
Ayesha baru saja turun bersama sang suami untuk sarapan dengan para penghuni mansion lainnya ketika kemudian ada laporan dari penjaga mansion di depan bahwa ada tamu yang datang. Maxwell mengernyitkan dahinya.
"Siapa? Aku tidak ada janji dengan siapapun pagi ini"
"Maaf Tuan. Kami sudah melarang orang tersebut namun dia berpesan untuk menyampaikan pada Tuan, bahwa ia adalah keluarga Al Qudri", jawab sang penjaga takut dengan kepala tertunduk.
Maxwell pun terdiam. Ia sudah menduga akan pertemuan ini. Hanya saja ia merasa belum siap untuk menghadapi sesuatu berkaitan dengan jati dirinya untuk saat ini. Rasanya waktu begitu cepat berlalu sehingga akhirnya ia harus bertemu dengan situasi ini. Padahal sekian waktunya selama ini memang ia habiskan untuk menemukan semua rahasia hidupnya. Namun mengapa setelah sekian lama menanti, ia sekarang malah merasa tidak bersemangat.
Melihat sang suami melamun, Ayesha menatapnya sambil menganggukkan kepala sebagai tanda dukungan.
"Katakan padanya untuk masuk", lirih Maxwell setelah menyerah dengan konflik batinnya.
"Baik Tuan", sang penjaga pun berlalu. Maxwell dan Ayesha urung ke ruang makan. Mereka melangkah ke ruang tamu. Tak lama mereka duduk di sofa, masuklah seorang lelaki separuh baya berparas gagah dengan setelan pakaian mewah. Maxwell yang mengenalinya pun langsung berdiri menyambut.
"Apa kabar Tuhan Abraham? Maaf tidak menyambutmu dengan baik", songsong Maxwell menghampiri dengan ekspresi datar.
"Kabarku baik. Maaf mengganggumu pagi begini", Tuan Abraham menyambut uluran tangan Maxwell dengan senyum kakunya.
Sejenak dua orang beda generasi itu hanya saling diam berdiri tanpa berani mendahului percakapan lanjutan, hingga kemudian Abraham menyadari ada sosok lain di belakang sang keponakan.
"Apakah ini istrimu?"
"Ah ya. Ini istriku"
Ayesha hanya menganggukkan kepalanya tanda hormat disertai kedua tangan yang menangkup di dada. Ia mulai menduga-duga siapa lelaki di depannya ini. Setelah sejak tadi berpikir tentang nama sang pria dewasa di depannya, ia pun ingat akan kisah keluarga ibunda sang suami.
"Hubby, tidakkah kita mengajak Tuan Abraham untuk sekalian sarapan pagi bersama?", kata Ayesha pelan mencoba untuk mencairkan situasi kaku di antara kedua pria di hadapannya tersebut.
" Ah Kau benar, Sayang. Ayo Tuan Abraham. Anda pasti belum sarapan bukan?"
"Ah Anda tidak usah sungkan untuk melanjutkan makan pagi yang tertunda karena kedatanganku. Paman... ah...Aku akan menunggu saja di sini"
"Ah tidak, Tuan. Kami ingin menjadi tuan rumah yang baik. Bukankah menyambut tamu dengan baik sudah seharusnya kami lakukan?"
"Anda baik sekolah Nyonya. Tapi aku tidak ingin mengganggu kebersamaan Anda berdua pagi ini", tolak Abraham.
"Anggap saja ini balas budi akan kebaikan Anda menolong kami waktu itu. Kami sangat senang sekali jika Anda bersedia makan bersama kami", Ayesha mencoba untuk membujuk.
"Sepertinya Tuan Abraham tidak berselera makan bersama kita. Tidak perlu dipaksa Honey", sela Maxwell dingin.
"Baiklah. Jika keluarga ini tidak keberatan", akhirnya Abraham menerima.
"Terima kasih Tuan. Kita juga tidak hanya bertiga. Tapi bersama dengan keluarga besar mansion Powell", sahut Ayesha. Abraham tersenyum tipis dan mengikuti tuan rumah.
Sampai di ruang makan, semua penghuni sudah berkumpul.
"Anda sudah keluar dari ruang rawat, Tuan Mark dan Tuan Patch?", Ayesha melihat Mark dan Patch sudah duduk di kursi makan bersama yang lainnya. Nampak kursi roda tidak jauh dari mereka. Maxwell melirik ke arah sang dokter yang juga turut berkumpul.
"Rantai yang Anda sediakan tidak cukup kuat menahan mereka Tuan", sela dr Jhonson yang menebak jalan pikiran Sang Tuan.
"Come on. Kami berjanji hanya di kompleks mansion saja, tidak akan keluar", Patch menaikkan dua jarinya. Mark cuek saja.
"Sepertinya makanan ini enak jika disantap selagi hangat. Ayo semuanya kita mulai"
"Kita kedatangan Tamu. Mari kita sambut tamu kita dengan bersulang", sela dr Jhonson sambil mengangkat orange juice-nya . Ia sudah memperhatikan sang tamu sejak tadi. Pandangannya yang semula terkejut disembunyikannya. Penghuni ruang makan lainnya pun serentak mengambil gelas mereka yang sudah berisi minuman yang sama dan beraksi layaknya toast jarak jauh.
"Terima kasih", Tuan Abraham yang mengikuti acara toast itu pun tersenyum dan menyapukan pandangannya ke seluruh tuan rumah yang ada.
"Ah ya, kami lupa memperkenalkan. Ini adalah Tuan Abraham Alexander. Beliau lah yang sudah membantu kita semua dari serangan seminggu yang lalu. Beliau tamu besar kita hari ini. Mohon beri penghormatan kepada beliau", sela Ayesha. Serentak para penghuni ruang makan berdiri dan membungkukkan sedikit badan ke arah sang tamu.
"Terima kasih, Tuan", ucap semuanya serentak.
"Terima kasih Nyonya dan keluarga Powell semuanya".
Abraham pun terlihat kaku memberi hormat pada semua penghuni ruang makan dan kini ia segera duduk di sebelah kanan Maxwell, berhadapan dengan Grace yang duduk di sebelah Bibi Christine.
Acara sarapan bersama dengan sang tamu pun selesai dua puluh menit kemudian. Kini meja makan sudah dikosongkan dan para penghuninya sudah bergerak ke belakang. Ayesha sengaja mengajak semua penghuni mansion untuk merasakan suasana lebih santai dengan menghirup udara segar di taman. Ayesha melihat kedua ajudan Maxwell yang sepertinya akan pergi dengan kursi roda mereka segera mencegah.
"Tuan Mark dan Tuan Patch, bukankah sudah bosan dalam penjara klinik? Mari gabung bersama"
"Bolehkah kami ikut ke taman Nyonya?", Mark melirik sang Boss yang berdiri di sisi sang Nyonya. Yang dilirik hanya diam saja, malah mengalihkan ke sang dokter yang tak jauh darinya berdiri.
"Tak masalah, asalkan kalian tidak turun berenang", sahut dr Jhonson jahil.
"Terima kasih", Mark dan Patch kompak menjawab dengan serius.
"Hi Nona Grace, tidakkah Engkau menyapa seseorang yang juga merindukanmu?", sang dokter menyapa Grace yang baru saja datang dan akan melewatinya. Sang Nona yang disebut namanya seketika berhenti dan menoleh.
"Maksud Anda?", tatapan mata Grace menangkap sosok Mark yang ada di balik tiang dekat dr Jhonson. Mendadak ada rona merah di wajah Grace dan ia pun bergegas meninggalkan semua pria di sekitarnya. Ia melangkah cepat menyusul Ayesha dan Maxwell yang berjalan di depannya.
"Dr Jhonson, kau...", Mark menatap sang dokter usil dengan pandangan siap menerkam.
"Berterima kasihlah padaku. Engkau tidak kesulitan lagi mengungkapkan perasaanmu bukan?", dr Jhonson pun berlalu. Ia berjalan sambil tersenyum mengingat kelakuan Mark di ruang makan tadi. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Grace dan Mark saling curi pandang ketika makan, dan yang uniknya, satu pun dari mereka tidak ada yang saling memergoki satu sama lain.
"Dokter gila...", umpat Mark. Ia memutar kursinya kembali berlawanan arah dengan yang lainnya.
"Kau tidak ikut?", tanya Patch.
"Aku lebih baik di ruang tengah menonton siaran TV daripada...ah...", Mark menggelengkan kepala tidak melanjutkan ucapannya melainkan menekan tombol kursinya dengan cepat dan berlalu pergi. Patch yang melihat tingkah pria yang kini sudah menjadi sahabatnya pengganti Peter itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan tersenyum tipis. Kini ia bergegas menyusul yang lainnya. Kursi roda otomatisnya pun bergerak cepat menuju taman belakang. Ia ingin sekali duduk santai di sana menikmati segarnya harum bunga-bunga di taman yang sudah banyak bermekaran juga buah anggur dan mangga yang sedang berbuah dengan ranumnya. Di samping itu, ia ingin menikmati kicauan burung-burung mahal piaraan mendiang sang Boss Besar yang sampai saat ini masih ada dan dilestarikan oleh Sang Boss Penerus, Maxwell Powell.
Ah Tuan Besar, apakah sekarang Kau bahagia di sana?
Pikir Patch sambil mengingat momen kebersamaannya dengan seorang pria yang terkenal kejam dan ambisius itu. Patch menarik nafas sesaat dan setelah sampai di taman ia pun turun perlahan ke tepian kolam renang yang ada di sana. Kakinya menjuntai ke air kolam. Pandangannya sibuk menyapu seisi taman yang penuh kenangan. Tatapannya bukan ke arah para penghuni mansion yang kini sudah duduk menyebar dengan kegiatan mereka masing-masing, tetapi tatapan kosong dengan seulas senyum terbit di bibirnya ketika mengenang seseorang yang dulu selalu bersamanya dalam suka maupun duka. Di sana, di kolam yang ada di depannya ia pernah punya kenangan lucu bersama Peter. Keduanya pernah terjatuh tak sengaja ke kolam gegara melihat seorang wanita cantik yang pernah dibawa oleh Bibi Christine ketika sang ibunda Maxwell masih hidup. Wanita Rusia yang ternyata seorang dokter itu sempat tertawa ketika melihat tingkah konyol kedua pengawal George Powell yang nampak norak waktu itu, yaitu Patch dan Peter.
"Ah dimana Kau sekarang dokter cantik? Kenapa aku sekarang jadi memikirkanmu? Bukankah tadi aku teringat Peter?", galau di hati Patch karena kini justru mengingat sosok seorang wanita yang terus menari-nari dalam benaknya.
"Mengapa aku jadi terus mengingatmu?", gumam Patch lirih. Kini ia jadi merasa aneh pada dirinya sendiri.
"Ah, apakah aku akan jadi seperti Mark?", gusarnya sambil meremas rambutnya sendiri. Seminggu bersama Mark di klinik membuatnya tau bagaimana rasanya jatuh cinta. Mark yang lebih pendiam dan diam-diam melukis sosok Grace di ponselnya. Juga sikapnya yang sering uring-uringan dan sering menatap wajahnya di cermin dan tersenyum sendiri, apalagi setelah mendapat salam dari Grace sebagaimana dikatakan dr Jhonson yang tentu saja diragukan kebenarannya.
"Arghhh...", Patch menggelengkan kepalanya berusaha mengusir bayangan seorang gadis cantik di kepalanya. Di sana bersemayam bayangan seorang wanita muda berambut pirang dan bergelombang dengan hidung lancip dan mata biru, berpakaian putih dengan stetoskop di lehernya.