirkan cairan kental merah miliknya. Sekilas Maxwell melirik kantung darah yang sudah mulai penuh. Ia menarik nafas perlahan. Seumur hidup, barulah ini dia mendonorkan darahnya, dan yang paling tak masuk di akalnya adalah, ia memberikan darah pada orang yang sudah menganggapnya musuh selama ini bahkan sudah pernah ingin mengambil nyawanya dan malah ingin merebut sang istri, wanita yang sangat dicintainya di bumi ini.
Maxwell melirik Luke di sampingnya. Meski pucat, wajah pria itu nampak tampan. Dalam kondisi seperti ini maka tak seorang pun akan menyangka wajah tampan yang tenang itu selama ini adalah seorang pembunuh. Yang menghalalkan segala cara untuk memperoleh apa yang diinginkannya. Termasuk harta Maxwell dan wanita yang dicintai, atau pun sekedar obsesi belaka. Sekilas hati Maxwell terasa kesal dan benci mengingat semua yang sudah dilakukan Luke padanya. Penghianatan, upaya pembunuhan dan penculikan terhadap istrinya bahkan ingin merebutnya darinya. Namun jikalau ia teringat dengan akar masalah semuanya itu, maka Maxwell menyadari bahwa ia juga termasuk yang menjadi penyebabnya. Harta warisan yang diberikan oleh ayah angkatnya terlampau besar, tak sebanding dengan semua anak adopsi sang ayah lainnya. Bahkan mereka semua mendapatkan hanya secuil kue saja dari sebentuk kue raksasa milik George Powell, the emperor of Ausy and Europe.
Di luar itu semua, Maxwell teringat dengan kebersamaannya dengan Luke sebelum akhirnya ia berhijrah memeluk agama barunya dan mulai meninggalkan kehidupan gelapnya. Dulu ketika masih menjadi Maxwell penerus tahta George Powell di dunia gelap, ia adalah seorang the emperor yang tak segan mencabut nyawa semua musuhnya, dan Luke adalah tangan kanannya untuk membereskan mereka semua. Luke adalah orangnya yang paling dapat dipercaya bahkan dalam setiap mengatasi berbagai masalah bisnis baik dalam dan luar negeri. Luke adalah orang yang paling dapat diandalkan bahkan tak sedikit pengorbanan dan kesetiaan yang sudah pernah ia tunjukkan, tanpa menyangka bahwa itu semua adalah strateginya dalam menutupi semua niat jahatnya selama ini. Maxwell tak dapat membedakan mana yang tulus dan penuh tendensi karena selama itu Maxwell sama sekali tak melihat gelagat penghianatan dalam hal apapun yang ditunjukkan Luke padanya kecuali setelah sang ayah meninggal dunia. Yah, Maxwell ingat, bahwa setelah sang ayah meninggalkannya maka sejak itu ia memang sepertinya mulai merasakan perubahan pada Luke. Ia beberapa kali mendapati pria kepercayaannya tersebut seperti melamun dan tidak fokus. Selain itu, ia juga mendapati Luke beberapa kali menghindari tugas berbahaya yang ia berikan dengan berbagai alasan. Meski semua alasan tersebut masuk akal namun waktu itu Maxwell masih sepenuhnya percaya dan menerima. Ternyata itu semua adalah awal dari perubahan Luke di sisinya.
Maxwell mulai memikirkan sesuatu. Sampai di sini ia mulai menduga-duga. Jika ia mulai berubah sejak daddy meninggal, itu artinya ada suatu peristiwa di saat itu yang membuatnya semakin membenciku, batinnya. Maxwell terus berusaha mencari jawabannya dan setelah beberapa saat kemudian keningnya yang berkerut sejak tadi mulai rileks secara perlahan. Ia menemukan sesuatu. Pemberian wasiat. Bukankah sewaktu daddy menyampaikan wasiatnya padaku bersama pengacara kami, Luke turut serta bersamaku? Ah, pasti itu. Itulah sebabnya ia semakin membenciku karena iri padaku. Ia langsung menyaksikan di depan matanya sendiri daddy melimpahkan hampir semua warisannya padaku, gumam Maxwell dalam hati. Ia memukul keningnya dan refleks berpaling ke arah Luke yang masih terpejam.
Tengah merenungi dirinya bersama Luke, seorang perawat pria datang mendekati Maxwell dan mulai melepaskan peralatan donor darah. Maxwell berusaha duduk karena sudah merasa pegal dan ingin segera pergi. Ia tak mau melihat Luke dan cukuplah ia mendapat kabar bahwa ia selamat.
"Sebaiknya Tuan beristirahat dulu karena kondisi Tuan baru saja mentransfer banyak darah", cegah sang perawat.
"Tak mengapa. Aku baik-baik saja. Aku akan beristirahat di ruangan tempat istriku dirawat. Aku tak ingin meninggalkannya"
"Tapi Tuan..."
"Aku akan memberimu tips yang besar jika kau bisa mengatur tempat istirahatku di sisi istriku. Kami sudah berpisah sekian lama dan kini ia pasti sangat kesakitan. Tolong aku untuk bisa menemaninya dalam kondisi sakitnya saat ini"
"Baiklah Tuan"
"Oh ya, jika pasien ini sudah sadar kau tak perlu memberitahukan keberadaanku. Cukup kau katakan padanya bahwa kalian masih punya kantung darah untuknya. Jangan lupa beritahukan padaku ketika ia sudah selamat. Bisakah?"
"Baiklah"
"Terima kasih"
Maxwell pun beranjak dari tempat tidurnya dan meninggalkan ruangan tempat Luke dirawat. Sang perawat dan seorang dokter yang baru saja sampai pun sekarang sibuk mengurus Luke untuk melakukan transfusi darah dari darah Maxwell yang baru saja mereka peroleh karena stok darah yang diperlukan tidak mencukupi.
"Tuan itu tidak mau diketahui oleh pasien ini? Aneh sekali..."
"Iya. Biasanya orang senang memberitahukan dirinya jika sudah menolong orang lain. Ini Tuan bulek itu malah tidak ingin diketahui"
Sang dokter dan perawat berbincang sambil mengemasi peralatan yang ada dan sibuk memonitor perkembangan Luke yang saat ini sudah mulai ditransfusi darah. Sementara itu, Luke yang ternyata sudah mulai sadarkan diri sempat mendengar percakapan sang dokter dan perawat. Matanya nampak bergerak. Efek kehilangan banyak darah membuatnya pingsan dan saat ini ia sudah mulai bisa mengenali keadaannya. Perlahan ia menggerakkan tangannya yang terasa sakit. Dan ia pun tersadar bahwa saat ini ia sedang ditransfusi darah. Pandangannya masih berkunang-kunang. Ia mencoba fokus namun masih terasa sulit. Akhirnya ia kembali memejamkan matanya dan berusaha untuk tidur. Ia sempat teringat kembali apa yang dibicarakan kedua tenaga medis di dekatnya, tapi saat ini ia belum sanggup memikirkannya.
Sementara itu, di kamar Ayesha, Maxwell baru saja masuk setelah sebelumnya mendapatkan laporan dari Mark bahwa pengawalnya itu melihat Ayesha meneteskan air mata. Ia sangat khawatir melihat sang istri yang kini masih berbaring dengan menutup wajahnya. Yang terlihat hanya matanya yang masih dipejamkan.
"Sayang....", lirih Maxwell menghampiri sang istri.
Ayesha pun membuka matanya dan menatap ke suaminya.
"Hubby sudah kembali?"
"Ya. Ini aku, Sayang. Bagaimana keadaanmu?"
"I'm well"
Maxwell meraih wajah Ayesha dan menurunkan jilbab penutup wajahnya. Honey, kau sungguh luar biasa. Aku tau ini pasti sakit sekali. Sabarlah sayang. Aku akan segera mengobatimu, gumam Maxwell dalam hati.
"Mengapa Hubby sudah ada di sini? Beristirahatlah dan ikuti perintah Dokter"
"Aku akan beristirahat di sini"
"Hubby pasti saat ini butuh pemulihan setelah donor darah. Ikuti perkataan Dokter, Hubby! Aku tak mau Hubby jadi sakit dan kita berdua tertahan lama di sini"
"Ini bukan tempat kita Hubby. Bagaimana bisa..."
Tok tok tok.
Terdengar pintu diketuk dari luar. Maxwell buru-buru menutup kembali wajah Ayesha dengan jilbabnya dan berbalik ke arah pintu. Dua orang pria berpakaian hijau dan bermasker muncul di sana dan membuka pintu lebar-lebar. Mereka mendorong sebuah bed ukuran tiga kaki dan juga sebuah meja kecil berisi hidangan dan kini meletakkannya tepat di samping Ayesha. Sang wanita bermata biru itu hanya memperhatikan dan menggelengkan kepalanya pelan. Ia paham semuanya.
"Ini pesanan Tuan. Maaf kalau tidak sesuai dengan yang diharapkan"
Maxwell menerima beberapa paper bag dari sang pria dan memeriksa isinya.
"Terima kasih. A good job", Maxwell tersenyum. Ia sudah memberikan segepok uang cash dari sakunya sebelumnya di ruangan Luke pada perawat yang kini datang ke ruang Ayesha.
"Jika perlu apa-apa Tuan bisa hubungi saya di sini", sambung sang perawat sambil menyerahkan secarik kertas berisi nomor HP.
"Sure. Jangan lupa untuk menyambut seseorang yang akan datang siang ini dan pastikan ia segera menuju kemari"
"Don't worry Tuan Maxwell. Oh ya jangan lupa juga untuk menghabiskan makanan dan minuman ini agar Tuan segera pulih", sang perawat menunjuk meja kecil berisi hidangan yang ditutup wrap plastic.
"Thank you"
"Kami permisi dulu"
Kedua perawat pria itu pun melangkah keluar setelah meninggalkan beberapa pesan penting. Pintu kembali ditutup. Ayesha yang hanya menyaksikan sejak tadi kini bersuara.
"Hubby..."
"Honey sudah tau jawabannya bukan?"
Ayesha menarik nafas sejenak dan tersenyum. Jilbabnya yang menutupi wajah sudah diturunkan.
"Hubby benar-benar seorang Sulthan ya..."
"Mengapa Honey berkata begitu?"
"Dimana pun Hubby bisa berbuat apa pun. Ini ruang ICU. Bagaimana bisa Hubby begini..."
"Sebentar lagi kita akan keluar bersama dari sini. Ini hanya perlu waktu beberapa jam lagi", Maxwell melirik jam di dinding.
"Sudahlah. Sekarang Hubby harus makan. Habiskan semuanya, Hm?"
"Hm? Honey..."
"Hmmm...?", Ayesha mengerlingkan mata menatap suaminya. Ia benar-benar menggoda suaminya dengan ujaran keramat itu. Maxwell dengan gemas menghampiri wajahnya dan menciuminya.
"Jika tidak sedang sakit, aku pasti akan menghabisimu Sayang...", Maxwell tersenyum nakal.
"Siapa takut?", Ayesha tersenyum.
"Kau ini....", Maxwell menowel hidung mancung Ayesha. Dengan gemas diciuminya kembali hidung, mata dan pipi sang istri yang begitu cantik. Ayesha hanya pasrah dan membalas dengan senyumnya. Ia tahu sang suami sudah lama menahan diri sejak berpisah darinya.
"Hubby...makanlah segera!" Ayesha memainkan sudut matanya ke arah meja kecil. Maxwell pun mengerti dan segera menuruti titah sang istri. Meski terasa aneh di lidahnya, masakan Indonesia berupa bubur dan puding itu pun habis dilahapnya. Ia ingin segera pulih dan bisa membawa Ayesha terbang secepatnya kembali ke Ausy. Setelah selesai ia pun berbaring di bed sambil tangannya tak henti menggenggam tangan kanan Ayesha yang bebas dari infus. Entah dikarenakan rasa lelah sejak dari Amerika belum beristirahat atau mungkin karena efek donor darah atau bisa jadi karena kekenyangan, tak lama kemudian Maxwell sudah terbang ke alam mimpi. Sementara Ayesha pun sama. Seperti tertular sang suami, meski menahan sakit sejak tadi, ia pun kini tertidur setelah sebelumnya tak lupa menutup kembali wajahnya.